Oma frustasi memikirkan di dunia yang sudah berusia 33 tahun, mapan dalam pekerjaan tetapi tidak kunjung menikah. Melihat sekretaris Emir yang memiliki kepribadian yang baik membuat Oma kepikiran untuk menjodohkan mereka.
Sudah pasti Emir menolak, Oma melakukan berbagai hal sampai akhirnya Emir dengan Ayana pilihan Oma bersatu dalam jeratan pernikahan.
Bagaimana keduanya menjalani pernikahan dan hubungan pekerjaan yang cukup dekat?
Apakah pada akhirnya keduanya sama-sama memiliki perasaan atau justru pernikahan mereka tidak ada bedanya dan hanya sebatas pekerjaan saja.
Mari untuk membaca Novel Saya dari bab 1 sampai akhir, dan terus ikuti jawabannya di setiap bab.
Terimakasih....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 Pelecehan
Emir akhirnya melihat ponselnya dan tanpa dia sadari dia telah mendapatkan pesan dari Ayana.
"Pak. Maaf, jangan masuk rumah dulu. Nenek dan Kakek sedang tidak ada di rumah, saya memakai kamar mandi sebentar," tulis Ayana.
Emir memejamkan mata betapa bodohnya dirinya tidak memeriksa ponselnya.
"Sejujurnya saya juga kaget dengan tiba-tiba keberadaan bapak di dalam kamar," ucap Ayana.
"Sial!" umpat Emir ternyata tidak bisa menyalahkan Sekretarisnya itu, begitu saja karena Sekretarisnya juga tidak tahu apa-apa dan sebelumnya bahkan sudah mengingatkan.
"Saya meminta maaf dengan apa yang terjadi, sikap orang-orang desa yang terlalu berlebihan dan sampai niat kita berdua diperlakukan seperti itu, di arak seperti hewan dan tidak dihargai, sungguh pak Emir saya juga tidak menginginkan hal ini terjadi," ucap Ayana.
"Saya tidak meminta kamu untuk mewakilkan mereka meminta maaf kepada saya, apa yang mereka lakukan sudah membuat saya tersinggung dan harga diri saya benar-benar diinjak oleh orang-orang seperti mereka yang sudah dikasih hati tetapi membalas dengan cara seperti ini!" tegas Emir.
"Gila, semua benar-benar gila! Bagaimana pernikahan ini bisa terjadi, apa-apaan semua ini!" umpat Emir.
"Saya tahu ini hal yang berat bagi bapak ada juga saya sendiri. Bapak bisa langsung menjatuhkan talak kepada saya, maka tidak akan terjadi jeratan pernikahan diantara kita," ucap Ayana.
Emir menatapnya serius, apa yang diharapkan Ayana dari pernikahan paksaan yang dilakukan oleh warga kepada mereka, pernikahan itu sah secara agama karena ada paman Ayana yang mewakilkan ayahnya, ada saksi dan juga penghulu.
"Kamu tidak memiliki hak untuk mengatur saya. Segala keputusan bukan ada di tangan kamu!" tegas Emir.
"Masuk!" titah Emir.
Ayana menurut dan akhirnya memasuki mobil. Ayana melihat dari dalam mobil bagaimana atasannya itu masih tampak marah dan suara teriakannya juga terdengar begitu kencang, mungkin menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa menjaga pernikahan kita dan membiarkan semua tuduhan warga kepada mereka berdua.
Ayana tidak bisa melakukan apapun dengan memejamkan mata, berusaha untuk tenang dan hanya berharap jika semua itu adalah mimpi buruk.
*****
Tiba mereka sudah kembali di Jakarta dengan pekerjaan yang hampir selesai. Mobil Emir berhenti di depan rumah Ayana dengan keduanya masih berada di dalam mobil, terasa begitu hening tanpa ada yang mengeluarkan suara.
"Tidak akan ada yang berbeda dan kamu anggap saja bahwa kita tidak pernah menikah, kamu tidak perlu membicarakan apa-apa dengan orang-orang kantor dengan hal yang memalukan terjadi di desa," ucap Emir.
Ayana menganggukan kepala dan memang tidak perlu menceritakan kepada rekan-rekan kerjanya dengan cerita seperti apa yang dikatakan Emir itu sungguh sangat memalukan.
"Semua keputusan tetap berada di tangan saya, saya yang akan mengambil keputusan untuk langkah selanjutnya, kamu seperti biasa menjalankan tugas kamu sebagai sekretaris saya!" tegas Emir.
"Baik. Pak!" sahut Ayana hanya menurut saja.
"Kalau begitu saya permisi!" ucap Ayana.
