NovelToon NovelToon
Mereka Adalah Suamiku

Mereka Adalah Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Wisa

⚠️ ***+ | Kisah Cinta segitiga

Valencia kehormatannya direnggut, hatinya terbelah.
Valencia hancur saat kehormatannya direnggut oleh Ansel—pria yang hadir diantara cinta Valencia dan Zyro,. Namun Zyro, kekasihnya yang sangat mencintainya, tetap ingin menerima apa adanya dan ingin menikahinya.

Keduanya mengaku mencintainya, keduanya tak ada mau mengalah. Perkelahian sengit pun terjadi, hingga di batas keputusasaan, Valentina harus melukai dirinya sendiri hanya agar mereka mau berhenti...

Melihat wanita yang mereka cintai terbaring penuh darah, akhirnya kedua pria itu mengambil keputusan berat: mereka berdua akan menikahi Valen dan berjanji menjaganya bersama-sama.

Dua pria, satu wanita.

Akankah cinta bisa menyatukan mereka, atau malah membawa pada kehancuran yang lebih dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Wisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saling Memaafkan

Sesampainya di bagian belakang mension, Zyro terus melangkah dengan langkah mantap mendekati kedua kakek dan neneknya yang sudah lanjut usia itu. Saat itu, sang Kakek terlihat sedang dengan sabar memapah sang Nenek berjalan perlahan menjauhi gazebo, sepertinya hendak masuk ke dalam rumah. Tubuh sang Nenek memang sudah tidak sekuat dulu, sehingga ia membutuhkan bantuan orang lain hanya untuk berjalan jarak yang pendek sekalipun.

Tanpa membuang waktu sedikitpun, Zyro segera mendekat. Dengan gerakan yang lembut namun penuh kekuatan, ia mengangkat tubuh sang Nenek ke dalam gendongannya, lalu membawanya kembali duduk dengan nyaman di kursi empuk yang ada di dalam gazebo. Sang Kakek pun ikut kembali masuk ke dalam gazebo dan duduk di kursi yang berhadapan dengan mereka, matanya tak lepas menatap wajah cucu kesayangannya itu seolah tak percaya sosok yang sangat dirindukannya kini ada tepat di hadapannya.

"Akhirnya kau pulang, Zyro..." ujar sang oma dengan suara yang berat namun terdengar begitu lembut dan penuh kerinduan yang mendalam.

"Opa mu sangat menghawatirkan mu, cucuku... Kenapa kau melewatkan pertandingan besarmu bulan hari? Opa mu sudah menyiapkan segalanya untuk menonton mu, tapi kau tak muncul-muncul. Oma sempat berpikir hal buruk menimpamu..."

Zyro hanya terdiam. Tenggorokannya terasa tercekat, dan ia sama sekali tak mampu mengucapkan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaan itu. Hatinya terasa sesak oleh rasa haru dan kasih sayang yang begitu besar. Ia hanya menundukkan kepalanya perlahan, lalu mencium kening keriput sang Nenek dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang yang tulus.

Setelah melepaskan ciumannya, Zyro perlahan menggenggam tangan Valencia yang sedari tadi berdiri di sampingnya dengan lembut namun erat. Ia lalu menaruh tangan Valencia ke atas telapak tangan keriput sang Nenek, seolah ingin menyatukan ikatan di antara mereka.

"Berterima kasihlah padanya, Oma..." ucap Zyro pelan namun jelas, matanya menatap wajah wanita tua di hadapannya dengan pandangan yang dalam dan penuh makna. "Karena mungkin, jika bukan karena dia... entah kapan aku akan menginjakkan kakiku kembali di rumah ini. Dialah yang mengembalikan aku ke sini, kembali kepada kalian."

Sang Oma tersenyum lembut, matanya yang sudah mulai kabur itu menatap wajah cucunya dengan pandangan penuh pengertian dan kasih sayang. Meskipun sikap Zyro terlihat dingin, tegas, dan jarang bicara, namun sang Oma tahu betul bahwa di balik penampilan itu tersimpan hati yang sangat lembut, hangat, dan penuh perasaan.

"Siapa dia, Sayang?" tanya sang Oma perlahan, jarinya yang kurus gemetar menyentuh tangan Valencia dengan lembut.

"Dia calon istriku, Oma," jawab Zyro mantap dan tegas tanpa keraguan sedikitpun.

Sementara itu, saat sang Nenek sedang sibuk berbincang dan menikmati kebersamaannya dengan cucu kesayangannya, di sisi lain sang Kakek—Tuan Mahardika—sedang berbincang akrab dengan Ansel. Mereka saling bertanya kabar dan keadaan satu sama lain. Sebenarnya mereka sudah saling mengenal cukup baik, karena dunia bisnis dan lingkungan pengusaha besar memang tidak terlalu luas. Mereka sering bertemu dalam pertemuan resmi, rapat bisnis, atau acara sosial, sehingga rasa hormat dan kenal-mengenal di antara mereka sudah terjalin cukup lama. Opa masih mengira Ansel adalah sahabat sang cucu.

