Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.
Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.
Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Malam turun perlahan di Hutan Aethelgard, membawa udara yang lebih dingin dan suara-suara yang semakin jelas terdengar di antara pepohonan. Cahaya lampu minyak di dalam pondok menjadi satu-satunya penerang, menciptakan bayangan panjang yang bergerak mengikuti nyala api yang tidak pernah benar-benar diam.
Alexandria duduk di dekat perapian, tubuhnya sedikit condong ke depan, sementara pandangannya sesekali mengarah ke sudut ruangan tempat macan kumbang itu berbaring. Ia tidak benar-benar melakukan apa pun, hanya diam, mendengarkan napas makhluk itu yang kini terdengar lebih stabil dibandingkan saat pertama kali ia membawanya pulang.
Ia masih belum terbiasa.
Bukan dengan kehadiran hewan buas itu saja, tapi dengan perasaan yang muncul setiap kali ia melihatnya. Seharusnya ia menjaga jarak, tetap waspada, atau setidaknya tidak membiarkan dirinya terlalu dekat. Namun sejak tadi sore, semua itu terasa tidak lagi sesederhana yang ia bayangkan.
Alexandria menarik napas pelan, lalu berdiri dan berjalan mendekat dengan langkah yang tidak terburu-buru. Ia berhenti beberapa langkah dari tubuh besar itu, memperhatikan luka di kaki belakangnya yang masih terbalut rapi. Tidak ada darah baru yang keluar, dan itu cukup membuatnya sedikit lega.
Ia berjongkok perlahan, tangannya sempat tertahan sebelum akhirnya menyentuh bulu hitam itu dengan hati-hati. Hangat, jauh lebih hangat dari yang ia perkirakan, dan untuk sesaat ia hanya diam, memastikan reaksi makhluk itu.
Macan itu bergerak sedikit, matanya terbuka dan langsung mengarah padanya, namun tidak ada geraman atau tanda perlawanan. Alexandria tidak menarik tangannya, ia tetap di sana, membiarkan sentuhan itu berlangsung lebih lama dari yang seharusnya.
“Itu berarti tidak terlalu sakit,” gumamnya pelan, lebih seperti memastikan daripada bertanya.
Macan itu tidak menjauh. Kepalanya justru bergeser sedikit, cukup untuk membuat telapak tangan Alexandria menyentuh bagian atasnya dengan lebih jelas, seolah menerima sentuhan itu tanpa penolakan. Alexandria mengerutkan kening samar, menyadari gerakan itu terasa terlalu sadar untuk seekor hewan biasa, tapi ia tidak langsung menarik diri.
“Kalau kamu bisa mengerti, setidaknya jangan menyulitkanku,” lanjutnya pelan, nadanya ringan namun tetap berhati-hati.
Tangannya bergerak perlahan mengusap bulu itu sekali lagi sebelum akhirnya ia menariknya kembali dan berdiri. Ia mematikan lampu minyak satu per satu, menyisakan cahaya redup dari perapian, lalu berjalan menuju kamarnya. Sebelum benar-benar masuk, ia sempat berhenti dan menoleh ke belakang, memastikan makhluk itu tetap di tempatnya.
Macan itu tidak bergerak, namun entah kenapa Alexandria merasa tatapan itu masih mengikutinya, meskipun ia tidak melihatnya secara langsung. Ia tidak menyalakan lampu lagi, hanya menarik napas pelan sebelum akhirnya menutup pintu.
Malam terasa lebih panjang dari biasanya.
Alexandria tidak langsung tertidur. Beberapa kali ia membuka mata, merasa seperti ada sesuatu yang berubah di dalam rumahnya, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Tidak ada suara mencurigakan, hanya napasnya sendiri dan napas makhluk lain yang kini berada di bawah atap yang sama dengannya.
Hujan mulai turun di luar, awalnya pelan lalu semakin rapat, mengetuk atap dan tanah dengan ritme yang teratur. Alexandria sempat bangun dan duduk di tepi ranjang, mendengarkan lebih saksama. Di sela suara hujan, ia merasa ada jeda yang aneh, seperti sesuatu bergerak lalu berhenti tepat saat ia mencoba menangkapnya.
Ia berdiri dan membuka pintu sedikit.
Ruangan di luar masih sama.
