Asha, seorang gadis SMA yang gemar membaca, tanpa sengaja menemukan sebuah novel romantis bergenre dark yang langsung menarik perhatiannya. Awalnya hanya iseng, ia mulai membaca kisah kelam penuh obsesi, cinta yang beracun, dan tokoh antagonis yang kejam namun memikat. Tanpa sadar, ia terbawa suasana hingga larut malam.
Namun saat ia terbangun, dunia di sekelilingnya terasa asing.
Asha terkejut ketika menyadari bahwa dirinya bukan lagi berada di dunianya sendiri, melainkan masuk ke dalam novel yang semalam ia baca. Lebih buruk lagi, ia bukan tokoh utama yang memiliki perlindungan plot, juga bukan antagonis yang berkuasa melainkan hanya seorang figuran.
Seorang figuran yang dalam cerita aslinya dikenal karena satu hal: tergila-gila pada sang antagonis.
Dan yang paling mengerikan, Asha tahu persis bagaimana akhir dari karakter itu nasib paling mengenaskan yang bahkan tak layak disebut sebagai akhir bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Kaisar dengan cepat mencengkeram pergelangan tangan Melody, menahan gerakan gadis itu yang terus berusaha mendorongnya keluar. Tenaganya tidak kasar, tapi cukup kuat untuk membuat Melody berhenti bergerak.
"Iiih! Nyebelin banget sih lo! Lepasin!" semprot Melody sambil meronta kecil. "Sana pulang! Gue mau beauty sleep setelah drama panjang bin melelahkan ini. Capek tau nggak, hampir jadi pajangan mading psikopat!"
Melody menatap mata Kaisar dengan serius, suaranya sedikit merendah namun tegas. "Jangan aneh-aneh deh, Kai. Lo tetap aja sama pendirian lo buat ngejar si Zoya. Nggak usah sok peduli gini ke gue. Anggep aja gue cuma angin lewat atau pemeran figuran yang kebetulan lewat di depan mata lo. Gue nggak mau berharap banyak."
Kata-kata Melody barusan seperti godam yang menghantam dada Kaisar. Ia tersentak, tangannya yang memegang pergelangan tangan Melody perlahan melonggar.
Pikiran Kaisar mendadak berkecamuk. Benar, selama ini tujuan hidupnya adalah mendapatkan Zoya. Zoya adalah gadis yang ia anggap pantas untuknya. Tapi kenapa sekarang hatinya terasa seperti diaduk-aduk? Kenapa melihat baju Melody sobek tadi membuatnya ingin membunuh orang? Dan kenapa kalimat "anggap gue angin lewat" terasa begitu menyesakkan?
Kaisar terdiam seribu bahasa, menatap Melody dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kebingungan dan rasa posesif yang belum ia temukan namanya.
"Gue..." Kaisar menggantung kalimatnya. Ia ingin membantah, tapi egonya masih terlalu tinggi untuk mengakui bahwa fokusnya sudah mulai bergeser dari Zoya ke gadis cerewet di depannya ini.
"Udah, nggak usah 'gue-gue' an! Balik sana!" Melody memanfaatkan keterdiaman Kaisar untuk mendorongnya keluar kamar. "Hati-hati di jalan, jangan sampai nabrak pohon gara-gara mikirin Zoya!"
BRAK!
Melody menutup pintu kamarnya tepat di depan wajah Kaisar. Ia bersandar di balik pintu sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang. "Duh, jantung... lo bisa tenang dikit nggak sih? Inget, dia itu maut buat lo di akhir cerita!"
Sementara di luar pintu, Kaisar masih berdiri mematung. Ia menyentuh dadanya sendiri, merasakan debaran yang sama. "Kenapa gue nggak suka dia ngomong kayak gitu?" bisiknya pelan pada diri sendiri sebelum akhirnya melangkah pergi dengan pikiran yang benar-benar kacau.
Heh, kutu kupret! Baru muncul lo!" semprot Rere begitu melihat Melody berjalan gontai memasuki kelas dengan wajah yang sedikit pucat tapi masih sempat-sempatnya gaya.
Rhea langsung menoyor bahu Melody pelan. "Parah banget lo, Mel! Kemarin bolos nggak bilang-bilang. Gue sama Rere udah kayak janda ditinggal mati tau nggak? Mana tugas Fisika numpuk, kita bingung mau nyontek siapa!"
Melody menghela napas panjang, lalu duduk di kursinya dengan gerakan pelan, seolah seluruh badannya habis dipukuli. "Aduh, diem dulu deh lo berdua. Gue bukannya bolos mau healing, tapi gue kemarin habis diculik 'Malaikat Maut' versi kacamata!"
"Diculik gimana sih? Thomas kan pacar lo, masa diculik?" tanya Rere bingung.
"Pacar matamu! Itu orang ternyata psikopat cosplay jadi murid teladan!" seru Melody kocak sambil memijat pelipisnya. "Masa gue dikasih minum yang isinya obat tidur? Gue bangun-bangun bukannya di sekolah, malah udah di rumah dia yang seremnya ngalahin rumah hantu di pasar malem!"
"Terus? Terus?!" Rhea mendesak penasaran, matanya melotot.
"Terus ya gue diselamatin sama 'Kulkas Dua Pintu' kesayangan kita semua," ucap Melody sambil bergidik. "Sumpah ya, si Kaisar kalau lagi mode bantai orang, seremnya dapet, gantengnya... ah sudahlah, tetep dapet!"
"Gila... jadi Thomas beneran psikopat?" Rere menutup mulutnya syok.
"Iya! Makanya, mulai hari ini gue resmi jomblo lagi. Kapok gue sama yang polos-polos bangsat!" Melody menyandarkan kepalanya ke meja. "Duh, pinggang gue makin encok gara-gara drama kemarin. Mana si Kaisar sekarang makin posesif lagi, kayaknya gue nggak bakal bisa nafas tenang di sekolah ini."