Sebelum kau membaca kisah ini, kau harus tahu satu hal:
Aku bisa melihat bagaimana kau akan mati.
Bukan dengan bola kristal. Bukan dengan ritual aneh. Cukup dengan menyentuhmu. Satu sentuhan, dan mataku akan dipenuhi gambar—kau di ujung napas terakhir, dengan cara yang mungkin tidak pernah kau bayangkan.
Kakek bilang ini kutukan. Aku bilang ini hadiah.
Karena dengan hadiah ini, aku tahu siapa yang harus aku hindari.
Tapi malam itu, saat pertama kali menyentuh Damian Adhiratria, aku tidak melihat kematiannya.
Aku melihat kematianku sendiri.
Dan aku tersenyum.
Karena akhirnya, setelah 24 tahun, aku tahu kapan aku akan mati.
Tepat 6 bulan setelah menikahi iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 MALAM PERTAMA DI LUAR KAMAR
Gaun merah itu tergantung di pintu lemari ketika Alea bangun.
Bukan merah biasa. Merah darah kering. Merah bibir wanita yang mati muda. Merah yang berteriak lihat aku meskipun pemakainya ingin lenyap dari dunia.
Alea duduk di tepi ranjang, masih dengan piyama kusut, menatap benda itu seperti melihat jebakan. Di bawah gaun, kotak sepatu hitam dengan pita. Di atas bantal, secarik kertas tanpa tanda tangan: Makan malam. Jam 7.—D
Tiga kata. Tanpa tanda tanya. Tanpa pilihan.
---
Jam menunjukkan pukul 18.45 ketika Alea akhirnya berdiri di depan cermin kamar mandi. Gaun itu pas—terlalu pas. Potongan dalam di punggung, belahan tinggi di paha, kain yang mengikuti setiap lekuk seperti sutra cair. Ia tidak pernah memakai sesuatu semewah ini. Tidak pernah ingin terlihat seperti ini.
Seperti apa? pikirnya sambil menyisir rambut dengan jari. Seperti istri mafia yang baik? Seperti boneka yang bisa dipamerkan?
Ia memulas lipstik merah—satu-satunya warna yang ia punya, sisa seminar forensik tiga tahun lalu—lalu mengusapnya lagi. Terlalu mencolok. Terlalu aku berusaha.
Pada akhirnya ia membiarkan bibirnya pucat. Hanya maskara dan bedak tipis. Wajah yang tidak ingin menyenangkan siapa pun.
Tepat pukul 19.00, pintu kamarnya terbuka tanpa ketukan.
Damian berdiri di ambang pintu.
Hitam. Selalu hitam. Jas hitam, kemeja hitam, dasi hitam. Satu-satunya warna adalah kulit pucatnya dan mata yang lebih gelap dari apa pun yang ia kenakan. Damian menatap Alea dari ujung rambut sampai ujung sepatu hak tinggi yang ia pinjamkan—entah dari mana—dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca.
Alea menahan napas.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Katakan sesuatu. Katakan aku terlihat bodoh. Katakan ini salah. Katakan—
"Jadi."
Satu kata. Damian mengangguk pelan, lalu berbalik.
"Tertinggal."
Alea menghela napas yang tidak sadar ia tahan. Ia meraih clutch kecil di nakas—isi: ponsel, lipstik yang sudah dihapus, dan pisau lipat yang disembunyikan di lapisan dalam—lalu mengikuti Damian ke lorong.
Lorong mansion di malam hari berbeda. Lampu-lampu dipadamkan, hanya tersisa lilin-lilin elektrik di dinding yang memberi cahaya kuning temaram. Bayangan mereka berdua bergerak di dinding seperti dua siluet yang tidak saling mengenal.
Alea berjalan dua langkah di belakang Damian. Ia bisa mencium aroma cendana—parfum yang sama dari malam pertama. Tapi kali ini ada yang berbeda. Sesuatu yang segar. Sabun? Apakah Damian mandi sebelum ini?
Pikiran itu aneh. Tidak penting. Tapi entah kenapa membuat dada Alea sesak.
"Ke mana?" tanyanya, hanya untuk memecah keheningan.
"Makan."
"Aku tahu. Tapi di mana? Restoran? Rumah?" Alea menaikkan alis. "Atau ini jebakan dan aku akan dijual ke organisasi lain?"
