Xavier, king Mafia yang tak terkalahkan, ditangkap musuh dan terkena tembakan di dada hingga pingsan. Ketika sadar, dia terkejut melihat dirinya mengenakan hanfu kuno megah dan duduk di singgasana tinggi di lingkungan asing.
Dia menyadari dirinya seharusnya sudah mati, namun doanya terkabul dalam bentuk reinkarnasi. Kini dia berada di tubuh pemimpin sekte iblis yang dingin dan bijaksana, dengan perpaduan unik antara kekerasan masa lalunya sebagai Mafia dan kebijaksanaan baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUBBLEBUNY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukum Sang Kaisar dan Perubahan Rencana
Suasana di lembah itu menjadi sedingin es. Setiap kata yang keluar dari mulut Ye Chen bagaikan palu godam yang menghantam mental kelima pria itu. Mereka merasa seolah-olah bukan sedang berhadapan dengan manusia biasa, melainkan sedang berdiri di hadapan hakim agung yang siap menjatuhkan vonis mati kapan saja. Pemimpin pemberontak itu menelan ludah dengan susah payah. Rasa takut yang sebelumnya ia coba sembunyikan kini mulai nyata terlihat di wajahnya. Namun, harga dirinya yang sudah terlanjur tinggi dan keserakahan yang membutakan akal sehat membuatnya mencoba memberontak.
"Kau... kau berani menghina kami?! Dasar anak muda yang tidak tahu diri! Kau pikir dengan bicara besar kau bisa menang?!" Teriaknya sambil mengayunkan pedangnya ke udara untuk menutupi kegugupan.
"Serang dia! Bunuh dia! Jangan biarkan orang asing ini ikut campur! Setelah kita habisi dia, baru kita urus si cantik ini!" Perintahnya dengan suara melengking.
Keempat anak buahnya saling pandang sejenak, namun akhirnya rasa takut pada pemimpin mereka lebih besar daripada rasa takut pada sosok misterius di depan mereka. Dengan teriakan keras, mereka semua menyerbu maju secara bersamaan. Lima pedang berkilauan memancarkan niat membunuh yang tajam, menyambar ke arah tubuh Ye Chen dari berbagai arah, mencoba memotong jalur geraknya dan membelah tubuhnya menjadi potongan-potongan kecil.
"Matilah kau!!" Seru mereka dengan putus asa dan histeris saat menyerang dengan sisa kekuatan yang mereka miliki.
"Kami tidak akan menyerah begitu saja! Kau tidak bisa menghentikan kami semua! Mati kau! Mati!!" Teriak mereka saling bersahutan, melancarkan serangan terakhir yang kacau dan penuh kepanikan.
Xiao Ling yang berada di belakang menutup matanya erat-erat, tidak sanggup melihat pemandangan mengerikan yang akan terjadi. Dia merasa bersalah karena telah menyeret orang asing yang baik hati ini ikut terbunuh bersama dirinya. Namun... Ye Chen tetap berdiri tegak di tempatnya. Dia tidak bergerak sedikitpun. Tidak ada ekspresi kaget atau takut di wajahnya. Bahkan kelopak matanya pun tidak berkedip. Saat pedang-pedang itu hanya tinggal beberapa inci lagi dari tubuhnya, tiba-tiba Ye Chen mengangkat tangan kanannya perlahan ke depan. Sebuah gelombang energi tak terlihat meledak keluar dari tubuhnya secara diam-diam namun dengan kekuatan yang menghancurkan. Suara dentuman logam yang memekakkan telinga bergema di seluruh lembah. Apa yang terjadi selanjutnya membuat mata semua orang terbelalak hingga hampir keluar dari rongganya. Lima buah pedang tajam yang baru saja menyerang itu... berhenti seketika di udara! Mereka tidak bisa bergerak maju sedikitpun, seolah-olah menabrak dinding baja yang tak terlihat. Bahkan lebih mengerikan lagi, gagang pedang yang dipegang oleh tangan-tangan para pemberontak itu mulai bergetar hebat, dan perlahan-lahan... retakan-retakan halus mulai muncul pada bilah pedang mereka!
