"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.
Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.
Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: DARAH YANG TERBELAH
Pagi itu, suasana di mansion Winchester terasa berat. Keano berdiri di ruang kerja ayahnya, Adrian Winchester. Sejak kedatangan keluarga besar kemarin, Adrian lebih banyak diam dan mengamati menantunya.
"Keano," suara Adrian memecah keheningan. Pria tua itu berdiri di dekat jendela, menatap taman. "Ada yang aneh dengan Alzena."
Keano sedikit menegang. "Dia hanya sedang masa pemulihan, Ayah."
"Bukan soal fisiknya," Adrian berbalik, matanya menatap tajam putra sulungnya. "Cara bicaranya. Sejak kapan putri Aldric Halim yang lemah lembut itu menggunakan kata 'Gue' dan 'Lo' padamu? Seingatku, dulu dia bahkan tidak berani bicara jika tidak ditanya. Tapi wanita yang kulihat kemarin... dia punya tatapan predator. Dia cerdas, tajam, dan sama sekali tidak punya sopan santun khas keluarga Halim."
Keano terdiam sesaat. Ia sudah lama menyadari itu, tapi mendengar orang lain menyuarakannya membuat dadanya sesak. "Mungkin karena dia sudah lelah menjadi korban, Ayah. Dia memutuskan untuk menjadi lebih keras agar tidak ada lagi yang berani menyakitinya."
Adrian menghela napas. "Aku harap kau benar. Tapi jaga istrimu baik-baik. Ada sesuatu yang dia sembunyikan, dan aku takut itu akan membahayakan Winchester."
Sementara itu, di lantai atas, Alzena sedang bersiap-siap. Pikirannya tidak tenang sejak mendengar nama "Bi Asih" di data yang ia retas. Ia harus menemuinya.
Ia baru saja hendak keluar kamar saat Keano muncul di depan pintu.
"Mau ke mana?" tanya Keano. Tatapannya menelusuri wajah Alzena.
"Gue ada urusan. Jangan ikut," jawab Alzena ketus.
"Aku tidak bertanya kau mau aku ikut atau tidak. Aku bertanya kau mau ke mana," Keano melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Suaranya rendah dan posesif. "Ayahku mulai curiga padamu. Kalau kau keluar sendirian lagi dan terjadi sesuatu, aku tidak bisa menjamin Ayah tetap tinggal diam."
Alzena menghela napas kasar. "Gue cuma mau nemuin mantan pengasuh gue, Keano. Bi Asih. Cuma dia yang tau kenapa masa kecil gue rasanya kayak kosong."
Keano terdiam. Ia melihat kesedihan yang tulus di mata Alzena. "Aku antar. Aku tunggu di mobil."
Perjalanan menuju pinggiran kota terasa sunyi. Begitu sampai di sebuah warung kecil, Alzena turun sendirian. Ia melihat seorang wanita tua yang sedang menyapu lantai. Begitu mata mereka bertemu, wanita itu menjatuhkan sapunya.
"Non... Non Alzena?" Bi Asih mendekat dengan gemetar.
Alzena mengajak wanita itu duduk di sudut yang sepi. "Bi, tolong jujur sama aku. Siapa Arcelia? Kenapa namanya selalu ada di kepala aku?"
Bi Asih menutup mulutnya, air mata mulai mengalir. "Non... Bibi pikir Tuan Aldric sudah membuang semua kenangan itu. Arcelia... dia itu adik kembar Non."
Alzena membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak. "Kembar?"
"Iya, Non. Kalian kembar identik. Tapi saat kalian lahir, seorang peramal bilang pada Tuan Aldric kalau anak bungsu—Arcelia—bakal bawa sial buat kekayaan Halim. Tuan Aldric yang gila harta itu tega misahin kalian. Arcelia dibuang ke panti asuhan, dan Non Alzena dilarang pernah tau kalau punya adik."
