Seorang CEO muda yang ambisius seperti Kenzo Praditya tidak pernah punya rencana untuk menikah dalam waktu dekat, apalagi dengan Anindya, janda dari kakaknya sendiri.
"Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu. Aku melakukan ini hanya demi wasiat Kakak," ucap Kenzo dingin di malam pertama mereka.
Anindya hanya bisa menelan kepahitan. Ia bertahan demi satu alasan, buah hatinya yang membutuhkan perlindungan keluarga Praditya.
Namun, tembok es yang dibangun Kenzo perlahan runtuh saat ia melihat ketegaran Anindya menghadapi badai fitnah dari luar.
Saat rasa peduli mulai berubah menjadi obsesi, Kenzo dihadapkan pada satu kenyataan pahit. Ia mulai mencintai wanita yang seharusnya tidak boleh ia miliki.
Simak Kisah Selanjutnya di Cerita Novel => Turun Ranjang.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Malam di Jakarta tidak pernah terasa sepi, namun di dalam kediaman megah keluarga Praditya, kesunyian yang ada terasa begitu mencekam hingga menusuk tulang.
Jam dinding di ruang keluarga menunjukkan pukul sebelas malam. Suara detiknya terdengar seperti palu yang menghantam martil, menambah ketegangan yang sudah mencapai puncaknya.
Tuan Praditya mondar-mandir di atas karpet Persia yang mahal. Langkah kakinya berat, wajahnya kaku dengan guratan emosi yang tertahan.
Di atas meja marmer di hadapannya, dua buah ponsel tergeletak bisu, ponsel pemberian Kenzo dan ponsel pribadi Anindya. Keduanya adalah saksi bisu betapa rapinya rencana pelarian ini.
"Belum ada kabar juga?!" suara Tuan Praditya menggelegar, memecah kesunyian.
Di hadapannya, lima orang pengawal inti menunduk dalam. Tak ada satu pun dari mereka yang berani mendongak.
"Mohon maaf, Tuan Besar. Kami sudah menyisir semua rumah teman Nyonya Anindya yang terdaftar di buku tamu, hingga rumah sakit dan hotel terdekat. Hasilnya nihil. CCTV di jalan raya menunjukkan Nyonya menaiki taksi, namun taksi itu menghilang di kawasan padat penduduk yang minim kamera."
"Bodoh! Kalian semua tidak berguna!" Tuan Praditya menyapu vas bunga kristal di dekatnya hingga hancur berantakan. "Bagaimana bisa seorang wanita dan anak kecil hilang ditelan bumi di bawah pengawasan kalian?!"
Para pelayan di dapur gemetar ketakutan. Bi Inah dan Siska sudah mendapatkan ganjaran berupa bentakan kasar dan ancaman pemecatan.
Siska menangis tersedu-sedu di pojok ruangan, menyalahkan dirinya sendiri karena begitu mudah membiarkan Anindya pergi membawa Elang tanpa curiga sedikit pun.
"Dan ingat satu hal," Tuan Praditya menunjuk satu per satu orang di sana dengan jari gemetar. "Jangan ada yang berani menghubungi Kenzo di London. Jika dia tahu istrinya hilang sebelum urusan saham di sana selesai, dia bisa menghancurkan perusahaan ini karena amarahnya. Biarkan dia menyelesaikan urusannya. Aku sendiri yang akan menyeret Anindya kembali sebelum Kenzo mendarat di Jakarta lusa!"
Tuan Praditya menghempaskan tubuhnya ke sofa, menatap ponsel Anindya dengan geram. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak oleh seorang wanita yang ia anggap lemah.
Namun, di balik amarahnya, ada rasa cemas yang mulai merayap. Ia menyadari satu hal, Anindya tidak pergi untuk bersenang-senang. Dia pergi untuk menghilang.
~~
Berbanding terbalik dengan kegelapan yang menyelimuti Jakarta, Dubai menyambut Anindya dengan kemilau cahaya yang seolah menantang bintang-bintang.
Pesawat jet pribadi itu mendarat mulus di bandara khusus. Saat pintu pesawat terbuka, udara hangat khas Timur Tengah menyapu wajah Anindya.
Di bawah tangga pesawat, sebuah mobil limousine hitam sudah menunggu. Seorang pria berpakaian setelan jas rapi berdiri tegap menyambutnya.
"Selamat datang di Dubai, Nyonya Dian Rahardjo. Nama saya Omar, supir pribadi yang ditugaskan untuk melayani Anda dan tuan muda," ucap pria itu dalam bahasa Inggris yang fasih sembari membungkuk hormat.
Anindya tersenyum, senyum paling lega yang pernah ia miliki dalam setahun terakhir. Ia menggendong Elang yang masih mengantuk, namun mata bulat bocah itu langsung melebar saat melihat deretan mobil mewah dan gedung-gedung yang menjulang tinggi dengan lampu warna-warni.
"Ibu... lampunya bagus banget! Kayak kembang api!" seru Elang takjub.
"Iya, Sayang. Di sini tempat tinggal baru kita," bisik Anindya lembut.
Mobil itu melaju membelah jalanan Sheikh Zayed Road yang megah. Elang menempelkan wajahnya di kaca mobil, terpesona melihat Burj Khalifa yang menjulang menembus awan. Anindya pun tak kalah takjub.