Damian berhenti.
Alea hampir menabrak punggungnya. Keras. Bidang bahu di balik jas itu lebih lebar dari kelihatannya.
Damian menoleh setengah. Matanya menyapu wajah Alea, lalu turun ke clutch yang ia pegang erat.
"Takut?"
"Haruskah?"
Sudut bibir Damian bergerak. Bukan senyum. Lebih seperti kejang otot. Tapi entah kenapa itu lebih menakutkan daripada senyum palsu.
"Ya."
Lalu ia berjalan lagi.
Mereka keluar melalui pintu samping yang selama ini Alea kira lemari. Ternyata lorong rahasia. Di ujung lorong, sebuah mobil hitam terparkir—bukan yang biasa menjemput Alea, tapi lebih panjang, lebih rendah, lebih mahal.
Seorang pria berseragam sopir membukakan pintu. Damian masuk lebih dulu. Alea ragu sebentar—masuk mobil bersama mafia kejam tanpa saksi? Ide buruk. Tapi tinggal di mansion dengan kamera di setiap sudut juga bukan surga.
Ia masuk.
Interior mobil mewah. Kulit hitam, lampu ambient biru, aroma vanilla sintetis. Damian duduk di sisi berlawanan, menyisakan jarak satu kursi di antara mereka. Cukup jauh untuk aman. Cukup dekat untuk Alea mencium lagi aroma cendana itu.
Mobil meluncur.
Alea menatap jendela. Di luar, gerbang besi mansion terbuka perlahan. Untuk pertama kalinya dalam 9 hari, ia melihat dunia luar. Pohon-pohon, lampu jalan, orang-orang biasa yang tidak tahu bahwa di dalam mobil hitam ini, seorang wanita yang dijual kakeknya sendiri duduk di samping iblis.
"Alea."
Suara Damian membuatnya menoleh.
Damian menatapnya. Serius. Lalu—mengulurkan tangan.
Alea refleks mundur. Punggungnya menekan pintu.
Tangan Damian berhenti di udara. Jari-jarinya panjang, bersih, tanpa cincin. Tidak ada cacat. Tapi Alea tahu tangan itu telah membunuh. Visinya tidak pernah berbohong.
"Ponsel," kata Damian datar.
"Apa?"
"Ponselmu."
Alea menggenggam clutch lebih erat. "Untuk apa?"
Mobil berhenti mendadak.
Alea tersentak. Di luar, lampu merah. Tapi bukan itu yang membuat jantungnya berhenti. Di trotoar, seorang anak kecil berdiri sendirian. Piyama biru. Rambut acak-acakan. Menatap lurus ke arah mobil.
Menatap lurus ke arah Alea.
Damian Kecil.
Alea membuka mulut, tapi tidak ada suara keluar. Ia menoleh ke Damian—Damian tidak melihat ke luar. Damian hanya menatapnya, menunggu ponsel.
"Apa kau tidak lihat—" Alea menunjuk ke jendela.
Kosong.
Trotoar kosong. Lampu merah masih menyala. Tidak ada anak kecil.
"Alea."
Suara Damian mengulang namanya, lebih rendah. Lebih... hati-hati?
Alea menelan ludah. "Maaf. Aku—kurang tidur."
Dusta. Ia tidur nyenyak tadi malam. Tapi bagaimana menjelaskan bahwa anak kecil versi kecil suaminya muncul di trotoar di tengah kota?
Damian menatapnya lama. Lalu tangannya turun.
"Simpan saja."
Mobil kembali melaju.
---
Restoran itu tidak bernama. Hanya pintu kayu tua di antara dua butik mewah, tanpa papan, tanpa penanda. Tapi ketika pintu terbuka, Alea mengerti.
Aroma: daging panggang, truffle, dan sesuatu yang manis—mungkin madu, mungkin jebakan.
Suara: piano jazz pelan, denting gelas, bisik-bisik yang sengaja direndahkan.
Pemandangan: meja-meja marmer dengan lilin asli, penerima tamu dalam gaun hitar yang tahu persis siapa Damian, dan di sudut, meja paling privat—langsung menghadap jendela kaca besar ke taman kecil dengan air mancur.
Semua mata beralih ke mereka. Bukan ke Damian—mereka sudah tahu Damian. Tapi ke Alea. Wanita di samping Damian. Wanita dengan gaun merah yang terlalu mahal untuk wajah yang terlalu ketakutan.
