Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bimbang
"Kau suka di sini? Swiss."
"Ya, terima kasih membawaku kemari. Ini pengalaman pertamaku."
Nolan menatap Hana yang tersenyum tulus. Sejenak ia terpesona dengan senyuman yang baru ia lihat dari bibir perempuan ini.
"Aku senang bisa membuat orang lain bahagia."
"Apa yang membuatmu memilihku?" Hana menatap lekat pria yang selalu tersenyum ini.
"Ada suatu magnet yang menarikku."
"Aku serius." Hana menatap dengan lekat dan dibalas oleh Nolan
"Apa aku terlihat bercanda?"
Hana menggeleng, ia tak tahu. Dirinya hanya penasaran.
Nolan menatap langit yang cantik di atas sana.
"Entah, malam itu aku sedang kalut. Lalu ke bar milik Louis dan melihatmu. Terjadi begitu saja."
"Apa kau kasihan melihatku?"
"Tidak. Aku salut padamu."
Hana mengernyitkan keningnya.
"Louis bilang, kau hanya pelayan biasa. Dan kau bisa bertahan tanpa mencari keuntungan lain."
Hana mengerti maksud ucapan Nolan.
"Lalu?"
"Ya, aku tertarik."
Hana diam menghabiskan jajanannya. Nolan menatap dengan bahagia memandang perempuan yang bersamanya.
Baru kali ini ia merasakan kedamaian yang benar-benar damai.
Mereka sampai di villa hampir tengah malam, Hana berusaha keras agar tak tertidur di mobil walaupun ia menguap beberapa kali.
"Selamat malam, Hana."
"Ya, selamat malam Nolan."
Mereka memasuki kamar masing-masing.
Gadis itu menyempatkan untuk membersihkan diri sebentar sebelum tidur.
Di belahan bumi lain, mata tajam tengah menggulir beberapa foto sepasang manusia yang berpegangan tangan di tengah kerumunan seperti di sebuah festival.
Tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Kedua matanya memancarkan amarah dan berkaca-kaca.
"Kau menatapku dan menolakku seperti seekor serangga yang menjijikan. Tapi kau malah memilih jalan seperti ini hanya untuk menghindariku." Kedua tangannya meremas rambutnya, pria itu tampak gusar melihat foto-foto yang dikirimkan oleh seorang mata-mata.
Pukul tiga dini hari, Hana terbangun.
Tenggorokannya terasa kering, ia turun ke lantai bawah untuk minum namun ia begitu terkejut melihat Nolan yang sedang berdiri menghadap jendela di ruang tamu mengenakan kimono dengan rambut berantakan.
"Tuan?"
Nolan membalikkan badannya, di tangannya sebotol alkohol yang isinya sisa setengah.
Hana membuang muka ketika tak sengaja melihat bagian dada Nolan yang terekspos.
"Hana? Kau belum tidur?"
"Aku terbangun karena haus. Apa tuan butuh sesuatu?"
"Ya, perempuan." Sontak raut gadis itu berubah. Menyesal menanyakan hal tersebut pada pria di depannya ini.
"Aku permisi ke dapur."
Nolan meneguk alkohol sembari maniknya tak lepas menatap kepergian Hana.
Ia melangkah menghampiri perempuan tersebut yang sedang minum.
Tanpa Hana sadari, Nolan sudah berada tepat di belakangnya.
Tangan besar itu mengambil beberapa helaian rambut panjang Hana yang tergerai dan mengendusnya.
"Astaga!" Pekik Hana terkejut ketika berbalik mendapati tubuh kekar yang ia hindari sudah berada di belakangnya.
"Hana." Suara Nolan berubah berat. Entah kenapa terdengar sexy di telinga Hana.
"Ya, tuan?"
"Temani aku tidur." Hana terkesiap mendengar hal itu.
"Ya?" Kedua matanya mengerjap menatap Nolan yang sendu.
"Hanya tidur, aku butuh pelukan."
"Tapi it-"
"Aku tak akan macam-macam. Hanya pelukan, aku kesulitan tidur." Manik hijau itu berubah kelam, alkohol yang ia pegang sudah ia letakkan di atas meja makan.
Hana berusaha menelan ludahnya dengan susah payah. Ia bahkan belum pernah melakukan ini.
"Aku tak bisa, tuan."
"Kau ingin berapa? Aku hanya butuh pelukan tak lebih, aku janji."
Hana segera menghitung di dalam otaknya. Gaji yang diberikan Nolan cukup besar jika ia meminta beberapa lagi pasti akan bisa membayar hutangnya pada Luca walaupun belum bisa melunasinya.
"Baik." Tangan besar itu segera menyeret Hana masuk ke dalam kamarnya.
Gadis itu tak tahu keputusannya ini benar atau tidak.
Pria itu memposisikan Hana berbaring membelakanginya lalu ia memeluk dari belakang.
Ia bagai tenggelam di pelukan Nolan yang bertubuh besar.
Hana berjingkat kaget ketika tanpa seizinnya Nolan mencuri kecupan di bahunya yang terbuka.