Namun, suasana akrab itu tiba-tiba terhenti saat sang Oma kembali angkat bicara, suaranya terdengar lemah namun tegas, seolah sedang mengingatkan sesuatu yang sangat penting.

"Hei, Mahardika..." panggilnya menatap tajam ke arah suaminya.

"Di mana janjimu padaku? Bukankah berjanji padaku, bahwa kau akan meminta maaf kepada cucuku? tapi kenapa sampai sekarang kau belum juga melakukannya?"

Sang Opa yang dikenal sebagai orang yang sangat berwibawa dan tegas itu seketika diam mematung. Ia terdiam seribu bahasa, tak mampu menjawab atau membantah ucapan istrinya.

"Apa kau ingin menunggu sampai aku dikubur dulu di dalam tanah, baru kau mau menurunkan egomu dan meminta maaf pada cucuku itu, dan zyro tak ingin kembali kesini lagi, kau akan kehilangannya lagi Mahardika?" lanjut sang Oma dengan nada yang mulai terdengar bergetar menahan emosi.

Belum sempat sang Opa menjawab, Zyro perlahan bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati kakeknya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia langsung memeluk tubuh tua itu dengan erat, seolah ingin meluapkan segala rasa rindu dan kasih sayang yang selama ini ia pendam dalam hati.

"Maafkan aku, Opa..." bisik Zyro pelan tepat di telinga sang Kakek, suaranya terdengar serak dan bergetar menahan tangis.

Mendengar bisikan itu, air mata sang Opa akhirnya tumpah juga. Pria tua yang gagah dan disegani itu kini menangis terisak dalam pelukan cucunya sendiri. Ia membalas pelukan Zyro dengan sangat erat, seolah takut jika ia melepaskannya, cucunya akan hilang lagi selamanya.

"Bukan, Nak... Bukan salahmu," jawabnya terbata-bata di sela isak tangisnya. "Maafkan Opa... Maafkan Opa , Zyro... Opa yang salah, Opa yang sudah keras kepala dan membuatmu membuatmu jadi menderita selama ini. Maafkan Opa..."

Melihat pemandangan haru itu, Valencia pun tak kuasa menahan air matanya. Ia ikut meneteskan air mata bahagia, hatinya terasa hangat melihat kedua orang yang paling dicintai Zyro akhirnya berdamai dan kembali bersatu dengan kasih sayang yang tulus.

Namun, suasana haru itu tiba-tiba terpecah saat seorang pelayan datang menghampiri mereka dengan langkah hati-hati.

"Permisi, Nyonya, Tuan..." ujarnya dengan sopan. "Makan siang sudah siap di ruang makan. Dan ini sudah waktunya Nyonya meminum obat rutinnya, kata dokter tidak boleh telat sedikitpun..."

Tepat setelah itu, asisten rumah tangga pun datang mendekat sambil mendorong sebuah kursi roda yang nyaman. Tanpa menunggu lama, Zyro kembali mengangkat tubuh sang Nenek dengan lembut dan hati-hati, lalu memindahkannya ke atas kursi roda itu dengan sangat perlahan agar tidak membuat wanita tua itu merasa sakit atau terganggu.

"Ayo, Oma... Kita masuk, makan dan minum obat dulu ya," ujar Zyro lembut sambil mendorong kursi roda itu perlahan menuju ke dalam rumah, diikuti oleh yang lainnya dengan perasaan bahagia dan tentram.

Suasana makan siang siang itu terasa begitu hangat dan akrab. Rumah megah yang biasanya terasa begitu luas, dingin, dan hampa hanya diisi oleh keheningan, kini berubah menjadi penuh kehangatan dan kegembiraan. Suara tawa dan percakapan ringan terdengar di sana-sini, membuat seluruh penghuni rumah dan para pelayan di dalamnya turut merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Sudah sangat lama sekali suasana hangat seperti ini tidak dirasakan di kediaman Mahardika.

Setelah acara makan selesai, mereka semua berjalan bersama menuju ruang keluarga yang luas dan nyaman untuk duduk santai dan berbincang lebih lama. Zyro duduk di samping Oma, sementara Valencia duduk di sebelahnya, dan Ansel duduk tidak jauh dari mereka. Sang Opa duduk di kursi utamanya, menatap mereka bergantian dengan wajah yang tampak lebih cerah dan damai dari biasanya.

Setelah suasana menjadi tenang dan hening sejenak, Zyro menarik napas panjang, lalu menatap kedua orang tua lanjut usia itu dengan tatapan yang serius namun penuh ketulusan. Ia memegang lembut tangan Oma di satu sisi dan tangan Valencia di sisi lainnya, lalu mulai membuka pembicaraannya dengan suara yang tegas dan jelas.

1
Ichka Francisca
ceritanya menarik
Pena Wisa: bantu dukungannya ya kak ini novel perdananku
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!