"Tuan Damian." Pria paruh baya—mungkin manajer—membungkuk dalam. "Meja biasa?"
"Ya."
"Makan malam spesial?" Manajer itu tersenyum ramah ke Alea. "Untuk Nyonya pertama kali?"
Alea ingin bilang bukan nyonya, hanya tawanan. Tapi Damian menjawab lebih dulu.
"Untuk istriku."
Tiga kata. Dingin. Datar. Tapi efeknya seperti bom.
Istri.
Bukan nyonya. Bukan dia. Tapi istriku.
Alea merasa semua mata di ruangan itu menajam. Menilai. Menghakimi. Bertanya: siapa dia? dari mana? berapa harganya?
Manajer itu mengangguk cepat. "Tentu, Tuan. Silakan."
Mereka berjalan ke meja sudut. Damian menarik kursi untuk Alea.
Gerakan itu—sederhana, otomatis—membuat Alea terpaku. Pria ini, yang 9 hari lalu menguncinya di kamar tanpa jendela, kini menarik kursi seperti pangeran di dongeng.
Jangan terpengaruh, bisiknya dalam hati. Ini semua topeng.
Tapi ketika ia duduk dan Damian duduk di seberang, cahaya lilin di antara mereka membuat bayangan di wajah Damian terlihat... lembut? Atau hanya permainan cahaya?
Mereka memesan dalam diam. Damian bicara sedikit dengan pelayan—menu, wine, waktu penyajian. Alea hanya menatap menu tanpa benar-benar membaca. Angka-angka di sana cukup untuk membayar sewa kliniknya setahun.
"Kau tidak suka?"
Suara Damian membuatnya mendongak.
"Apa?"
"Makanan. Kau tidak suka?"
Alea meletakkan menu. "Aku tidak tahu. Aku tidak pernah makan di tempat seperti ini."
"Makanan tetaplah makanan."
"Di planet mana kau tinggal?" Alea menyandarkan punggung. "Makanan di sini bisa beli seribu porsi nasi bungkus."
Damian menatapnya. Tidak marah. Tidak tersinggung. Hanya... menatap.
"Kau lebih suka nasi bungkus?"
Alea tertawa—tawa getir. "Aku lebih suka tidak dijual ke pria asing, tapi ternyata hidup tidak selalu memberi apa yang kita suka."
Denting.
Sendok Damian jatuh ke piring. Pelayan yang baru datang membeku.
Damian mengangkat tangan—isyarat tidak apa—lalu menatap Alea.
"Kau pikir aku membelimu?"
"Apa kau tidak?"
"Ayahmu yang datang padaku."
Alea tersentak. "Kakekku tidak akan—"
"Ayah." Damian memotong. "Bukan kakek. Ayah kandungmu."
Emosi ditunjukkan, bukan diceritakan:
Alea merasa dunia berhenti.
Ayah.
Kata itu tidak ada dalam kamus hidupnya sejak usia 7 tahun. Ayahnya pergi. Ibunya mati. Kakeknya yang membesarkan. Laki-laki itu—yang wajahnya hanya ia ingat samar dari foto usang—tiba-tiba muncul kembali?
"Kau bohong."
"Tidak."
"Kau mau aku percaya? Ayahku menjualku ke mafia?"
Damian mengeluarkan ponsel. Menggesek layar. Membalikkan layar ke arah Alea.
Foto.
Seorang pria tua—lebih tua dari yang Alea ingat—duduk di ruangan yang sama dengan ruang tamu mansion. Di seberangnya, Damian. Tangannya bersalaman.
Tanggal di foto: sebulan lalu.
Pria itu tersenyum. Senyum yang Alea kenali dari cermin. Senyum yang sama.
Darah Alea mengalir mundur.
"Namanya..." Damian menyebut nama. Nama yang Alea hafal dari akte kelahiran yang disimpan kakek di bawah kasur. Nama yang tidak pernah disebut selama 17 tahun.
Ayahnya. Hidup. Dan menjualnya.
Alea meremas serbet di pangkuan sampai kukunya memutih. Matanya panas, tapi ia tidak akan menangis. Tidak di sini. Tidak di depan Damian.
"Untuk apa?" Suaranya serak.
