NovelToon NovelToon
JALANGKUNG JATUH CINTA

JALANGKUNG JATUH CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mata Batin
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Satria adalah cowok SMA yang memiliki "berkah" sekaligus kutukan: ia bisa melihat makhluk halus. Sialnya, Satria tidak seperti tokoh indigo di film-film yang terlihat misterius dan keren. Satria adalah seorang Indigo Semprul. Bukannya mengusir setan dengan doa yang khusyuk, ia lebih sering bernegosiasi dengan kuntilanak menggunakan voucher kuota atau menawar pocong agar tidak melompat di depannya karena ia punya penyakit jantung ringan.
​Pindah ke SMA Wijaya Kusuma—sekolah tua peninggalan Belanda yang kabarnya sangat angker—Satria berharap bisa hidup normal. Namun, harapannya pupus saat ia bertemu Arini, gadis manis ketua OSIS yang ternyata adalah cinta pertamanya saat SD.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Operasi Penyelamatan Arini

Seharusnya, setelah kedamaian yang mereka berikan pada arwah Santi di bawah pohon beringin, SMA Wijaya Kusuma memberikan jeda bagi Satria dan Arini untuk bernapas. Namun, dunia ghaib tidak mengenal kata gencatan senjata. Ketika cahaya di dalam diri Arini mulai berpijar lebih terang karena kemampuannya yang baru terbuka, ia bukan hanya menjadi penolong bagi arwah yang tersesat, melainkan juga menjadi umpan bagi predator astral yang lebih ganas.

​Kejadian ini bermula pada Jumat siang yang gerah. Arini sedang berada di perpustakaan lantai dua, mencari referensi untuk esai sejarahnya. Satria sedang ada di lapangan basket, menyelesaikan hukuman lari keliling lapangan dari Pak Bambang karena ketahuan melamun di kelas.

​Tiba-tiba, perpustakaan yang sunyi itu diselimuti oleh kabut hitam yang tipis namun sangat dingin. Penjaga perpustakaan, seorang ibu tua yang memang sering tertidur, mendadak jatuh pingsan di mejanya. Arini mendongak, merasakan tekanan yang luar biasa di dadanya.

​Dari balik deretan rak buku sastra, muncul sosok yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. Bukan hantu sekolah, bukan pula Intel Ghaib dari yayasan. Sosok itu mengenakan jubah abu-abu yang compang-camping, wajahnya tertutup topeng porselen yang retak, dan di tangannya ia memegang sebuah jaring yang terbuat dari benang jiwa yang berkilauan.

​"Siapa kamu?" suara Arini bergetar.

​“Aku adalah sang Kolektor...” suara itu terdengar seperti seribu bisikan yang tumpang tindih. “Jiwa yang baru terbuka... begitu murni... begitu kuat. Kau akan menjadi koleksi terbaik di dalam lentera keabadianku.”

​Sebelum Arini sempat berteriak atau menggunakan liontinnya, sang Kolektor mengibaskan jaringnya. Tubuh fisik Arini mendadak lemas dan jatuh terduduk, namun sukma Arini tersedot keluar, terperangkap dalam jaring bercahaya tersebut. Sang Kolektor kemudian menghilang ke dalam celah dimensi, meninggalkan tubuh Arini yang pucat dan tak bernyawa di antara rak buku.

​Di lapangan basket, Satria mendadak jatuh tersungkur. Jantungnya berdegup sangat kencang, dan ia merasakan sebuah kekosongan yang amat sangat di dalam sukmanya—sebuah tanda bahwa "jangkar" emosionalnya sedang dalam bahaya besar.

​“SATRIA! SATRIA! NONI ARINI DIBAWA PERGI!” Ucok muncul dengan wajah yang benar-benar pucat, hampir transparan karena ketakutan.

​"Ke mana, Cok?!" Satria bangkit, tidak memedulikan teriakan Pak Bambang.

​“Perpustakaan lantai dua! Ada lubang hitam besar di sana!”

​Satria berlari secepat kilat, menaiki tangga dua langkah sekaligus. Di perpustakaan, ia menemukan tubuh Arini yang tergeletak. Ia memeriksa nadinya—masih ada, tapi sangat lemah. Nafasnya dangkal. Ini adalah kondisi astral abduction, di mana sukma dipisahkan secara paksa dari raga.

​"Meneer! Mbak Suryani! Keluar kalian semua!" teriak Satria penuh amarah.