Emir tidak menjawab dengan anggukan kepala atau apapun itu membuat Ayana keluar dari mobil tersebut. Emir melihat dari kaca spion bagaimana Ayana menurunkan kopernya dari bagasi mobil.
Emir juga langsung pergi meninggalkan ke Ayana. Ayana mengejar nafas dan kemudian langsung memasuki rumah. Ayana memasuki kamar dengan menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur
Ayana memejamkan mata sebentar mencoba untuk tenang dengan apa yang terjadi, tetapi pasti dia kembali mengingat bagaimana kejadian buruk yang terjadi di desa membuat Ayana justru tidak bisa tidur.
Ayana duduk dan melepas hijabnya
"Apa susahnya tinggal jatuhkan talak ada maka akan selesai semuanya, sekarang aku yang pusing dengan statusku, kenapa juga semua ini harus terjadi," ucap Ayana benar-benar lelah dengan masalah yang terus terjadi pada.
Brukkk
Pintu kamar itu tiba-tiba saja dibuka Ayana kaget saat Ayah tirinya memasuki kamer.
"Sayang!" pria itu berjalan dengan sempoyongan membuat Ayana berdiri dari tempat duduknya.
"Apa-apaan kamu, pergi dari sini!" Ayana panik ketika pria itu mendekatinya.
Pria memiliki setengah kesadaran itu sepertinya membunuh alkohol sampai mengira bahwa Ayana adalah istrinya.
"Pergi aku bilang pergi!" teriak Ayana.
"Istriku kenapa menolakku, ayo bersenang-senang dan bukankah kamu sangat menyukai tusukanku," ucap pria tersebut.
"Aku bukan istrimu!" tegas Ayana.
Pria tersebut membuka matanya lebar-lebar, memastikan bahwa wanita cantik di hadapan itu istrinya atau tidak.
"Benar bukan istriku, kalau begitu putriku yang cantik mari bersenang-senang," pria tersebut bahkan sudah menyadari bahwa dia adalah Ayana.
Bukannya pergi dan justru semakin menggila mendekati Ayana yang tetap saja berusaha untuk menghindar.
Gadis itu mundur selangkah. Lalu selangkah lagi. Sampai punggungnya menyentuh dinding.
“Jangan mendekat!” suaranya pecah, tapi matanya tetap menatap tajam.
Pria itu tidak berhenti dengan senyum miring di wajahnya tampak menatap penuh dengan pelecehan dari wajah cantik sampai ujung kaki.
Jarak di antara mereka menghilang. Detik terasa seperti runtuh satu per satu.
Tangannya meraih apa saja yang ada di dekatnya sebuah buku tebal di meja. Tanpa ragu, ia mengangkatnya, siap mempertahankan dirinya.
“Keluar sekarang!” teriaknya, kali ini lebih keras.
Namun pria itu tetap maju.
Ketakutan menjalar, tapi tidak menguasainya. Nafasnya berat, jantungnya berdegup kencang, tapi kakinya tetap berdiri tegak. Saat pria itu semakin dekat, ia mendorong dengan sekuat tenaga memberi jarak, memberi waktu.
Tanpa menunggu, ia berbalik, berlari menuju pintu, dan berteriak sekuat mungkin.
“Tolong!”
Suara itu menggema, memecah sunyi malam. Lampu-lampu mulai menyala. Ayah sambungnya itu ternyata berhasil menangkap dan langsung membanting Ayana di atas ranjang, menindih tubuhnya dan memaksa ya untuk memenuhi hawa nafsu.
"Tolong!"
"Jangan!"
"Lepaskan!"
Ayana berusaha memberontak dengan memukul dada pria tersebut, tahu alkohol itu terasa membuatnya ingin muntah.
"Ayana!"
Seketika perbuatan bejat hidup tiba-tiba saja berhenti. Dewi pulang kerja dan melihat apa yang terjadi di kamar putrinya itu membuatnya benar-benar kaget.
Suami brondongnya langsung berdiri, Ayana juga berdiri dengan tangisnya, berusaha untuk memegang erat bagian kemeja depan yang berhasil disampaikan oleh laki-laki tersebut.
"Sayang, Ayana memaksaku untuk melakukan semua ini,"
Deg.
Jantung berdebar begitu kencang ketika mendengar pengakuan dari pria tersebut ternyata menyalahkan dirinya membuat Dewi menatap Ayana tajam.
Ayana menggelengkan kepala seh apa yang dikatakan oleh pria itu tidaklah benar. Pria itu berusaha untuk mempengaruhi pikiran Dewi agar mempercayai semua perkataannya.
Ayana bahkan sudah begitu hancur dengan pelecehan yang dia dapatkan dari laki-laki itu dan sebenarnya jika saja Dewi tidak datang maka mungkin entahlah apa yang akan terjadi pada dirinya.
Bersambung..