NovelToon NovelToon
Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."

Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.

Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.

Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.

Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Langkahku terhenti tepat di ambang pintu lobi kaca gedung kantorku. Di luar, langit seolah sedang tumpah. Hujan turun begitu lebat hingga suara rintiknya yang menghantam aspal terdengar seperti gemuruh yang menyesakkan. Angin kencang sesekali membawa tempias air, membasahi ujung sepatuku.

"Sial," umpatku pelan.

Aku merogoh tas, mencari payung lipat yang biasanya selalu ada di sana. Nihil. Aku baru teringat kalau payung itu kutinggalkan di butik Ibu kemarin lusa. Aku menghela napas panjang, lalu mengeluarkan ponsel.

Aplikasi ojek online di layarku hanya menunjukkan lingkaran berputar yang membosankan. Searching for drivers...

Sudah sepuluh menit aku mencoba, tapi tidak ada satu pun pengemudi yang mau mengambil pesanan di tengah badai seperti ini. Antrean orang yang menunggu jemputan di lobi semakin padat, membuat suhu udara terasa gerah sekaligus lembap.

Pikiranku kembali melayang pada kejadian siang tadi. Wajah Bagaskara yang penuh kekaguman, suaranya yang membanggakan Ayah, dan rasa perih di telapak tanganku yang masih berbekas. Rasanya aku ingin segera sampai di rumah, memeluk Ibu, dan menenggelamkan semua rasa pahit ini dalam tidurnya yang tenang.

Drrrrttt... drrrrttt...

Ponselku bergetar. Bukan notifikasi dari pengemudi ojek, melainkan sebuah pesan singkat dari nomor yang sudah sangat kuhafal.

Farez: Jangan nekat menembus hujan. Tunggu di lobi, aku sedang menuju ke sana.

Aku mengerutkan kening. Dari mana dia tahu aku masih di kantor? Aku tidak membalas pesan itu. Aku justru kembali menekan tombol order di aplikasi dengan lebih agresif. Aku tidak ingin berhutang budi padanya. Aku tidak ingin dia melihatku dalam kondisi tidak berdaya untuk kedua kalinya.

Lima menit berlalu. Lampu depan sebuah mobil mewah membelah kegelapan hujan, berhenti tepat di depan lobi. Pintu pengemudi terbuka, dan seorang laki-laki keluar dengan payung hitam besar.

Farez.

Dia berjalan menembus hujan dengan langkah tenang, seolah badai di sekelilingnya bukan masalah besar. Saat dia sampai di hadapanku, bajunya sedikit basah di bagian bahu, tapi wajahnya tetap tampak begitu teduh—sama seperti lima tahun lalu saat dia selalu melindungiku dari rintik hujan sepulang sekolah.

"Ayo," ucapnya singkat sambil mengarahkan payungnya ke arahku.

"Aku sudah pesan ojek, Pak Farez," jawabku dingin, meski mataku tetap tertuju pada layar ponsel yang masih menunjukkan tulisan searching.

Farez melirik ponselku sekilas, lalu kembali menatap mataku. "Tidak akan ada yang datang dalam cuaca seperti ini, Rana. Jangan keras kepala. Ibumu pasti cemas kalau kamu pulang terlalu larut."

Nama Ibu selalu menjadi titik lemahku. Dan dia tahu itu.

Aku mengepalkan tangan, menatap hujan yang semakin menggila di luar sana. Akhirnya, dengan berat hati, aku melangkah maju ke bawah payungnya. Jarak kami begitu dekat. Aku bisa mencium aroma kayu cendana dari tubuhnya yang bercampur dengan aroma hujan yang segar.

Kami berjalan menuju mobil dalam diam. Farez memastikan payung itu lebih condong ke arahku, membuat bahunya sendiri basah kuyup tersiram air hujan.

Begitu sampai di dalam mobil, keheningan yang menyesakkan kembali menyergap. Farez tidak langsung menjalankan mobilnya. Dia mengambil sebuah handuk kecil dari kursi belakang dan memberikannya padaku.

"Keringkan rambutmu. Nanti kamu sakit," ucapnya lembut.

Aku menerima handuk itu tanpa kata. Saat aku sedang mengeringkan ujung rambutku, aku melihat tangan Farez yang memegang kemudi tampak gemetar sedikit.

"Kenapa kamu melakukan ini, Rez?" tanyaku lirih, kali ini tanpa embel-embel 'Pak'.

Farez menoleh perlahan. Di bawah temaram lampu dasbor, matanya tampak begitu lelah namun penuh dengan ketulusan.

"Karena bagiku, waktu lima tahun tidak mengubah apa pun, Rana. Aku masih laki-laki yang sama, yang akan selalu memastikan kamu sampai di rumah dengan aman, baik kamu menginginkannya atau tidak."

Aku memalingkan wajah ke arah jendela yang berembun, tidak sanggup menatap matanya lebih lama. Di luar, badai masih mengamuk, tapi di dalam mobil ini, entah kenapa rasa sesak yang kubawa sejak pertemuan dengan Bagaskara tadi perlahan mulai mereda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!