NovelToon NovelToon
JALANGKUNG JATUH CINTA

JALANGKUNG JATUH CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cintapertama / Mata Batin
Popularitas:229
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Satria adalah cowok SMA yang memiliki "berkah" sekaligus kutukan: ia bisa melihat makhluk halus. Sialnya, Satria tidak seperti tokoh indigo di film-film yang terlihat misterius dan keren. Satria adalah seorang Indigo Semprul. Bukannya mengusir setan dengan doa yang khusyuk, ia lebih sering bernegosiasi dengan kuntilanak menggunakan voucher kuota atau menawar pocong agar tidak melompat di depannya karena ia punya penyakit jantung ringan.
​Pindah ke SMA Wijaya Kusuma—sekolah tua peninggalan Belanda yang kabarnya sangat angker—Satria berharap bisa hidup normal. Namun, harapannya pupus saat ia bertemu Arini, gadis manis ketua OSIS yang ternyata adalah cinta pertamanya saat SD.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Patah Hati di Bawah Pohon Beringin

Sejak Arini mulai bisa melihat "mereka", dinamika di antara dirinya dan Satria berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih intens. Namun, setiap kelebihan selalu membawa beban. Bagi Arini, melihat dunia ghaib berarti melihat segala bentuk residu emosi yang tertinggal di sudut-sudut SMA Wijaya Kusuma. Dan sore itu, di bawah naungan pohon beringin tua yang letaknya di pojok belakang lapangan sekolah, Arini menemukan sesuatu yang lebih menyakitkan daripada teror Genderuwo: sebuah memori tentang patah hati yang abadi.

​Pohon beringin itu sudah ada di sana sejak zaman Belanda. Akarnya yang menjuntai seperti rambut raksasa menyimpan ribuan bisikan masa lalu. Biasanya, Satria melarang siapapun mendekat ke sana saat senja, karena pohon itu adalah "stasiun transit" bagi arwah-arwah yang sedang bersedih.

​"Sat, aku ngerasa ada yang manggil dari arah pohon itu," bisik Arini saat mereka baru saja selesai rapat OSIS.

​Satria menatap pohon itu dengan dahi berkerut. Aura di sana berwarna abu-abu pekat, bukan hitam yang mengancam, melainkan abu-abu yang melambangkan keputusasaan. "Itu aura grief, Rin. Kesedihan yang membeku. Kalau lo belum siap mental, jangan ke sana."

​"Tapi aku bisa denger suara tangisannya, Sat. Jelas banget. Dia bukan minta tolong buat diusir, dia cuma mau didengar," Arini melangkah maju, kakinya seolah ditarik oleh benang takdir yang sama yang menghubungkannya dengan sejarah sekolah ini.

Di bawah akar-akar beringin yang lembap, duduklah sesosok hantu wanita yang berbeda dari Mbak Suryani atau Noni Isabelle. Dia tidak mengenakan baju mewah atau kain kebaya, melainkan seragam SMA model tahun 80-an yang warnanya sudah memudar. Namanya Santi.

​Santi duduk memeluk lututnya, menatap sebuah ukiran inisial di batang pohon yang sudah tertutup lumut: S & A.

​"Santi?" Arini memanggil pelan.

​Hantu itu mendongak. Matanya tidak menyeramkan, hanya sangat kosong. “Dia janji akan datang ke sini sebelum perpisahan kelas dua belas,” suara Santi terdengar sangat parau. “Aku menunggunya saat hujan badai, tapi dia tidak pernah muncul. Sampai pohon ini tumbuh semakin besar, aku masih di sini, menunggu penjelasan.”

​Satria berdiri di belakang Arini, tangannya bersedekap. Ia bisa melihat benang-benang energi hitam yang melilit kaki Santi—benang penyesalan yang mengikat sukmanya agar tidak bisa pergi ke alam selanjutnya.

​"Santi, itu sudah empat puluh tahun yang lalu," kata Satria dengan nada yang sedikit lebih tegas, mencoba memberikan realitas pada sang hantu.

​“Bagi kalian, itu empat puluh tahun. Bagiku, itu baru kemarin sore. Rasa sakitnya masih terasa sama di sini,” Santi menunjuk dadanya yang tembus pandang.

