Ayu pikir jadi istri dari CEO tampan hidupnya akan bahagia seperti di film-film, nyatanya malah selalu direndahkan dan diperlakukan kasar.
Sang CEO, bernama Arvin, memandang Ayu hanyalah gadis dari desa yang tak pantas bersanding dengan dirinya, yang berkelas dan premium. Arvin menikahi Ayu memang bukan karena cinta.
Hingga datanglah hari dimana kesabaran Ayu telah habis. Dia hendak mengakhiri rumah tangganya, namun perilaku Arvin malah berubah menjadi sosok yang tidak ingin lepas dari Ayu.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan isi hati Arvin? Dan bisakah Ayu tetap mempertahankan rumah tangganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HegunP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Sisi Lemah
Di rumah megah Hendrik Pradipta, Ayu cepat-cepat ikut berdiri. Dia terbelalak menyaksikan Hendrik menjewer telinga Arvin.
“Beraninya kamu bikin menantu kesayanganku menangis. Dasar anak nakal!” bentak Hendrik, memelintir telinga cucunya hingga mulai nampak kemerahan.
“Aduh. Sakit Kek!” pekik Arvin, tak bisa berbuat apa-apa selain meringis kesakitan.
“Pak Arvin … dijewer …!?” desis Ayu, tak percaya dengan apa yang disaksikannya sekarang.
Seorang Arvin yang dingin dan arogan — yang ketika berjalan santai saja penuh wibawa, yang bahkan gunung pun mungkin akan buru-buru bergeser karena takut menghalangi langkah kakinya — sekarang tak berdaya dijewer kakek-kakek tua layaknya bocil sampai merintih kesakitan.
Arvin terkejut mendapati Ayu sedang menatap iba ke arahnya. Lantas, dia nekat menepis tangan sang kake jauh-jauh dari telinganya demi menjaga harga diri.
“Kake berhenti menjewerku. Aku sudah dewasa!” hardik Arvin sekuat tenaga.
Hendrik melotot tajam. “Dasar anak nakal! Sudah berani melawan! Apa kamu tidak sadar kamu sudah melakukan kesalahan!?”
“Argh!”
Arvin kembali dijewer.
Kali ini Hendrik menggunakan dua tangan, menjewer ke kedua telinga cucunya.
“Iya kek. Ampuuun!”
Ayu hampir saja tertawa lepas mendengar rintihan minta ampun suaminya. Untung saja kedua tangannya cepat-cepat naik menutup mulut.
Sementara Arvin, dia akhirnya pasrah mendapati Ayu sibuk menahan tawa. Dia juga yakin kalau tingkah kakeknya ini tidak akan berakhir cepat.
Sebelum peristiwa besar Arvin dijewer gemas oleh sang kakek, beberapa jam lalu Ayu baru memasuki pintu gerbang mewah, disambut beberapa pelayan rumah bersetelan rapi.
Dari pintu masuk, bendiri Hendrik Pradipta, pendiri sekaligus pemimpin perusahaan induk, Pradipta Grup. Melihat kedatangan menantunya, ia langsung tahu kalau Ayu pasti sedang dilanda pertengkaran dengan Arvin.
Selanjutnya, Ayu dipaksa Hendrik menceritakan apa yang terjadi di ruang keluarga yang berarsitektur gaya eropa itu.
Ayu berbohong. Dia tidak menceritakan kisah yang sebenarnya. Ayu cuma sekedar bilang ke Hendrik; sedang bertengkar masalah rumah tangga biasa, Arvin marah-marah.
Ayu tidak bilang masalahnya apa dan tentu tidak bilang kalau Arvin sudah mendorongnya ke lantai hingga hampir dilempar vas bunga. Ataupun soal perceraian.
Dan hasilnya, bahkan ketika Ayu tidak 100 persen jujur, Hendrik menarik-narik telinga cucunya hingga pria itu kelimpungan. Apalagi kalau berkata jujur. Mungkin Arvin akan dihajar hingga babak belur.
“Sana berlutut di depan Ayu, minta maaf dan cium tangannya!” suruh Hendrik selesai puas menjewer Arvin.
“Tapi kek …!” Arvin beraut melas.
“Jangan membantah!”
“Kakek, sepertinya tidak perlu minta maaf pakai cara seperti itu.” Ayu cepat menimpali. Baginya itu juga sudah berlebihan.
Hendrik cepat menoleh secepat wajahnya berubah ke mode ramah kepada menantu.
“Jangan sungkan. Seorang pria harusnya berani meminta maaf kepada istrinya. Dan cucuku ini sudah berbuat nakal. Dia wajib memperlakukanmu seperti ratu.”
Hendrik menoleh kembali ke Arvin, masuk lagi ke mode murka kepada cucu.
“Arvin … cepat cium punggung tangan istrimu!”
“Ba–baik, Kek!”
Dengan rasa malu dan harga diri yang tercecer, Arvin berlutut di depan istrinya. Sementara Ayu langsung grogi hingga jari-jarinya gemetar.
Arvin meraih pelan tangan Ayu. Dari atas, Ayu dapat menyaksikan Arvin mengecup punggung tangannya lembut.
Seketika wajah Ayu memerah seperti tomat.
“Maaf sudah membuatmu menangis hingga ketakutan. Aku benar-benar menyesal. Aku yang salah. Tolong jangan kabur dari aku lagi. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.”
“I–ya. Aku juga min–ta maaf …” Gara-gara semakin merah merona, Ayu memalingkan kepalanya.
Entah kenapa juga, jantung Ayu berdegup kencang seperti ingin melompat keluar. Apalagi kata-kata permohonan Arvin barusan … terdengar hangat dan menyentuh.
Kenapa jadi aneh begini. Apa jangan-jangan pak Arvin benar-benar menyesal?
