Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.
Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: KETIKA ALGOJO TAKLUK PADA SODET
Pagi di pegunungan seharusnya menjadi momen yang tenang untuk refleksi diri. Namun, bagi Adrian Diningrat, pagi ini adalah awal dari sebuah "pengadilan" yang lebih mengerikan daripada sidang makar mana pun yang pernah ia hadapi.
Semuanya bermula dari ambisi Ian untuk kembali ke rutinitas lamanya: berkuda. Sebagai seorang Diningrat, berkuda bukan sekadar hobi, melainkan simbol ketangguhan. Namun, mungkin karena pikirannya terlalu dipenuhi oleh rencana pernikahan dengan Rhea, fokus Ian terpecah. Saat melompati rintangan kayu di kandang belakang, kuda jantannya—Shadow—sedikit terkejut oleh seekor kupu-kupu yang melintas. Ian kehilangan keseimbangan dan terjatuh, mendarat tepat di atas semak-semak mawar (yang untungnya durinya sudah dipangkas oleh Pak Totok minggu lalu).
Yusuf, yang saat itu seharusnya mengawasi, malah sedang asyik membalas pesan singkat dari calon tunangannya. Akibatnya, ia telat dua detik untuk menangkap tuannya.
Kini, di dalam kamar utama yang megah, suasana terasa sangat mencekam—namun dengan cara yang sangat berbeda.
Ian duduk di tepi ranjang dengan kemeja yang sedikit kotor di bagian bahu, sementara Yusuf berdiri tegak di sampingnya, tangan bersedekap di depan, kepala menunduk dalam-dalam. Di depan mereka, berdiri sosok penguasa mansion yang sesungguhnya: Mbok Yem.
Mbok Yem berdiri dengan kedua tangan di pinggang. Sodet kayu yang masih berlumuran bumbu kuning terselip di saku apronnya. Napasnya memburu, matanya melotot menatap dua pria dewasa yang di luar sana sangat disegani ini.
"Sudah Mbok bilang berapa kali, Tuan Muda?!" suara Mbok Yem menggelegar, membuat vas bunga di meja rias seolah ikut bergetar. "Kalau mau naik kuda itu fokus! Jangan pikirannya melayang ke Nona Rhea terus! Untung jatuhnya di mawar, coba kalau jatuhnya di aspal? Apa mau mukanya yang ganteng ini berubah jadi kayak aspal goreng?!"
Ian hanya bisa menatap lantai, jemarinya memainkan ujung seprai. "Mbok, itu tadi hanya kecelakaan kecil..."
"Kecelakaan kecil matamu, Tuan!" potong Mbok Yem telak. Ian langsung bungkam, matanya mengerjap polos seperti anak TK yang ketahuan mencuri permen.
Mbok Yem beralih ke arah Yusuf. "Dan kamu, Mas Yusuf! Kamu itu ajudan, pengawal, asisten! Tugasmu itu jagain Tuan Muda, bukan jagain HP! Itu HP kalau bisa Mbok ulek bareng sambal terasi sudah Mbok lakukan dari tadi! Kamu lalai, Mas! Gimana kalau Tuan Muda patah tulang? Siapa yang mau mijitin tiap malam? Mbok sudah tua, tangan Mbok sudah nggak kuat ngurut macan kayak dia!"
Yusuf tetap menunduk, wajahnya yang biasanya sedingin es kini tampak pucat. "Maaf, Mbok. Saya mengaku salah."
"Bagus kalau mengaku! Tapi pengakuan nggak bikin memar Tuan Muda hilang!" Mbok Yem kembali menunjuk Ian. "Dan satu lagi! Tuan Muda itu bandelnya minta ampun. Setiap Mbok kasih jamu kunyit asam buat jaga stamina, selalu dibuang ke pot bunga! Kamu kira pot bunga itu butuh jamu? Itu bunganya sampai kuning semua gara-gara kamu cekokin jamu terus!"
Ian mencoba membela diri dengan suara lirih. "Rasanya pahit, Mbok..."
"Pahit itu obat! Yang manis itu janji-janjimu ke Nona Rhea!" Mbok Yem mendengus kasar. "Sekarang diam di sini. Mbok mau ke dapur, buatkan ramuan khusus. Jamu 'Pahitan Brotowali' campur telur bebek. Harus habis! Kalau nggak habis, Mbok mogok masak rendang sebulan!"
Mbok Yem berbalik dengan gerakan dramatis, langkah kakinya yang berat terdengar menjauh menuju pintu.
Begitu punggung Mbok Yem menghadap mereka, atmosfer "anak manis" di kamar itu langsung lenyap. Dengan gerakan secepat kilat, Ian mendongak dan menatap Yusuf. Matanya melotot lebar, tangannya bergerak-gerak seperti orang tenggelam, menunjuk-nunjuk pintu dan mulutnya sendiri—memberi kode 'Tolong aku! Aku nggak mau minum jamu itu!'.
