PENGUMUMAN PENTING!
Saya Acep Maulana memohon maaf kepada para pembaca. Karena satu dan novel ini akan saya Remake Total.
Saya sadar masih banyak belajar sebagai pemula, dan saya ingin memberikan karya yang lebih layak untuk kalian baca. Versi baru akan segera hadir dengan judul yang sama namun dengan kualitas tulisan yang jauh lebih baik.
Sampai jumpa di versi terbaru yang lebih bar-bar!
"Sial beneran! Erika, mantan agen rahasia yang energinya tak habis-habis, malah transmigrasi ke dalam novel tragis menjadi Rosalind von Astride, sang Putri Terbuang yang lemah dan sakit-sakitan!
Lebih parahnya lagi, keluarganya adalah kumpulan orang 'Tampan tapi Telmi (Telat Mikir)' yang ditakdirkan hancur total dalam dua tahun. Beruntung, Erika punya Sistem Makan Melon (Gosip) yang bisa membongkar semua rahasia musuh.
Sambil menikmati martabak diskon dari Ruang Sistem, Erika bertekad merombak takdir tragis keluarganya. Tapi masalahnya... radio batin Erika ternyata bocor ke seluruh keluarganya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Fakta Keheningan dan Rahasia Sang Singa ( Bagian 2 )
Rahasia di Ruang Keluarga Duke
Kembali ke ruang keluarga utama, suasana masih terasa sangat canggung, seolah-olah oksigen di ruangan itu baru saja diganti dengan gas helium yang membuat semua orang ingin tertawa tapi takut dosa. Duke Lyon, Duchess Elena, Evelyn, Celine, Lady Clara, serta Paman Baskara dan Bibi Ratna masih berdiri mematung. Mereka saling pandang dengan komunikasi mata yang sangat intens—sebuah diskusi tanpa kata yang hanya dimengerti oleh anggota klan Wiraatmadja: Kita harus menyelamatkan martabat keluarga ini sebelum benar-benar punah.
Putri Mytha dan Putri Amelia, yang masih berdiri di tengah ruangan dengan anggun namun wajahnya penuh tanda tanya, akhirnya memecah keheningan yang menyesakkan itu. Mytha menyilangkan tangan di depan dada, matanya yang tajam dan berwarna safir itu menatap Duke Lyon tanpa ampun.
"Paman Duke Lyon," suara Mytha terdengar sangat tenang namun memiliki daya tekan yang menuntut penjelasan logis. "Sejak kapan suara batin Lady Rosalind bisa terdengar sejelas itu di seluruh penjuru ruangan? Dia tidak berbicara sedikit pun, bibirnya terkatup rapat seolah sedang melakukan sumpah bisu, namun batinnya berteriak-teriak soal 'supir angkot' dan 'peri Yupi'. Apa ini semacam kekuatan sihir kuno yang bangkit setelah dia koma? Atau ini adalah kutukan baru?"
Amelia menambahkan dengan nada yang lebih lembut namun penuh selidik, "Dan suara yang dia ajak bicara... sosok 'Nana' itu... dia terdengar seperti entitas yang sangat tidak sopan terhadap Anda, Duke. Kenapa kami juga bisa mendengarnya? Apakah kami sekarang terikat kontrak sihir tanpa persetujuan?"
Duke Lyon menarik napas panjang, menatap kedua keponakan kekaisarannya itu dengan tatapan yang sangat serius, tatapan yang biasanya ia gunakan sebelum mengeksekusi strategi perang. Ia memberikan kode dengan lambaian tangan agar seluruh pelayan keluar, mengunci semua pintu rapat-rapat, dan mengaktifkan barier kedap suara di sekitar ruangan.
"Dengarkan baik-baik, Putri Mahkota Mytha, dan Putri Amelia," ucap Lyon dengan suara berat yang penuh penekanan. "Rahasia yang akan saya sampaikan ini adalah rahasia hidup dan mati klan Wiraatmadja. Saya mohon dengan sangat, sebagai paman dan sebagai abdi kekaisaran, simpanlah ini rapat-rapat sebagai rahasia tertinggi kekaisaran demi keselamatan Rosalind."
Lyon kemudian menceritakan kejadian aneh sejak Rosalind terbangun. Bagaimana tiba-tiba seluruh keluarga inti dan orang-orang yang memiliki ikatan emosional atau fisik tertentu di kediaman bisa mendengar batin Rosalind secara mendadak.
"Kalian lihat sendiri tadi," lanjut Lyon dengan nada getir. "Ada satu aturan aneh di sini. Jika kita mencoba mengucapkan secara lisan di depan Rosalind bahwa kita bisa mendengar batinnya, lidah kita akan tiba-tiba gagap, tenggorokan kita seolah terkunci oleh kekuatan tak kasat mata, dan kita tidak bisa mengeluarkannya. Ada semacam 'fakta Keheningan Ghaib' yang melindungi rahasia ini agar Rosalind sendiri tidak tahu kalau batinnya sedang bocor ke telinga kita semua.”
Elena mengangguk lemas, menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. "Benar, Putri. Kami semua sudah merasakannya. Kami terpaksa menjadi penonton setia dari drama batinnya yang... sangat unik. Dan soal suara 'Nana' itu, kami berasumsi itu adalah roh pelindung, sistem sihir, atau mungkin entitas dari dimensi lain yang terikat dengan jiwa Rosalind saat dia berada di ambang kematian.”