Arvin berdiri bangkit. Tepat di depannya, Ayu dapat melihat wajah tampan Arvin yang tak berani menatap balik ke arahnya.
Dahi Ayu berkerut. Sungguh aneh menyaksikan sosok lain Arvin yang lemah seperti ini.
Hendrik kemudian mendekat, berdiri di antara keduanya seraya meraih tangan cucu dan menantunya.
“Masalah sudah selesai. Ayo temenin kakek makan siang, baru kalian boleh pulang.”
“Baik, Kek.” kompak Ayu dan Arvin menyahut bersamaan.
Hendrik mengajak Ayu dan Arvin menuju halaman belakang rumahnya yang luas dan sejuk. Selain ada beberapa pohon teduh dan bunga-bunga, banyak pohon bonsai yang terawat, membuat suasana semakin asri.
Di dekat kolam renang sudah tersedia meja bundar dengan segala hidangan makan siang di atasnya. Beberapa pelayan pribadi berdiri menyambut. Mereka membantu mengambilkan makanan hingga menuangkan minuman.
Ayu sedikit menggeser kursinya lebih mendekat ke Hendrik. Dia masih sedikit takut dekat-dekat dengan Arvin di sebelahnya.
“Ayu, bagaimana rasanya hampir dua bulan jadi istri Arvino Pradipta?” Hendrik tiba-tiba bertanya di tengah-tengah suara dentingan piring.
“Sebenarnya saya …” Ayu menengok sekilas kepada Arvin dan cepat menemukan kepanikan pria itu.
“Ayu senang. Arvin memperlakukanku sangat baik. Saya bahagia jadi istri pak Arvin. Eh … maksudnya saya, senang menjadi … istri Mas Arvin.”
Arvin berdehem lega.
Wajah Hendrik cerah seketika. “Hahaha! Syukurlah. Memang harus begitu … kakek menjodohkanmu dengan Arvin supaya kalian berdua sama-sama bahagia.”
“Arvin, kamu harus lebih serius mengurus istrimu. Jangan terlalu banyak bekerja. Sekali-kali ajak pergi liburan.”
“Iya Kek. Tapi dalam waktu dekat ini Arvin tidak bisa karena banyak urusan kantor yang harus cepat diselesaikan.”
“Halah! Kamu masih muda, jangan terlalu banyak bekerja, entar cepat tua kaya kakek. Hahaha!”
Semua orang tersenyum kecil mendengar lelucon Hendrik. Termasuk para pelayan yang berdiri di belakang. Apalagi saat mendengar suara tawa khas lansia itu yang pecah menggelegar.
Mereka bertiga lanjut fokus makan siang. Arvin dan Ayu kebetulan sedang sama-sama meneguk gelas minuman. Tiba-tiba, Hendrik melontarkan pertanyaan nyeleneh.
“Ngomong-ngomong, apa aktivitas ber se tubuh kalian lancar?”
Buuuur!
Uhuk-uhuk!
Arvin menyembur minumannya ke samping. Ayu tersedak dan terbatuk-batuk.
“Kakek! Jangan tiba-tiba bertanya soal itu!” protes Arvin.
“Kakek kan cuma tanya. Mumpung kalian masih muda. Cepat-cepat lah bikin anak. Kakek pengen gendong cicit sebelum meninggal. Hahaha!”
...***...
Setelah selesai makan siang dan berhasil meyakinkan sang Kake akan segera menghadiahkan cicit yang lucu, Arvin dan Ayu pun pulang, berangkat dalam satu mobil.
Di dalam mobil berkecepatan sedang, Ayu nampak duduk kurang nyaman. Sementara Arvin di sebelahnya menyetir dengan aura dingin yang kembali mendominasi.
Ayu kembali ngeri kepada Arvin. Di rumah sang kakek, Arvin jelas sosok tak berdaya. Namun saat tiba di penthouse nanti, bisa saja Arvin kembali menjadi sosok kasar yang berbahaya.
“Kamu benar-benar tidak menceritakan masalah sebenarnya kepada Kakek, kan?” tanya Arvin tiba-tiba, pandangannya tetap fokus ke jalan.
“I–iya Pak,” jawab Ayu cepat.
“Bagus.”
...***...
Selesai makan malam, Ayu membereskan meja makan. Bersamaan dengan itu, dia melihat Arvin bergegas masuk ke ruang kerja pribadinya.
Ayu menekuk bibir.
Dia lalu melangkah hati-hati menuju ruangan itu setelah selesai mengeringkan tangannya. Di luar pintu yang sedikit terbuka, Ayu mengintip Arvin yang kembali menyambung pekerjaan kantornya di rumah.
Pria itu mengetik serius di depan laptopnya, membuat ayu dilanda rasa bersalah.
“Harusnya pak Arvin sudah bisa lebih santai. Tapi gara-gara aku, dia jadi kembali sibuk lembur,” gumam Ayu.
Rasa bersalah di hatinya membuat Ayu jadi tertekan. Dia yakin tidak akan bisa tidur tenang di kamar, sementara Arvin di sini masih bergulat dengan kewajiban kantornya yang berantakan gara-gara ulah dirinya.
Hingga sebuah dorongan untuk menolong datang menggerakkan kaki Ayu masuk ke ruang kerja itu, tak peduli jika Arvin mungkin akan marah besar lagi.
Ayu hanya ingin menebus kesalahannya, bagaimanapun caranya.
“Pak,” sapa Ayu setelah cukup dekat berdiri di meja kerja Arvin.
Arvin yang terlalu fokus melihat ke layar laptop sedikit terkejut menyadari kedatangan Ayu.
Arvin berdecak kesal dan menutup layar laptopnya.
“Ada apa?”