NovelToon NovelToon
Dosa Di Balik Jas Putih: Mempelai Terbuang Dan Skandal Malam Terlarang

Dosa Di Balik Jas Putih: Mempelai Terbuang Dan Skandal Malam Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Romansa Fantasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Briella hanyalah "sampah" di kediaman megah keluarganya—anak haram yang lahir dari perselingkuhan ibunya. Saat ia nyaris tewas disiksa oleh saudari tirinya, Prilly, sebuah pelarian berdarah membawanya ke pelukan pria asing di sebuah hotel remang-remang. Satu malam panas mengubah segalanya. Pria itu adalah Geovani, dokter bedah jenius berdarah dingin yang ternyata merupakan tunangan Prilly. Kini, Briella kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang membawa benih sang dokter. Di bawah bayang-bayang balas dendam, Briella memulai permainan berbahaya: Merebut pria milik musuhnya, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di atas meja operasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cermin Kebenaran

​Uap panas memenuhi kamar mandi luas yang berdinding marmer hitam itu, menciptakan kabut tipis yang menyamarkan pantulan pada cermin besar di depan Briella. Ia baru saja selesai membersihkan diri setelah malam panjang yang melelahkan di bawah kuasa Geovani. Aroma sabun beraroma cendana yang mahal masih melekat di kulitnya, namun rasa lelah di jiwanya tidak bisa terhapus oleh air hangat sekalipun.

​Briella mengusap permukaan cermin yang berembun dengan telapak tangannya, perlahan memperlihatkan sosok wanita yang kini tampak asing baginya. Gaun tidur sutra yang diberikan Geovani tersampir di gantungan, sementara ia hanya berdiri dengan sehelai handuk putih. Matanya tertuju pada pantulan perutnya yang mulai mengalami perubahan kecil, sebuah tonjolan yang hampir tidak kentara bagi orang lain.

​"Kau tumbuh di sana, sementara aku sekarat di sini," bisik Briella sambil menyentuh kulit perutnya yang halus.

​Ada getaran aneh yang menjalar ke ujung jarinya saat telapak tangannya menetap di atas rahim tersebut. Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya merasakan ketakutan atau kemarahan, melainkan sebuah ikatan biologis yang tidak bisa ia pungkiri. Ada benih kehidupan yang sedang berjuang di dalam sana, tidak peduli betapa kacau dunia yang menantinya di luar sangkar emas ini.

​"Kenapa kau harus menjadi bagian dari pria itu?" tanyanya lagi pada pantulan dirinya sendiri.

​Rasa benci kembali membuncah di dalam dadanya saat teringat wajah Geovani yang dominan. Pria itu adalah pemilik benih yang kini menetap di rahimnya, pria yang telah menjadikannya tawanan dengan dalih perlindungan medis. Briella mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih, merasakan gejolak antara kasih sayang instingtual pada janinnya dan kebencian murni pada sang ayah biologis.

​"Kau adalah bukti kekalahanku, sekaligus senjata terakhirku," gumam Briella dengan nada yang bergetar.

​Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mulai tak beraturan. Bayangan Geovani yang memeriksanya dengan tangan dingin setiap malam melintas di benaknya, membuat perutnya terasa mual. Ia membenci kenyataan bahwa ia mulai bisa mengenali aroma maskulin pria itu bahkan sebelum Geovani memasuki ruangan.

​"Aku tidak akan membiarkanmu menjadi monster seperti dia," Briella berbicara pada perutnya dengan nada yang lebih tegas.

​Ia meraih gaun sutra di sampingnya dan mengenakannya dengan gerakan yang lambat. Kain itu meluncur di atas kulitnya, mengingatkannya bahwa setiap inci tubuhnya kini adalah aset yang dipantau ketat oleh kamera pengawas. Ia tidak lagi memiliki privasi, bahkan di dalam kamar mandi ini pun ia merasa mata Geovani terus menguliti keberadaannya.

​"Apakah kau sudah selesai mengagumi dirimu sendiri, Briella?" suara bariton Geovani terdengar dari balik pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.

​Briella tersentak, segera merapikan gaun tidurnya dan membuka pintu dengan wajah yang berusaha terlihat tenang. Geovani berdiri di sana, masih dengan kemeja hitam yang lengannya tergulung, menatapnya dengan intensitas yang selalu berhasil membuat Briella merasa terpojok.

​"Aku hanya sedang melihat perubahan fisikku. Bukankah itu yang ingin kau pantau sebagai peneliti?" sahut Briella sambil berjalan melewati Geovani menuju ranjang.

​Geovani mengikuti langkahnya, matanya tidak pernah lepas dari gerak-gerik Briella yang kini lebih berhati-hati. "Perubahan fisikmu sangat memuaskan secara medis. Namun, tatapan matamu menunjukkan bahwa kau sedang merencanakan sesuatu yang tidak ada dalam protokolku."

​"Aku hanya merasa lelah menjadi objek eksperimenmu, Geovani. Bisakah kau memberiku ruang untuk bernapas tanpa merasa diawasi?" tanya Briella saat ia duduk di tepi ranjang yang empuk.

