Kartini berparas ayu tapi gemuk bekerja sebagai perawat kakek jompo yang bernama Chandresh. Walaupun berbadan gendut, Kartini bekerja dengan gesit dan merawat kakek seperti orang tuanya sendiri. Ketulusan hati Kartini membuat Chandresh kakek kaya raya itu ingin menjodohkan Kartini dengan cucunya yang bernama Arga Dhiendra Chandresh.
Arga menolak tegas karena ia sudah mempunyai kekasih yang bernama Nadine, tetapi ancaman kakek akan menggantikan posisi jabatan Ceo yang Arga emban kepada saudara sepupunya bila tidak mau menikahi Kartini membuat Arga Dhirendra bingung untuk ambil keputusan.
Nah, apakah Arga akhirnya menerima Kartini sebagi Istri? Kita ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Jantung Kartini berdegup kencang, kaget, malu, dan sesak tiba-tiba menyerang ketika memergoki suami kontraknya tengah menikmati ciuman mesra bersama Nadine. Bukan cemburu yang Kartini rasakan, hanya menyayangkan sikap Arga yang menurutnya tidak tahu lagi batasan, padahal Nadine belum menjadi istrinya. Namun, ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menunjukkan protesnya di depan mereka.
"Untuk apa art gendutmu itu datang ke sini Mas? Mengganggu saja!" Sewot Nadine sembari merapikan pakaiannya.
"Maaf, kalau saya mengganggu. Saya disuruh Ibu mengantar makan siang. Ayo dimakan Bos, selagi masih hangat, cukup kok untuk berdua," tutur Kartini seolah tidak merasakan ganjalan di hatinya. Ia menatap wajah Arga sekilas, lalu pindah ke wajah Nadine yang masih berdiri dengan pose manja memeluk pinggang Arga.
"Alasan saja ngantar makanan, kamu pikir kami sudi makan masakan kamu yang kamu buat tidak bersih!" Nadine menatap Kartini tidak suka.
"Jangan marah-marah Nona Nadine, jika tidak suka makanan ini tidak usah ikut makan, tidak apa-apa," Kartini menanggapi tenang. Namun, tampaknya Nadine tidak terima dengan ucapanya. Tidak mau terjadi huru hara di ruangan itu, Kartini memutuskan untuk pulang.
"Saya pulang dulu, Bos," lanjutnya singkat.
Tanpa menunggu jawaban, Kartini balik badan dengan langkah cepat, ingin segera keluar dari tempat itu sebelum Nadine mengeluarkan kata-kata lebih tajam.
Arga hanya bisa terpaku melihat punggung lebar istrinya itu menghilang di balik pintu. Entah apa yang dirasakan Arga saat ini, malu atau merasa bersalah kepada Kartini hanya dia yang tahu.
Sementara itu, Nadine justru tersenyum menang. Ia mendekati kotak makan itu, memeriksa dengan ujung jari seolah jijik.
"Dasar wanita gendut, sok perhatian, mengantar makanan segala!" gerutu Nadine lalu menjinjing body bag ke arah tempat sampah.
"Nadine, mau kamu bawa kemana makanan itu?" Arga merasa curiga lalu melangkah cepat mendekati Nadine.
"Buang lah, makanan ini baunya tidak enak! Pasti gendut yang masak, setelah ini kita keluar mencari makanan yang enak," jawab Nadine dengan tenangnya.
"Nadine, jangan! Kamu tidak boleh buang-buang makanan!" Tegas Arga sambil mencoba menahan tangan Nadine. "Yang nyuruh Tini mengantar makanan ini Ibu, pasti beliu yang memasak. Kamu tega membuangnya? Sebaiknya kita makan saja ya," Arga membujuknya.
Arga sebenarnya tahu jika makanan itu Kartini yang memasak, karena ibunya itu tidak pandai mengolah makanan.
"Aku tidak yakin makanan ini Tante Hana yang masak!"
Brukk!
Nadine tidak percaya lalu mendorong tangan Arga kasar, dan melempar makanan tersebut berikut kotaknya ke dalam tempat sampah.
Arga meninju angin, lalu menatap makanan yang meninggalkan aroma harum itu penuh sesal.
"Biar kapok si gendut itu!" ketus Nadine menatap tempat sampah itu merasa puas.
Suasana ruangan pun menjadi hening. Nadine mengira dengan membuang makanan itu, membuat Kartini tidak akan lagi lancang datang ke kantor repot-repot mengantar makanan untuk pacarnya yang menurutnya tidak enak.
Arga memijat pelipisnya, dadanya terasa sesak dan panas. Ia ingin sekali berteriak bahwa Nadine seharusnya tidak boleh berbuat begitu.
"Kamu kenapa sih bertindak seenaknya?!" Tandas Arga. Sikap romantisnya pun hilang dalam hitungan menit, suaranya yang keras membuat Nadine tersentak. "Dengan membuang makanan itu! Kamu secara tidak langsung tidak menghargai Ibu aku, Nadine!" Arga benar-benar kecewa
"Ih, kamu kok berpikir begitu sih Mas, aku yakin jika makanan tadi buatan si gendut, sebaiknya kita makan di luar saja yuk," Nadine memeluk tubuh Arga yang duduk lemas di kursinya.
Sementara itu di lobi, Kartini masih ditahan oleh Kenzo. "Kita pulang bareng kakak Ipar, hari ini aku ingin menjenguk Kakek," ucap Kenzo.
"Tidak usah Tuan, saya bawa motor sendiri kok," Kartini menolak dengan halus.
"Untuk itulah biar aku yang bawa motor, karena mobil aku tiba-tiba mogok," jawab Kenzo.
