Reina Wulandari,seorang gadis yang terpaksa harus menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan sang nenek. Dia anak yang pintar namun sayang kepintarannya tidak dia manfaatkan dengan baik dan justru harus terjerumus ke dalam hal yang tidak seharusnya dia lakukan. Bagaimana kisahnya mari ikuti ceritanya.
( Hanya cerita fiktif belaka jadi tolong jangan hina karyaku ya 🙏 tolong komentar dengan bijak dan ambil hal yang baik saja ).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KheyraPutri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Suka
" Oh aku baik kok" Ucap Bramasta cuek.
" Kamu masih sama ya nggak berubah dari dulu tetap cuek" Ucap Zoya tersenyum.
Bramasta tidak merespon ucapan Zoya dia lebih memilih memakan makanannya dan ingin cepat pergi ke kamar.
" Bramasta besok Zoya bekerja di kantor kamu ya nak jadi asisten kamu" Ucap ibu Bramasta di sela-sela makannya.
Bramasta masih diam, setelah menyelesaikan makannya Bramasta pun beranjak dari tempat duduknya namun sebelum itu dia berkata.
" Kalau mau kerja di kantorku terserah mau kerja di bagian apa. Tapi jangan jadi asistenku karena aku tidak suka punya asisten perempuan" Bramasta berlalu pergi ke kamarnya.
" Tenang sayang nanti biar aku bujuk dia ya" Ucap Rita sambil mengusap tangan Zoya lembut.
" Iya Tante" ucap Zoya sambil tersenyum." aku pasti akan mendapatkan kamu Bram." Ucap Zoya dalam hati.
Setelah acara makan malam selesai Zoya dan ibunya pamit pulang karena besok akan ada janji meeting pagi dengan client dari jepang. Keluarga Zoya juga keluarga yang kaya namun masih di bawah Bramasta. Keluarga Zoya bekerja di bidang fashion,ayah Zoya sudah meninggal sejak Zoya berumur 5 tahun karena serangan jantung.
Begitu sampai di kamarnya Bramasta lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menatap langit-langit. Mendadak dia teringat dengan pekerjaannya yang belum selesai tadi di kantor. Bramasta lalu balik lagi ke bawah untuk mengambil tasnya yang tertinggal di dalam mobil. Setelah mengambil tasnya Bramasta pun kembali lagi naik ke atas tapi langkahnya terhenti saat ibunya kembali dari dapur sehabis membuat teh.
" Bram tunggu dulu nak,mama mau bicara" Ucap Rita meletakkan tehnya di meja ruang tamu.
Mau tidak mau Bramasta pun berbalik dan duduk di sofa ruang tamu dekat dengan ibunya.
" Mau ngomong apa ma ? Kalau soal tadi Bramasta tetep nggak bisa" Ucap Bramasta tegas.
" Bukan itu yang ingin aku bicarakan. Kamu jangan cuek-cuek dong sama perempuan,gimana kamu bisa dapat jodoh kalau kamu terus menerus seperti itu nak" Ucap Rita lembut sambil mengusap tangan Bramasta berharap Bramasta bisa mengerti.
" Dari dulu Bramasta kan memang seperti ini ma, Bramasta tidak bisa lembut karena memang sifatku seperti ini" Ucap Bramasta yang masih tetap dengan pendiriannya.
" Bisa nak,kelak saat kamu menemukan orang yang bisa membuatmu jatuh cinta kamu pasti bisa berubah" Ucap Rita dengan sangat lembut.
Ya dia sangat lembut sebenarnya hanya saja suaminya yang keras kepala jadi selalu bertengkar. Semenjak Bramasta mulai terjun ke dunia bisnis ayahnya jarang pulang kerumah selalu ke luar kota. Pulang kerumah selalu bertengkar dengan alasan ayahnya capek setiap kali di ajak ibunya keluar atau mengobrol bersama.
" Tapi aku belum mikir mau menikah ma,aku masih nyaman sendiri tidak repot-repot ngurus istri. Perempuan itu membuat pusing" Ucap Bramasta menyandarkan tubuhnya di sofa.
" Bukannya mama memaksa kamu untuk cepat-cepat menikah nak,hanya saja mama ingin ada yang menemani mama di rumah. Kalian berdua selalu sibuk...mama kesepian Bram." Ucap Rita dengan matanya yang sudah mulai berkaca-kaca.
" Iyaa ma Bramasta tau,doain aja ya moga jodoh Bram cepat turun dari kayangan ya." Ucap Bramasta dengan bercanda agar mamanya tidak menangis.
" Emang kamu mau nikah sama bidadari,kamu ini ada-ada saja," Ucap Rita tertawa karena perkataan Bramasta yang menurutnya sangat konyol.
