Bertemu kembali dengan Althan Alaric, mantan pacarnya yang sekarang menjadi aktor terkenal, bukanlah kabar baik bagi Vivi. Ia berusaha menjauh, tapi pria itu seolah sengaja mendekatinya untuk membalas dendam.
Vivi bisa memahami alasan Althan bersikap demikian. Namun masalahnya bukan itu. Jika Althan terus berada di dekatnya, Vivi takut pria itu akan mengetahui keberadaan Mikaila, anak yang dirahasiakan Vivi selama ini. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Sanggupkah Vivi terus menyembunyikan anak itu dari sang superstar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA ADACHI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Siapa Lebih Jahat?
Setelah menikmati libur selama tiga hari, akhirnya Vivi kembali dihubungi oleh Roni.
Kali ini, ia diminta menyusul Althan yang sedang berada di lokasi syuting, sekaligus mengambil beberapa pakaian yang telah dipesan di toko.
Sebagai bawahan, tentu Vivi tak bisa menolak. Meski sambil menggerutu, ia tetap melaksanakan tugasnya dengan baik.
Namun, yang tidak ia sangka, lokasi syuting Althan ternyata berada di atas bukit. Jalan menuju ke sana sangat sempit, bahkan kendaraan pun tidak bisa melintas. Mau tak mau, Vivi harus berjalan kaki sambil membawa barang-barang pesanan Althan, ditambah barang miliknya sendiri.
“Althan sialan… awas saja kamu. Suatu saat akan kubalas,” gerutu Vivi di sela napasnya yang terengah-engah saat menanjak.
Sebenarnya, ia sempat terpikir untuk membuang saja baju-baju milik Althan. Tapi untuk saat ini, ia memilih menahan diri. Ia tahu, Althan sengaja memperlakukannya seperti ini. Pasti Althan ada tujuan tertentu. Dan selama tujuan itu belum tercapai, pria itu tidak akan melepaskannya.
Setelah menanjak selama setengah jam, akhirnya Vivi sampai di puncak. Di sana, terlihat ramai ramai orang yang sedang melakukan syuting. Ada Althan juga yang sedang berbincang dengan sutradara. Saat melihat Roni, Vivi langsung menghampirinya.
"Mas," panggilnya dengan napas ngos ngos-ngosan.
"Loh, mbak vivi? kesini nya naik apa? Jalan kaki?" Roni yang melihat penampilan Vivi terheran-heran.
"Ya iyalah Mas, memangnya mau naik apa, kan jalanan bukitnya nggak ada akses buat kendaraan,"
"Astaga, maaf mbak, aku lupa bilang. Kalau mau naik ke bukit ini, harus lewat gedung yang ada di seberang sana dulu, terus nanti kita pakai kereta gantung," Roni menunjuk kereta gantung yang berada tak jauh dari sana, membuat Vivi langsung kehabisan kata kata.
"Kenapa nggak bilang dari tadi, Mas?!"
"Aduh, sorry banget mbak. Tadi aku masih ngurusin hal lain, jadi tadi yang ngubungin kamu itu sebenarnya Althan. Aku bener bener lupa buat ngingetin dia,"
Vivi langsung mengarahkan tatapan tajam ke arah Althan yang sedang asyik mengobrol.
Kamu pasti sengaja kan, cowok sialan!
Seperti menyadari kalau ada yang menatapnya, Althan tiba-tiba menoleh ke arah Vivi. Melihat penampilan wanita itu yang sudah acak acakan dengan tubuh dipenuhi keringat, ia malah tersenyum lebar.
"Oh, sudah datang? Wah, mbak Vivi, kamu ternyata suka olahraga ya? Baguslah, kita memang butuh karyawan yang punya semangat seperti kamu,"
Emosi Vivi benar benar sudah di ujung tanduk. Benar kan dugaannya, Althan pasti sengaja melakukannya!
"Terimakasih Pak Althan, atas perhatiannya," Vivi tetap berusaha tersenyum. "Kalau gitu, baju baju ini sebaiknya saya taruh mana ya?"
"Loh, ngapain kamu bawa bajunya kesini? Ini kan baju buat syuting iklan minggu depan. Kamu masukin aja ke mobil,"
"Hah?" Vivi benar benar dibuat kehabisan kata kata. "Tapi, bukannya Pak Althan bilang saya harus ambil bajunya dari toko?"
"Ya iya. Saya kan suruh kamu ambil aja, nggak nyuruh buat dibawa ke sini?"
Vivi benar-benar ternganga dibuatnya. Wah, anak ini benar benar...