Selama ini ia hanya mendengar tentang aset Arlan dari Bimo, namun melihat kenyataan di depan matanya, ia menyadari betapa Arlan sangat mencintainya hingga menyiapkan perlindungan semewah ini.
Sesampainya di sebuah gedung apartemen eksklusif di kawasan 'Palm Jumeirah', mobil berhenti tepat di depan lobi yang dilapisi marmer putih. Seorang wanita cantik berusia sekitar 30 tahun dengan pakaian formal menyambut mereka dengan senyum hangat.
"Selamat datang, Nyonya. Saya Sarah, asisten pribadi Anda. Saya akan memastikan seluruh kebutuhan Anda dan Elang terpenuhi selama di sini, mulai dari urusan rumah tangga hingga keamanan," ucap Sarah dengan ramah.
Sarah menuntun Anindya menuju unit penthouse di lantai paling atas. Begitu pintu terbuka, Anindya nyaris kehilangan napas.
Apartemen itu sangat luas, dengan dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan laut lepas dan siluet kota Dubai yang gemerlap. Interiornya elegan, didominasi warna krem dan emas, persis seperti selera Arlan.
"Semua pakaian dan kebutuhan Tuan Muda Elang sudah kami siapkan di kamarnya. Makan malam hangat juga sudah tersedia di meja," Sarah menjelaskan dengan sopan.
Setelah menidurkan Elang di kamar barunya yang bertema petualangan laut, Anindya berjalan menuju kamar utama. Ia teringat akan surat Bimo. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan kunci kecil berwarna emas yang diselipkan Bimo.
Di balik sebuah lukisan abstrak yang menghiasi dinding kamar, terdapat sebuah brankas baja yang tertanam rapi. Dengan tangan bergetar, Anindya memasukkan kunci tersebut.
Klik.
Pintu brankas terbuka. Di dalamnya, tidak hanya ada tumpukan uang tunai dalam mata uang Dollar dan Dirham, tapi juga sebuah kotak kayu kecil. Di dalam kotak itu, terdapat sebuah flashdisk dan kalung berlian dengan liontin berbentuk inisial 'A'.
Anindya mengambil flashdisk itu dan memasangnya ke laptop yang tersedia di meja kerja. Sebuah video muncul di layar. Itu adalah Arlan. Wajahnya tampak lebih tulus dari yang diingat Anindya, namun sorot matanya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam.
"Anin, sayangku... Jika kau melihat video ini, artinya aku sudah tidak ada, dan kau sudah berada di tempat yang paling aman yang bisa kuberikan padamu. Maafkan aku jika aku tidak bisa melindungimu secara langsung."
Air mata Anindya jatuh membasahi papan ketik laptop. Ia merasa seolah Arlan baru saja memeluknya dari alam sana. Di kota yang asing ini, di tengah kemewahan yang tak pernah ia bayangkan, Anindya akhirnya menemukan senjatanya.
Ia berdiri dan berjalan menuju balkon apartemen. Angin laut Dubai menerpa wajahnya. Ia menatap ke arah cakrawala, ke arah Jakarta yang berjarak ribuan mil darinya.
"Kenzo... kau mungkin punya kekuasaan di sana," gumam Anindya pada kegelapan malam. "Tapi di sini, aku punya kekuatan. Dan aku tidak akan pernah membiarkanmu menang lagi."
Keesokan paginya di Jakarta, Tuan Praditya mendapat panggilan darurat dari London. Bukan dari Kenzo, melainkan dari salah satu pemegang saham utama.
"Tuan Besar, ada kabar buruk. Seseorang baru saja merilis data keuangan rahasia perusahaan ke pasar internasional. Saham kita terjun bebas pagi ini!"
Tuan Praditya hampir jatuh terduduk. "Siapa? Siapa yang melakukannya?!"
"Kami tidak tahu. Tapi datanya sangat akurat, terutama proyek di London yang ditangani Tuan Kenzo. Jika ini terus berlanjut, otoritas keuangan akan melakukan audit total!"
Wajah Tuan Praditya pucat pasi. Ia menyadari satu hal. Anindya tidak hanya pergi membawa dirinya sendiri. Dia pergi dengan membawa bom waktu yang siap menghancurkan dinasti Praditya.
Dan di Dubai, Anindya duduk tenang di meja makan sembari menyesap jus jeruknya. Sarah berdiri di sampingnya dengan tablet di tangan.
"Nyonya, tim kita di sini sudah siap. Apa langkah selanjutnya?"
Anindya menatap Elang yang sedang tertawa melihat kartun di televisi. Matanya berkilat dengan ketegasan yang tak tergoyahkan.
"Biarkan Kenzo mendarat di Jakarta besok. Biarkan dia melihat rumah yang kosong. Dan saat dia menyadari istrinya hilang, biarkan dia juga menyadari bahwa kerajaannya sedang runtuh. Aku ingin dia merasakan apa itu kehilangan segalanya."
Dunia Anindya memang sudah berubah. Dari seorang boneka yang tertindas, menjadi seorang ratu yang sedang menjalankan skakmat terakhirnya.
...----------------...
**To Be Continue** ....