Arini merasakan hatinya ikut tercubit. Ia teringat bagaimana rasanya saat ia cemburu pada Dion tempo hari, namun kesedihan Santi jauh lebih dalam. Ini adalah cinta yang tidak pernah selesai.

​"Sat, kita harus cari tahu siapa 'A' itu. Kita harus kasih dia penjelasan supaya dia bisa pergi dengan tenang," pinta Arini.

​"Rin, ini tahun 80-an. Arsip sekolah zaman itu sebagian besar sudah hancur atau hilang," Satria mencoba bersikap logis.

​Namun, Meneer Van De Berg tiba-tiba muncul di antara akar beringin. “Anak muda, jangan meremehkan memori sebuah bangunan. Di ruang bawah tanah, di dekat brankas tempo hari, ada sebuah kotak alumni yang tidak sempat terbawa oleh para pengurus yayasan lama. Mungkin jawabanmu ada di sana.”

​Tanpa membuang waktu, duo indigo itu menuju ruang bawah tanah. Kali ini, Ucok ikut serta dengan membawa senter kecil (yang entah ia pinjam dari mana).

​“Cari yang namanya S dan A! Cari yang namanya S dan A!” seru Ucok sambil mengaduk-aduk tumpukan kertas tua yang sudah dimakan rayap ghaib.

​Setelah mencari selama satu jam di tengah debu dan jaring laba-laba, Arini menemukan sebuah buku tahunan yang sudah sangat rapuh. Tahun 1984. Di sana, ia menemukan foto Santi—gadis manis dengan kuncir dua. Dan di sampingnya, ada seorang pemuda bernama Adrian.

​Di bawah foto Adrian, tertulis sebuah catatan: "Mimpi saya adalah menjadi pilot dan terbang sejauh mungkin dari kesunyian."

Satria menggunakan kemampuannya untuk membaca sisa-sisa energi pada buku itu. Ia memejamkan mata, tangannya menyentuh foto Adrian. Seketika, sebuah visi melintas di kepalanya.

​Ia melihat Adrian sedang memacu motornya dengan terburu-buru menuju sekolah di tengah hujan badai. Ia membawa setangkai bunga mawar plastik (karena bunga asli akan layu terkena hujan). Di tikungan dekat sekolah, sebuah truk kehilangan kendali karena jalanan licin.

​Satria membuka matanya dengan napas memburu. "Dia nggak pernah muncul bukan karena dia nggak mau, Rin. Dia kecelakaan di depan gerbang sekolah malam itu juga."

​Arini menutup mulutnya dengan tangan. "Jadi... Adrian meninggal di hari yang sama saat Santi nunggu dia?"

​"Lebih parah lagi," Satria melanjutkan, suaranya melunak. "Adrian meninggal di tempat, sukmanya langsung pergi karena tidak punya ikatan dendam. Tapi Santi nggak tahu. Dia meninggal beberapa tahun kemudian karena sakit, tapi sukmanya kembali ke sini karena mengira Adrian sengaja meninggalkannya."

Mereka kembali ke bawah pohon beringin. Matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya, menyisakan warna ungu yang kelam di langit. Santi masih di sana, masih menunggu.

​"Santi," Arini berlutut di depan hantu itu. "Adrian tidak pernah bermaksud meninggalkanmu."

​Santi menoleh, wajahnya mulai berubah menjadi sedikit menyeramkan karena emosinya tidak stabil. “Bohong! Kalian semua bohong! Dia pasti pergi dengan perempuan lain! Dia benci padaku!”

​Angin di sekitar pohon beringin mulai berputar kencang. Akar-akar juntaian pohon itu mulai bergerak seperti cambuk, mencoba mengusir Satria dan Arini. Ini adalah luapan energi patah hati yang terakumulasi selama puluhan tahun.

​"TENANG, SANTI!" teriak Satria sambil menancapkan garam dapur ke tanah sebagai pembatas energi. "Liat ini!"

