NovelToon NovelToon
Satu Nama, Selamanya

Satu Nama, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rea Sayne

Aku Andrea Sayne memiliki Satu kakak laki laki bernama Hazel, kakak ku Memiliki banyak teman Salah satu nya Panggil saja Luq, Luq bukan sekadar teman baik Hazel. Bagiku, dia adalah "bintang" yang selalu mampir ke ruang tamu kami, membawa tawa yang sama, namun dengan efek yang berbeda di hatiku.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat punggung Luq saat dia berjalan masuk ke rumah, atau mendengar candaannya dengan Kak Hazel dari balik pintu kamar. Aku tumbuh dengan mengaguminya dalam diam, membiarkan perasaan itu menetap, bahkan ketika aku mulai beranjak remaja dan menyadari bahwa perasaanku tidak lagi sesederhana saat kami masih bermain Mobile Legends Bersama Di ruang tamu.
Dulu, aku hanya "adik kecil yang menyebalkan". Sekarang, saat aku beranjak dewasa, jarak antara aku dan Luq terasa semakin membingungkan. Apakah mungkin dia melihatku lebih dari sekadar "adiknya Hazel"? Atau, apakah perasaanku hanya akan menjadi rahasia yang terkunci rapat di balik pintu ruang tamu kami?..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31: Puing-Puing Kepercayaan

Suara mesin mobil Kak Hazel adalah satu-satunya bunyi yang mengisi keheningan yang mencekam selama perjalanan pulang. Aku duduk di kursi penumpang, menempelkan dahi ke kaca jendela yang dingin, menatap lampu-lampu jalanan Jakarta yang membias karena air mata yang belum kering.

Kak Hazel mencengkeram kemudi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarahnya masih terasa, namun kini bercampur dengan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan: kekecewaan yang mendalam.

"Kenapa, Rea?"

Pertanyaan itu meluncur pelan, namun terasa seperti dentuman keras di telingaku. Kak Hazel tidak menoleh. Matanya lurus menatap jalanan.

"Kenapa apa, Kak?" suaraku bergetar.

"Kenapa harus dia? Dari jutaan pria di China, kenapa harus pria yang aku anggap sebagai saudaraku sendiri? Dan sejak kapan?" Kak Hazel tertawa getir. "Apa saat kalian bertemu kembali di Universitas Zhejiang, kalian sudah merencanakan ini di belakangku?"

"Tidak ada yang direncanakan, Kak," jawabku sambil berusaha mengatur napas. "Saat aku berangkat SMA ke China, aku bahkan tidak tahu Luq ada di sana. Kami bertemu kembali di Zhejiang sebagai dua orang asing yang membawa beban masa lalu. Dia menjagaku... tapi perasaan itu tumbuh begitu saja. Kami tidak bisa mengendalikannya."

"Mengendalikan? Luqman yang aku kenal selalu punya kendali penuh atas dirinya!" Kak Hazel memukul kemudi. "Dia tahu aturan tidak tertulis di antara kita. Dia tahu kamu adalah garis merah yang tidak boleh dia lewati. Tapi dia tetap melakukannya. Dia masuk ke dalam hidupmu bukan sebagai pelindung, tapi sebagai pencuri."

"Dia tidak mencuri apa pun!" sergahku, mulai merasa sesak. "Dia memberikan segalanya! Dia membantuku saat aku hampir menyerah dengan kuliahku, dia ada saat aku lelah. Dia tidak pernah memaksaku, Kak. Aku yang memilihnya."

Kak Hazel mengerem mobil dengan mendadak saat kami sampai di depan pagar rumah. Dia menoleh padaku, matanya merah. "Kamu masih kecil, Rea. Kamu tidak mengerti. Pria seperti dia... Lukas Arkan yang sekarang... dia punya dunia yang berbahaya. Dan dia menggunakan masa lalu kita sebagai tiket untuk masuk ke hatimu. Itu yang membuatku muak."

Aku tidak menjawab. Aku langsung keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah, mengunci diri di kamar. Aku melempar tas ke lantai dan menjatuhkan diri ke tempat tidur.

Dadaku terasa nyeri. Aku teringat wajah Lukas tadi—sudut bibirnya yang pecah, sorot matanya yang pasrah saat menerima pukulan Kak Hazel. Dia bisa saja menghindar. Dia bisa saja membalas dengan satu gerakan yang akan menjatuhkan Kak Hazel dalam sekejap. Tapi dia memilih untuk berdarah.

Di tempat lain, di sebuah hotel mewah di pusat kota, Lukas duduk di tepi tempat tidur besarnya. Lampu kamar sengaja dia redupkan. Dia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Sudut bibirnya membiru, dan rahangnya terasa kaku. Dia mengambil sepotong es batu, membungkusnya dengan handuk kecil, lalu menempelkannya ke lukanya.

Rasa sakit itu justru membuatnya merasa lebih baik. Seolah-olah rasa sakit fisik itu adalah penebusan dosa atas rahasia yang dia simpan begitu lama.

Ponselnya bergetar di atas nakas. Sebuah pesan masuk dari sekretarisnya di Hangzhou tentang pertemuan pagi dengan investor besok. Lukas mengabaikannya. Dia justru membuka galeri foto di ponselnya. Ada sebuah foto tersembunyi—foto aku yang sedang tertidur di perpustakaan Zhejiang beberapa hari lalu, dengan tumpukan buku di sekelilingku.

"Maafkan aku, Zel," bisik Lukas pada kesunyian kamar hotelnya. "Aku sudah mencoba menjadi sahabat yang baik. Tapi aku lebih memilih menjadi pria yang jujur untuknya."

