NovelToon NovelToon
Cara Hidup Di Masa Kiamat

Cara Hidup Di Masa Kiamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Hari Kiamat / Sistem
Popularitas:332
Nilai: 5
Nama Author: Lloomi

Saat langit retak dan hukum purba kembali berkuasa, manusia jatuh ke dasar rantai makanan. Di tengah keputusasaan itu, Rifana bangkit dengan luka yang tak kunjung sembuh dan ingatan yang perlahan terasa asing.

​Di dunia di mana para Superhuman mulai membangun tatanan baru di atas reruntuhan, Rifana hanyalah anomali yang membawa aroma maut ke mana pun ia melangkah. Dia tidak memiliki kekuatan yang memukau, hanya kemampuan adaptasi yang gila dan perasaan bahwa dirinya bukan lagi manusia yang sama.

​Berapa lama dia bisa bertahan di dunia yang tak lagi mengenali keberadaannya? Dan apa yang sebenarnya mengawasi dari balik fajar yang tak kunjung tiba?

Jadwal Up : 18.30 WIB
6-7 Ch/minggu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lloomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergi ke kota (3)

Rifana memperbaiki langkahnya dan terus berlari tanpa menoleh ke belakang, Adam telah sampai di ujung jalan dan berdiri di ambang gerbang.

Matanya membelalak saat dia berbalik untuk mencari Rifana, saat pandangan Adam diarahkan padanya Rifana langsung membuat isyarat baginya untuk pergi terlebih dahulu.

Dengan kuat dia berteriak "Pergi! Temui gua di sana!" suaranya bergetar, tiba-tiba raungan keji menusuk telinga Rifana, makhluk itu kini berlari ke arahnya.

Itu aneh, Rifana baru menyadarinya namun, sepertinya sudah terlambat untuk itu.

Mengabaikan seluruh rasa sakit yang dialaminya, Rifana terus menerus mengambil langkah lainnya. Adam di sisi lain menunduk sejenak saat menyaksikan ini, dia menggertakan giginya sebelum berbalik pergi dengan Ziva yang kelelahan dalam gendongannya.

'Bagus, itu bagus' Jantungnya terus memompa darah ke seluruh tubuhnya, tak berani menurunkan kecepatannya.

Rifana telah memberitahu Adam tentang tempat yang akan dituju mereka, kota memiliki lebih banyak variasi tempat, dan itu artinya barang yang berbeda di setiap tempatnya.

Mereka perlu senjata dan armor untuk melindungi diri mereka jadi Rifana memutuskan untuk pergi ke mall di kota, meski tempat itu kemungkinan telah dijarah habis setidaknya mereka mungkin akan menemui Survivor lain disana.

Dengan makhluk yang menggila di belakangnya Rifana masih berlanjut, bahkan saat dia sampai di gerbang.

Dia melompati palang dan keluar dari tempat itu saat.

Bruak!

Susunan semen di belakangnya ditabrak dengan keras, makhluk itu menghancurkan gerbangnya!

Pecahannya berhamburan ke seluruh tempat hingga salah satunya mengarah pada Rifana.

'Bajingan!'

. . .

Adam terus pergi dengan Ziva di punggungnya, bulu kuduknya masih sangat tegang bahkan setelah pergi jauh.

Dia juga melihatnya, makhluk itu, tak mungkin bagi mereka untuk melawannya saat ini.

Rifana benar, menjadi Superhuman bukan berarti mereka berada di puncak dunia, tidak bukan seperti itu.

Meski Adam hampir meledakan kepalanya saat mendengarkan penjelasan Rifana, dia tak bisa melupakan kata-katanya.

Superhuman hanyalah garis start bagi kita, sebagai pendaki hierarki menuju puncak kekuatan, atau makhluk lemah yang berusaha bertahan.

Dan Adam mengetahui posisi mereka saat ini.

Mereka belum memenuhi syarat untuk keduanya.

Baru kali ini pikiran Adam berpacu dengan lancar, mencerna informasi yang dibeberkan Rifana sebelumnya.

Prosesnya memang lambat, namun setidaknya dia akhirnya mengerti.

Adam juga menyadari beberapa hal tentang rekan barunya, Rifana pria itu terlalu mengejutkan. Dalam konteks tindakan dan gerak geriknya.

Walaupun Adam lamban dalam mencerna informasi, dia sangat sadar dengan 'keanehan' rekannya ini.

Ditambah dengan pendapat Ziva yang diucapkannya pada Adam sebelum mereka berangkat.

Setelah berinteraksi dengan Rifana selama beberapa waktu, mereka menemukan beberapa hal ini.

Pria itu sangat cepat berubah.

Tidak, tak hanya cepat, itu hampir terjadi dalam satu kedipan saja.

Entah apa alasannya, nada bicaranya, apa yang diucapkannya bahkan semua yang dilakukannya terasa berbeda di setiap waktunya.

Dua saudara ini tak mengerti, bagian mana dari pria ini yang tak normal, lagipula mereka belum menghabiskan waktu yang terlalu lama satu sama lain.

