NovelToon NovelToon
Kaisar: Menguasai Takhta Dengan Darah

Kaisar: Menguasai Takhta Dengan Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teh Melati dan Ular Tua

Empat menit.

Waktu adalah konsep yang relatif. Bagi para bangsawan yang duduk nyaman di dalam kereta kuda mereka yang berlapis sutra, empat menit hanyalah sekejap mata yang tidak berarti. Namun, bagi Yang Chen yang berdiri di anak tangga terbawah Rumah Lelang Naga Emas, empat menit adalah sebuah eternitas yang diisi oleh ribuan pasang mata yang menusuk.

Matahari semakin terik. Keringat mulai menetes dari balik tudung jubah hitamnya, mengalir turun melewati pelipis, dan berhenti di garis rahangnya. Namun, Yang Chen tidak menyekanya. Gerakan sekecil apa pun bisa diartikan sebagai tanda kegugupan.

Dia berdiri mematung.

Di sekelilingnya, bisik-bisik kerumunan semakin nyaring, seperti dengungan lebah yang marah.

"Kenapa penjaga itu belum kembali?" seorang pedagang gemuk dengan cincin batu giok di setiap jari mengeluh pada istrinya. "Seharusnya dia langsung melempar gembel itu ke selokan."

"Mungkin dia sedang memanggil anjing penjaga untuk mengusirnya," istrinya terkikik, menutup mulutnya dengan kipas bulu merak. "Lihat sepatunya. Ada lumpur kering. Menjijikkan. Bagaimana bisa orang seperti itu berani menginjak tangga Naga Emas?"

Tiga penjaga yang tersisa di depan pintu masih menodongkan tombak mereka ke arah Yang Chen. Otot lengan mereka mulai pegal karena menahan posisi siaga terlalu lama, tapi mereka tidak berani rileks. Ada sesuatu pada ketenangan bocah ini yang membuat insting prajurit mereka gelisah.

Yang Chen menghitung detak jantungnya sendiri. ...dua ratus tiga puluh delapan... dua ratus tiga puluh sembilan...

Tiba-tiba, suara berat engsel pintu utama terdengar lagi.

Kreeet... Boom.

Pintu kayu Ironwood setinggi empat meter itu terbuka lebar.

Semua mata, baik penjaga maupun penonton, tertuju ke sana.

Penjaga berwajah kotak yang tadi membawa gulungan itu muncul kembali. Dia tidak berjalan santai. Dia berlari kecil, napasnya sedikit terengah, wajahnya memerah bukan karena marah, tapi karena lonjakan adrenalin.

Di belakangnya, tidak ada pasukan anjing penjaga. Tidak ada algojo.

Penjaga itu menuruni tangga dengan cepat, langkah kakinya berdentum di atas batu marmer. Dia berhenti tepat dua langkah di depan Yang Chen—jarak yang terlalu dekat untuk seorang musuh, tapi jarak yang sopan untuk seorang pelayan.

Dia menurunkan tombaknya, menyandarkannya ke bahu, lalu melakukan sesuatu yang membuat rahang semua orang di jalan itu jatuh ke lantai.

Dia membungkuk.

Bukan anggukan kecil. Dia membungkuk sembilan puluh derajat, posisi hormat penuh yang biasanya hanya diberikan kepada pejabat tinggi atau kultivator tingkat tinggi.

"Tuan..." suara penjaga itu bergetar sedikit. Sikap arogannya yang tadi lenyap tanpa bekas, digantikan oleh kepatuhan yang canggung. "Maafkan kelancangan hamba tadi. Tetua Gu mengundang Anda masuk ke Ruang VIP Anggrek."

Hening.

Pasar yang bising itu mendadak sunyi senyap. Pedagang gemuk tadi menjatuhkan kipas istrinya. Tiga penjaga lainnya saling pandang dengan mata terbelalak, tombak mereka goyah.

Tetua Gu? Gu Shan, Kepala Penilai Rumah Lelang Naga Emas? Orang yang bahkan Walikota pun harus membuat janji temu tiga hari sebelumnya untuk bertemu?

Mengundang gembel ini masuk? Ke Ruang VIP?

Yang Chen tidak terkejut. Ekspresinya di balik tudung tetap datar, seolah ini adalah kejadian paling wajar di dunia.

"Hmm," gumam Yang Chen singkat. Dia tidak mengucapkan terima kasih. Dia tidak tersenyum. Dia hanya memberikan respon minimal, menegaskan posisinya sebagai pihak yang dibutuhkan.

