Viola dan Rasta dipertemukan kembali setelah lima tahun perceraian mereka. Rasta pikir, Viola telah bahagia bersama selingkuhannya dan anak dari hasil perselingkuhan mereka dulu. Namun ia dibuat bertanya-tanya saat melihat anak perempuan berusia empat tahun yang sangat mirip dengannya.
Benarkah dia anak dari hasil perselingkuhan Viola dulu, atau justru anak kandungnya Rasta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Beginilah risikonya jika masuk shift malam. Terjebak hujan deras saat pulang, padahal saat ini bulan Juni, yang artinya bukan waktunya musim hujan. Entah mengapa akhir-akhir ini hujan sering turun saat malam, terutama saat Viola hendak pulang.
Teman-teman yang lain berpamitan dengan Viola sejak lima menit yang lalu, mereka semua memakai mantel. Dan Viola yang ceroboh, lagi-lagi meninggalkan mantelnya di rumah.
Kini, dia harus terpaksa menunggu hujan reda sendirian di depan restoran. Viola pikir ia sendirian, namun ternyata masih ada Rasta yang baru saja keluar dari resto.
Rasta selalu keluar paling akhir setelah memastikan semua karyawannya pulang. Ia lantas mengunci restorannya.
"Vi, nggak bawa mantel lagi?" tanya Rasta, suaranya ramah. Bahkan Viola melihatnya tersenyum saat ia menoleh.
Viola hanya menggeleng pelan. Ia merapatkan jaket yang membungkus tubuhnya.
Rasta memilih untuk berdiri di sisinya. Mereka bersama-sama memandangi tetesan hujan. Rasta, sibuk dengan pikirannya yang menyuruhnya untuk segera mengajak Viola bicara. Sementara Viola sibuk dengan jantungnya yang mendadak berdegup kencang.
"Vi .... " akhirnya, Rasta memanggil. Suaranya nyaris teredam oleh suara hujan, namun karna posisinya sangat dekat dengan Viola, perempuan itu bisa mendengarnya.
"Ya?" Viola menoleh.
"Aku ... Mau minta maaf," ungkap Rasta. Ia menatap Viola, meski setelahnya, wanita itu mengalihkan pandangannya.
"Minta maaf buat apa?"
Rasta harus susah payah mengumpulkan keberanian untuk apa yang akan ia katakan selanjutnya. "Karena dulu aku udah ngusir kamu, karena dulu aku nggak mau dengerin kamu, karena dulu aku nggak percaya sama kamu."
Terlihat dengan jelas penyesalan itu, ketika Viola menatap sepasang mata mantan suaminya. "Kenapa sekarang minta maaf? Dulu kamu yakin banget kalau aku selingkuh sampai hamil anak orang lain. Sehina itu aku di matamu?"
Viola tidak menginginkan, tetapi ia tidak sanggup mencegah kaca-kaca yang terbentuk di matanya. Menghalangi sosok Rasta yang sedang ia tatap. Dadanya terasa nyeri karena kilasan kejadian dulu berputar dengan sendirinya, memenuhi kepalanya.
Rasta tak kalah sakit saat melihat Viola. Dulu, senyum dan tawa Viola adalah yang selalu ia usahakan setiap hari, tetapi kini Rasta yang membuat Viola menangis.
"Aku minta maaf, Vi, aku nggak tau harus gimana selain minta maaf. Harusnya aku dulu dengerin kamu, harusnya aku dulu lebih percaya istri aku sendiri dibanding dengan orang lain. Aku menyesal."
Rasta tercekat, kedua matanya dipenuhi oleh cairan bening. Ia memeluk Viola, menyusupkan kelima jarinya di setiap helai rambut wanita itu sambil membisikkan ribuan kata maaf.
Viola tidak memberontak atau pun menghindar. Ia membiarkan tubuhnya dipeluk erat oleh Rasta. Dia merasakan tubuh Rasta yang berguncang, yang menandakan jika pria itu sedang menangis. Telinganya mendengar kata maaf yang seolah tidak bisa Rasta hentikan keluar dari bibirnya.
*
"Dia ada gangguin atau temuin kamu lagi nggak?" tanya Sinta pagi harinya saat dia dan Viola sedang memasak bersama di dapur. Suara percikan minyak terdengar memenuhi dapur saat Viola memasukkan ikan ke dalamnya.
Dia yang dimaksud oleh Sinta adalah Rasta. Karena saking kecewanya, Sinta enggan menyebut nama asli pria itu.
"Nggak, Ma," jawab Viola. Tentu saja itu bohong. Yang sebenarnya terjadi Viola hampir setiap hari bertemu dengan Rasta.
"Yakin?" Sinta belum sepenuhnya percaya.
