''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."
Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.
Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.
Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.
Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Draft
Seminggu telah berlalu sejak malam yang menghancurkan itu. Aku menenggelamkan diriku dalam kesibukan yang gila-gilaan, seolah-olah dengan tumpukan dokumen dan jadwal rapat yang padat, aku bisa membungkam suara-suara di kepalaku.
Pagi ini, sebuah mobil berwarna putih mutiara terparkir di halaman rumah kami. Mobil itu bukan hasil cicilanku, melainkan dibeli tunai dari hasil kerja keras Ibu selama lima tahun membangun butik. Saat Ibu menyerahkan kuncinya kemarin sore, beliau memelukku lama dan berbisik, "Ini untuk kenyamananmu, Rana. Ibu ingin putri Ibu selalu merasa aman."
Menyetir mobil itu menuju kantor memberikan rasa bangga sekaligus haru yang membuncah. Setiap kali aku memegang kemudinya, aku diingatkan bahwa aku punya Ibu yang luar biasa kuat di belakangku. Mobil ini bukan sekadar alat transportasi, melainkan "benteng" pribadi pemberian Ibu yang melindungiku dari debu dan hujan jalanan yang sering kali membawa kenangan pahit.
Kesibukan memang obat bius paling manjur. Dalam tujuh hari ini, aku nyaris tidak punya waktu untuk memikirkan Ayah, Bagaskara, atau aroma kayu cendana milik Farez.
Namun, ketenangan semu itu terusik pagi ini di meja kerjaku.
"Mbak Rana, jadwal konsultasi mingguan dengan Abiwangsa Group sudah keluar," lapor Maya sembari meletakkan jadwal di mejaku.
Aku mengangguk tanpa mendongak dari layar laptop. "Iya, siapkan ruang rapat seperti biasa. Jam sepuluh, kan?"
Maya berdeham, tampak ragu. "Anu, Mbak... pihak Abiwangsa baru saja menelepon. Pak Farez minta Mbak Rana yang datang langsung ke kantor pusat mereka siang ini. Katanya ada beberapa dokumen operasional strategis yang tidak bisa dibawa keluar kantor, jadi Mbak sebagai asisten manajer proyek harus meninjau langsung di sana."
Gerakan jariku di atas papan ketik terhenti seketika. "Ke kantor Abiwangsa? Kenapa prosedurnya berubah?"
"Instruksi langsung dari Pak Farez, Mbak. Beliau bilang ini menyangkut keamanan data."
Aku mengepalkan tangan di bawah meja. Keamanan data? Atau ini hanya taktik baru untuk menarikku ke wilayah kekuasaannya?
Setelah kejadian "kerikil" malam itu, aku mengira Farez akan mundur karena terluka. Ternyata aku salah besar. Dia justru sedang menarik jaringnya lebih kuat. Pergi ke kantornya berarti aku harus masuk ke dunianya, menghirup aromanya di setiap sudut ruangan, dan menghadapi tatapan matanya di tempat dia berkuasa.
"Jam berapa?" tanyaku akhirnya dengan suara datar.
"Jam satu siang, Mbak."
Aku menghela napas panjang, melirik kunci mobil pemberian Ibu yang tergeletak di atas meja. Baiklah. Jika dia ingin aku datang, aku akan datang. Aku akan datang dengan mobilku sendiri—mobil yang dibeli dari cinta tulus seorang Ibu—dan aku akan menunjukkan padanya bahwa aku tidak lagi membutuhkan tumpangan atau perlindungan dari laki-laki mana pun.
Aku tidak akan membiarkan gedung megah Abiwangsa membuatku gemetar. Aku akan masuk ke sana sebagai profesional, melakukan pekerjaanku, lalu pulang ke rumah yang hangat.
aku juga udah beberapa kali nulis terus hapus,takut nggak sesuai atau alurnya kurang pas
tapi penasaran sama isi pesan ke Farez waktu itu yang bilang "kamu bawa wanita itu untuk memeras ku"