"Apa... apa ini?!" Seru salah satu dari mereka dengan mata terbelalak. Mereka mencoba menarik pedangnya kembali, mencoba mengayunkannya, tapi pedang itu seolah menempel pada sebuah tembok tak kasat mata yang kokoh bagaikan gunung.
"Kalian ingin membunuhku?" Tanya Ye Chen pelan, suaranya tenang namun terdengar sangat mengerikan di telinga mereka.
"Dengan benda mainan seperti ini? Kalian terlalu meremehkan dunia, dan terlalu meremehkanku." Ucap Ye Chen dengan nada dingin dan penuh penghinaan, seolah menatap semut yang mencoba menggigit batu.
"Kalian pikir dengan mengayunkan pedang sembarangan dan berteriak histeris kau bisa menang? Sungguh pemandangan yang sangat menyedihkan dan menjijikan. Hari ini, aku akan mengajarkan kalian arti sebenarnya dari kekuatan... sebelum aku mengirim kalian ke alam baka!" Tambahnya dengan suara yang berat dan mematikan
Ye Chen sedikit mengencangkan genggamannya di udara. Lima buah pedang berkualitas tinggi itu seketika hancur berkeping-keping! Hancur menjadi serpihan-serpihan kecil bagaikan kaca yang dihantam palu raksasa! Logam-logam itu berhamburan ke segala arah, membuat para pemiliknya terkejut setengah mati dan terpental mundur karena hentakan balik yang dahsyat. Mereka jatuh terduduk di tanah, memegang tangan mereka yang gemetar hebat dan berdarah karena getaran yang membalik. Wajah mereka pucat pasi, keringat dingin mengalir deras membasahi seluruh pakaian mereka. Ketakutan yang paling murni dan paling dalam kini menguasai seluruh jiwa dan raga mereka. Mereka baru sadar... mereka tidak sedang berhadapan dengan monster yang berada di level yang sama sekali berbeda! Selisih kekuatan di antara mereka bukan lagi seperti langit dan bumi, melainkan seperti semut yang menantang naga!
"Mo... monster... kau adalah monster..." Gumam pemimpin mereka dengan suara parau, tubuhnya gemetar hebat tak terkendali.
"Kau bukan manusia! Kau adalah iblis yang turun dari neraka! Jauh lebih jahat dari yang mereka katakan!" Serunya dengan sisa napasnya, matanya penuh teror yang tak bisa dilupakan.
Ye Chen perlahan melangkah maju. Setiap langkah kakinya menginjak tanah, namun tidak menimbulkan suara apapun. Akan tetapi, setiap langkah itu membuat jantung mereka berhenti berdetak sesaat. Dia berjalan mendekat, membawa aura kematian yang begitu pekat hingga udara di sekitarnya terasa berat dan sulit untuk dihirup.
"Kalian menyebut diri sebagai murid Sekte Lembah Bunga Suci?" Tanya Ye Chen sambil menatap tajam ke arah pemimpin mereka yang kini sudah tak berdaya.
"Kalian memakai jubah itu, memakai lambang itu, tapi apa yang kalian lakukan? Membunuh guru, mengkhianati saudara, berniat mencuri kekuatan orang lain dengan cara yang najis.. Di mataku, kalian bukanlah manusia. Kalian hanyalah sampah yang menumpuk di dunia ini. Sampah yang harus dibersihkan agar tidak mengotori pemandangan." Ucap Ye Chen dengan suara yang sedingin es dan penuh dengan rasa jijik yang mendalam.
"Tolong... ampun... ampuni kami! Kami tidak tahu siapa anda! Kami buta! Kami salah!" Pemimpin itu akhirnya menjatuhkan harga dirinya, berlutut dan mulai merangkak mendekati kaki Ye Chen sambil menangis dan memohon ampun.
