[ Karya pertama di NovelToon ]
[ Semua visual di dalam didapat dari apk pinterest ]
----------
Yu Lingxi adalah Nona Muda Sekte Naga Giok. Ia dipuja-puja sebagai dewi karena memiliki kemampuan diatas rata-rata para kultivator wanita luar. Namun, ada suatu masa Sekte Naga Giok runtuh, disebabkan oleh Sekte Iblis Guntur yang secara terang-terangan mendeklarasikan peperangan dadakan. Dan diakhir hanya menyisakan nyawa Yu Lingxi dan Kakek Naga—Yu Tianlong. Peristiwa itu mengakibatkan mereka terpaksa meninggalkan sekte demi keberlangsungan hidup.
Tapi, tanpa Sekte Iblis Guntur ketahui, akan ada masanya Yu Lingxi membalaskan ketidakadilan dan dosa besar yang sudah mereka lakukan terhadap Sekte Naga Giok. Yu Lingxi, akan segera datang. Tunggu saja ...
----------
[ Hasil ketik tangan sendiri ]
[ Segi dunia, kultivasi, profesi, tingkatan, kekuatan, dan lain sebagainya adalah sebuah rekayasa dari ide author sendiri. Jika ada kesalahan kalimat/typo, mohon beritahu author ]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona cacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puncak Gunung Kembar #03
Lingxi, yang sedang merapikan hanfu mendadak berhenti bergerak. Matanya melebar menatap Shen Zhengtian. Pemutusan Roh? batin Lingxi terguncang.
Ranah Pemutusan Roh adalah tingkatan di mana seorang kultivator mulai memutus ikatan keduniawiannya untuk mencapai esensi jiwa yang lebih murni. Di usia delapan belas tahun, mencapai ranah tersebut—apalagi sudah di level 3—adalah sesuatu yang hampir mustahil.
Yu Tianlong sendiri tampak tertegun sejenak. Alisnya terangkat tinggi. "Pemutusan Roh? Di usia delapan belas tahun?" Ia kemudian terkekeh sambil menggelengkan kepala. "Pantas saja kau begitu sombong, Weijie. Kau benar-benar menyembunyikan seorang jenius muda di sekte ulatmu itu."
Shen Zhengtian, yang menjadi pusat pembicaraan, hanya menjura singkat dengan santai. "Kakek terlalu berlebihan."
Melihat reaksi terkejut Lingxi dan pengakuan dari Yu Tianlong, Shen Weijie tampak sangat puas. Ia berjalan mendahului mereka dengan langkah sangat lebar.
"Ayo, jangan hanya berdiri di sana dengan mulut terbuka!" seru Weijie dengan nada sombong yang mengesalkan itu. "Puncak Shuangfeng masih jauh, dan kita punya dua monster kecil yang harus segera dilatih!"
Lingxi hanya bisa mendengus kesal melihat kesombongan Shen Weijie. Hmph, sombong sekali Kakek Tua itu! dumelnya membatin.
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
^^^Shen Zhengtian's Tranquility Residence, at the Twin Mountain Peaks—Puncak Shuangfeng^^^
"Tunggu, jadi, alasan Kakek Naga membawa aku kemari hanya karena ingin aku belajar dari laki-laki ini?" Lingxi secara terang-terangan mengarahkan jari telunjuknya tepat ke posisi Shen Zhengtian.
Sebelum Yu Tianlong menjawab, Shen Zhengtian refleks mengayunkan tangan kirinya—bermaksud ingin menghentikan langkah Yu Tianlong. Kakek Naga tersentak dengan pandangan terarah ke wajah Shen Zhengtian. Wajah pemuda itu tampak
Dengan postur tubuh kekar yang mantap, ia mengambil langkah maju menuju arah Lingxi. Lingxi yang berdiri cukup jauh, terpaku memperhatikan pergerakan pemuda itu. Langkah kaki Shen Zhengtian terdengar sangat halus—atau lebih tepatnya, tidak terdengar sama sekali. Lingxi mencoba mempertajam indra pendengarannya, namun tidak ada bunyi gesekan kain, tidak ada suara ranting kering yang patah, bahkan tidak ada bunyi debu yang terinjak.