"Apa?"
"Untuk apa kau beli aku? Kau bisa beli apa pun. Perusahaan, wanita, nyawa orang. Kenapa aku?"
Damian diam. Lilin di antara mereka berkedip.
Di kejauhan, piano berganti lagu. Lagu sedih. Lagu tentang kehilangan.
"Aku butuh seseorang," kata Damian akhirnya. "Yang bisa melihat."
Alea mengangkat wajah. "Melihat apa?"
"Yang tidak bisa dilihat orang lain."
Jantung Alea berdetak kencang. Ia tahu Damian tidak bicara tentang kemampuan psikologis. Damian bicara tentang Damian Kecil.
"Kau tahu," bisik Alea. "Dari awal?"
Damian mengangguk. Sekali.
"Dan kau biarkan aku tinggal?"
"Kau tidak lari."
"Karena dikurung."
"Kau tetap di sini. Setelah lihat dia." Mata Damian gelap, lebih gelap dari biasanya. "Orang lain... pergi."
Alea membuka mulut. Ingin bertanya siapa orang lain itu. Tapi pelayan datang membawa makanan.
---
Makan malam berlangsung dalam keheningan yang berbeda. Tidak dingin. Tapi penuh. Seperti ruangan yang tiba-tiba dipenuhi kata-kata yang tidak terucap.
Alea makan tanpa merasakan rasa. Pikirannya penuh: ayah, Damian Kecil, dan pria di seberang meja yang diam-diam menggesekkan ibu jarinya ke gelas wine—gerakan gugup yang tidak ia sadari.
Dia gugup?
Mustahil. Damian Adhiratria tidak gugup. Ia membunuh orang tanpa berkedip.
Tapi gerakan itu terus berulang. Gesek. Gesek. Gesek.
Alea meletakkan garpu. "Damian."
Ia mendongak.
"Apa kau takut?"
"Tidak."
"Bohong."
Damian diam. Lalu—untuk pertama kalinya—ia mengalihkan pandangan.
"Aku takut kau pergi."
Enam kata. Damian bicara enam kata sekaligus.
Alea tidak tahu harus berkata apa. Di dalam dirinya, sesuatu yang hangat mengembang. Sesuatu yang berbahaya.
Ini cinta? tanyanya panik. Ini awal dari bencana?
Ia ingat visinya: Damian mati di tangannya. Dalam 6 bulan.
Dan di sini, di meja makan mewah dengan lilin di antara mereka, ia justru ingin memeluk pria itu.
"Damian—"
"Sudah." Damian mengangkat tangan, memanggil pelayan. "Bill."
Malam itu berakhir terlalu cepat. Mereka kembali ke mobil, kembali ke mansion, kembali ke kamar Alea dengan pintu yang terkunci.
Tapi sebelum Damian pergi, ia berhenti di ambang pintu.
"Terima kasih."
Alea mengerjap. "Untuk apa?"
"Untuk datang."
Pintu tertutup. Kunci berputar.
Alea berdiri di tengah kamar, gaun merah masih melekat, jantung berdebar seperti mau copot.
Di luar, jam menunjukkan pukul 23.00.
Dan di balik jendela, di taman bawah, seorang anak kecil dalam piyama biru melambai.
Tersenyum.
---[Bersambung]---(ノ゚0゚)ノ→
"Dia bilang terima kasih karena aku datang. Padahal aku datang karena dipaksa. Tapi kenapa dadaku sesak? Kenapa aku ingin datang lagi? Dan kenapa Damian Kecil ada di luar—padahal dia hanya bisa muncul di mansion?
Ada sesuatu yang salah. Ada sesuatu yang Damian tidak ceritakan. Aku harus mencari tahu.
Tapi malam ini... biarkan aku diam dulu. Memegang dada yang berdebar ini. Dan bertanya pada diri sendiri: apakah mungkin aku jatuh cinta pada pria yang akan kubunuh?
*Apa kalian juga merasakan ini? Atau aku yang gila? Yuk support cerita ini dengan vote dan komen, biar aku tahu aku tidak sendiri. Karena perjalanan Alea baru dimulai—dan 6 bulan terasa sangat singkat untuk mencintai seseorang yang ditakdirkan mati di tanganku. *
#TheDevilsWife #MafiaRomance #HorrorPsikologi #VoteDanKomen"