"Aku juga akan membayar ini." Bisik Nolan. Tak lama terdengar suara dengkuran halus di belakangnya.
Hana baru bisa menghembuskan napas yang sedari tadi ia tahan. Ia begitu gugup melakukan ini, jantungnya berdebar kencang seperti ingin keluar.
Ia mengasihani dirinya, kali ini sampai menjual tubuhnya demi uang. Hana berpikir dirinya tak jauh berbeda dengan perempuan malam yang menjajakan tubuhnya di kelab.
Cukup lama Hana akhirnya tertidur setelah beberapa kali ia menenangkan Nolan yang bermimpi buruk.
Sinar matahari menembus jendela yang tak tertutup tirai, ia bangun dan mendapati Nolan sudah tak bersamanya.
Hana bergegas kembali ke kamarnya untuk mandi dan menyiapkan sarapan.
Hana menuruni tangga dan melihat Nolan yang sedang berbicara serius dengan beberapa pengawalnya di beranda Villa.
Ia memasak sarapan yang simple untuk pagi ini agar tak memakan waktu yang lama mengingat ia bangun kesiangan.
Nolan masuk ke dalam menuju kamarnya, ia mengira Hana masih tidur, ternyata sudah kosong dan kamarnya sudah rapi.
"Tuan, sarapannya sudah siap."
Nolan berbalik ketika mendengar suara Hana.
"Kapan kau bangun?"
"Beberapa menit yang lalu. Maaf kesiangan."
"Tak apa, kau pasti lelah dan kurang tidur."
Hana mengerti ucapan Nolan.
"Tidak terlalu tuan."
"Kau lupa ucapanku semalam?"
"Apa tuan?"
"Panggilanmu."
"Oh, maaf."
Nolan tak merespon, ia memilih duduk dan bersiap menyantap sarapannya pagi ini. Hana pun ikut menemaninya.
"Aku akan keluar sebentar, kau tunggu di villa saja."
Nolan seolah mengerti dengan raut wajah Hana.
"Ada pengawal yang berjaga di depan."
"Baik."
Pria itu mengelap bibirnya dengan serbet, ia sudah selesai makan dan beranjak menuju beranda.
Hana mengikuti dari belakang.
"Hati-hati di jalan, Nolan."
Pria itu merasakan kehangatan yang tidak ia dapatkan dari perempuan sebelumnya.
"Ya, kau ingin menitip sesuatu?"
Hana berpikir sejenak.
"Tidak. "
"Kau bisa beristirahat sebelum menemaniku kembali."
"Ya."
Mobil yang dikendarai Nolan melaju meninggalkan villa.
"Nona, jika anda membutuhkan sesuatu panggil saya."
"Baik." Hana masuk menuju kamarnya, ini saatnya ia menikmati pemandangan gunung dari jendela kamarnya.
Sayang sekali ia tak bisa mengabadikan moment ini karena ia sengaja meninggalkan ponsel bututnya di kost.
Ia merebahkan dirinya di atas tempat tidur sembari memandang gunung yang indah dibalik jendela kamar, matanya tak lepas mengagumi keindahan alam Swiss, pikirannya melayang tak terasa ia menutup mata mengantarkannya ke alam mimpi.
Nolan kembali dari pertemuannya dengan seorang teman yang kebetulan sedang berada di Swiss.
Kaki besarnya menaiki tangga villa di sana dua orang pengawal sedang berjaga.
"Apa yang dilakukannya selama aku pergi?"
"Nona Hana tidak keluar dari kamarnya sejak anda pergi, tuan."
Nolan berlalu masuk menuju kamar Hana.
Ia enggan mengetuk lebih dulu, memilih membuka kamar dengan perlahan.
Di sana terlihat Hana yang tertidur dengan pulas.
Wajah cantiknya bersinar, ia seperti seorang putri dengan balutan baju gembel.
Nolan kembali menutup pintu dengan perlahan dan kembali ke lantai bawah menemui pengawalnya.
"Tolong belikan beberapa baju wanita dengan ukuran Hana."
"Baik, tuan." Salah satu pengawal pergi untuk mendapatkan pesanan majikannya.
Tak butuh waktu lama, pengawal yang ditugaskan kembali dengan menenteng beberapa paperbag dengan label sebuah brand pakaian. Ia menemui Nolan yang sedang menonton tv.
"Pesanan anda, tuan."
"Ya, kau bisa kembali."
"Baik, tuan." Pengawal undur diri kembali menemani rekannya di depan villa.
Nolan membuka satu persatu paper bag berisi pakaian untuk Hana.
Pilihan pengawalnya benar-benar membuat ia memerah.
Tentu saja pengawal itu sudah hafal bagaimana selera Nolan terhadap para perempuan yang seringkali ia bawa.
Namun, kali ini pengawalnya keliru, Hana berbeda dengan perempuan sebelumnya.
Gaun tidur yang sedikit sexy, ia ragu apakah Hana mau memakainya.