Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)
Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)
Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )
Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )
Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21 - Desa Sura
Langit pagi baru saja memancarkan warna jingga ketika Cang Li berdiri di depan gerbang Desa Jianxin. Udara masih dingin, dan embun tipis masih menempel di dedaunan di sekitar jalan setapak yang mengarah keluar desa. Hari itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup tenang di desa kecil itu, ia benar-benar akan pergi jauh.
Di hadapannya, Ye Ruoxi berdiri sambil menatapnya lekat-lekat. Sorot matanya penuh kekhawatiran, seolah ingin memastikan bahwa wajah keponakannya itu benar-benar terekam dalam ingatannya sebelum berpisah untuk sementara waktu.
“Jaga dirimu baik-baik, Cang Li,” ucap Ye Ruoxi pelan sambil membetulkan kerah bajunya yang sedikit miring. “Jangan memaksakan diri hanya karena kau ingin cepat menjadi kuat. Kekuatan yang dibangun dengan terburu-buru sering kali justru menghancurkan pemiliknya.”
Cang Li menatap bibinya sesaat. Wajah wanita itu terlihat tenang seperti biasa, tetapi matanya tidak bisa menyembunyikan kecemasan yang telah ia pendam sejak semalam.
“Aku akan berhati-hati, Bibi,” jawab Cang Li dengan suara mantap. “Dan saat aku kembali nanti… aku tidak akan menjadi Cang Li yang sama seperti sekarang.”
Ye Ruoxi tersenyum tipis, meski dadanya terasa sesak mendengar kata-kata itu. Ia tahu, anak yang dibesarkannya selama ini memang sudah tidak bisa terus berlindung di balik pagar desa. Cepat atau lambat, Cang Li memang harus melangkah ke dunia luar dan menghadapi takdirnya sendiri.
Namun tepat saat Cang Li hendak berbalik dan mulai berjalan, terdengar suara langkah kaki kecil yang tergesa-gesa dari kejauhan.
“Guruuu!”
Suara itu terdengar begitu panik hingga membuat Cang Li dan Ye Ruoxi menoleh bersamaan.
Jian Po berlari sekuat tenaga dari arah rumah-rumah penduduk, napasnya terengah-engah, wajahnya memerah, dan rambutnya berantakan seolah ia baru saja bangun lalu langsung berlari tanpa sempat merapikan diri. Begitu sampai, bocah kecil itu langsung berhenti di depan Cang Li dengan napas tersendat.
“Guru… kau benar-benar pergi hari ini?” tanyanya dengan suara yang terdengar bergetar.
Cang Li menatap murid kecilnya itu selama beberapa detik, lalu perlahan berlutut agar tinggi mereka sejajar. Ia mengangkat tangan dan mengusap kepala Jian Po dengan lembut, seperti yang biasa dilakukan Ye Chen kepadanya saat ia masih kecil.
“Aku hanya pergi untuk sementara,” kata Cang Li. “Aku harus berlatih lebih keras untuk turnamen. Kalau aku tetap di desa, aku tidak akan berkembang.”
“Tapi… kalau Guru pergi, siapa yang akan melatihku?” Jian Po menunduk, suaranya semakin kecil. “Aku belum bisa mengalahkanmu. Aku bahkan masih sering salah saat memegang posisi dasar.”
Mendengar itu, Cang Li tidak bisa menahan senyum tipis di bibirnya.
“Justru itu sebabnya kau harus belajar berlatih sendiri,” ujarnya. “Tidak selamanya kau bisa bergantung pada gurumu. Kalau aku selalu ada di sampingmu, kau tidak akan pernah tahu seberapa jauh kau bisa melangkah dengan kakimu sendiri.”
Jian Po menggigit bibir bawahnya, berusaha keras menahan air mata agar tidak jatuh.
Cang Li melanjutkan, kali ini dengan nada yang sedikit lebih hangat, “Anggap saja ini ujian pertamamu. Saat aku kembali nanti, aku ingin melihat apakah kau benar-benar berlatih atau hanya bermalas-malasan.”
Mata Jian Po yang tadinya redup langsung berbinar lagi.
“Kalau begitu, aku akan berlatih sepuluh kali lebih keras dari biasanya!” serunya sambil mengepalkan kedua tangan kecilnya. “Aku akan membuat Guru terkejut saat kau pulang nanti!”
Cang Li mengangguk pelan. “Bagus. Itu baru muridku.”