Lingxi mulai dilingkupi banyak pertanyaan. Apakah Shen Zhengtian di depan ini benar-benar berjalan menggunakan kakinya sesuai fungsi manusia normal, atau ia sebenarnya sedang melayang tipis di atas permukaan tanah? Gerakannya begitu mulus, seakan-akan ia menyatu dengan angin di alam.
Dan sekarang, jarak di antara mereka menyempit hingga tersisa hanya tiga langkah. Shen Zhengtian berhenti tepat di depan Lingxi, membuat Lingxi harus sedikit mendongak untuk menatap wajah pemuda yang lebih tinggi darinya itu.
"Nona Yu," panggil Shen Zhengtian halus. "Sepertinya saya akan sedikit merepotkan Anda. Mohon kerja samanya," lanjutnya sembari mengembangkan senyuman manis terpatri jelas di bibirnya yang alami.
Jarak yang cukup dekat hingga aroma dingin seperti embun pegunungan yang menguar dari tubuh pemuda itu menusuk indra penciuman Lingxi. Pandangannya terkunci pada wajah di depan. Dari sudut pandang Lingxi, dapat diakui oleh gadis itu—Shen Zhengtian memang mempunyai paras yang tampan. Bahkan, tak hanya tampan, tapi sangat tampan.
Struktur wajah Shen Zhengtian tampak seperti dipahat dengan sangat teliti oleh seniman terkenal kekaisaran. Garis rahangnya tegas namun halus, memberikan kesan maskulin. Matanya yang berwarna cokelat kemerahan gelap begitu memukau, dibingkai oleh bulu mata lentik yang memperindahnya.
Tak hanya wajah, postur tubuh Zhengtian yang tegap dan kekar terlihat begitu proporsional. Lingxi tertegun, bibirnya sedikit terbuka tanpa suara karena kesempurnaan fisik pemuda dari Sekte Ular Serangga ini.
Detik demi detik berlalu tanpa disadari. Lingxi tidak sadar bahwa ia telah menatap mata Shen Zhengtian terlalu lama—lebih lama dari yang diperkirakan. Shen Zhengtian, yang sejak tadi menyadari tatapan intens itu—tidak menunjukkan rasa risih. Ia justru sedikit memiringkan kepalanya, membuat helai rambut hitamnya terjatuh di bahu, lalu berdehem pelan.
"Akhem, Nona Yu?" panggilan Shen Zhengtian memecah keheningan. "Apakah ada sesuatu di wajah saya yang membuat Anda merasa tidak nyaman?"
DEGG!!
Jantung Lingxi serasa melompat ke tenggorokan. Ia tersentak, mengerjapkan matanya dengan cepat saat kesadarannya kembali sepenuhnya. Pipinya mendadak terasa panas, memancarkan rona merah yang kontras dengan kulitnya yang putih dan selembut salju. Ia segera memalingkan wajah ke arah pepohonan.
"Ah! Tidak ... maksudku, tidak ada!" Lingxi menjawab dengan sedikit terbata-bata, berusaha mengatur napasnya agar tidak terdengar gugup. "Aku hanya ... aku hanya berpikir bahwa kau jenius muda yang sangat hebat!"
Shen Zhengtian hanya memberikan senyum tipis—hampir tak kentara namun cukup untuk membuat Lingxi semakin salah tingkah. "Begitukah? Nona terlalu menyanjung," balasnya dengan ke dua mata ikut tersenyum manis menghiasi wajah tampannya itu.
Melihat interaksi kedua anak muda yang kini saling bercengkrama, Yu Tianlong dan Shen Weijie saling mencuri pandang dengan senyuman lebar terukir secara terang-terangan di wajah mereka. Lalu secara tiba-tiba masing-masing dari mereka tertawa lepas, membuat perhatian Shen Zhengtian dan Lingxi teralihkan.
Wajah Lingxi masih terasa panas akibat rona merah yang belum sepenuhnya pudar, namun rasa malu itu dengan cepat berubah menjadi kekesalan yang meledak saat ia mendengar suara tawa tertahan dari depan.