"Kami janji tidak akan melakukannya lagi! Kami akan kembali dan meminta maaf pada Guru! Lepaskan kami! Kami akan melakukan apa saja!" Teriak mereka dengan suara putus asa, air mata dan ingus bercampur membasahi wajah mereka yang tak berharga.
Ye Chen berdiri tegak di tengah lembah itu, menatap pemandangan menyedihkan di hadapannya tanpa sedikit pun rasa iba atau belas kasihan yang menyelinap di hatinya. Wajahnya tetap datar, sedingin es abadi, seolah apa yang dilihatnya bukanlah makhluk hidup yang memohon belas kasihan, melainkan sekumpulan serangga kotor yang sedang merayap di kakinya. Bagi seorang Kaisar Iblis yang telah menginjakkan kakinya di dunia ini selama ribuan tahun, yang telah menyaksikan pasang surutnya kerajaan, dan yang telah memimpin perang berdarah yang menelan jutaan nyawa... pemandangan seperti ini hanyalah hal yang biasa dan membosankan. Dia telah melihat pahlawan yang gagah berani gugur dengan hormat. Dia telah melihat jenderal yang teguh hati memilih mati daripada mundur. Dan dia juga telah melihat ribuan pengecut seperti mereka yang air matanya tumpah ruah hanya karena nyawanya terancam. Air mata dan permohonan maaf yang keluar dari mulut orang-orang yang sudah kehilangan harga diri ini tidak memiliki nilai apa pun di matanya. Itu bukan tanda penyesalan, melainkan hanya naluri primitif seekor binatang yang ketakutan saat melihat mulut harimau terbuka lebar di hadapannya.
"Kata-kata manis dan air mata... tidak akan pernah bisa membersihkan noda darah di tangan kalian, di dunia ini, ada harga yang harus dibayar untuk setiap kejahatan. Dan kalian sudah terlambat untuk menawar." Batin Ye Chen berkata dalam hati, matanya memancarkan ketenangan yang jauh lebih menakutkan daripada kemarahan yang meledak-ledak.
"Terlambat," Ucap Ye Chen singkat.
"Kata maaf tidak bisa memulihkan kepercayaan yang sudah hancur, dan tidak bisa menghidupkan kembali niat jahat yang sudah terlahir di hati kalian. Orang yang sudah busuk hatinya... tidak perlu diberi kesempatan untuk terus mengotori dunia ini." Ucap Ye Chen datar dan dingin, tanpa sedikit pun getaran emosi.
"Hukum alam itu adil. Kalian menuai apa yang kalian tanam. Dan hari ini... kalian akan memanen kematian kalian sendiri." Tambahnya dengan suara yang pelan namun final, menutup seluruh harapan mereka untuk selamanya.
Ye Chen kembali mengangkat tangannya. Kali ini, tidak ada energi besar yang meledak. Hanya sebuah jentikan jari yang ringan dan santai. Sebuah titik cahaya hitam meluncur cepat dari ujung jarinya. Cahaya itu menembus tepat ke antara kedua mata pemimpin pemberontak itu. Matanya terbelalak lebar, tubuhnya kaku sejenak, lalu ia jatuh tersungkur ke tanah dan tidak bergerak lagi. Nyawanya melayang dalam sekejap, tanpa rasa sakit, namun juga tanpa ampun. Keempat temannya menjerit ketakuatan melihat pemimpin mereka tewas seketika dengan cara yang begitu mudah.
"Iblis! Dia benar-benar Iblis!" Teriak mereka histeris, pikiran mereka hancur total menyaksikan kekejaman yang tak masuk akal itu.
"Lari! Cari jalan keluar! Kita tidak bisa melawan monster ini! Kita semua akan mati di sini!" Seru mereka panik, saling mendorong dalam upaya putus asa untuk menyelamatkan diri sendiri, melupakan segala formasi dan kesatuan yang pernah mereka miliki.
"Mana ada... jalan keluar" Gumam Ye Chen dingin, suaranya seolah datang dari penjuru angin, menutup seluruh harapan mereka.
