Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Nyonya di Balik Celemek
Status baruku sebagai "Istri Kontrak" memang memberiku kendali penuh atas jadwal Lili, tapi status itu tidak memberikan sedikit pun kehormatan di mata Arvino. Justru sebaliknya, dia menemukan cara baru yang halus dan menyakitkan untuk merendahkanku.
Pagi itu, aku berada di dapur, sibuk mensterilkan botol-botol susu Lili. Aku mengenakan pakaian rumah yang rapi, tapi juga celemek putih bersih. Aku memastikan semua peralatan makan Lili benar-benar higienis, sesuai standar medis.
Arvino masuk ke dapur. Dia mengenakan setelan jas abu-abu, siap berangkat ke rumah sakit. Dia tampak segar dan tampan, kontras dengan wajah lelahku yang baru tidur beberapa jam. Dia membuka kulkas tanpa melihat ke arahku.
"Air mineral yang di atas meja kerjaku sudah habis," ujarnya tanpa basa-basi. Nadanya seperti memberikan instruksi pada Mbok Nah.
"Oh," jawabku, masih fokus pada botol yang kucuci. "Biar nanti aku minta Mbok Nah menggantinya, Kak."
Arvino menutup kulkas, lalu berbalik menatapku. Tatapannya dingin.
"Aku tidak bicara pada Mbok Nah. Aku bicara padamu," katanya. "Kau sekarang pengangguran. Kau punya banyak waktu luang. Ambil botol baru, dan isi tempat minumku di meja kerja sebelum jam delapan. Dan pastikan suhu ruang kerjaku 22 derajat, bukan 24 seperti kemarin."
Aku menegang. Ini bukan tugas seorang istri—ini tugas seorang sekretaris atau asisten rumah tangga.
"Aku punya jadwal Lili sekarang, Kak. Aku harus menyiapkan—"
"Lili sudah diurus Sus Rini. Urusan menyeterilkan botol itu tugas Mbok Nah. Tugasmu sekarang adalah memastikan kenyamananku di kantor,"
" itu tidak sesuai kontrak, tidak tertulis kita," potongnya sinis. "Lakukan, Aluna. Atau kau ingin Papa tahu kalau kau menelantarkan suamimu di kantor?"
Ancaman itu lagi. Papa.
Aku menghela napas, melepaskan celemekku dengan gemetar. "Baik. Aku akan ke kantor Kakak."
"Bagus," Arvino tersenyum puas, senyum yang terasa seperti kemenangan pahit. Dia berbalik pergi tanpa mengucapkan sepatah kata terima kasih.
Aku mengemudikan mobil menuju Rumah Sakit Hardinata, membawa tas berisi botol air mineral baru dan map berisi beberapa dokumen Arvino yang tertinggal. Perasaan ini sangat aneh. Aku datang ke rumah sakit tempat aku seharusnya menjadi dokter terkemuka, tetapi statusku kini hanya pengantar barang suamiku.
Saat aku tiba di lantai direksi, Sekretaris Arvino, Bu Rima, menyambutku dengan canggung. Bu Rima tahu betul siapa aku, dan dia juga tahu siapa Sarah.
"Selamat pagi, Nyonya Aluna," sapa Bu Rima. Wajahnya menunjukkan keheranan saat melihatku membawa tas berisi botol air.
"Pagi, Bu Rima. Aku ingin mengantar ini ke ruangan Kak Arvino," kataku, berusaha menjaga martabatku.
"Oh, biar saya saja yang bawa, Nyonya. Silakan duduk dulu," Bu Rima mencoba mengambil tas itu, tapi aku menahannya.
"Tidak perlu, terima kasih. Aku harus memastikan suhu ruangannya juga," kataku datar, mengulang perintah Arvino persis seperti robot.
Aku masuk ke ruangan kerja Arvino yang luas dan didominasi kaca—ruangan yang dulu sering kudatangi saat aku masih kecil, ruangan yang dulunya milik Papa.
Arvino sedang rapat dengan beberapa dewan direksi. Dia melihatku masuk, tapi tidak menunjukkan reaksi apa-apa, seolah aku adalah pelayan kantor yang datang mengisi air.
Aku mengisi tempat minumnya, mengatur suhu AC, lalu menata dokumen yang kubawa. Aku bekerja dalam diam, di tengah tatapan penuh tanya dari para direksi yang hadir.
Saat aku selesai, aku membungkuk sedikit di depan Arvino.