"Jalan," perintah Yang Chen.

"Silakan, Tuan. Lewat sini." Penjaga itu bergeser ke samping, memberi jalan, lalu merentangkan tangannya menunjukkan arah pintu dengan sangat sopan.

Yang Chen mulai menaiki tangga. Tap. Tap. Tap.

Setiap langkah kakinya di atas marmer putih itu terasa seperti tamparan di wajah orang-orang yang tadi menghinanya. Dia melewati penjaga-penjaga yang terpaku, melewati kerumunan yang membisu. Jubah hitam murahannya berkibar pelan, kini tidak lagi terlihat menyedihkan, tapi terlihat misterius dan mengintimidasi.

Dia melangkah masuk ke dalam kegelapan pintu utama, meninggalkan dunia luar yang silau dan penuh prasangka.

Interior Rumah Lelang Naga Emas adalah dunia yang sama sekali berbeda.

Begitu Yang Chen melewati ambang pintu, udara panas dan debu jalanan lenyap seketika, digantikan oleh udara sejuk yang beraroma cendana. Suhu di dalam ruangan dijaga tetap dingin oleh formasi batu es yang tertanam di dinding—sebuah kemewahan yang gila.

Lantainya bukan lagi batu, tapi kayu merah yang dipoles hingga bisa memantulkan bayangan. Pilar-pilar besar berlapis emas menopang langit-langit tinggi yang dihiasi lukisan naga terbang.

Suara bising pasar tidak terdengar lagi, diredam oleh dinding tebal dan formasi penyerap suara. Yang terdengar hanyalah langkah kaki lembut para pelayan wanita yang mengenakan cheongsam sutra, dan denting halus gelas porselen.

Penjaga itu memandu Yang Chen melewati lobi utama, menghindari tatapan tamu-tamu lain, langsung menuju sebuah koridor samping yang dijaga ketat.

"Lewat sini, Tuan," bisik penjaga itu, keringat dingin masih terlihat di leher belakangnya. Dia takut. Dia tahu dia hampir saja mengusir—dan mungkin memukul—seseorang yang dianggap penting oleh Tetua Gu. Jika Tuan ini mengadu, karirnya tamat.

Yang Chen merasakan ketakutan itu.

"Siapa namamu?" tanya Yang Chen tiba-tiba saat mereka berjalan di koridor sepi yang diterangi lentera kristal.

Penjaga itu tersentak. "Hamba... nama hamba Zhou, Tuan."

"Zhou," ulang Yang Chen. "Kau punya mata yang buruk, Zhou. Tapi kau punya kaki yang cepat. Kecepatan larimu tadi menyelamatkan lehermu."

Zhou menelan ludah. "Te-terima kasih atas kemurahan hati Tuan."

Mereka sampai di depan sebuah pintu ganda yang terbuat dari kayu Rosewood ukir. Di atasnya ada plakat kecil bertuliskan: "Anggrek".

Zhou mengetuk pintu tiga kali. Tok. Tok. Tok.

"Masuk," suara tua namun bertenaga terdengar dari dalam.

Zhou membuka pintu, lalu mundur. "Silakan, Tuan."

Yang Chen melangkah masuk. Pintu tertutup perlahan di belakangnya, mengunci dirinya bersama "naga" penunggu ruangan itu.

Ruangan itu tidak terlalu besar, tapi sangat elegan. Dindingnya dilapisi sutra hijau muda. Ada seperangkat meja dan kursi teh dari kayu hitam di tengah ruangan. Di sudut ruangan, sebuah pembakar dupa berbentuk bangau mengeluarkan asap tipis beraroma melati.

Di balik meja itu, duduk seorang pria tua.

Dia mengenakan jubah sarjana berwarna abu-abu yang sederhana namun terbuat dari bahan kualitas tertinggi. Rambutnya putih seluruhnya, disisir rapi ke belakang. Di hidungnya bertengger kacamata bulat dengan lensa kristal. Tangannya yang keriput sedang memegang gulungan kulit domba milik Yang Chen seolah-olah itu adalah bayi yang baru lahir.

Tetua Gu. Gu Shan.

Mata tua di balik lensa kristal itu mendongak, menatap Yang Chen. Tatapan itu tajam, penuh selidik, dan mengandung tekanan mental yang halus—seorang kultivator ranah Qi Gathering (Pengumpul Qi) tingkat puncak.

"Duduklah," kata Tetua Gu. Dia tidak berdiri untuk menyambut. Dia tetap duduk, mempertahankan dominasinya.

