NovelToon NovelToon
SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.

Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.

Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.

Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**

Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KETEGANGAN DI MULAI

Setelah sukses dengan seminar proposal yang sukses dengan hasil menjanjikan. Ana benar-benar memulai bimbingan skripsnya denagn Adi.

Minggu-minggu awal bimbingan skripsi bagi Ana terasa seperti menaiki roller coaster intelektual yang tidak ada hentinya. Setiap sore atau menjelang malam, setelah raga dan pikirannya diperas habis di tempat magang, Ana akan menyeret langkahnya menuju perpustakaan joglo yang hangat itu. Rutinitasnya menjadi sangat mekanis namun mendebarkan: Datang, buka laptop, duduk di hadapan Adi, lalu bersiap untuk "dibantai" secara sistematis.

Awalnya, diskusi mereka masih berada di zona aman. Mereka hanya berkutat pada kerangka penelitian, merapikan latar belakang masalah, dan menyusun daftar referensi yang panjangnya sudah mirip daftar belanjaan bulanan. Namun, semakin dalam mereka menyelami inti penelitian, tembok profesionalitas itu mulai terasa bergetar oleh intensitas argumen yang semakin tajam.

Sore itu, perpustakaan tampak lebih tenang dari biasanya. Hanya ada kepulan uap dari cangkir kopi di meja-meja jauh dan suara gesekan lembaran buku. Ana duduk dengan punggung tegak, matanya fokus pada layar laptop yang menampilkan draf bab dua. Di sampingnya, tumpukan jurnal sudah penuh dengan coretan stabilo warna-warni—medan perangnya selama seminggu terakhir.

Adi duduk di seberangnya. Ia tidak memakai kacamata sore ini, membuatnya terlihat sedikit lebih santai namun tetap saja auranya mengintimidasi. Ia membaca draf terbaru Ana dengan saksama. Hening. Adi terdiam cukup lama, matanya menyusuri baris demi baris kalimat yang disusun Ana dengan cucuran keringat.

Ana menggigit ujung pulpennya, sebuah kebiasaan yang baru muncul akhir-akhir ini semenjak mulai menulis skripsi, semacam mekanisme pertahanan karena gugup dan merasa terancam. Ia hafal polanya: Jika Adi terlalu lama diam, itu bukan tanda ia terpesona oleh tulisan Ana. Itu adalah tanda badai segera datang.

*

Akhirnya, pandangan Adi beralih dari layar laptop Ana dengan gerakan pelan kemudian memandang Ana. Ana balik menatap Adi dengan penuh antisipasi masih sambil menggigit ujung pulpennya. Adi memperhatikan gestur Ana yan gnampak kacau namun menggemaskan itu.

“Ana,” panggilnya tenang.

“Iya, Mas?” jawab Ana, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.

Adi mengetuk salah satu paragraf di layar yang baru saja ia baca. “Bagian ini... kamu serius menulisnya seperti ini?”

Ana langsung mengerutkan kening, pertahanannya langsung naik. “Kenapa? Ada yang salah?”

“Argumen kamu di sini masih sangat lemah. Kamu membangun rumah di atas fondasi pasir,” kata Adi datar, matanya menatap Ana lurus.

Ana tidak terima. Ia menegakkan badan, tangannya mengepal di atas meja. “Lemah dari mana? Saya sudah menghubungkan teori kontrol sosial dengan perilaku anonimitas di komunitas digital. Itu sudah logis.”

Adi menggeleng pelan, ekspresinya tetap tidak terbaca. “Kamu menyimpulkan sesuatu dari dua sumber yang sebenarnya tidak membahas variabel yang sama. Itu namanya lompatan logika, Ana. Tidak akademis.”

Ana kembali membuka laptopnya dengan gerakan gusar. “Tapi secara substansi masih sangat relevan, Mas!”

“Relevan saja tidak cukup. Dalam skripsi, relevansi tanpa akurasi itu cuma opini yang dibungkus istilah keren,” balas Adi telak.

Ana menarik napas panjang, rasa kesalnya sudah di ubun-ubun. “Mas selalu bilang kurang kuat. Bab satu kurang kuat, latar belakang kurang kuat, sekarang analisis juga kurang kuat. Terus kapan cukupnya?”

Adi menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang antik itu, tampak sangat santai di tengah badai emosi mahasiswinya. “Sampai argumen kamu benar-benar bisa berdiri sendiri tanpa perlu penjelasan tambahan dari mulut kamu. Sampai tulisan ini bisa bicara sendiri.”

Ana mendesah panjang, bahunya merosot. “Mas tahu nggak saya baca jurnal itu berkali-kali sampai ketiduran di depan laptop?”

Adi mengangguk, ada kilatan aneh di matanya. “Kelihatan.”

“Kelihatan apa? Kelihatan kalau tulisan saya jelek?”

“Kelihatan kalau kamu capek,” jawab Adi pelan. Nadanya kali ini sedikit melunak, tidak setajam biasanya.

Ana terdiam. Kalimat itu menghantamnya lebih keras daripada kritik akademis tadi. Ia memang capek. Sangat capek. Tekanan di tempat magang, revisi yang seolah tidak berujung, dan jurnal-jurnal bahasa Inggris yang mulai terlihat seperti tulisan kuno di matanya.

Ia menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit perpustakaan sejenak. “Mas ini memang selalu sekejam ini ya ke semua mahasiswa?”