"Sejak kalian melangkah masuk ke hadapanku... nasib kalian sudah ditetapkan sejak awal. Tidak ada tempat untuk bersembunyi, dan tidak ada cara untuk lari. Kematian... adalah satu-satunya tujuan yang akan kalian capai hari ini!" Ucapnya dengan nada yang final dan mutlak.
Dia tidak perlu bergerak. Dia hanya perlu mengerutkan keningnya sedikit saja. Empu ledakan kecil terjadi secara bersamaan di belakang punggung mereka yang sedang lari. Jantung keempat orang itu seketika berhenti berdetak karena tekanan energi yang Ye Chen kirimkan langsung ke dalam tubuh mereka. Mereka jatuh bergelimpangan di tanah, menjadi mayat hidup yang tak bernyawa dalam hitungan detik. Hening, Kematian menyelimuti lembah itu. Hanya tersisa suara angin yang berhembus pelan dan napas tertahan dari Xiao Ling yang masih berdiri mematung di belakang pohon. Ye Chen berdiri di antara mayat-mayat itu. Jubah putihnya tetap bersih, tidak setetes pun darah menempel padanya. Dia menatap mayat-mayat itu dengan tatapan datar, seolah baru saja membuang beberapa sampah yang mengganggu jalan. Ye Chen perlahan berbalik badan, menatap ke arah gadis yang masih terpojok itu. Xiao Ling langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, gemetar bukan main, campuran antara rasa takut dan rasa syukur yang luar biasa.
"Te... Terima kasih, Tuan..." Suara Xiao Ling terdengar kecil dan gemetar.
"Terima kasih telah menyelamatkan nyawa Xiao Ling. Jika bukan karena Tuan, mungkin Xiao Ling sudah tidak ada di dunia ini." Ucap Xiao Ling dengan suara lembut namun penuh rasa terima kasih yang mendalam, membungkuk hormat.
"Kau dari Sekte Lembah Bunga Suci?" Tanya Ye Chen memecah keheningan.
"Be... benar, Tuan. Nama saya Xiao Ling," Jawab gadis itu dengan sopan.
"Orang-orang tadi... mereka adalah murid dalam sekte saya yang memberontak karena tergoda kekuatan. Mereka ingin membunuh Guru dan mengambil kekuatan saya..." Ucap Xiao Ling dengan suara bergetar, matanya menatap ke bawah menyembunyikan rasa sedih dan marah yang bercampur.
Ye Chen mengangguk pelan. "Aku tahu. Aku melihat semuanya."
Dia terdiam sejenak, pikirannya bekerja cepat. Awalnya, tujuannya adalah pergi ke Sekte Tianmo untuk memeriksa urusan di sana. Namun, melihat kejadian ini, sebuah ide besar tiba-tiba muncul di benaknya. Sekte Tianmo adalah tempat yang penuh dengan kekuatan gelap, darah, dan pertumpahan darah. Membawa gadis suci dan polos seperti ini ke sana... bukanlah keputusan yang bijak. Itu akan mencemari kemurniannya, atau bahkan bisa membahayakan nyawanya jika ada pasukan Tianmo yang tidak tahu diri.
"Sekte Langit-ku sedang membutuhkan orang-orang yang memiliki hati bersih dan energi suci untuk menyeimbangkan suasana. Gadis ini memiliki energi yang sangat cocok untuk menyembuhkan luka, memurnikan energi, dan mungkin... bisa menjadi penyeimbang bagi murid-muridku yang sedang ditempa dengan cara keras." Batin Ye Chen merenung, matanya berkilat cerdas melihat potensi besar yang dimiliki gadis itu.
"Pasukan Tianmo adalah kegelapan yang ganas, murid-murid baruku adalah api yang membara, dan dia... dia adalah air yang menyejukkan serta cahaya yang menenangkan. Kombinasi ketiganya akan menciptakan keseimbangan sempurna yang sulit ditandingi oleh siapa pun." Lanjutnya dalam hati, sebuah rencana besar mulai terbentuk jelas di benaknya.