Macan itu tetap di tempatnya, tubuhnya tidak berubah posisi, napasnya terdengar stabil seperti sebelumnya. Namun entah kenapa, Alexandria merasa ada sesuatu yang tidak sama. Ia tidak bisa menjelaskan apa, tapi perasaan itu cukup kuat untuk membuatnya tetap berdiri beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya menutup pintu kembali.
Ia kembali ke tempat tidur, menarik selimut sampai ke bahu. Rasa tidak tenang itu tidak hilang sepenuhnya, hanya mereda, cukup untuk membuatnya akhirnya memejamkan mata. Kelelahan perlahan mengambil alih, dan tanpa sadar ia tertidur dengan napas yang tidak sepenuhnya dalam.
Pagi datang bersama cahaya yang menyelinap melalui celah jendela. Alexandria bangun lebih cepat dari biasanya, tubuhnya masih terasa sedikit kaku, tapi pikirannya langsung kembali pada satu hal yang sama. Tanpa banyak berpikir, ia segera menuju ruangan depan.
Macan itu sudah bangun.
Kepalanya terangkat saat mendengar langkahnya, dan tatapan keemasan itu kembali mengarah padanya, kali ini lebih tenang, tidak sewaspada sebelumnya. Alexandria mendekat dan berjongkok di sampingnya, langsung memeriksa kondisi perban dengan gerakan yang lebih yakin dibandingkan kemarin.
“Sepertinya kamu tidak berniat kabur,” ucapnya ringan.
Ia membuka balutan dengan hati-hati, memperhatikan luka yang kini terlihat lebih baik. Tidak sepenuhnya pulih, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa perawatannya berhasil. Alexandria membersihkannya kembali, mengoleskan salep, lalu membalutnya dengan rapi tanpa banyak jeda.
Macan itu hanya bereaksi kecil setiap kali luka itu tersentuh, namun tidak menolak, tidak juga menjauh. Alexandria menyelesaikan semuanya dengan cepat sebelum berdiri dan mengusap keringat di pelipisnya.
“Aku akan ambilkan makanan, jangan banyak bergerak dulu,” katanya sambil berbalik menuju dapur.
Tidak lama kemudian ia kembali dengan potongan daging yang sudah dipanaskan. Ia meletakkannya dengan jarak yang masih aman, tidak terlalu dekat, lalu duduk di sisi lain ruangan sambil memperhatikan.
Macan itu mengendus sebentar sebelum mulai makan dengan lahap, seolah benar-benar kelaparan. Alexandria tidak mendekat, hanya memperhatikan sambil memastikan tidak ada gerakan yang berpotensi berbahaya.
Beberapa saat kemudian, daging itu habis.
Macan itu mengangkat kepalanya, lalu tanpa peringatan bergerak mendekat.
Alexandria sempat menegang, tubuhnya sedikit kaku saat jarak mereka menutup dengan cepat. Namun tidak ada serangan. Makhluk itu hanya mendekat, lalu menggesekkan kepalanya ke lengan Alexandria dengan gerakan yang lebih pelan, kemudian berhenti seolah menunggu reaksi.
Alexandria tidak langsung bergerak.
Ia memperhatikan sejenak, mencoba memahami maksud dari tingkah itu, sebelum akhirnya tangannya bergerak sendiri dan menyentuh punggung hewan itu. Bulu hitam itu terasa hangat di bawah telapak tangannya, dan tanpa sadar ia mengusapnya perlahan.
“...apa lagi ini,” gumamnya pelan.
Macan itu kembali menggesekkan tubuhnya, kali ini lebih pelan, hampir seperti memastikan Alexandria tidak menolaknya. Alexandria menghela napas kecil, membiarkan tangannya tetap berada di sana.
“Aku belum pernah merawat makhluk sepertimu,” katanya, suaranya terdengar lebih tenang sekarang. “Tapi kalau kamu terus seperti ini… aku mungkin akan terbiasa.”
Ia berhenti sejenak, menyadari kalimat itu sendiri terdengar terlalu mudah.
Tangannya tidak ditarik.
Dan itu mungkin jawaban yang lebih jujur dari apa pun.
Di dalam pondok kecil itu, sesuatu mulai berubah perlahan. Kehadiran makhluk itu tidak lagi terasa asing sepenuhnya, dan tanpa disadari, Alexandria mulai menyesuaikan dirinya dengan keberadaan yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.
Dan di balik mata keemasan yang kini tampak tenang, ada sesuatu yang mulai bangkit, sesuatu yang belum sepenuhnya manusia, namun juga tidak lagi sekadar hewan yang terluka.
---