Duke Lyon menatap Mytha dan Amelia bergantian dengan tajam. "Kita tidak boleh memberi tahu Rosalind tentang fakta bahwa kita bisa mendengarnya. Jika dia tahu, mungkin dia akan merasa malu atau terancam lalu menutup batinnya, dan kita akan kehilangan satu-satunya sumber informasi paling jujur di dunia ini. Kalian dengar sendiri tadi soal Martha dan keluarga Alaric? Itu semua terbongkar karena batinnya yang tidak bisa berbohong.”
Evelyn menambahkan dengan wajah yang masih merah padam karena menahan malu. "Dan tolong... saya mohon dengan sangat, abaikan saja kata-kata bar-barnya. Dia memang sedang dalam kondisi emosional yang sangat tidak stabil. Sepertinya jiwanya sedang mengalami guncangan budaya atau semacamnya pasca pingsan.”
Putri Mytha terdiam cukup lama, memproses informasi yang sangat tidak logis bagi akal sehat seorang bangsawan. Namun, mengingat ia sendiri baru saja mendengar suara teriakan "Nana" di kepalanya, ia tidak punya pilihan untuk membantah.
"Jadi... kita semua adalah menguping batin yang tak sengaja?" gumam Mytha dengan senyum tipis yang tampak haus akan hiburan. "Menarik. Ini jauh lebih seru dan lebih akurat daripada laporan intelijen mata-mata istana yang sering kali bertele-tele. Baiklah, Paman. Aku dan Amelia akan menjaga rahasia ini. Aku tidak ingin merusak sumber hiburan—maksudku, sumber informasi yang begitu berharga ini.”
Amelia hanya bisa tersenyum kaku, membayangkan hari-hari ke depan di kediaman ini. "Aku hanya berharap dia tidak menyebutku 'teh tawar yang membosankan' atau semacamnya di dalam hatinya nanti. Suara batinnya benar-benar jujur tanpa filter, sangat berbahaya untuk harga diri seseorang.”
Di Paviliun Musim Semi: Transformasi Dimulai
Di sisi lain, Rosalind akhirnya sampai di Paviliun Musim Semi yang tenang. Begitu diletakkan di atas tempat tidur besarnya yang empuk, ia segera memerintahkan Martha dan Nanchi untuk keluar dengan alasan ingin istirahat total tanpa gangguan. Begitu pintu tertutup dan ia merasa benar-benar sendirian, ia langsung melepaskan semua kendali batinnya.
[(Batin Rosalind:]
[“NANA! Jangan banyak cincong lagi! Eksekusi paket restorasi sekarang! Aku sudah siap jadi mawar berduri yang mematikan, bukan mawar ubur-ubur yang bisa dibpenyet anak kecil lagi! Suntikkan poin-poin melon itu ke nadiku!”]
[SISTEM: PAKET RESTORASI TUBUH MAWAR DIAKTIFKAN!]
[PROSES: 1% ... 5% ... 12% ... 25% ...]
Tiba-tiba, Rosalind merasakan sensasi aneh. Seluruh tubuhnya seperti dialiri listrik tegangan rendah yang menggelitik. Dan benar kata Nana, rasa gatal yang luar biasa—yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya—mulai menyerang setiap inci kulitnya, dari ujung kepala sampai ujung kaki.
[(Batin Rosalind):]
[“GATALLL!!! NANA! Sumpah ini bukan digigit semut api lagi, ini kayak aku dipaksa mandi di dalem kolam berisi ulat bulu satu truk! Tolong! Aku mau garuk tapi tanganku masih lemes kayak jeli! Arghhh! Sialan kau peri Yupi! Kalau aku sembuh nanti dan bisa gerak, aku bakal bikin kamu diet Yupi selama setahun penuh! Aku bakal kasih kamu makan sayur pare doang! Gatal banget, wow! Tarik Mang, gatalnya sampai ke sumsum tulang!”]
Suara batin yang penuh penderitaan komedi itu merambat melalui dinding paviliun, menembus lorong-lorong batu, dan entah bagaimana—mungkin karena ikatan darah yang terlalu kuat hari itu—sampai ke telinga Duke Lyon yang sedang berjalan menuju ruang kerjanya.
Duke Lyon berhenti melangkah secara tiba-tiba di tengah lorong yang sepi. Ia memegangi dadanya yang sesak, bukan karena serangan jantung, tapi karena menahan tawa sekaligus rasa prihatin yang mendalam.
"Semut api? Ulat bulu? Tarik mang?" gumam Lyon pelan dengan wajah luar biasa bingung. "Dewa... beri aku kekuatan ekstra untuk menghadapi batin anak ini setiap hari tanpa kehilangan kewarasan ku."
Lyon menggelengkan kepalanya pasrah, namun ada senyum kecil yang tersembunyi di balik kumis tipisnya. Ia menyadari satu hal: di kediaman Duke Wiraatmadja ini, ketenangan hanyalah sebuah mitos masa lalu selama Rosalind masih bernapas. Namun di balik segala kegilaan dan istilah asing itu, sang Singa Perbatasan merasa untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun yang dingin dan sunyi, rumahnya akhirnya terasa sangat hidup.