Demi menyelamatkan hak waris adiknya dari keserakahan sang kakak tiri, seorang CEO wanita yang berhati dingin terpaksa terjebak dalam pernikahan kontrak. Ia harus bersanding dengan pengacara mendiang ayahnya—pria yang memandangnya dengan kebencian, namun memegang kunci kekuatan hukum yang ia butuhkan.
Tempaan hidup yang keras telah membentuknya menjadi sosok yang tegas dan tak kenal lelah. Di bawah atap yang sama, tak ada ruang bagi cinta, hanya ada dendam yang membara di hati sang suami. Demi ambisi masing-masing, keduanya terpaksa memerankan sandiwara rumah tangga yang sempurna di mata dunia.
Akankah benih cinta tumbuh di sela-sela permusuhan mereka, ataukah perpisahan pahit yang menjadi akhir dari kesepakatan ini?
Mau tahu kelanjutan ceritanya? Jangan lupa baca di sini, ya. 🤗
Jangan lupa, like dan komentarnya sebagai penyemangat Author. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ndo' Anha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07. WATACI
Dalam perjalanan pulang Nika meminta sang sopir untuk melewati jalan tempat bimbel Elano. Namun, saat melewati tempat itu, tempatnya sudah kosong. Semua siswa sudah pulang.
"Bagaimana Bu? Sepertinya Elano sudah pulang? Apa kita juga langsung pulang?" ucap Geby sambil celingukan mencari keberadaan tuan mudanya.
"Ya sudah kita pulang saja," pinta Nika kembali menyandarkan tubuhnya.
"Jalan, Pak." Geby menepuk punggung kursi sang sopir. Sang sopir lalu menginjak pedal gas meninggalkan tempat itu.
Jalanan tampak lengang sore itu. Namun, tiba-tiba matanya terpaku saat melihat beberapa anak muda yang tengah berkumpul di ujung gang.
Awalnya Nika tak terlalu memperdulikan, namun saat ia melihat tas sekolah yang begitu dikenalnya ia membelalak kaget.
"Berhenti, Pak!" Nika menepuk-nepuk punggung kursi sang sopir.
Ciiitz!
Mobil berhenti mendadak hingga membuat mereka terhuyung ke depan.
"Ada apa, Bu?" tanya Geby.
"Ayo turun. Aku sepertinya mengenali tas itu," ungkapnya sambil menunjuk ke arah gerombolan anak muda yang seperti tengah memukuli seseorang.
Geby mengedarkan pandangannya ke arah telunjuk Nika. Matanya membelalak saat tahu siapa yang tengah mereka pukuli.
"Bu, itu Tuan Elano!"
Geby dan Nika segera turun dari dalam mobil, berlari menghampiri mereka.
"Hei kalian! Jangan berani sentuh dia!" pekik Nika.
Dengan gerakan cepat Nika menyusup di kerumunan dan berdiri di depan Elano. Elano terduduk meringkuk dengan menutupi kepalanya.
Semua pemuda itu terdiam. Namun, tiba-tiba tatapan mata mereka berubah meremehkan.
"Wah, siapa dia, anak cupu?" ucap salah seorang dari mereka.
"Cantik juga. Dan sepertinya dia kaya," sahut yang lain.
Elano bergegas berdiri. Dengan wajah ketakutan ia berusaha menegakkan tubuhnya.
"Ja ...ngan ... Jangan ganggu kakak ku. Aku akan berikan semua uangku asal kalian jangan ganggu dia," katanya sambil terbata.
"Dasar bodoh," gunam Nika seraya menarik Elano ke belakang.
Ponsel Nika diangkat dan di hadapkan ke arah para pemuda-pemuda itu. "Lihatlah. Polisi sebentar lagi akan datang. Jadi, kalau kalian mau masuk penjara silahkan saja tetap di sini."
Seketika raut wajah mereka pucat pasi. Dengan panik mereka segera membubarkan diri dan pergi dari sana.
Geby yang baru saja tiba bingung saat mereka semua sudah lari kocar-kacir.
"Loh, kok sudah pada pergi? Padahal aku baru ingin beri mereka pelajaran," celetuk Geby dengan gaya angkuh.