Yang Chen berjalan mendekat. Dia menarik kursi di seberang Tetua Gu dan duduk. Dia menyandarkan punggungnya dengan santai, seolah kursi itu adalah miliknya sendiri.

Tidak ada yang bicara selama satu menit penuh.

Ini adalah "Ujian Ketahanan Mental". Siapa yang bicara duluan, dia yang posisinya lebih lemah. Tetua Gu sedang mencoba menekan mental Yang Chen dengan keheningan dan tatapan mata.

Yang Chen? Dia justru menikmati aroma teh yang tersaji di meja. Dia bahkan mengulurkan tangan—tangan kurus pucatnya yang kontras dengan meja hitam—untuk mengambil cangkir teh yang masih mengepul itu.

Dia meniupnya pelan. Menyesapnya.

"Teh Puncak Kabut," komentar Yang Chen pelan, meletakkan cangkir itu kembali tanpa suara. "Sayang sekali airnya direbus terlalu lama. Daun tehnya 'terkejut' dan mengeluarkan rasa pahit yang tidak perlu."

Mata Tetua Gu menyipit drastis.

Komentar itu... kurang ajar. Tapi juga akurat. Pelayan barunya memang merebus air itu sedikit terlalu panas hari ini.

"Kau punya lidah yang tajam untuk seseorang yang menyembunyikan wajah," kata Tetua Gu, suaranya serak. "Dan kau punya keberanian besar untuk mengkritik tehku setelah mengirimkan..."

Tetua Gu mengangkat gulungan kulit domba itu.

"...benda ini."

"Apakah itu sampah?" tanya Yang Chen balik.

"Tergantung," jawab Tetua Gu diplomatis. "Tulisannya indah. Gaya kuno yang sudah jarang dilihat. Teori alkimianya... menarik. Sangat menarik."

Tetua Gu meletakkan gulungan itu di meja, menekannya dengan satu jari.

"Tapi, ada satu hal yang menggangguku. Dalam resep ini, kau menuliskan penggunaan 'Darah Ayam Jantan Hitam' sebagai katalis pengganti 'Getah Pohon Roh'. Itu... tidak masuk akal. Darah ayam adalah bahan kotor, penuh Impurities. Jika dicampur dengan Rumput Tulang Besi, seharusnya itu meledak atau menjadi racun."

Inilah ujian kompetensinya. Tetua Gu bukan orang bodoh. Dia tahu teori dasar.

Yang Chen terkekeh pelan dari balik tudungnya. Tawa yang kering dan meremehkan.

"Itulah sebabnya kau hanya menjadi Penilai di kota pinggiran ini, Tetua Gu, dan bukan di Ibukota Kerajaan."

Bam!

Aura Tetua Gu meledak sesaat. Tekanan udara di ruangan itu meningkat. Berani-beraninya bocah ini menghinanya?!

"Jaga bicaramu, Anak Muda!" bentak Tetua Gu.

"Darah ayam memang kotor," potong Yang Chen tenang, tidak terpengaruh oleh tekanan aura itu sedikitpun. "Tapi kau melewatkan baris ke-empat dari resep itu. 'Panaskan dengan api kecil, tambahkan tiga tetes cuka beras tua'."

Yang Chen mencondongkan tubuh ke depan.

"Cuka beras bersifat asam lemah. Saat bertemu dengan darah ayam yang dipanaskan, ia akan mengikat zat besi dalam darah dan memisahkan kotorannya menjadi endapan. Yang tersisa di cairan hanyalah Yang Essence murni dari ayam jantan itu. Yang Essence itulah yang menyeimbangkan dinginnya Rumput Tulang Besi."

Yang Chen mengetuk meja.

"Itu bukan sekadar mencampur bahan. Itu adalah Reaksi Transmutasi Elemen Dasar. Sesuatu yang diajarkan di hari pertama akademi alkimia kuno... yang tampaknya sudah dilupakan oleh generasi sekarang."

Mulut Tetua Gu terbuka sedikit, lalu tertutup lagi.

Otaknya berputar cepat, mensimulasikan reaksi kimia yang dijelaskan Yang Chen.

Asam... Darah... Panas... Endapan...

Demi Langit.Itu masuk akal.

Secara teori, itu sangat masuk akal! Kenapa tidak ada yang memikirkannya sebelumnya? Menggunakan bahan dapur murah (cuka dan ayam) untuk menggantikan bahan mahal (Getah Pohon Roh)?