Lukas tahu, perbuatannya malam ini telah menghancurkan satu-satunya tempat "pulang" yang dia miliki di Jakarta. Dia telah kehilangan sahabat terbaiknya. Namun, saat dia mengingat genggaman tanganku di bawah meja tadi, dia tahu dia akan melakukan hal yang sama seribu kali lagi jika harus memilih.

Keesokan paginya, suasana di rumah terasa seperti pemakaman. Ibuku menatapku dan Kak Hazel dengan bingung. Dia melihat lebam di tangan Kak Hazel dan mata sembabku, tapi tidak berani bertanya banyak. Kak Hazel berangkat kerja tanpa mengucapkan sepatah kata pun padaku.

Aku duduk di teras depan, menatap jalanan sepi, sampai sebuah mobil hitam yang sangat kukenal berhenti di depan pagar. Lukas keluar dari mobil. Dia tidak lagi memakai jas. Hanya kaos hitam sederhana dan celana jeans, persis seperti Luq sepuluh tahun lalu. Lebam di wajahnya terlihat lebih jelas di bawah sinar matahari pagi.

Aku berlari ke pagar. "Kamu gila? Kak Hazel bisa kembali kapan saja!"

Lukas tersenyum, meski senyum itu membuatnya meringis kesakitan. "Aku tidak takut pada pukulan Hazel, Rea. Aku hanya takut kamu berubah pikiran setelah apa yang terjadi semalam."

Aku menggeleng kuat-kuat, air mata kembali menggenang. "Aku tidak akan berubah pikiran. Tapi ini sulit, kak Luq. Kak Hazel sangat terluka."

Lukas menggenggam jemariku di sela-sela jeruji pagar. "Aku tahu. Dan aku akan memperbaikinya. Bukan dengan uang atau kekuasaan Lukas Arkan, tapi dengan waktu. Aku akan menunjukkan padanya bahwa aku tidak mengambil adiknya, tapi aku sedang menjaga bagian dari jiwaku sendiri."

"Bagaimana dengan bibirmu?" aku menyentuh lukanya dengan lembut melalui sela pagar.

"Anggap saja ini tanda penghargaan dari calon kakak ipar yang sangat protektif,"

candanya, mencoba mencairkan suasana.

Tiba-tiba, ponsel Lukas berdering. Itu panggilan dari kantor pusat di China.

Wajahnya berubah serius. "Aku harus pergi sebentar, Rea. Ada masalah teknis di server pusat yang membutuhkan otoritas kodenya langsung dariku. Tapi aku janji, aku akan kembali sore ini. Kita akan bicara dengan ibumu, dan kita akan menghadapi Hazel bersama-sama."

"Hati-hati, Luq," bisikku.

Lukas mengangguk, dia mengecup punggung tanganku melalui pagar, lalu kembali ke mobilnya. Aku menatap mobil itu sampai hilang di tikungan jalan. Ada perasaan tidak enak yang merayap di hatiku. Sesuatu yang Kak Hazel katakan semalam tentang "dunia kotor" Lukas Arkan terus terngiang-ngiang.

Siang harinya, saat aku sedang mencoba fokus pada tugas kuliahku, sebuah berita muncul di notifikasi ponselku.

"BREAKING NEWS: Arkan Tech Solutions Mengalami Serangan Siber Terbesar, Saham Merosot Tajam."

Jantungku seolah berhenti berdetak. Aku teringat wajah Lukas yang cemas tadi. Apakah ini alasan sebenarnya kenapa dia harus kembali ke hotelnya? Atau apakah ini sabotase dari pihak-pihak yang tidak suka dengan kepulangannya ke Jakarta?

Aku mencoba menelepon Lukas berkali-kali, tapi ponselnya tidak aktif.

Aku mencoba menghubungi sekretarisnya di China, tapi hanya ada nada sibuk. Perasaan tidak enak itu kini berubah menjadi ketakutan yang nyata.

Tiba-tiba, Kak Hazel pulang lebih awal. Dia membanting pintu rumah dan menatapku dengan wajah pucat.

"Rea! Di mana Luqman?!" teriaknya.

"Dia... dia pergi ke hotelnya tadi pagi katanya ada urusan penting. Ada apa, Kak?"

Kak Hazel menunjukkan layar ponselnya. Ada sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal: "Jangan biarkan Lukas Arkan pulang ke China jika ingin adikmu tetap aman."

Duniaku runtuh seketika. Pertengkaran semalam tiba-tiba terasa sangat kecil dibandingkan dengan ancaman yang sekarang mengintai kami. Kak Hazel, meskipun masih marah, tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya.

"hah.., Dugaan ku benar," bisik Kak Hazel sambil terduduk lemas. "Dunia yang dia bawa ke sini benar-benar akan menghancurkan kita."

Episode 31 ini ditutup dengan kesadaran pahit: bahwa cinta Lukas dan kejujurannya bukanlah satu-satunya hal yang harus kami hadapi. Ada bayang-bayang besar dari kesuksesannya yang kini mulai menelan kehidupan sederhana kami di Jakarta. Dan aku hanya bisa bertanya-tanya, di mana Lukas sekarang? Dan apakah dia aman di tengah badai digital yang sedang melanda Perusahaan nya?

1
Andrea Zye
Lucu banget Luq
Andrea Zye
nooo Dia Berubah.
Andrea Zye
LUQ APAKAH ITU KAMUU? :(
Andrea Zye
Duh Mau jadi Reaaa
Andrea Zye
Kasian banget... luq nya
Andrea Zye
semangatt Kak luq yang gantengg
Andrea Zye
Keren kakk, Aku sukaaa
Andrea Zye
seruu banget alurnyaa
Rea
cerita remaja menginspirasi, semangat othor
Andrea Zye: Terimakasih authorr sudah Membuat novel Ini, Saya sangat sukak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!