​Geovani mendekat, lalu berjongkok di depan Briella hingga wajah mereka sejajar. Ia mengambil tangan Briella dan meletakkannya di atas perut gadis itu, menumpuknya dengan tangannya yang besar dan hangat. "Bernapaslah sepuasmu, tapi ingat bahwa oksigen yang kau hirup adalah pemberian dariku. Kau dan anak ini adalah milikku seutuhnya."

​"Kau sangat terobsesi dengan kepemilikan. Apakah kau tidak pernah merasa bosan menjadi tuhan bagi orang lain?" Briella menatap tajam ke balik kacamata Geovani.

​Pria itu tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang lebih terlihat seperti seringai predator yang telah memenangkan perburuan. "Menjadi tuhan atas hidupmu adalah hiburan terbaik yang pernah aku miliki, Briella. Apalagi saat aku melihat kebencian dan ketergantungan berperang di dalam matamu."

​"Aku tidak tergantung padamu. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk pergi," balas Briella dengan suara rendah namun penuh penekanan.

​Geovani berdiri, menarik Briella agar ikut berdiri dan mendekapnya dengan posisi yang sangat posesif. Ia bisa merasakan degup jantung Briella yang kencang, sebuah simfoni yang sangat ia nikmati. "Pergilah jika kau bisa menembus gerbang dan sidik jariku. Tapi kau tahu, di luar sana Prilly sudah menyiapkan peti mati untukmu."

​"Dan di sini, kau menyiapkan sangkar yang lebih menyiksa daripada peti mati itu sendiri," lirih Briella di balik dada bidang Geovani.

​Geovani mengusap rambut Briella dengan kasar, menghirup aroma sabun yang menguar dari tubuh gadis itu. "Sangkar ini melindungimu, Briella. Anak ini butuh tempat yang aman untuk tumbuh, dan aku adalah satu-satunya orang yang bisa menjamin itu di kota yang busuk ini."

​"Kau bicara seolah-olah kau peduli, padahal kau hanya peduli pada hasil penelitianmu," Briella mencoba mendorong dada Geovani, namun pria itu tidak bergeming sedikit pun.

​"Peduli atau tidak, hasilnya tetap sama. Kau tetap di sini, di bawah pengawasanku, dan mengandung benihku," Geovani melepaskan dekapannya, lalu menatap perut Briella sejenak sebelum kembali menatap wajahnya.

​Briella terdiam, menyadari bahwa setiap kata yang ia lontarkan hanya akan kembali padanya sebagai pengingat akan ketidakberdayaannya. Ia kembali menatap cermin besar di sudut kamar, melihat dirinya yang kini berada di pelukan sang iblis yang ia benci sekaligus ia butuhkan untuk tetap hidup.

​"Lihatlah ke cermin itu, Briella. Lihat betapa serasinya kita dalam kegelapan ini," bisik Geovani tepat di telinganya.

​Briella memalingkan wajah, tidak sanggup melihat kebenaran yang terpantul di sana. Ia tahu bahwa ikatan ini akan semakin kuat seiring berjalannya waktu, dan benih di rahimnya akan terus tumbuh menjadi pengingat permanen akan malam-malam yang ia habiskan sebagai tawanan di puncak bukit Etheria ini.

​"Tidurlah. Besok aku akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan detak jantung janin tetap stabil," perintah Geovani sambil berjalan menuju pintu.

​Briella hanya bisa menatap punggung tegap pria itu yang menghilang di balik pintu yang kemudian terkunci secara otomatis. Ia kembali duduk di tepi ranjang, meraba perutnya yang kini terasa lebih nyata. Di tengah kebencian yang mendalam pada Geovani, ia bersumpah akan menjaga kehidupan di dalamnya, meski itu berarti ia harus terus bermain api dengan sang dokter berdarah dingin itu.

​"Aku akan bertahan," bisiknya pada kegelapan kamar yang sunyi.

​Ia merebahkan tubuhnya, menarik selimut dan mencoba memejamkan mata. Namun, bayangan dirinya di depan cermin tadi terus menghantui, sebuah cermin yang tidak hanya menunjukkan perubahan fisiknya, tetapi juga kebenaran pahit bahwa ia telah menjadi bagian dari permainan gelap yang tidak memiliki jalan keluar.

​Malam semakin larut di Upper-Chrome, dan Briella terus terjaga, merasakan setiap denyut kehidupan di rahimnya yang terasa seperti beban sekaligus harapan di tengah kepungan bayang-bayang Geovani yang mendominasi. Ia tahu, esok akan membawa tantangan baru, dan ia harus siap menghadapi setiap inci kontrol medis yang akan diberikan oleh sang predator kepadanya.

1
𝐀⃝🥀Weny
secangkir kopi untuk mu thor
𝐀⃝🥀Weny: sama²🤗
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
kutunggu next episodenya thor
𝐀⃝🥀Weny
waah... kebetulan yang sangat bagus😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!