Setelah berpamitan untuk terakhir kalinya, Cang Li akhirnya berbalik dan mulai melangkah meninggalkan Desa Jianxin. Punggungnya perlahan menjauh di sepanjang jalan setapak yang membelah hamparan rerumputan, sementara Ye Ruoxi dan Jian Po tetap berdiri di gerbang, memandanginya hingga sosoknya semakin kecil dan akhirnya menghilang di balik pepohonan.
Jauh di tempat lain, suasana yang sama sekali berbeda sedang menyelimuti markas utama Dinasti Huangtu.
Di dalam aula singgasana yang luas dan remang, Kaisar Chu Yu duduk dengan tenang di atas kursinya yang tinggi. Cahaya obor di dinding hanya menerangi sebagian wajahnya, membuat ekspresinya terlihat lebih dingin dan sulit ditebak. Di bawah singgasana, Han Li berlutut dengan kepala sedikit tertunduk, menyampaikan laporan seperti biasa.
“Baginda,” ucap Han Li dengan suara berat, “anggota Moonlight Shadow Guild kembali berhasil mengeksekusi satu kultivator petir di wilayah perbatasan utara. Pencarian semakin mengerucut. Jika target itu benar-benar masih hidup, ruang geraknya akan semakin sempit.”
Sudut bibir Chu Yu terangkat tipis membentuk senyum yang nyaris tidak terlihat.
“Bagus,” katanya pelan. “Sudah enam belas tahun berlalu. Jika anak itu masih hidup, maka sekarang usianya sudah cukup untuk mulai menonjol. Anak muda yang memiliki sedikit bakat biasanya tidak tahan untuk tetap bersembunyi. Mereka selalu ingin membuktikan diri.”
Tatapannya mengeras.
“Dan turnamen dua bulan lagi adalah panggung yang sempurna untuk itu.”
Han Li mengangkat wajahnya sedikit. “Maksud Baginda…?”
“Turnamen Sepuluh Dinasti akan menarik seluruh jenius muda dari berbagai wilayah. Jika dia memang ada di Benua Tian Zhu, besar kemungkinan dia akan muncul di sana.” Chu Yu menyandarkan tubuhnya dengan santai, tetapi aura dingin di sekelilingnya justru semakin terasa. “Awasi semua peserta yang menggunakan elemen petir. Jangan beri satu pun dari mereka kesempatan untuk lolos dari pengamatan.”
Han Li mengangguk tegas. “Jika dia benar-benar muncul, kami akan memastikan dia tidak keluar dari arena dalam keadaan hidup.”
Kaisar Chu Yu tidak menjawab lagi. Namun dari tatapan matanya, jelas bahwa turnamen yang seharusnya menjadi ajang kejayaan generasi muda itu diam-diam telah berubah menjadi perangkap mematikan.
Sementara itu, setelah menempuh perjalanan panjang selama berjam-jam, Cang Li akhirnya tiba di tempat tujuannya.
Sebuah gapura batu besar berdiri kokoh di depannya, menandai wilayah Desa Sura.
Begitu melangkah masuk, Cang Li langsung menyadari bahwa desa ini jauh berbeda dari Desa Jianxin. Jika Jianxin terasa kecil, tenang, dan tertutup dari dunia luar, maka Desa Sura justru hidup dan ramai. Jalan-jalannya lebih lebar, bangunannya terbuat dari batu yang kokoh, dan di setiap sudut tampak para penduduk berlalu-lalang dengan aktivitas masing-masing.
Beberapa orang membawa hasil panen, sebagian lain sedang mengasah senjata, sementara suara tawar-menawar terdengar dari deretan kios kecil di sisi jalan. Suasana desa itu terasa sibuk, tetapi juga penuh tenaga.
Cang Li berdiri sejenak di tengah jalan sambil menatap sekeliling.
“Desa ini… besar sekali,” gumamnya pelan.
Ia lalu teringat tujuan utamanya dan mulai bertanya pada warga yang lewat.
“Permisi,” sapa Cang Li pada seorang pria paruh baya yang sedang memikul karung gandum. “Apakah Anda mengenal seseorang bernama Ling?”
Pria itu berhenti, lalu mengernyitkan dahi. “Ling?”
“Iya. Seorang pendekar. Aku datang untuk menemuinya.”
Namun pria itu hanya menggeleng. “Tidak ada orang bernama Ling di desa ini, Nak. Mungkin kau salah tempat.”
Cang Li terdiam. Ia lalu mencoba bertanya pada beberapa orang lain, tetapi jawaban yang ia dapatkan tetap sama. Tidak ada satu pun penduduk Desa Sura yang mengenal nama itu.
End Chapter 21