Yusuf melihat tuannya dengan tatapan pasrah. Ia menggelengkan kepala berkali-kali, menggerakkan tangannya seperti memotong leher—kode bahwa 'Maaf Tuan Muda, nyawa saya juga terancam, saya nggak mau ikut campur soal Mbok Yem'.
Ian tidak menyerah. Ia melakukan gerakan seolah sedang memegang dompet dan memberikan uang, mengisyaratkan akan memberi bonus besar jika Yusuf mau membuangkan jamu itu nanti. Yusuf malah membalas dengan gelagat menunjuk langit, seolah berkata 'Hanya Tuhan yang bisa menolong Anda sekarang'.
Keduanya berkomat-kamit tanpa suara, wajah mereka berkerut-kerut melakukan akrobat ekspresi di belakang punggung Mbok Yem. Ian bahkan sempat berdiri sedikit untuk melakukan gerakan mengejek ke arah pintu, sementara Yusuf menutup mulutnya menahan tawa.
Tiba-tiba...
Sret!
Mbok Yem memutar badannya dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk wanita seusianya.
Dalam sekejap, Ian kembali terduduk manis di tepi ranjang, tangannya diletakkan di atas paha dengan sangat rapi, matanya menatap langit-langit seolah sedang mengagumi ukiran gips. Sementara Yusuf kembali ke posisi berdiri sempurna, menunduk begitu dalam sampai dagunya hampir menyentuh dada.
Mbok Yem menyipitkan mata, menatap mereka bergantian dengan curiga. "Kalian... sedang apa tadi?"
Ian mengangkat wajahnya, memberikan tatapan paling polos yang pernah ada dalam sejarah keluarga Diningrat. "Tidak ada, Mbok. Saya hanya... sedang berdoa agar jamunya cepat matang."
Yusuf ikut menimpali tanpa melihat ke depan. "Saya sedang memeriksa apakah lantai kamar Tuan Muda sudah cukup bersih untuk ditempati, Mbok."
Hening sejenak. Mbok Yem menatap mereka dengan tajam selama beberapa detik, sebelum akhirnya ia tidak bisa menahan sudut bibirnya yang bergetar.
"Halah! Dasar bocah-bocah tua nakal!" seru Mbok Yem sambil tertawa kecil. Ia melanjutkan langkahnya keluar kamar dengan gaya 'lengak-lenggok' yang mengejek, sengaja menggoyangkan pinggulnya seolah sedang merayakan kemenangannya atas dua pria hebat itu.
Begitu pintu tertutup, Ian dan Yusuf saling pandang. Sedetik kemudian, tawa mereka pecah secara bersamaan. Ian sampai harus merebahkan diri di tempat tidur karena perutnya kaku tertawa, sementara Yusuf menutup wajahnya dengan telapak tangan, bahunya terguncang hebat.
"Tuan Muda," ucap Yusuf sambil menyeka air mata karena tertawa. "Sepertinya jabatan CEO Anda tidak berlaku di depan sodet Mbok Yem."
Ian mendongak, masih dengan sisa tawa di wajahnya. "Dan jabatan ajudan elitmu juga langsung hangus saat dia menyebut sambal terasi, Yusuf."
Di luar kamar, Rhea yang sedari tadi berdiri di balik pilar sambil memperhatikan drama itu hanya bisa tersenyum lebar. Ia menyadari bahwa di rumah ini, meskipun mereka memiliki masa lalu yang gelap dan kekuasaan yang besar, mereka tetaplah manusia biasa yang butuh ditegur dan dicintai dengan cara yang paling sederhana.
Rhea melangkah masuk ke dalam kamar saat Ian baru saja berhenti tertawa.
"Jadi, Macan Diningrat ini habis jatuh dari kuda?" goda Rhea sambil melipat tangan di dada.
Ian langsung memasang wajah "keren" lagi, meski rambutnya sedikit berantakan. "Hanya teknik pendaratan darurat yang belum sempurna, Rhea."
"Oh ya? Tapi menurut Mbok Yem, pendaratanmu lebih mirip nangka jatuh," balas Rhea sambil berjalan mendekat untuk memeriksa bahu Ian.
Yusuf segera berdeham. "Saya rasa... saya harus membantu Mbok Yem di dapur. Menghindari jamu brotowali mungkin adalah strategi terbaik saat ini."
Yusuf keluar dengan langkah seribu, meninggalkan Ian yang kini harus menghadapi "dokter" pribadinya dengan perasaan yang jauh lebih hangat. Di bawah sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela, luka-luka di masa lalu terasa benar-benar telah sembuh, digantikan oleh tawa dan masa depan yang menanti.