Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 11
Amelia mengerjapkan mata beberapa kali. Ia perlu mencerna perkataan Caelan. Pria itu mengaitkan kasihan dengan cinta. Membuat pernyataan Amelia mengenai tidak mau dikasihani menjadi sebuah pernyataan cinta.
Tunggu dulu, apa itu tdi pernyataan cinta? Amelia menggeleng pelan. Tidak. Itu sama sekali bukan sebuah pernyataan cinta. Hanya pendapat yang Caelan kemukakan, bahwa rasa kasihan bisa menjadi dasar dari munculnya perasaan cinta.
Ya, pasti seperti itu, yang tadi itu sama sekali bukan pernyataan cinta.
“Amelia, kau mendengarku.”
Amelia hanya menggangguk sebagai tanggapan.
“Apa yang kukatakan?”
Amelia diam sesaat, lalu menjawab, “Kau bilang, cinta bisa saja didasari dari kasihan.”
“Ya.”
“Lalu apa hubungannya dengan yang kukatakan sebelumnya?” Jantung Amelia berpacu ketika menanyakan hal itu. Penuh antisipasi terhadap jawaban Caelan sekaligus berharap jawaban pria itu akan sesuai dengan keinginannya.
“Kau bilang, tidak ingin aku merasa kasihan padamu. Tapi Amelia, aku sudah merasa demikian. Aku kasihan padamu, lalu setelah perkenalan kita selama enam bulan ini, rasa kasihan itu menjadi sebuah kepedulian tanpa pamrih.”
Perhatian Amelia terfokus pada Caelan yang menatapnya dalam-dalam. “Aku ingin menyebutnya cinta, tapi kurasa ini masih terlalu awam. Jadi, akan kukatakan bahwa aku memiliki perasaan yang tulus kepadamu, aku peduli, suka ketika bersamamu, dan ingin selalu di dekatmu.”
Caelan mengambil jeda sesaat, kemudian melanjutkan, “Kita dipertemukan karena Emi. Kita harus bekerjasama juga karena bayi kecil itu.” Caelan memandang Emi yang masih pulas di atas tempat tidur, lalu kembali menatap Amelia. “Namun, aku melihatmu sebagai dirimu sendiri, Amelia. Dan menyukai apa yang kutemukan dalam dirimu.”
Reaksi pertama Amelia adalah membeku. Semua perhatiannya hanya terfokus pada pernyataan Caelan. Kali ini, Amelia tidak mungkin salah mengartikan. Caelan memang menyatakan perasaan padanya. Rasanya Amelia ingin melompat-lompat kegirangan, seperti remaja yang menerima pernyataan dari cinta pertamanya.
Namun, Amelia justru kaku. Mulutnya tidak bisa mengeluarkan suara. Ia ingin mengekspresikan perasaannya, berkata pada Caelan, “Aku juga menyukaimu.”
Amelia hanya bisa menunduk, menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca dan senyum kecil di bibirnya.
“Amelia, maaf jika membuatmu terkejut,” ucap Caelan. “Sebenarnya, aku tidak ingin mengatakannya sekarang. Aku ingin menunggu waktu yang tepat, tapi tadi … kau berkata seperti itu, jadi aku tidak bisa menahan diri.”
Amelia mengangkat matanya menatap Caelan. Ia menggeleng pelan. “Aku … hari ini pikiranku cukup kacau bahkan sejak kemarin begitu. Makanya aku mengatakan hal-hal yang tidak ingin kukatakan,” ujar Amelia. “Namun, aku tidak menyesal mengatakannya. Karena aku bisa mendengar mengenai perasaanmu padaku.”
Mata Amelia berkaca-kaca karena bahagia. “Aku … aku pikir aku cuma bermimpi,” bisikna pelan dengan suara sedikit bergetar.
Caelan beranjak hingga berlutut di depan Amelia. Kedua tangan pria itu meraup tangan Amelia. “Tanganmu dingin sekali,” ucap Caelan seraya meniup-niup jemari Amelia berusaha memberikan kehangatan.
“Aku sangat gugup.” Amelia mengakui.
“Sepertinya aku juga sama. Rasanya lebih gugup dibandingkan ketika bertemu klien pertamaku.”
“Jadi, aku seperti klien pertamamu?” ujar Amelia diiringi tawa.
“Ya, rasanya hampir seperti itu, tapi ini lebih mendebarkan. Terutama ketika aku masih menanti jawabanmu.”
“Kau tahu, Caelan,” ucap Amelia, “Aku juga merasakan hal yang sama.”
“Aku tidak rela melihatmu pergi.”
Amelia hanya bisa tersenyum menanggapi keluhan Caelan. Pria yang sekarang adalah kekasihnya itu sudah berkali-kali mengatakan hal yang sama.