​Satria memfokuskan energinya pada buku tahunan tadi. Ia memaksakan memori sisa dari Adrian yang tertinggal di buku itu untuk mewujud menjadi sebuah gambaran cahaya. Di udara, muncul bayangan samar Adrian yang sedang tersenyum sambil memegang mawar plastik, tepat sebelum kecelakaan itu terjadi.

​Santi terpaku. Ia melihat wajah orang yang ia cintai. Ia melihat usaha Adrian untuk menemuinya.

​“Adrian... dia mencoba datang?” suara Santi kembali melembut.

​"Dia mencintaimu sampai napas terakhirnya, Santi. Dia sekarang sudah di atas sana, mungkin dia juga sedang menunggumu di tempat yang tidak ada lagi hujan badai," kata Arini dengan air mata yang mulai menetes.

​Benang-benang hitam di kaki Santi perlahan memudar, berubah menjadi cahaya putih yang redup. Wajah Santi yang tadinya kusam kini bersinar. Ia berdiri, tidak lagi memeluk lututnya.

​“Terima kasih... terima kasih sudah memberitahuku. Selama ini aku hanya merasa sangat kedinginan... sekarang, rasanya hangat,” Santi tersenyum pada Arini.

​Santi mulai memudar. Sebelum benar-benar hilang, ia memberikan sebuah benda kecil pada Arini—sebuah jepit rambut plastik berwarna merah yang sering ia pakai di foto buku tahunan. “Simpan ini. Sebagai pengingat bahwa cinta tidak pernah benar-benar hilang, ia hanya berpindah tempat.”

​Santi menghilang terbawa angin senja. Pohon beringin itu kini terasa jauh lebih ringan. Burung-burung malam mulai berani berkicau kembali di dahan-dahannya.

Satria dan Arini terduduk di akar pohon yang kini terasa tenang. Mereka berdua terdiam, meresapi kejadian yang baru saja mereka alami. Menjadi indigo ternyata bukan hanya soal bertarung melawan monster, tapi juga soal menyembuhkan luka yang sudah membusuk oleh waktu.

​"Sat," panggil Arini pelan.

​"Hmm?"

​"Kalau suatu saat nanti... salah satu dari kita 'pergi' duluan, jangan sampai ada yang nunggu di bawah pohon ini ya," kata Arini sambil menatap langit yang kini sudah penuh bintang.

​Satria menoleh, menatap Arini dengan intensitas yang membuat Arini sedikit salah tingkah. "Gue nggak akan biarin lo nunggu, Rin. Kalaupun gue pergi duluan, gue bakal pastikan gue pamit dengan bener. Tapi mendingan kita nggak usah mikirin itu sekarang."

​Satria menggandeng tangan Arini. Tangan Arini terasa sangat dingin setelah bersentuhan dengan energi Santi tadi.

​"Tangan lo dingin banget, Rin. Ayo kita ke kantin, cari teh anget. Suster Lastri tadi gue liat lagi stok minyak kayu putih baru, mungkin bisa lo pake," ajak Satria.

​“Cieee... tangan digandeng terus! Satria takut Noni Arini jadi hantu pohon beringin ya?” celetuk Ucok yang tiba-tiba muncul di atas dahan pohon.

​"Ucok! Jangan ngerusak suasana!" seru Satria sambil melempar kerikil ghaib.

Malam itu, SMA Wijaya Kusuma tampak lebih damai. Patah hati yang selama ini menghuni bawah pohon beringin telah menemukan jalannya pulang. Arini memandangi jepit rambut merah pemberian Santi di tangannya. Ia belajar satu hal penting hari ini: bahwa emosi manusia, sekecil apapun, bisa meninggalkan jejak yang abadi di dunia ini.

​"Sat, makasih ya udah bantu Santi," bisik Arini saat mereka berjalan menuju gerbang.

​"Sama-sama, Rin. Tapi tugas kita makin berat nih. Karena lo udah bisa liat, berarti lo bakal sering dimintain tolong sama 'pasien-pasien' kayak Santi."

​"Nggak apa-apa. Selama ada asisten indigo paling semprul yang nemenin, aku rasa aku sanggup," Arini tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di bahu Satria sejenak sebelum mereka berpisah di depan gerbang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!