Viola mengangguk.
"Aneh," gumam Sinta. "Emang dari dulu nggak ada perjuangannya jadi lelaki. Diusir sekali aja udah bikin dia nyerah, gak mau berusaha lagi buat dapetin maaf dari kamu dan mengenal Vita. Baguslah kalau Vita nggak usah kenal sama bapaknya."
Viola melirik ibunya. Apa dia salah menjawab? Respon ibunya jadi seperti itu, semakin menyalahkan Rasta.
"Kalau Vita tanya lagi soal bapaknya, bilang aja kalau ayahnya udah meninggal," imbuh Sinta lagi.
Viola menghela napas, tidak memberi tanggapan apa pun. Tangannya dengan cekatan membalik ikan di wajan supaya tidak gosong dan matang dengan sempurna.
"Kalau aku bilang ayahnya udah meninggal, itu artinya aku bohong, Ma. Suatu saat, kalau Vita udah gede dan dia bisa tahu semuanya entah dengan sengaja atau tidak, dia pasti akan benci aku karena aku gak jujur sama dia," jelas Viola setelah beberapa saat.
Sinta menyangkal, "Enggak, Vi, nggak ada anak yang akan benci sama ibunya. Kalau Vita tau semuanya, justru yang akan dia benci adalah bapaknya."
Dan Viola tidak akan pernah membiarkan ayah dan anak itu saling membenci. Kalau mereka bisa hidup dengan saling balas mencintai, kenapa tidak?
Vita anak perempuan, yang kelak ketika dia sudah dewasa, dia akan sangat membutuhkan ayahnya. Vita harus tumbuh dengan kasih sayang dan perlindungan dari Rasta supaya dia tidak merasa kosong sehingga akan mencari kasih sayang dari lelaki lain.
Kali ini, Viola tidak sejalan dengan ibunya.
Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatian Viola dan Sinta. Jarang-jarang ada tamu yang datang ke rumah di pagi hari begini.
"Jangan-jangan lelaki itu lagi," tebak Sinta sambil menahan geram. Ia bergegas ke depan, dan Viola cepat-cepat mematikan kompor lalu menyusul ibunya.
Jantungnya berdetak cepat, takut jika yang datang berkunjung adalah Rasta, namun ia bernapas lega saat melihat Sera yang sedang bicara dengan ibunya.
"Selamat pagi, Tante, Violanya ada di rumah?" tanya Sera.
"Oh, ternyata Sera, Tante kira siapa. Ada, Viola ada di rumah kok."
Sera melihat Viola, tangannya melambai, "Hai, Vi."
"Hai, Ser," balas Viola.
Sinta kembali ke dapur, meneruskan kegiatan masaknya yang sempat tertunda. membiarkan Viola menemui temannya yang datang berkunjung.
"Ada apa, Ser, pagi-pagi datang ke rumah?" Viola bertanya tanpa bisa menyembunyikan nada herannya. Sera akhir-akhir ini aneh, sudah dua kali dia datang ke rumah dalam beberapa hari ini.
"Sori, gue ganggu, ya?"
"Nggak kok, kebetulan gue ntar berangkat siang jadi pagi ini emang nggak ngapa-ngapain sih," jawab Viola.
"Free dong berati pagi ini?"
"Iya," Viola mengangguk.
"Jalan-jalan yuk, Vi, mau nggak? Ajak Vita juga," ajak Sera.
"Jalan-jalan ke mana?"
"Ke taman aja yang dekat. Gak usah jauh-jauh, ntar lo berangkat kerja, kan?"
Viola semakin merasa curiga dengan tingkah Sera.
"Ayolah ... Gue gak tau nih harus ngajak siapa, pengen jalan-jalan tapi nggak ada temennya," rayu Sera lagi.
Viola tepis keraguannya, "Oke, bentar ya gue sama Vita siap-siap dulu. Agak lama nih, kayaknya lo bisa umroh dulu deh, soalnya gue sama Vita belum mandi belum sarapan juga."
Sera tergelak. "Oke oke, gue setia tungguin lo sambil kayang nih."
"Bisa aja lo Ser."
Sera tersenyum tipis. Dia melakukan ini karena disuruh oleh seseorang. Siapa lagi kalau bukan Rasta. Kali ini Rasta menyuruh Sera untuk mengajak Viola dan Vita pergi ke taman. Di sana nanti, Rasta bisa bertemu dengan Vita.
...****************...
ini di dunia nyata ada Thor dekat rumahku ya itu ujungya bercerai
mantan istri mu tuh tukut kalau balikkan lagi nanti mama bersaksi lagi ta
terbuka kan, ibu mu dalang nya.. biang korek di balik prahara rumah tangga mu dulu