Pikirannya berputar cepat. Niatnya untuk pergi ke Tianmo mulai goyah. Urusan di Tianmo bisa ditunda, atau bisa diperintah lewat jalur suara hati dengan Mo Xie. Tapi kesempatan untuk mendapatkan aset berharga seperti gadis ini... tidak akan datang dua kali.
"Xiao Ling," Panggil Ye Chen dengan nada yang sedikit lebih lembut dari sebelumnya, namun tetap memancarkan wibawa.
"Keadaanmu sekarang bagaimana? Sekte mu sedang kacau balau, dan kau tidak bisa kembali sendirian dalam kondisi seperti ini. Kau juga tidak bisa pergi ke tempat lain karena orang-orang itu pasti sudah menyiapkan jebakan di mana-mana." Ucap Ye Chen tenang namun tegas, menegaskan kenyataan pahit yang dihadapi gadis itu.
Xiao Ling menunduk sedih. "Xiao Ling... Xiao Ling tidak tahu harus pergi ke mana, Tuan. Sekte saya sekarang berbahaya..."
Ye Chen mengangguk. "Kalau begitu, dengarkan usulanku."
"Aku memiliki sebuah sekte yang baru saja berdiri. Namanya Sekte Langit. Di sana, kami mengajarkan kebenaran, kekuatan, dan juga perlindungan. Saat ini kami sedang membutuhkan orang-orang yang memiliki hati bersih sepertimu." Ucap Ye Chen dengan suara rendah namun penuh wibawa dan daya tarik yang kuat.
"Di sana, kau tidak perlu takut lagi. Kau bisa berlatih dengan tenang, memulihkan kekuatan, dan menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Tempat itu akan menjadi rumah baru yang aman bagimu sampai kau siap untuk kembali mengambil apa yang menjadi hakmu." Lanjutnya lembut namun meyakinkan, memberikan harapan yang nyata bagi gadis itu.
"Be... Benarkah, Tuan? Xiao Ling boleh ikut dengan Tuan?" Tanyanya tidak percaya.
"Tentu," Jawab Ye Chen singkat.
"Tapi ingat satu hal. Di Sekte Langit, kami tidak mengajarkan kelembutan berlebihan. Kami mengajarkan kekuatan. Jika kau ingin ikut, kau harus siap bekerja keras dan siap menjadi kuat. Hanya dengan kekuatan kau bisa melindungi apa yang kau sayangi." Ucap Ye Chen tegas, matanya menatap tajam menekankan pentingnya prinsip itu.
"Xiao Ling siap! Xiao Ling janji akan belajar dengan giat dan tidak akan menyusahkan Tuan!" Seru Xiao Ling dengan semangat baru yang membara. Rasa takutnya perlahan hilang, digantikan oleh harapan baru.
"Bagus," Ucap Ye Chen. Maka, keputusan sudah diambil.
"Mo Xie" Gumam Ye Chen pelan, mengaktifkan jalur komunikasi rahasia dengan Kakeknya yang berada jauh di Sekte Langit.
'Kaisar?' Suara Mo Xie terdengar langsung di benaknya.
"Batalkan rencana kunjungan ke sekte utama. Ada hal yang lebih penting harus dilakukan. Aku akan kembali ke Sekte Langit sekarang juga, dan aku membawa tamu istimewa. Siapkan segalanya." Batin Ye Chen berkomunikasi langsung dengan pikiran Mo Xie, suaranya tegas dan penuh otoritas.
"Siap, Kaisar!" Jawab Mo Xie seketika tanpa ragu, suaranya terdengar jelas di dalam benak Ye Chen penuh ketaatan mutlak.
Ye Chen perlahan mengangkat tangannya yang putih dan bersih. Seolah merespons perintah dari tuannya, seberkas cahaya perak melesat keluar dari lengan bajunya. Itu adalah pedang pusakanya yang tadi ia kecilkan. Bilah pedang itu berputar cepat di udara, membesar dengan cepat hingga kembali ke ukuran aslinya yang megah dan memancarkan aura tajam yang membelah angin. Pedang itu melayang stabil tepat di hadapan mereka, siap untuk digunakan kapan saja.