"Sudah selesai, Kak. Suhu 22 derajat," bisikku.
Arvino mengangguk tanpa menoleh. "Terima kasih," katanya, suaranya terdengar formal dan dingin, jelas sengaja ditujukan untuk didengar para direksi.
Aku berbalik dan keluar.
Saat aku melewati pintu, aku mendengar Arvino kembali bicara dengan nada biasa pada para direksi.
"Maaf, itu istri saya. Kebetulan dia sedang tidak ada pekerjaan, jadi saya minta dia membantu urusan sepele. Dia memang suka melakukan hal-hal remeh di rumah," ucap Arvino santai, suaranya terdengar meremehkan.
Jantungku terasa ditikam. Dia sengaja. Dia sengaja memerintahku datang hanya untuk merendahkanku di depan rekan kerjanya, memastikan mereka tahu bahwa istri barunya hanyalah pengangguran yang tugasnya selevel dengan pesuruh.
Aku berjalan cepat menuruni lift. Rasa panas menjalar di pipiku. Bukan karena demam, tapi karena malu dan marah yang terpendam.
Aku kembali ke rumah dan langsung menemui Nenek di taman. Nenek sedang menyiram bunga, ditemani Ardo yang sedang libur.
"Lihat siapa yang datang. Nyonya Direktur yang baru pulang dari menjalankan tugas," sindir Ardo, tapi matanya menunjukkan simpati.
"Diamlah, Do," kataku sambil duduk di kursi batu.
Nenek meletakkan penyiram bunganya dan menatapku. "Apa yang terjadi, Aluna? Kenapa mukamu merah sekali?"
Aku menunduk. "Tidak apa-apa, Nek. Hanya saja... aku lelah. Aku lelah diperlakukan seperti pembantu oleh Kak Vino."
Ardo mengerutkan kening. "Dia menyuruhmu melakukan apa lagi?"
Aku menceritakan kejadian di kantor Arvino.
Nenek menggeleng sedih. "Dia memang sedang kalap. Dia menjadikanmu sasaran amarahnya."
"Aku sudah mengikuti wasiat Mbak Sarah, Nek. Aku merawat Lili dengan baik, aku menjaga jarak profesional. Tapi kenapa dia harus menghinaku di depan umum seperti itu?" isakku.
"Karena dia melihat potensi dalam dirimu, Nduk," ujar Nenek lembut. "Dia tahu kau dokter yang cerdas. Dia takut kalau kau bangkit dan bersinar, dia akan semakin merasa terancam dan bersalah atas perlakuan kasarnya padamu."
"Aku tidak peduli lagi, Nek. Aku hanya ingin Lili. Aku butuh statusku kembali," kataku, tiba-tiba rasa marahku mengalahkan kesedihan.
Aku berdiri. "Aku tidak bisa terus menjadi 'pengangguran' yang tugasnya mengisi air mineral suaminya. Aku harus kembali bekerja. Aku harus mengembalikan martabatku sendiri."
"Tapi bukankah Arvino menahan izin praktikmu?" tanya Ardo.
"Ya. Tapi izin praktikku di Indonesia masih berlaku. Rumah Sakit Hardinata bukan satu-satunya rumah sakit di Jakarta. Aku punya banyak koneksi di Inggris. Aku akan mencari cara agar aku bisa kembali praktik. Aku akan bekerja di rumah sakit lain."
"Tapi Lili?" tanya Nenek khawatir.
"Aku akan bekerja paruh waktu. Aku akan memastikan aku tetap punya waktu untuk Lili. Tapi aku harus punya ruang sendiri, Nek. Aku harus membuktikan pada Arvino bahwa aku menikahinya karena kontrak, bukan karena aku tidak punya pilihan hidup lain."
Nenek tersenyum. Senyum bangga. "Bagus, Nak. Tunjukkan pada mereka bahwa nama Hardinata bukan hanya sekadar marga, tapi juga martabat yang tidak bisa diinjak-injak."
Sejak hari itu, sambil menjalankan rutinitas profesional Lili, aku mulai mengirimkan curriculum vitae (CV) ke berbagai rumah sakit di Jakarta. Aku tidak peduli jika itu rumah sakit kecil. Aku hanya perlu tempat untuk berdiri tegak.
Aku akan menjalankan tugasku sebagai Istri Kontrak di rumah, tapi aku juga akan mendapatkan kembali identitasku sebagai Dokter Aluna Hardinata di luar.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️