Nika menatapnya dan tersenyum tipis lalu berlalu begitu saja. Elano dan Geby segera menyusul menuju mobil.
Elano tampak diam dengan terus menunduk. Melihat hal itu Nika menghentikan langkahnya tepat di hadapan sang adik.
"Bisa gak, itu wajahmu ditegakkan. Aku muak melihatmu selalu menunduk seperti itu. Jadilah berani, jangan hanya ditindas seperti ini," gerutu Nika kesal.
Elano perlahan menegakkan wajahnya dan menatap nanar ke arah kakaknya.
Ia meremas tasnya kuat-kuat. "Maafkan aku Kak. Aku selalu membuatmu kecewa."
"Jika sudah tahu, setidaknya berusaha lah untuk melawan. Kamu laki-laki, dan juga penerus Arta Dirgantara Group. Aku tidak akan bisa selamanya melindungimu Elano," tegas Nika tanpa ekspresi.
"Bisa tidak jangan membuat orang khawatir terus!" tambahnya dengan wajah masam.
Nika lalu membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil tanpa sedikitpun menoleh ke arah adiknya yang babak belur.
Elano di kenal pendiam dan penakut, bahkan Nika sering menasehati Elano namun, tetap saja Elano masih jadi seorang pengecut.
Nika selalu merasa frustasi saat melihat Elano. Ia tak mungkin terus menjaganya, suatu saat ia ingin bebas dan menikmati hidupnya sesuai dengan keinginannya sendiri.
Geby yang melihat Elano mematung dan penuh rasa kecewa, menarik tangan dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.
Elano duduk di kursi depan dengan diam. Bahkan ia merasa sulit untuk bernafas, merasa tertekan dengan ucapan sang kakak.
Kediaman Keluarga Aryasetya.
Setelah mobil berhenti, Nika dengan langkah cepat masuk ke dalam rumah di ikuti Elano yang masih tertunduk.
Saat di ruang keluarga, Kirana yang tengah bersantai seketika terlonjak kaget saat melihat putranya terlihat berantakan.
"Ada apa ini? Kenapa wajahmu seperti ini, sayang." Dengan panik Kirana mendekap wajah Elano mengusapnya pelan.
"Nika ada apa ini? Kenapa adikmu sampai seperti ini?" timpalnya lagi.
Nika hanya bersendekap dada. "Itulah akibatnya kalau jadi orang terlalu lemah. Jadi mudah ditindas."
Kirana sontak membelalak. "Jaga bicaramu. Bagaimanapun dia adikmu, dia masih begitu kecil. Kasian dia."
Dengan tak sabar Nika menjatuhkan dirinya di atas sofa. Dengan tangan yang masih di dada dia menatap dingin ke arah ibunya.
"Oh, dia masih kecil. Lalu bagaimana denganku Bu. Dulu aku juga masih kecil saat kalian terus memaksa aku. Tapi sekalipun ibu tidak pernah mengatakan aku masih kecil dan belum waktunya, tapi ... kenapa sekarang ibu mengatakan itu padanya, dia seorang lelaki. Yang seharusnya tidak boleh lemah seperti itu," ujar Nika sinis.
"Nika, bukan itu maksud Ibu ... "
"Sudahlah. Untuk apa juga aku mengatakan ini, lagi pula masa kecilku juga sudah kalian renggut. Sekarang aku hanya pionmu---pion untuk anak lelakimu, iya kan?" Nika bangkit menatap mereka dengan tatapan tak suka.
Karena merasa takut bisa lebih menyakiti ibunya, Nika memilih cepat pergi. Ia berjalan memasuki lift menuju kamarnya.
Elano hanya bisa menatap nanar kepergian sang kakak. Di dalam hatinya selalu dihantui rasa bersalah.
Bruk!
Tas Elano terjatuh dari genggaman. "Kenapa kak Nika selalu marah padaku, Bu? Memangnya aku buat salah apa padanya."
Kirana merasa seolah ada yang menghantam dadanya. Pertanyaan itu bagaikan palu godam yang menghantamnya dengan keras.
"Ini bukan salahmu, Sayang. Ini semua salah Ibu," ucap Kirana terisak sambil mendekap sang putra.