" Ya paling tidak perilakunya ma yang seperti bidadari." Jawab Bramasta menyandarkan kepalanya di bahu ibunya.
" Mama tidak memilih calon yang kaya dan berpendidikan tinggi Bram. Mama hanya ingin kamu mendapatkan wanita yang benar-benar menyayangi kamu." Ucap Rita sambil mengusap pipi anaknya yang sedang bermanja-manja. Sangat jarang Bramasta seperti ini karena dia selalu sibuk bekerja.
" Iya ma,nanti Bramasta usahakan untuk mencari menantu seperti yang mama inginkan. Tapi kalau dia bekas wanita penghibur apa mama setuju ?" Tanya Bramasta mencoba memancing ibunya.
" Apa !!" Rita terkejut dengan pertanyaan anaknya namun detik berikutnya Bramasta tertawa membuat Rita langsung cemberut.
" Bercanda ma,ya udah aku ke kamar dulu ya mama segera istirahat." Ucap Bramasta buru-buru pamit pergi sebelum mendapatkan siraman qolbu lagi dari mamanya.
" Iya kamu juga jangan malem-malem tidurnya." Rita mengingatkan anaknya yang mana sering lupa waktu jika sudah bekerja.
" Iya," Bramasta pun berdiri lalu sebelum pergi dia mencium pipi ibunya dan dia benar-benar pergi meninggalkan ibunya sendiri di ruang tamu.
" Dasar bocah nakal." Ucap Rita tersenyum dengan tingkah anaknya yang terkadang masih seperti anak-anak.
***
Di kamar Reina sudah selesai dengan belajarnya,dia pun melihat jam di dekat lampu tidur samping ranjangnya sudah pukul 9,Reina beranjak dari meja belajarnya dan membaringkan tubuhnya. " aaahhh terasa begitu nyaman." Ucap Reina lalu mencoba memejamkan matanya.
Tidak butuh waktu lama,Reina benar-benar pergi ke pulau mimpi yang indah. Karena esok mungkin akan ada hal yang mengejutkan dan lebih berat dari hari ini.
***
Ke esokan harinya Reina pun bangun lebih pagi karena harus membuatkan sarapan untuknya dan neneknya. Dia terbiasa bangun pagi meskipun hari libur, karena kalau neneknya yang mengurus pekerjaan rumah dia takut neneknya kelelahan dan sakit. Jadi Reina yang harus bekerja ekstra untuk mengurus rumah dan neneknya.
" Sudah siap,mandi dulu baru ngajak nenek sarapan." Ucap Reina lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Tidak butuh waktu lama Reina sudah keluar dari kamar mandi dan menuju kamarnya untuk berganti pakaian dan menata buku-bukunya sekalian. Reina merias wajahnya seperti biasa hanya memakai lipeglos saja dan menguncir rambutnya separuh di atas. Tidak terlihat tomboy tidak juga feminim.
Reina keluar dari kamar dan menaruh tas sekolahnya di kursi ruang tamu lalu dia masuk ke kamar neneknya.
" Lo kok nggak ada,di mana nenek ya," Gumam Reina lalu keluar dari kamar dan mencari neneknya.
Reina menuju ke teras depan rumah dan ya benar saja neneknya sedang duduk di sana sambil membaca koran.
" Aku cari di kamar ternyata nenek di sini,ayo sarapan nek" Ucap Reina mengajak neneknya untuk sarapan bersama.
" Oh, iya ayo nduk." Nenek Sri pun menutup korannya dan berdiri lalu masuk ke dalam rumah di gandeng Reina.
" Kamu bareng Shasa lagi nak ?" Tanya nenek Sri memecah keheningan.
" Iya nek,nanti aku pulangnya telat ya nek soalnya mau belanja ke minimarket sabun mandi,sabun cuci,gula,teh pada habis nek." Ucap Reina mendudukkan neneknya di kursi meja makan.
" Apa uang kamu masih ada nduk ? Uang nenek tinggal 100 ribu nduk buat belanja bahan gado-gado besok." Ucap nenek Sri memberi tau.
" Masih kok nek,masih cukup kok kalau cuma buat belanja...kalau uang nenek kurang aku masih ada nek." Ucap Reina yang ingin mengambilkan uangnya yang berada di kamar.
" Jangan nggak usah nduk kamu simpan saja,uang nenek cukup kok cuma beli sayur saja bahan bumbunya masih ada kok yang kemarin." Nenek Sri menolak mencegah Reina mengambil uangnya.
" Beneran cukup ?" Tanya Reina memastikan.
" Cukup nduk,sudah ayo makan nanti kamu telat lagi." Ajak nenek Sri mengalihkan pembicaraan.
Mereka pun sarapan berdua dengan tenang tidak ada pembicaraan lagi.
--->>>