“Aku hanya pulang ke rumah,” ujar Amelia membujuk Caelan. “Kau bisa datang menemuiku besok.”
“Harusnya aku mengantar kalian pulang,” kata Caelan sambil menoel pipi Emi yang sudah nyaman duduk di car seat.
Amelia juga sudah duduk manis di belakang kemudi, siap pergi kapan saja. Namun, Caelan yang masih duduk di kursi belakang setelah meletakkan Emi di car seat belum ingin beranjak sehingga Amelia tidak bisa berangkat.
“Tidak apa-apa. Aku bisa menyetir pulang dengan aman. Kupastikan Emi selamat sampai rumah.” Amelia berusaha menenangkan. Matanya bertemu pandang dengan Caelan melalui spion dalam mobil. Tangan Caelan menyentuh bahu Amelia, lalu pria itu berkata, “Bukan hanya Emi, kau juga harus menjaga dirimu. Kalian harus sampai dengan selamat. Tunggu aku di rumah, besok aku akan ke sana.”
Amelia menyentuh jemari Caelan, lalu menepuk pelan beberapa kali. “Tentu saja, aku akan menjaga diriku baik-baik. Tidak usah khawatir.”
“Kurasa, aku tidak bisa menunggu sampai besok,” ujar Caelan. “Aku akan berangkat setelah makan malam dengan orangtuaku.”
Amelia memukul jemari Caelan cukup keras hingga pria itu mengaduh. “Jangan membuatku khawatir.” Ia memperingatkan. “Kau pergi makan malam dengan orangtuamu dan istirahat setelahnya. Besok pagi baru berangkat. Jangan memaksakan diri, tubuhmu juga perlu istirahat. Lagi pula, makan malam dengan orangtuamu sepertinya tidak akan sebentar.”
Caelan hanya bisa menyetujui perkataan Amelia. Sebab perkataan Amelia benar. Makan malam hari ini sepertinya tidak akan berjalan sebentar. Tidak semudah makan malam di waktu-waktu sebelumnya yang diisi kegiatan menyantap makanan dan mengobrol untuk melepas kanget. Malam ini, Caelan akan menceritakan mengenai Emi, pastinya obrolan mereka tidak akan selesai dalam lima menit.
“Sekarang, bolehkah aku pergi?” tanya Amelia.
“Sebaiknya, kucarikan sopir sewaan untuk mengantar kalian.” Caelan masih tidak rela membiarkan Amelia pergi. “Atau biar David saja yang mengantar kalian.” Mendapat ide yang dianggap sangat cemerlang, Caelan mengeluarkan ponsel untuk menghubungi David.
Amelia langsung menghalangi dengan meletakkan tangan di atas ponsel Caelan. “Aku bisa menyetir sendiri sampai ke rumah. Tidak perlu merepotkan David. Kau sudah cukup merepotkannya hari ini.”
Hari ini David memang dibuat cukup repot. Mulai dari mengantarkan tas Emi ke apartemen Caelan, membelikan makan siang untuk Caelan dan Amelia, hingga menghandel semua pekerjaan Caelan karena Caelan lebih memilih bersama Amelia sepanjang siang itu.
“David sudah biasa direpotkan,” sahut Caelan.
Namun, Amelia bergeming. Ia akan pulang dengan menyetir sendiri ke rumah hari ini. Ia membutuhkan perjalanan selama kurang lebih dua jam itu agar bisa tetap menapak di bumi. Agar bisa menerima bahwa apa yang terjadi padanya hari ini bukanlah mimpi.
“Kau percaya denganku, kan?” ujar Amelia. Caelan menatap Amelia beberapa saat sebelum akhirnya mengalah. Caelan turun dari mobil dan berdiri di sebelah kursi pengemudi, Amelia membuka kaca mobil dan mendengarkan Caelan bicara.
“Aku akan membiarkanmu pergi, tapi kalau ada apa-apa langsung hubungi aku. Jangan paksakan kalau kau lelah, hubungi aku setelah sampai, hati-hati di jalan, kalau ….”
Caelan terus berbicara mengulang-ulang pesan agar Amelia berhati-hati. Meskipun Amelia ingin berangkat, tapi Caelan tidak berhenti berbicara.
Caelan baru berhenti bicara ketika Amelia menarik kerah baju Caelan dan mendaratkan ciuman di pipi pria itu.
“Aku berangkat. Nanti kukabari setelah sampai.”
Caelan mengangguk, melepaskan Amelia pergi tanpa bicara apa pun. Namun, pria itu terus mengamati sampai mobil Amelia bergabung dalam lalu lintas jalan.