​Seketika, ruangan itu penuh dengan kehadiran ghaib. Meneer Van De Berg muncul dengan pedang terhunus, wajahnya menunjukkan kemarahan yang jarang terlihat. “Ini adalah perbuatan Sang Kolektor Sukma. Dia adalah pemulung ghaib yang sering mencuri jiwa-jiwa indigo yang belum stabil. Jika dalam satu jam sukmanya tidak kembali, raga Noni Arini akan mati.”

Satria tahu ia tidak bisa melakukan ini sendirian. Ia butuh tim yang bisa bergerak di berbagai lapisan dimensi.

​"Meneer, lo pimpin jalan. Lo yang paling tahu celah-celah bangunan tua ini. Mbak Suryani, Suster Lastri, kalian jaga raga Arini. Jangan biarkan ada arwah penasaran lain yang mencoba masuk ke tubuh kosong ini!" perintah Satria tegas.

​“Siap, Mas Satria! Saya akan siram pakai alkohol ghaib kalau ada yang berani mendekat!” seru Suster Lastri sambil menyiapkan perlengkapannya.

​"Ucok, lo ikut gue. Gue butuh tangan kecil lo buat bongkar segel dimensi," Satria menatap tajam ke arah sisa kabut hitam di pojok ruangan.

​Satria duduk bersila di samping tubuh Arini. Ia memegang tangan Arini yang dingin. Ia harus melakukan astral projection—sebuah teknik tingkat tinggi yang sangat berisiko bagi dirinya sendiri. Jika ia gagal, ia dan Arini akan terjebak selamanya di dunia sana.

​"Rin, tunggu gue. Gue dateng," bisik Satria. Ia mulai merapal mantra perlindungan dan memfokuskan seluruh energinya.

Dunia mendadak berubah menjadi abu-abu. Satria kini berdiri dalam wujud sukmanya. Di sampingnya, Meneer Van De Berg dan Ucok tampak lebih solid. Mereka melompat masuk ke dalam celah dimensi yang ditinggalkan sang Kolektor.

​Mereka mendarat di sebuah tempat yang menyerupai labirin bawah tanah yang tak berujung. Dindingnya terbuat dari tumpukan buku-buku tua yang berbisik, dan langitnya adalah pusaran kabut yang dipenuhi lentera-lentera kecil yang berisi sukma-sukma yang tertangkap.

​"Itu Arini!" Ucok menunjuk ke sebuah lentera besar yang tergantung di tengah ruangan luas.

​Di dalam lentera itu, sukma Arini tampak meringkuk, dikelilingi oleh benang-benang cahaya yang perlahan menghisap energinya. Di depannya, sang Kolektor sedang merapal mantra untuk mengunci lentera tersebut selamanya.

​“Berhenti!” teriak Satria. Suaranya di alam ini terdengar seperti dentuman guntur.

​Sang Kolektor menoleh, topeng porselennya retak lebih lebar. “Indigo yang berani... kau datang untuk menyerahkan dirimu juga?”

Sang Kolektor mengibaskan jubahnya, melepaskan puluhan bayangan hitam yang menyerupai anjing pemburu ghaib. Meneer Van De Berg segera maju ke depan, menebas anjing-anjing itu dengan pedang cahayanya.

​“Bawa Noni Arini pergi! Biar aku yang menahan makhluk ini!” seru Meneer.

​Satria berlari menuju lentera, namun lantai di bawah kakinya berubah menjadi tangan-tangan ghaib yang mencoba menariknya turun. Ucok dengan gesit melompat-lompat, menggigit tangan-tangan itu dengan gigi tuyulnya yang tajam.

​“Rasakan ini, tangan-tangan nakal! Jangan halangi bos saya!” seru Ucok.

​Satria sampai di depan lentera. Ia mencoba memukul kacanya, namun lentera itu dilindungi oleh perisai energi yang sangat kuat. Setiap kali Satria menyentuhnya, tangannya terasa seperti terbakar oleh api dingin.

​"Rin! Bangun, Rin! Ini gue, Satria!" Satria berteriak sambil memukul perisai itu berulang kali.

​Di dalam lentera, Arini membuka matanya yang sayu. Ia melihat Satria, namun ia tampak terlalu lemah untuk bergerak. “Sat... pergilah... dia terlalu kuat...”

Sang Kolektor berhasil memukul mundur Meneer dan kini melayang menuju Satria. “Cinta adalah kelemahan yang paling indah untuk dipanen... Mati kalian berdua!”

​Sang Kolektor mengangkat tangannya, menyiapkan ledakan energi yang bisa menghancurkan sukma mereka seketika.

