Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Naga Mengambil Alih Dermaga
Malam itu, Pelabuhan Tanjung Priok diselimuti kabut tipis dan aroma air laut yang asin. Di salah satu sudut gudang logistik terbesar milik PT Naga Properti, suasana terasa sangat mencekam. Puluhan preman bayaran Rian yang bertampang sangar tampak berjaga dengan senjata tajam dan balok kayu di tangan mereka.
Mereka sudah diperintahkan untuk menghabisi siapa pun yang berani mendekat, terutama seorang pemuda bernama Guntur.
Tiba-tiba, dari kegelapan, terdengar langkah kaki yang mantap dan berirama. Sesosok pria muncul dengan jaket kulit hitam dan celana jeans gelap. Di mulutnya terselip sebatang rokok kretek murah yang apinya menyala merah di tengah kegelapan malam.
"Siapa itu?! Berhenti atau mati!" teriak kepala preman yang bertubuh raksasa dengan tato naga di sekujur lengannya.
Pria itu terus melangkah tanpa rasa takut sedikit pun. Begitu cahaya lampu merkuri pelabuhan menerpa wajahnya, semua preman itu tersentak. Itu adalah Guntur Hidayat.
"Bismillah... Bismillah... Bismillah..." bisik Guntur pelan untuk mengunci emosinya.
"Dengar, saya ke sini bukan mau cari ribut. Gudang ini adalah milik Mbak Sekar Ayu Kencana. Kalian yang tidak punya kepentingan, silakan angkat kaki sekarang juga sebelum saya kehilangan kesabaran," ucap Guntur dengan suara berat yang menggetarkan udara malam itu.
Bukannya takut, para preman itu malah tertawa terbahak-bahak. "Halah! Bocah ingusan kayak kamu mau ngatur kami? Serbuuuu!"
Puluhan preman itu maju serentak. Guntur menarik napas panjang, ia membuang puntung rokoknya ke tanah lalu merapalkan kunci saktinya.
"Ya Qowiyyu Ya Matiin!"
Seketika, aura kewibawaan yang sangat dingin meledak dari tubuh Guntur. Saat preman pertama mengayunkan parangnya, Guntur bergerak secepat kilat. Hanya dengan satu sentuhan jari di pergelangan tangan lawan, parang itu jatuh dan si preman langsung jatuh berlutut karena sendinya terasa lumpuh seketika.
Guntur bergerak seperti bayangan di antara kerumunan. Ia tidak banyak memukul, cukup dengan totokan-totokan kecil di titik saraf yang diajarkan sang Resi. Satu per satu preman itu tumbang tanpa sempat menyentuh baju Guntur sedikit pun.
Kepala preman yang bertubuh raksasa itu gemetar hebat. Ia melihat anak buahnya terkapar hanya dalam hitungan detik. Ia mencoba lari, namun Guntur sudah berdiri di depannya dengan tatapan mata yang berkilat tajam.
"Mau ke mana? Urusan kita belum selesai," ucap Guntur sambil memegang pundak pria raksasa itu. Hanya dengan sedikit tekanan, pria itu langsung merosot ke tanah, napasnya sesak seolah dihimpit beban berton-ton.
Guntur berjalan menuju pintu gudang, ia menendang gembok besi besar itu hingga hancur berkeping-keping. Di dalamnya, ia melihat ratusan peti logistik yang siap dikirim. Ia segera menghubungi Pak Broto.
"Pak Broto, gudang pelabuhan sudah bersih. Kirim tim operasional sekarang. Dan satu lagi... kabari Mbak Sekar di Sidoarjo kalau hartanya sudah kembali satu lagi," perintah Guntur dengan nada yang sangat tenang.
Sambil menunggu tim datang, Guntur duduk di atas tumpukan peti. Ia mengambil ponselnya, melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ia teringat pesan Ibunya di desa.
"Duh, jam segini kalau di Sidoarjo pasti Ibuk lagi nungguin Bapak pulang ngaji sambil goreng dadar jagung sisa tadi pagi," gumam Guntur sambil tersenyum sendiri. Wajah "sengklek"-nya muncul lagi. "Sabar nggih Buk, modal nikah makin numpuk ini. Habis ini urusan Jakarta beres, Guntur pulang bawa mahar yang paling jos buat Mbak Sekar!"
Di tengah kesendiriannya di pelabuhan, Guntur merasakan kerinduan yang sangat dalam pada rumah sederhananya. Ia tahu, meskipun sekarang ia sudah menguasai dermaga dan gedung tinggi, kebahagiaan sejatinya adalah saat ia bisa sungkem di depan Bapak dan Ibunya sambil menggandeng Sekar sebagai istrinya.
"Tunggu aku, Sekar. Satu langkah lagi, dan kita akan mulai babak baru di rumah Sidoarjo," bisik Guntur pada angin laut yang berhembus kencang.
Setelah puluhan preman itu tumbang dan mengerang kesakitan di lantai gudang yang dingin, Guntur tidak lantas meninggalkan mereka begitu saja. Ia melangkah menuju kepala preman bertubuh raksasa yang tadi mencoba lari. Pria itu kini gemetaran, menyandarkan punggungnya di kontainer besi sambil memegang dadanya yang sesak.