"Eng, mbak Vivi pasti capek, biar aku aja yang bawa, sekalian mau ke supermarket," Roni yang melihat ketegangan di antara keduanya langsung turun tangan. "Mbak Vivi istirahat aja di sana. Kalau mau minuman dingin, ada di tas. Ambil aja mbak," lanjutnya kemudian.
Ucapan Roni sedikit banyak membuat amarah Vivi mereda. Ia langsung tersenyum dengan penuh rasa terimakasih ke Roni. "Makasih banyak ya Mas,"
"Iya mbak sama sama, sini baju bajunya,"
Vivi pun menyerahkan pakaian pakaian itu ke Roni, dan Roni pun bergegas pergi.
Setelah kepergian Roni, sekarang hanya tersisa Althan dan Vivi saja. Vivi yang masih kesal karena pagi pagi dikerjai Althan hanya bisa menatap pria itu dengan tajam.
"Kenapa? Kamu marah sama saya?" tanya Althan dengan wajah tak ada dosa.
"Ya menurut Anda?" Vivi mendengus kasar.
"Cuma segitu saja sudah marah. Apalagi kalau aku memperlakukan kamu kaya kamu dulu memperlakukan aku,"
Vivi menghela napas panjang. Tuh kan, lagi lagi tebakannya tepat sasaran. Semua hal kejam yang dilakukan Althan padanya memang terkait dengan kesalahan masa lalu Vivi.
"Saya tau saya ada kesalahan ke Anda, Pak. Tapi bisakah Anda memisahkan urusan pribadi dan profesional? Bukankah Anda adalah aktor terkenal? Anda tidak takut kalau saya akan mem-viralkan Anda karena tindakan sewenang-wenang terhadap karyawan?"
"Tindakan sewenang-wenang?" Althan ganti menatap Vivi. "Kamu berani bilang begitu? Setelah apa yang pernah kamu lakukan padaku?"
Vivi menelan ludah gugup. Tatapan Althan benar-benar mengintimidasinya.
"Katakan, Vivi. Apa tindakan yang aku lakukan ini sudah sepadan dengan apa yang kamu lakukan dulu? Kamu tau apa yang harus aku lewati setelah hari itu? Kamu tau betapa banyak mimpi buruk yang aku alami?"
Vivi memejamkan mata. Dia tidak tau, tentu saja.
"Jangan merasa yang paling tersakiti di sini, Vivi. Akulah yang seharusnya berkata begitu. Kamu, harus merasakan semua rasa sakit yang aku rasakan, baru aku akan puas,"
Tangan Vivi terkepal. "Bisakah kamu melepaskan aku saja? Setelah kamu melepaskan aku, aku janji tidak akan pernah muncul di hidup kamu lagi. Aku janji hidup kamu akan tenang setelah ini. Please, Althan. Aku tau aku salah, tapi aku mohon, lepaskan aku,"
"Melepaskan kamu? Huh, enak saja. Aku tidak akan membiarkan kamu hidup bahagia di luar sana, sebelum aku menuntaskan semua rasa sakit hatiku. Biar saja, akan aku beritahukan kepada kekasih barumu itu, kalau kamu tidak sebaik yang dia kira. Biar dia tau, kalau kamu pernah sangat jahat kepadaku,"
Althan mengatakan itu dengan tangan terkepal di samping badan Vivi. Kemudian, ia pun melangkah pergi.
Sepeninggal Althan, Vivi jatuh terduduk karena lemas. Bagaimana ini, masih jauh untuknya bisa lepas dari Althan. Vivi sebenarnya tidak masalah jika Althan mau membalas dendam, dia sadar kalau kesalahannya dulu sangat besar. Tapi, ada satu hal yang membuatnya khawatir, yaitu keberadaan Mikaila.
Vivi tak mau Althan mengetahui tentang Mikaila, dan membuat semua yang ia lakukan selama ini hancur begitu saja.
"Tapi, apa maksud dia tadi? Kekasih baru? Memangnya aku punya kekasih?" Vivi bertanya-tanya keheranan.
semoga althan segera tau kebenaran ny ,, klo vivi ninggalin dy krn Selina ,,
mungkin vivi di bawah ancaman Selina ,,
next kak
kalau kamu g membuat mereka berpisah juga g bakalan mereka pisah😡
/Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle/
sebenarnya vivi juga pengin ngaku kalau Mikaila anak althan, tapi dia takut kejadian masa lalu terulang kembali.
harusnya Vivi terus terang kenapa dia dulu ninggalin althan, biar althan kasih pelajaran sama wanita serakah itu kalau kebahagiaan althan sama Vivi g bakalan menghambat karirnya.
yang bukan dari harga, tapi dari nilainya siapa yang memberi dan kenanganny😭😭😭😭
sabar vi semua pasti akan terungkap tanpa harus kamu bicara