Dunia Alzena terasa runtuh. Jadi... Arcelia yang selama ini ia pikir adalah identitas aslinya yang "nyasar" ke tubuh orang lain, ternyata adalah pemilik sah dari darah yang sama. Dia bukan orang asing. Dia adalah adik kembar dari tubuh yang ia tempati sekarang.
"Terus... di mana Arcelia sekarang, Bi?" tanya Alzena dengan suara bergetar.
Bi Asih menunduk sedalam-dalamnya. "Bibi dengar... panti asuhannya kebakaran sepuluh tahun lalu. Arcelia dianggap meninggal di sana. Tapi Non... Bibi selalu ngerasa Non Arcelia masih hidup di suatu tempat."
Alzena meremas dadanya yang terasa sangat sesak. Gue Arcelia, Bi. Gue masih hidup, tapi kakak gue yang mati... batinnya menjerit.
Rasa sakit yang luar biasa menghantam kepalanya. Memori-memori masa kecil yang selama ini terpisah—antara kemewahan yang dingin milik Alzena dan kemiskinan yang keras milik Arcelia—seolah-olah dipaksa menyatu.
"Non! Non Alzena kenapa?!" Bi Asih panik melihat Alzena yang pucat pasi dan mulai kesulitan bernapas.
Keano, yang sejak tadi mengamati dari jauh, langsung berlari masuk ke dalam warung. Ia menangkap tubuh Alzena tepat sebelum wanita itu jatuh ke lantai.
"Alzena! Hei, lihat aku!" Keano menangkup wajah Alzena, matanya penuh kecemasan. "Apa yang kau lakukan padanya?!" bentak Keano pada Bi Asih.
"S-saya cuma cerita masa lalu, Tuan..." jawab Bi Asih ketakutan.
Alzena mencengkeram kemeja Keano, air mata mengalir deras. "Keano... bawa gue pulang... tolong... sesek banget..."
Keano langsung menggendong Alzena. Ia tidak peduli lagi pada urusan lain. Ia membawa Alzena kembali ke mobil. Di dalam perjalanan pulang, Alzena terus menangis di pelukan Keano. Keano tidak bertanya apa-apa, ia hanya mendekap istrinya erat-erat, menciumi keningnya untuk memberikan ketenangan.
"Sshhh... sudah, aku di sini. Kau aman," bisik Keano, suaranya yang biasanya dingin kini terdengar sangat tulus dan penuh kasih.
Sesampainya di mansion, Keano langsung membawa Alzena ke kamar. Ia membatalkan semua jadwalnya, termasuk rencana keberangkatan ke Calveron yang seharusnya dilakukan sore itu.
"Ayah, Alzena sedang sakit. Kita tidak jadi berangkat hari ini," ujar Keano tegas lewat telepon kepada Adrian yang berada di lantai bawah.
Keano duduk di pinggir tempat tidur, memperhatikan Alzena yang akhirnya tertidur karena kelelahan menangis. Ia membelai rambut Alzena dengan lembut. Namun, matanya tertuju pada leher belakang Alzena.
Ada tanda lahir kecil di sana.
Tiba-tiba Keano teringat sesuatu. Saat ia diselamatkan oleh gadis di gudang tua dulu, gadis itu juga punya tanda yang sama di tempat yang sama.
"Tanda ini..." bisik Keano. Jantungnya berdegup kencang. "Nggak mungkin. Alzena punya tanda ini? Tapi gadis itu... dia bukan Alzena yang lemah."
Keano mulai merasa ada potongan puzzle yang sangat besar yang hampir ia pecahkan. Ia menatap istrinya dengan tatapan yang kini bukan hanya posesif, tapi penuh dengan tanda tanya besar.
Di sisi lain, Shania yang sedang menunggu di bandara, membanting tasnya saat mendapat kabar keberangkatan dibatalkan.
"Sialan! Pasti gara-gara drama Alzena lagi!" Shania mendesis. "Lihat saja. Kalau kalian nggak ke Calveron, biar aku yang bawa kehancuran itu ke rumah ini!"
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