Adi mengangkat alis, sedikit geli. “Kamu baru sadar sekarang?”

“Pantesan banyak mahasiswa yang gemetaran kalau lewat depan ruang Mas. Reputasi Mas itu horor,” gumam Ana sambil memutar bola mata.

Adi tertawa kecil, tawa renyah yang sempat membuat beberapa pengunjung perpustakaan menoleh. “Takut itu bagus. Takut bikin mahasiswa jadi lebih teliti.”

“Nggak semua orang belajar lebih baik karena takut, Mas. Beberapa orang justru butuh didorong dengan cara yang lebih... manusiawi,” bantah Ana.

Adi menatap Ana diam-diam selama beberapa saat. Lalu, ia berkata dengan nada yang sangat tenang, “Benar. Tapi saya tahu kamu bukan tipe mahasiswa yang bergerak karena takut.”

Ana mengernyitkan dahi. “Maksudnya?”

Adi menunjuk draf skripsi yang tergeletak di meja. “Kalau kamu tipe penakut, kamu sudah menyerah dan ganti topik yang lebih gampang sejak pertemuan pertama kita di kafe dulu. Kamu tetap di sini, berdebat sama saya setiap minggu, itu artinya kamu punya sesuatu yang lebih besar dari rasa takut: keras kepala.”

Ana tertegun sebentar. Ada benarnya juga. Ia memang keras kepala, dan entah kenapa, pengakuan Adi itu terasa seperti pujian terselubung.

“Iya, saya keras kepala. Tapi Mas bikin jalan ini tambah terjal,” balas Ana, mencoba mengembalikan suasana debat mereka.

Adi tersenyum tipis. Senyum yang kini mulai Ana kenali bukan sebagai ejekan, melainkan sebagai tanda bahwa Adi sedang menikmati interaksi ini. “Kalau jalannya gampang, itu bukan skripsi bimbingan saya namanya.”

Ana menggelengkan kepala, pura-pura frustrasi. “Tiap bimbingan rasanya kayak lagi sidang pleno. Capek hati, Mas.”

“Tapi kamu menikmatinya, kan?” pancing Adi.

Ana tidak langsung menjawab. Ia menatap Adi, dan menyadari betapa dekat posisi mereka saat ini. Meja panjang itu tiba-tiba terasa sempit. Ia bisa melihat bayangan dirinya di kacamata Adi, dan ia bisa merasakan aura dominan pria itu yang entah sejak kapan mulai terasa memikat, bukan lagi sekadar mengintimidasi.

“Lumayan,” jawab Ana singkat, mencoba menetralisir suasana.

“Kenapa lumayan?”

“Karena... nggak banyak dosen yang mau dengerin mahasiswanya mendebat balik tanpa tersinggung,” aku Ana jujur.

Adi tersenyum lagi. “Itulah yang bikin kamu menarik, Ana. Kamu nggak cuma menerima mentah-mentah apa yang saya katakan.”

Ana langsung memutar mata, pipinya sedikit terasa hangat. “Mas mulai lagi deh bahasanya.”

Ana hendak meraih salah satu jurnal yang ada di sisi meja untuk menunjukkan referensi lain. Namun, di saat yang bersamaan, Adi juga menggerakkan tangannya ke arah jurnal yang sama.

Jari mereka bersentuhan.

Hanya sedetik. Tapi rasanya seperti ada aliran listrik statis yang melompat di antara kulit mereka. Ana segera menarik tangannya dengan cepat, seolah baru saja menyentuh bara api.

“Eh... ini, saya mau ambil ini,” kata Ana gugup, suaranya naik satu oktav.

Adi hanya mengangguk kecil, berdehem pelan untuk menutupi kecanggungan yang tiba-tiba memenuhi udara. Suasana yang tadinya panas karena debat, mendadak berubah menjadi hening yang sarat akan sesuatu yang lain.

Ana mencoba fokus kembali pada layar laptopnya, mengetik asal untuk menyembunyikan kegugupannya. “Yaudah, saya revisi lagi bagian ini.”

Adi memperhatikan profil samping wajah Ana dari balik laptopnya. “Bagus.”

“Jangan senang dulu, Mas,” sahut Ana tanpa menoleh, jemarinya mulai menari lincah di keyboard. “Kalau revisi kali ini masih Mas anggap lemah, saya bakal siapin argumen yang lebih gila lagi buat minggu depan.”

Adi menyandarkan punggungnya, melipat tangan di dada dengan pose yang terlihat sangat puas. Ekspresinya seperti seorang gladiator yang baru saja menemukan lawan yang sepadan.

“Saya tunggu,” jawab Adi ringan.

Sore itu, revisi skripsi Ana mungkin masih penuh coretan merah. Namun, bagi mereka berdua, perdebatan itu bukan lagi sekadar soal teori Psikologi Sosial. Ada garis tipis antara benci dan obsesi yang mulai mereka seberangi, satu paragraf demi satu paragraf.

*

1
Fitriani
😄😄
Murni Asih
dr pertama sy lngsng suka
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
Nina Sani: makasih ya kak, stay tune ikutin kelanjutannya😇
total 1 replies
Sartini 02
kayaknya menarik ya kak Krn masih bab 1
lanjut kak....🤭🙏👍
Nina Sani: siaap 😇😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!