Jika ini benar, biaya produksi Cairan Tempering akan turun 80%, sementara efeknya tetap sama—atau malah lebih kuat karena kemurnian Yang Essence.

Tangan Tetua Gu yang memegang gulungan itu mulai gemetar. Bukan karena marah, tapi karena kegembiraan. Dia melihat gunung emas di depannya.

Ini adalah revolusi pasar.

Sikap Tetua Gu berubah drastis. Aura bermusuhannya lenyap, digantikan oleh tatapan pedagang yang lapar.

"Siapa..." suara Tetua Gu merendah, lebih hormat. "Siapa gurumu? Dari mana kau mendapatkan resep ini?"

"Pertanyaan yang salah," jawab Yang Chen. Dia bersandar lagi ke kursinya. "Pertanyaan yang benar adalah: Berapa harga yang berani kau bayar untuk hak eksklusif resep ini di Kota Ironforge?"

Yang Chen tidak menjual resepnya putus. Dia menjual Hak Eksklusif Wilayah. Ini adalah taktik bisnis licik lainnya.

Tetua Gu terdiam, mengusap janggut putihnya. Dia sedang berhadapan dengan lawan yang tangguh.

"Sebelum bicara harga," kata Tetua Gu hati-hati, "aku harus membuktikannya dulu. Teori adalah teori. Hasil nyata adalah segalanya. Aku perlu Alkemis-ku membuat satu batch sekarang juga di laboratorium belakang."

"Silakan," kata Yang Chen santai. "Aku punya waktu. Tapi..."

Dia menunjuk cangkir tehnya yang kosong.

"...teh ini sudah dingin. Dan aku lapar. Bawakan aku kue kacang merah terbaik dari Dapur Naga, dan seduh teh baru. Kali ini, gunakan air yang suhunya tepat 85 derajat."

Tetua Gu menatap sosok berjubah hitam itu. Sosok yang memerintahnya seperti seorang raja memerintah pelayan.

Dan yang paling mengerikan adalah... Tetua Gu merasa perintah itu wajar.

"Baik," kata Tetua Gu, berdiri dari kursinya. "Tunggu sebentar. Aku akan memerintahkan pelayan."

Tetua Gu berjalan ke pintu, tapi sebelum keluar, dia menoleh lagi.

"Siapa nama panggilan Tuan? Agar aku bisa menyapamu dengan benar."

Yang Chen berpikir sejenak. Dia tidak bisa menggunakan nama aslinya, juga tidak mau menggunakan nama palsu yang norak.

"Panggil saja aku..."

Bayangan masa lalunya sebagai Kaisar yang memerintah langit melintas.

"...Tuan Chen." (Hanya satu karakter dari namanya, sederhana, umum, tapi cukup).

"Baik, Tuan Chen. Mohon bersabar."

Tetua Gu keluar, menutup pintu.

Begitu pintu tertutup, senyum Yang Chen merekah di balik tudungnya.

Babak pertama dimenangkan. Sekarang tinggal menunggu hasil percobaan laboratorium mereka. Dia yakin 1000% itu akan berhasil. Dan saat Tetua Gu kembali nanti, Yang Chen tidak akan meminta emas dalam jumlah kecil.

Dia akan meminta saham.

1
saniscara patriawuha.
lumayannnn....
Muh Hafidz
bagus thor pertahankan terus ritme cerita seperti ini, biar kita semakin mendalam menikmati alur ceritanya 👍👍👍
Muh Hafidz
saya suka ceritanya, runut, runtut gak cepat melompat, apalagi melompat lompat, saya setuju dg Thor ttp konsisten menceritakan adegan dg detil dan bertahap Krn itu membuat kita semakin bisa mendalami alur cerita, bravo buat Thor
saniscara patriawuha.
gassssssd deuiiiiii...
saniscara patriawuha.
gasssss pollllll.....
saniscara patriawuha.
lanjutttttt....
saniscara patriawuha.
mantappp..
saniscara patriawuha.
gasssd polllll manggg chennnn
saniscara patriawuha.
ojo kesuwen mang otor moso sampe 6 episode hanya untuk menceritakan,,, cukup 3 bab,, langsung sat set sat set....
saniscara patriawuha.
lanjoootttttkannnnn.....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkannnnn....
saniscara patriawuha.
gasssdd polllll ojoo kesuwennnn manggg otorrrrr
saniscara patriawuha.
gassssd pollllllll...
saniscara patriawuha.
gassssss pollllll manggg weuiuiii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!