Ia mengalihkan perhatian ke arah Yu Tianlong serta Shen Weijie saling menyikut lengan satu sama lain. Kakeknya itu bahkan menutup mulut dengan tangan, namun matanya yang menyipit dan bahunya yang berguncang hebat jelas menunjukkan bahwa ia sedang menertawakan momen canggung antara dirinya dan Shen Zhengtian.
Tanpa aba-aba dengan wajah yang sudah merah padam bak kepiting rebus yang siap disajikan, ia berjalan dengan getaran dahsyat menghampiri Kakek Naga satu-satunya itu. Saat tubuhnya sudah berdiri menghadap Kakek Naga—jari jempol dan telunjuknya membentuk seperti capit kepiting. Sebelum Yu Tianlong sempat menyadari bahaya yang mendekat, tangan Lingxi sudah melayang di udara dan, HAP!
Jarinya menjepit telinga kanan sang Kakek Naga dengan sangat akurat. Lingxi memutar jeweran itu dengan tenaga ekstra. "Aduh! Aduh! Aduh! Ampun Naga Kecil! Lepaskan Kakek!" Yu Tianlong terperanjat, tubuhnya yang tadi tegak berwibawa seketika meliuk-liuk mengikuti arah tarikan tangan cucunya.
"Apa yang Kakek tertawakan, hah?!" bentak Lingxi, giginya bergeletuk kesal. "Aku bisa melihat isi pikiran Kakek dari sini! Jangan harap aku tidak tahu rencana aneh apa yang sedang Kakek susun bersama Kakek Tua Bangka yang menyebalkan itu!"
Shen Weijie, yang berdiri di samping mereka, langsung menghentikan tawanya dan berlagak sibuk menatap langit-langit hutan. Sementara itu, Yu Tianlong masih berusaha melepaskan telinganya yang kini sudah sewarna dengan merah rubi.
"Aduh, aduh! Lingxi, kecilkan suaramu! Malu dilihat Shen Zhengtian dan Weijie!" ringkih Yu Tianlong dengan wajah memelas. "Kakek hanya senang melihatmu akrab dengan pemuda berbakat. Masa depan itu harus dipersiapkan sejak dini, bukan?"
Dengan bodohnya Yu Tianlong tidak sadar bahwa jawaban yang meluncur mulus dari mulutnya itu semakin membangkitkan gejolak api dari dalam tubuh Lingxi. "Persiapan apa?! Kami baru saja berkenalan!" Gadis itu mempererat jewerannya sedetik sebelum melepaskannya dengan sentakan kecil.
"Berhenti menjodoh-jodohkanku dalam pikiran Kakek! Aku ke Puncak Shuangfeng untuk berlatih menjadi kuat, bukan untuk mencari jodoh!" ketusnya sembari bersedekap dada. "Sekarang, tuntun ke tempat pelatihan! Jangan ada lagi tawa aneh atau bisik-bisik!" perintah Lingxi tegas.
Yu Tianlong mengusap-usap telinganya yang berdenyut panas, wajahnya tampak cemberut seperti anak kecil yang baru dihukum. "Galak sekali, persis seperti nenekmu," gumamnya pelan, namun langsung bungkam saat Lingxi memberikan tatapan maut padanya.
Shen Weijie mendekati Yu Tianlong, lalu berbisik sangat pelan, "Anakmu sepertinya melahirkan seekor Naga Kecil yang galak, Tianlong."
"Diamlah, Weijie," balas Yu Tianlong parau. "Telingaku hampir copot, dan kau masih sempat bercanda."
Di sisi lain, Shen Zhengtian hanya dapat di berdiri mematung. Wajahnya yang biasanya tampak ramah kini menampakkan sedikit kekakuan dan keringat dingin mengucur keluar dari dahi menuruni pelipis. Tapi, jauh di dalam hati, pemuda itu senang dapat dipertemukan dengan gadis yang penuh kejutan seperti Lingxi.
Gadis ini ... menarik, ya?
......✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦......
...…To Be Continued…...
Nggak sia-sia bacanya, harap-harap alurnya juga semantep visualnya/Kiss//Rose/