Guntur jongkok di depannya, mengeluarkan sisa Rokok Kretek Cap Murah dari saku jaketnya. Ia menyalakan satu, menghisapnya dalam-dalam, lalu menyodorkan satu batang lagi ke arah si kepala preman yang sedang ketakutan itu.
"Ambil ini. Biar nyalimu nggak hilang sepenuhnya," ucap Guntur dengan suara tenang namun berwibawa.
Si kepala preman itu menerima rokok itu dengan tangan gemetar. Setelah beberapa kali hisapan, napasnya mulai teratur. "K-kamu... kamu siapa sebenarnya? Rian bilang kamu cuma supir ojek yang beruntung."
Guntur tertawa kecil, suara tawanya memantul di dinding-dinding gudang yang luas. "Rian itu orang pintar, tapi dia buta. Dia cuma bisa lihat uang, tapi nggak bisa lihat kesetiaan. Saya memang supir ojek, dan sampai kapan pun jiwa saya tetap supir ojek yang tahu cara menghargai keringat orang lain."
Guntur berdiri, menatap hamparan laut lepas di balik pintu gudang. "Kalian semua punya keluarga, kan? Punya anak istri yang nunggu di rumah? Apa mereka bangga kalau tahu uang yang kamu bawa pulang itu hasil dari jaga barang curian?"
Mendengar itu, beberapa preman yang sudah mulai bisa duduk tertunduk malu. Aura Ya Nur dari Guntur perlahan meresap ke hati mereka, memadamkan api kebencian dan menggantinya dengan rasa sesal yang mendalam.
"Mulai malam ini, gudang ini kembali ke tangan keluarga Bang Soni. Siapa yang mau tobat dan kerja beneran buat jaga tempat ini secara legal, besok lapor ke Pak Broto. Gajinya saya naikkan dua kali lipat dari yang dikasih Rian. Tapi kalau ada yang masih main mata sama pengkhianat itu..." Guntur sengaja menggantung kalimatnya sambil meremas sebuah pipa besi di dekatnya hingga pipa itu penyok seperti kerupuk. "...nasib kalian akan lebih buruk dari pipa ini."
"Kami ikut Pak Guntur! Kami kapok kerja sama orang kayak Rian yang cuma bisa perintah tapi pelitnya minta ampun!" teriak salah satu preman yang paling muda.
Guntur tersenyum puas. Ia tahu, memenangkan hati orang jauh lebih penting daripada memenangkan pertempuran. Tak lama kemudian, iring-iringan mobil Pak Broto sampai di lokasi bersama tim audit dan keamanan baru.
"Luar biasa, Pak Guntur! Pelabuhan ini adalah kunci distribusi barang di Jakarta. Dengan kembalinya tempat ini, Rian benar-benar sudah kehilangan kakinya," ucap Pak Broto sambil menyalami Guntur dengan rasa bangga yang luar biasa.
Guntur hanya mengangguk pelan. Ia menjauh sedikit dari keramaian, berdiri di tepi dermaga sambil melihat ombak yang tenang. Ia mengambil ponselnya dan mencoba melakukan panggilan video ke Sidoarjo.
Di layar ponsel, muncul wajah Sekar yang sedang duduk di teras rumah bersama Ibu Siti. Sekar terlihat memakai daster batik pemberian Ibu Siti, rambutnya dikuncir asal-asalan tapi justru terlihat sangat cantik di mata Guntur.
"Guntur! Kamu sudah selesai? Kamu nggak luka, kan?" tanya Sekar dengan nada yang sangat khawatir.
"Aman, Mbak Sekar. Cuma sedikit berkeringat saja. Kabar bagus, dermaga Bang Soni sudah saya ambil balik. Besok Mbak sudah bisa dibilang jadi 'Ratu Pelabuhan' lagi," jawab Guntur sambil nyengir sengklek.
Tiba-tiba wajah Ibu Siti nongol di layar, menghimpit wajah Sekar. "Le! Guntur! Jangan bahas dermaga terus! Itu lho, Mbak Sekar tadi bantuin Ibu bikin sambal bajak sampai nangis-nangis karena pedas. Katanya dia pengen belajar masak kesukaanmu. Wes toh Le, ndang rampungke urusanmu di situ, Ibu sudah nggak sabar pengen syukuran besar-besaran di sini!"
Guntur tertawa melihat wajah Sekar yang makin merah padam karena godaan Ibu Siti. "Nggih Buk, sabar. Satu langkah lagi, si Rian harus saya buat bertekuk lutut di depan hukum. Habis itu Guntur pulang bawa mahar paling paten!"
"Halah, mahar nomor dua, cucu nomor satu!" sahut Bapak Suryo yang suaranya terdengar dari kejauhan, bikin Guntur langsung buru-buru mematikan teleponnya karena malu didengar anak buahnya yang baru.
Guntur menarik napas panjang, menghabiskan sisa rokok kreteknya, lalu menatap langit Jakarta yang kini terlihat lebih cerah di matanya. "Bismillah... besok adalah hari perhitungan terakhir. Rian, bersiaplah... Naga ini tidak akan pulang sebelum kamu hancur berkeping-keping!"