Ren cuma pegawai kantoran biasa.
Setiap hari, ia mengurus dokumen para Awakened sambil berharap bisa pulang tepat waktu. Tapi setelah sebuah insiden, hidupnya berubah total.
Ia mengalami Awakening … dan mendapatkan kemampuan paling aneh yang pernah ada:
"Tidak Melakukan Apapun."
Kekuatan yang terdengar payah. Tidak berguna. Bahkan memalukan.
Masalahnya, kemampuan itu mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Tujuan akhirnya untuk libur akhir pekan hari ini, Huangxi.
Mesin kapal terbang itu mengerang rendah. Getarannya merambat dari lantai logam, menembus sol sepatu Ren, lalu naik ke betisnya. Rasanya seperti mendapatkan relaksasi dari kursi pijat.
Ren menyandarkan kepala pada jendela kaca yang dingin. Ia memegang kartu perunggu dan lencana AFC di saku jaketnya. Logam itu terasa beku, kontras dengan udara kabin yang pengap.
"Tujuan akhir: Kota Huangxi," suara mekanis android pramugara berbunyi datar.
Ia tidak membawa banyak barang. Hanya sebuah tablet kerja dan sebotol air mineral yang sudah separuh kosong.
Baginya, perjalanan ini bukan liburan. Ini adalah ritual membersihkan kepala dari kesibukan kota yang memabukkan.
Kapal itu menembus awan kelabu. Di bawah sana, Huangxi terlihat seperti luka lama yang gagal sembuh. Bangunan-bangunan beton yang mengelupas, kabel-kabel yang menjuntai seperti usus terburai, dan asap dari tungku-tungku tua.
Pintu keluar terbuka. Tekanan udara yang berubah tiba-tiba. Biasanya ini akan membuat telinga Ren berdenging, tapi sekarang hal seperti itu tidak lagi terjadi. Ia berdiri dari tempat duduknya, melangkah ke arah pintu keluar.
Pintu itu terbuka, ia disambut dengan pemandangan kota yang cukup kumuh, meskipun arsitekturnya kurang lebih sama dengan are pusat—Qilin.
Ia menghirup udara yang masuk lewat pintu yang terbuka itu. "Suasana kampung memang benar-benar berbeda."
Kakinya melangkah maju, keluar dari kapal terbang itu.
Ia kemudian berjalan mengitari alun-alun kota yang tidak begitu ramai. Kumuh lebih tepatnya, tapi kehangatan dari kehidupan yang dijalani penduduk di sini terekam jelas.
Kemudian ia sampai pada satu blok jalan. Seruan terdengar lemah mengarah jelas pada telinga Ren yang sensitif.
"Ren! Anak nakal, baru ingat jalan pulang?"
Suara parau itu datang dari seorang pria tua yang duduk di atas kursi roda elektrik karatan. Kakinya dibalut kain lusuh. Itu Pak Tua Jo. Seorang pensiunan yang sekarang menghabiskan waktunya di kursi roda.
Ren mendekat, lalu menyerahkan botol airnya yang masih tersisa. "Aku sibuk cari uang, Pak Tua. Biar kursi rodamu tidak perlu didorong pakai tangan lagi."
Pak Tua Jo tertawa hingga terbatuk. "Uangmu itu terlalu banyak. Harusnya kau beli istri, bukan beli baterai untuk orang jompo seperti aku."
Ia hanya tersenyum tipis, Pak tua itu selalu menyinggung istri ketika ia datang. Ia melangkah menyusuri gang sempit yang baunya tercampur antara cucian basah dan minyak goreng bekas.
Setiap beberapa meter, seseorang akan menyapanya. Nenek-nenek yang menjemur kerupuk, anak-anak dengan ingus mengering yang mengejarnya minta permen, sampai kakek-kakek yang sedang main catur di pinggir parit.
Ren adalah bank berjalan bagi mereka. Tapi ia melakukannya tanpa pamrih pahlawan. Ia memberikan dana bantuan, memperbaiki atap bocor, atau sekadar memastikan stok beras di balai warga tetap penuh.
Ia menyebutnya "Investasi Bodoh". Padahal, di dalam hatinya, ia hanya ingin memastikan tempat ini tidak hilang ditelan kemiskinan sebelum ia sempat menua di sini.
Langkah kaki Ren membawanya ke sebuah bukit kecil di pinggiran kota. Di sana, tersebar kuburan bagi orang-orang yang telah gugur, mengitari area bukit itu. Kemudian ia sampai.
Dua nisan batu sederhana berdiri tegak di bawah pohon beringin yang meranggas. Tidak ada ukiran emas. Hanya nama dan tanggal yang sudah mulai terkikis cuaca.
Ia berlutut. Debu menempel di celana kargonya, tapi ia tidak peduli. Ia mengusap permukaan batu itu dengan telapak tangannya. Dingin.
"Ren," gumamnya pelan.
Ia teringat penjelasan ayahnya belasan tahun lalu. Saat mereka masih makan satu mangkuk bubur bertiga.
"Kami memberimu nama Ren, karena kami ingin kau jadi manusia," kata ayahnya saat itu. Suaranya berat karena asma, tapi matanya bersinar.
"Kenapa bukan Awakened saja, Ayah?" tanya Ren kecil.
"Jadi spesial itu melelahkan, Nak. Jadi manusia itu jauh lebih sulit. Manusia itu melihat orang jatuh, lalu mengulurkan tangan. Manusia itu tahu kapan harus berhenti berlari dan mulai berjalan."
Ren memejamkan mata. Bayangan masa lalu menghantamnya. Langit yang tiba-tiba pecah. Suara raungan monster yang lebih keras dari petir. Dan tangan ibunya yang mendorongnya masuk ke dalam lubang drainase sempit.
"Hiduplah, Ren, Anakku. Kamu akan selalu menjadi anak kebanggaan kami," bisik ibunya sebelum beton runtuh menimbun segalanya.
Ia tidak menangis. Matanya hanya terasa pedas, mungkin karena debu, mungkin karena angin yang tiba-tiba bertiup kencang. Ia hanya duduk di sana, bercerita tentang pekerjaannya yang membosankan di kantor pusat. Tentang Han Jue—atasannya—yang tiba-tiba saja marah. Tentang mie babi Nenek Lin yang enak.
"Aku sudah sukses sekarang. Setidaknya, perutku tidak pernah keroncongan lagi," bisiknya pada nisan itu, ia lalu melihat ke kartu perunggunya. "Tapi ... Sekarang anakmu ini malah mendapatkan kekuatan Awakened."
Langit di atas Huangxi berubah gelap. Bukan gelap malam, tapi gelap yang berat. Awan menggantung rendah seolah ingin menyentuh tanah.
Ren menatap ke atas. Napasnya terasa sedikit sesak. Ada sensasi geli yang aneh di tengkuknya, seperti ada ribuan semut tak kasat mata yang merayap di sana.