Rania saraswati seorang mahasiswi jenius, membuat riset tentang mati suri. Gadis periang dan tomboi ini mengalami kejadian yang aneh. Tiba-tiba jiwanya tertukar dengan seorang gadis kaya raya yang tertindas
Rania menolong gadis yang telah di siksa dan di perlakukan tidak manusiawi oleh ibu, paman dan saudara tirinya. Rania yang telah bertukar jiwa dengan gadis bernama Clara berusaha melawan orang-orang yang telah menindasnya.
Masalah tidak sampai disitu, Clara telah di jodohkan oleh pria kaya raya bernama Radit manggala putra, pria dingin dan angkuh. Pria ini sulit jatuh cinta dengan lawan jenisnya bahkan menolak mentah-mentah bila di jodohkan oleh sang kakek. Namun, siapa sangka ia tertarik dengan wanita bar-bar bernama Clara, yang telah bertukar jiwa dengan Rania.
Lalu bagaimana kah kehidupan Clara dan Rania setelah tertukar jiwa?'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon enny76, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Clara kembali pulang
Suara roda dorong terdengar nyaring di lorong rumah sakit, deritan pintu kamar terdengar hingga membangunkan Rania yang tertidur pulas di atas pembaringan.
"Pagi nona Clara? saya mau ganti cairan infusnya dulu ya. Sudah hampir habis." ucap suster ramah
Rania hanya mengagguk tanpa protes, meskipun ia belum tenang setelah mengalami peristiwa tadi malam. Semua orang yang melihat dirinya menganggap hantu gentayangan.
"Nanti ada pemeriksaan dokter, ini sarapan paginya, tolong di habiskan ya."
"Baik sus!"
Setelah suster pergi, Rania duduk dan menikmati sarapan pagi itu.
Siangnya Ronald, Ratih dan Bianca sudah sampai di rumah sakit. Hari ini mereka berpakaian serba hitam, sebab akan mengantarkan jenazah Clara ke pemakaman.
Wajah mereka sangat sumringah, sebab penghalang di keluarga sudah tidak ada. Rasa percaya diri mereka sangat tinggi hingga berjalan dengan langkah angkuh.
Mereka berjalan menuju ruangan ICU, lalu Ronald berserta lainnya menemui seorang suster yang sedang berjaga.
"Siang sus, apa jenazah keponakan saya Clara sudah di masukkan kedalam peti?"
"Tuan, dari kelurga pasien bernama Clara?"
"Betul, kami datang untuk menghadiri pemakaman keponakan saya untuk terkahir kalinya
"Tapi, nona Clara sudah di pindahkan keruangan rawat inap."
Alis Ronald mengeryit "Maksud suster?" bukankah keponakan saya sudah meninggal tadi malam? Kenapa berada di ruangan rawat inap lagi?!
"Nona Clara belum meninggal, semalam ya bangun dari koma."
"Apa?! Pekik Bianca dan Ratih bersamaan.
Seketika wajah mereka bertiga berubah tegang, wajah-wajah kecewa dan kekesalan terlihat jelas.
"Apa tuan dan nyonya, ingin saya antarkan keruangan rawat inap nona Clara?"
Ronald mengagguk, ia juga penasaran dengan kondisi Clara yang tiba-tiba hidup lagi. Padahal ia sangat tahu kondisi Clara semalam yang sudah tidak berdaya, nyawanya pun sudah berada di ujung tanduk. Kepala wanita berparas cantik itu mengeluarkan banyak darah dan sangat sulit untuk bisa hidup kembali.
Mereka bertiga melangkah bersama di belakang suster, melewati lorong rumah sakit yang mulai padat pengunjung. Sang suster masuk kedalam ruangan rawat inap dan berhenti di salah satu kamar.
Pintu kamar di buka perlahan, terlihat sosok wanita yang masih pucat wajannya. Ia sedang duduk sambil menatap keluar jendela.
"Nona Clara."
Wanita itu menoleh kearah suster yang baru masuk. Ronald, Bianca dan Ratih terlihat sangat syok. Mereka benar-benar tidak menyangka kalau Clara kembali hidup, setelah di nyatakan meninggal.
Rania menatap tiga orang yang ikut masuk kedalam kamar bersama suster, ia menatap bingung, sebab wajah-wajah mereka kelihatan tegang dan kesal.
"Nona Clara, kelurga anda sudah datang. Dokter bilang kondisi nona sudah pulih dan sudah di bolehkan pulang sore ini."
Rania terdiam, ia masih menatap tiga orang di depannya secara bergantian. Bianca yang secara terang-terangan menabrak Clara, terlihat ketakutan dan bersembunyi di belakang punggung Ronald.
Ratih berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang. Ia menyunggingkan senyuman misterius. 'Clara, Kamu sudah benar-benar pulih. Mama sangat takut setelah mendengar Kamu kecelakaan."
Rania masih terdiam, ia masih terus mengamati raut wajah wanita paruh baya di sampingnya.
"Clara, Om pikir kamu tidak akan selamat, setelah mengalami kecelakaan itu. Tapi ternyata.." ucapan Ronald menggantung, sebab Bianca mencubit pinggangnya.
"Jangan ingatkan Clara dengan tabrakan semalam. Aku tidak mau masuk penjara om! bisik Bianca kesal.
"Kamu tenang saja, walaupun Clara buka mulut pada polisi. Ia akan berpikir seribu kali, bila tidak foto-foto seksi dirinya akan tersebar ke media sosial dan elektronik."
"Clara, apa yang sedang kamu pikirkan? Kenapa kamu hanya diam?" tanya Ratih pura-pura perhatian.
"Aku harus tahu siapa mereka semuanya. Aku tidak ingin gegabah dalam bertindak, sebab wajah mereka bertiga seperti mencurigakan dan sedang menyimpan misteri." gumam Rania dapat hati.
Rania tersenyum "Aku tidak apa-apa kok mah."
"Hey! kenapa kamu hanya bersembunyi di belakang punggung om, sini duduk kita ngobrol." sahut Rania.
Bianca terkejut, ia saling bersitatap dengan sang Mama. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Clara akan bersikap baik padanya. Padahal jelas-jelas ia yang sudah menabraknya hingga hampir tewas di tempat.
Ronald masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat hari ini. Clara seperti sudah lupa dengan kejadian yang baru saja ia alami semalam.
"Apa pasca kecelakaan semalam, Clara jadi hilang ingatan? Kalau benar Clara amnesia, ini suatu keberuntungan buat kami.' Aku bisa mengancam Clara, untuk menandatangani surat perpindahan harta atas nama kak Ratih." gumam Ronald sambil tersenyum tipis
"Baiklah, karena nona Clara sudah pulih, saya akan siapkan resepnya dan tuan silakan ke ruangan adminitrasi untuk pembayaran."
Ronald mengagguk "Baik, saya akan urus administrasinya dulu."
Ronald melangkah pergi meninggalkan ruangan rawat inap Clara, bersama sang suster.
Sayang... bantu LIKE ya setelah membaca, jangan lupa berikan VOTE/GIFT sebagai penyemangat, sertakan komentar kalian di RATE BINTANG 🌟
💜💜💜💜