"Hemmm..."
Kartini dan Kenzo menoleh cepat ketika mendengar deheman pria yang tidak asing. Pria itu menatap Kenzo dan Kartini tajam.
"Mas, apa aku bilang, Art kamu itu nggak bisa mengait hatimu terus sekarang mendekati adiknya!" sindir Nadine sinis.
Kartini tidak menjawab sindiran itu karena ada yang lebih menarik perhatiannya. Pandangannya tertuju ke arah tangan Nadine yang merangkul pinggang Arga. Yang lebih mencengangkan mengapa Arga tidak menolak padahal di tempat ini ada Kenzo. Tidakkah Arga khawatir jika adik sepupunya itu curiga jika pernikahan ini hanya sandiwara?
"Biar saja sayang... katanya kita mau mencari makan."
Kartini lagi-lagi terkejut, mereka hendak makan diluar, itu artinya makan siang yang ia antar tidak dimakan. Kartini kesal, karena Arga menurutnya sudah kelewatan. Ada rasa ingin balas dendam di hati Kartini. Apa salahnya sekali-kali memberi pelajaran suami kontraknya itu agar sedikit saja menghargai orang lain.
"Mari Tuan Kenzo, kita pulang bareng," Kartini menyerahkan kunci motor kepada Kenzo.
Mendengar hal itu, Arga yang baru saja melangkah seketika berhenti.
"Oke... Kita pulang Kaka-..."
"Aagghhh..."
Kenzo yang akan berkata 'kakak Ipar' pun tergantikan dengan teriakan karena kakinya diinjak Kartini. Memberi isyarat agar jangan memanggilnya seperti itu di depan Nadine atau orang luar.
"Oh maaf Tuan, saya tidak sengaja. Mari kita pulang," Kartini berjalan lebih dulu diikuti oleh Kenzo yang masih pincang.
Arga menatap Kartini yang membonceng Kenzo tangannya mengepal.
Sementara Kenzo yang mengendarai motor melaju sedang sambil bertanya. "Kamu tadi kenapa menginjak kaki saya?" Kenzo geleng-geleng kepala tenaga Kartini kuat sekali, kakinya yang beralas sepatu dan kaos kaki pun masih terasa sakit.
"Tolong Tuan, jangan panggil saya Kakak ipar jika di tempat umum," tegas Kartini, terutama bila di depan Nadine.
"Kenapa Kakak Ipar? Seharusnya kamu senang karena Nadine akan segera tahu jika kalian suami istri dan tidak akan mengganggu rumah tangga kamu," Kenzo menepikan motornya di pinggir jalan. Ia merasa penasaran dengan pernikahan Arga.
Kartini hanya diam, tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya bahwa ia dengan Arga hanya nikah kontrak.
"Kakak Ipar tidak cemburu melihat Arga bersama Nadine?" Tanyanya lebih lanjut.
"Tidak Tuan. Saya sadar karena tidak sebanding dengan Nadine," Kartini menatap mata Kenzo tidak seburuk yang Arga pikirkan, tentu yakin jika Kenzo bisa dipercaya. Terlebih ada perebutan kekuasaan itu intern keluarga mereka, Kartini tidak ikut campur.
"Jadi Arga menikahi kamu hanya demi perusahaan?" Kenzo kaget mendengarnya.
"Kami menikah mendadak tentu belum saling mencintai Tuan, biar waktu yang menjawab. Masalah perusahaan saya tidak tahu menahu, tapi Tuan Kenzo pasti tahu jika pernikahan kami demi Kakek. Saya mohon bantu merahasiakan pernikahan ini Tuan..." Kartini memohon.
Kenzo menatap mata Kartini yang rela mengorbankan masa depannya demi kakeknya kenapa dia yang jelas cucu tidak sependapat. Kenzo akhirnya mengangguk lalu menjalankan motornya.
"Loh, kok kalian pulang berdua?" Tanya Ibu Hana ketika Kartini tiba di rumah. Selama ini ayah Arga dan papa Kenzo sering ribut masalah perusahaan, tapi Hana sebagai menantu tidak ikut campur.
"Mobil saya mogok Tante, saya ingin menjenguk Kakek."
"Oh" Hana mengangguk-angguk membiarkan Kenzo ke kamar kakek.
"Oh iya Tini, Arga pasti suka masakan kamu," Hana tersenyum.
"Su-suka, Bu," Kartini terpaksa berbohong.
Malam harinya Kartini sudah santai di karpet sambil menonton video life penyanyi dangdut di Internet.
Arga yang baru pulang wajahnya tampak kesal, lalu berdiri menatap Kartini tajam. Kartini seketika bangun dan duduk. Belum sempat basa basi, Arga mengeluarkan kata-kata pedas.
"Istri macam apa yang berani berboncengan dengan pria lain?!"
Mendengar ucapan Arga, Kartini seketika berdiri berhadapan dengan pria itu dan membalikkan kata-katanya tanpa rasa takut.
"Suami macam apa yang berani pelukan, ciuman, bergandengan tangan dengan wanita lain di depan istri? Tapi saya tidak peduli karena kamu yang sudah membuat kesepakatan bukan? Selama pernikahan 6 bulan kita boleh melakukan kesenangan masing-masing!"
...~Bersambung~...
lnjut kk👍
siapa.tuh yg datang jangan bilang itu Nadine yah
atau....gundik mu Arga...🤣🤣🤭🤭🤭 entahlah hy emak yg tau
kenzo?
nadine?
siapa sih thorr bikin penasaran aja 🤭
dia bisa...msk mobil kmu aj GK bisa...🤣🤣🤭