Mereka juga lebih memilih bungkam untuk saat ini, khawatir pendapat mereka akan menyinggung Rifana secara tak disengaja.

Adam membawa menyelinap ke sebuah kafe di pinggir jalan, mereka harus beristirahat sebentar.

Pintu kafe didorong terbuka membawa bau kopi yang pekat menyusupi hidung mereka, Adam pergi ke ruang karyawan yang terletak dibalik meja konter dan mengistirahatkan tubuh Ziva di sana.

"Si Rifana gimana ya?" Adam berpikir keras, dia mengetahui fakta kalau tubuh Rifana sebenarnya bahkan lebih lemah dari manusia biasa. Apalagi jika dibandingkan dengan tubuh Adam.

Pria itu tak akan mengejarnya, namun skill Rifana menutup hampir semua kekurangan fisiknya meskipun risikonya fatal.

Rifana, Adam dan Ziva telah saling bertukar informasi sebelumnya. Meskipun Rifana sepertinya memiliki beberapa rahasia Adam dan Ziva tak berniat mengganggunya.

Mereka berusaha membuat koneksi yang baik dengan Rifana, sebagai rekan yang dapat dipercaya hingga titik tertentu.

Tentu ini bukan tanpa alasan, buktinya pria itu bisa bertahan selama ini dalam kiamat, dia benar-benar memiliki kemampuan yang luar biasa.

Rifana memberitahu mereka berdua tentang [Trait - Natural Adapter] miliknya, namun dengan sedikit perubahan dalam penjelasannya.

Adam mendengarkan dengan seluruh fokusnya saat itu, tak ingin melewatkan informasi tentang rekan masa depannya ini.

Dikatakannya, saat berada dalam kondisi tertentu. Tubuh Rifana akan beradaptasi secara perlahan dan menciptakan counter alaminya dengan versi yang lebih lemah.

Keduanya hampir menganggap kemampuan bawaan Rifana terlalu gila, namun mendengar kalau itu versi yang lebih lemah, mungkin ada penyesuaian tertentu yang menyeimbangkannya.

Mereka berdua menjadi semakin yakin setelah Rifana menjelaskan tentang statistik miliknya.

Meskipun memiliki fisik yang lemah, otak Rifana dianggap sangat superior di antara semua manusia.

Dengan poin kecerdasan 9, dia hampir melampaui seluruh manusia dengan 4 poin lebih tinggi, meski Adam dan Ziva tak memiliki parameter untuk mengukur setiap tingkatannya.

Angka sebesar itu tetap saja tinggi.

Mungkin itu alasan kenapa Rifana bertindak sangat teliti selama ini, dia juga menciptakan strategi untuk mereka bertiga dengan sangat hati-hati.

Semua fakta itu sudah membuat Rifana menjadi rekan masa depan yang menjanjikan bagi siapapun, saat itulah Adam berbalik melihat kegelapan di luar.

Beberapa siluet melintas tanpa pamrih, meninggalkan semua kekacauan di belakangnya.

"Kayanya mutan semakin aktif, gua harus menunda pergi ke mall kalo gini" Adam mengunci pintu ruang karyawan, ia duduk di samping Ziva yang tertidur.

Adam memandang Ziva, wajahnya pucat akibat kelelahannya, mengalihkan ke sekitar Adam mengambil kain acak yang ditempatkan di meja dan mengubahnya menjadi selimut untuk Ziva.

Mereka akhirnya beristirahat.

. . .

Runtuhan gerbang terbang melesat menghampiri Rifana, tubuhnya dipompa dengan cepat menghindar ke samping namun itu tak sepenuhnya berhasil.

Bahunya terlambat mengejar menutup jarak dan berakhir berbenturan dengan puing itu.

Memukul keras Rifana hingga terlempar ke belakang.

Tubuhnya mengecap aspal yang dingin dengan kasar. Meninggalkan luka kecil yang tak terhitung jumlahnya.

Makhluk itu menerobos ke depan, cakarnya yang mengerikan diayunkan dengan keras menyayat kehampaan di depannya.

Deru angin tercipta di antara mereka, hidung makhluk itu mengendus saat telinganya bergerak kesana kemari.

Tiba-tiba makhluk itu kembali menyerang, cakarnya hampir memeluk Rifana hingga hancur. Instingnya mengambil alih dalam sekejap, dia berhasil menghindarinya.

Cakar itu hampir tepat sasaran, namun meleset di detik terakhir.

Mutan itu merasakan kekosongan lagi dalam serangannya mengamuk, dia meraung dengan keras menggetarkan bulu hitamnya yang mengkilap.

Diantara gundukan bulu hitam itu. Rifana sekilas melirik, mengungkap mata makhluk mutan itu yang dilumuri darah dengan lubang besar mencungkil pupilnya.

Rifana tersentak, mundur ke belakang, otaknya dengan cepat mencerna.

"Makhluk ini buta!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!