​Dalam keadaan terdesak, Satria teringat jepit rambut merah pemberian Santi yang tadi sempat ia kantongi. Ia mengeluarkan jepit itu. "Rin! Inget Santi! Inget harapan dia! Kasih gue energi lo!"

​Satria menempelkan jepit rambut itu ke lentera. Benda itu menjadi konduktor bagi emosi murni. Arini, melihat jepit itu, tiba-tiba mendapatkan kekuatan baru. Ia menyentuh dinding lentera dari dalam.

​Seketika, terjadi resonansi energi yang luar biasa. Cahaya putih dari liontin Arini (yang ikut terbawa dalam wujud sukmanya) bertemu dengan energi batin Satria.

​BLAAAAAARRRR!

​Lentera itu pecah berkeping-keping. Perisai sang Kolektor hancur. Makhluk itu menjerit saat cahaya murni membakar topeng porselennya, memperlihatkan kekosongan yang mengerikan di baliknya.

​“TIDAAAAKK! KESEIMBANGANKU!” sang Kolektor meledak menjadi ribuan partikel abu dan menghilang.

Dunia labirin itu mulai runtuh. Tanpa sang Kolektor, dimensi itu tidak lagi stabil.

​"Meneer! Ucok! Kita harus keluar sekarang!" teriak Satria sambil menangkap sukma Arini yang hampir jatuh.

​Mereka berlari kembali menuju celah cahaya tempat mereka masuk. Langit-langit mulai berjatuhan. Meneer Van De Berg menggunakan kekuatannya yang terakhir untuk menahan reruntuhan agar Satria dan Arini bisa lewat.

​"Meneer! Ayo ikut!" seru Arini.

​“Pergilah dulu, Noni! Saya adalah bagian dari sejarah bangunan ini, saya tidak akan hancur semudah itu! Cepat!”

​Satria dan Arini melompat keluar dari celah dimensi tepat saat lubang itu menutup dengan ledakan energi yang membuat seluruh perpustakaan bergetar.

Satria tersentak bangun di raga fisiknya. Ia terengah-engah, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Di sampingnya, Arini juga tersentak bangun, menghirup udara dengan rakus seolah-olah ia baru saja tenggelam.

​"Arini!" Satria langsung memeluknya.

​Arini menangis sesenggukan di pundak Satria. "Gue pikir gue nggak bakal balik lagi, Sat. Rasanya dingin banget di sana."

​"Sshhh... lo aman sekarang. Kita semua aman," bisik Satria sambil mengusap rambut Arini yang masih terasa dingin.

​Suster Lastri dan Mbak Suryani muncul dengan wajah lega. “Aduh, syukurlah! Tadi ada hantu kakek-kakek mesum mau coba masuk ke raga Noni Arini, untung langsung saya suntik pakai formalin ghaib!” lapor Suster Lastri bangga.

​Meneer Van De Berg muncul terakhir, meskipun ia tampak sangat transparan dan kelelahan, ia memberikan hormat yang tulus. “Kalian berdua adalah duo paling keras kepala yang pernah saya temui. Dan itu yang membuat kalian hebat.”

Setelah keadaan benar-benar tenang, Satria membantu Arini berdiri. Penjaga perpustakaan masih tertidur, tidak sadar bahwa baru saja terjadi perang besar antar dimensi di dekat mejanya.

​Mereka berjalan keluar dari gedung sekolah saat matahari mulai tenggelam. Arini masih menggenggam erat tangan Satria, seolah takut jika ia melepasnya, ia akan tersedot kembali ke dunia abu-abu itu.

​"Sat," panggil Arini pelan.

​"Ya?"

​"Makasih ya. Kamu bener-bener dateng buat jemput aku."

​Satria menatap Arini dengan tatapan yang sangat dalam. "Gue nggak akan pernah biarin siapapun, hantu atau manusia, buat ngambil lo dari gue, Rin. Itu janji."

​Ucok yang sedang duduk di atas pagar sekolah sambil memakan jeruk ghaib berteriak, “Woi! Operasi penyelamatan sukses! Makan-makan dong! Saya laper habis gigit tangan ghaib tadi!”

​"Iya, Cok. Nanti kita beli jeruk sekarung," jawab Satria sambil tertawa.

​Bab 31 ditutup dengan keberhasilan operasi penyelamatan yang mempertaruhkan segalanya. Arini kini sadar bahwa kemampuannya bukan hanya tentang melihat, tapi juga tentang bertahan hidup. Dan bagi Satria, ia tahu bahwa mulai sekarang, ia harus menjadi lebih kuat dari siapapun untuk melindungi cahaya yang ada di sampingnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!