"Naiklah," Perintah Ye Chen singkat dan tegas.
"Pegang erat-erat dan jangan melepaskan jubahku. Perjalanan ini akan sedikit cepat, tapi tenang saja... kau akan aman sepenuhnya di sisiku." Tambahnya lembut, memberikan rasa tenang pada gadis yang masih terguncang itu.
"Baik, Tuan!" Jawab Xiao Ling patuh dan cepat, dengan hati-hati melangkah naik dan menggenggam ujung jubah pemuda itu erat-erat.
Pedang itu melesat naik ke langit dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Mereka menembus awan, meninggalkan lembah itu dan mayat-mayat pengkhianat di belakang. Ye Chen mengubah arah tujuannya. Bukan menuju ke arah barat tempat kediaman kegelapan Tianmo, melainkan berbelok tajam kembali ke arah utara, menuju puncak Gunung Langit tempat cahaya Sekte Langit bersinar. Perjalanan pulang terasa sangat singkat bagi Ye Chen, namun merupakan pengalaman yang luar biasa bagi Xiao Ling. Dia bisa melihat dunia dari ketinggian yang luar biasa, melihat keindahan alam yang menakjubkan, dan merasakan sensasi melayang bebas di angkasa. Tapi yang paling membuatnya takjub adalah sosok di depannya. Pria ini begitu misterius. Dia bisa sangat kejam dan dingin terhadap musuh, namun juga bisa sangat bijaksana dan melindungi terhadap orang yang tidak bersalah. Dia memiliki kekuatan yang bisa menghancurkan segalanya, namun memilih untuk menggunakan kekuatannya untuk menegakkan keadilan. Dalam waktu singkat, mereka sudah sampai di wilayah udara Sekte Langit. Dari atas, Xiao Ling bisa melihat sebuah sekte yang megah namun sederhana, terletak di puncak gunung yang sangat tinggi dan tersembunyi di antara awan. Namun yang paling menarik perhatiannya adalah sebuah formasi energi raksasa di tengah lapangan yang memancarkan cahaya keemasan, dan dari dalamnya terdengar suara teriakan pertarungan yang dahsyat namun teratur.
"Itu..." Gumam Xiao Ling penasaran.
"Itu adalah tempat latihan murid-muridku," Jelaskan Ye Chen singkat.
"Mereka sedang ditempa agar menjadi kuat." Ucap Ye Chen singkat, matanya memandang ke arah lapangan dengan rasa bangga yang tersirat.
"Api dan darah adalah guru terbaik. Hanya dengan melewati batas kemampuan mereka, seseorang bisa melampaui dirinya sendiri dan mencapai level yang lebih tinggi. Di sini, tidak ada tempat bagi yang lemah dan malas." Jelasnya dengan nada yang tegas dan penuh keyakinan.
Pedang pusaka itu meluncur turun dengan gerakan yang mulus dan anggun, mendarat dengan lembut tanpa menimbulkan suara berisik sedikitpun di halaman luas depan Aula Utama. Saat kaki Ye Chen yang mengenakan sepatu bersih itu menyentuh permukaan tanah batu putih, seketika seluruh suasana di sekitarnya berubah. Para penjaga yang berdiri tegak di gerbang, serta murid-murid yang sedang lewat, seolah merasakan adanya gravitasi yang berat menekan mereka. Tanpa perlu perintah apa pun, semua orang yang berada di jangkauan pandangan mata langsung berhenti bergerak. Mereka menundukkan kepala dan membungkukkan badan dengan sangat dalam dan takzim, menunjukkan rasa hormat yang mutlak dan penuh kekaguman kepada sosok yang baru saja turun dari langit itu.
"Salam Pemimpin!" Seru mereka serempak dengan suara yang bergema dan penuh semangat.
"Selamat datang kembali! Semoga Pemimpin selalu sehat dan abadi!" Tambah mereka dengan penuh khidmat, tidak ada satu pun yang berani mengangkat wajahnya sebelum diberi izin.