"Ibu mau kemana? " suara Rara kecil nyaris tak terdengar.
Ibu menoleh sekilas. Mata mereka bertemu sejenak, lalu ibu buru-buru membuang pandangan. Ia mendekat, memeluk Rara sekilas. cepat sekali, seperti orang yang terburu-buru ingin pergi dari mimpi buruk.
"Kamu di sini dulu ya sama ayah. Kalau ada rezeki, kamu dan Alisya ibu jemput," bisiknya pelan, sebelum berbalik.
Rara tak mengerti. Tapi hatinya nyeri, seperti ada yang hilang sebelum sempat digenggam. Ketika mobil itu perlahan menjauh, ia masih berdiri mematung. Air matanya jatuh, tapi tak ia sadari.
"Rara Alina Putri" Namanya terpanggil di podium.
Ia berhasil wisuda dengan peringkat cumlaude, matanya berkaca. kepada siapakah ini pantas di hadiahkan?
Jika hari ini ia berdiri sendiri di sini. Air bening mengalir tanpa terasa, Langkah Kecil Rara sudah sejauh ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Secangkir Kopi
"Pagi!" sapa seseorang dari luar rumah. Ia menggedor pintu sedikit keras, mengagetkan Rara yang tertidur pulas. Ia mendongak dari celah bilik.
"Di dalam aja, nggak usah keluar," ayahnya membentak. Rara mengangguk.
Lelaki itu berjalan ke depan membukakan pintu.
"Maaf mengganggu pagi-pagi, ini kopinya," ucap wanita itu dengan senyum lebar.
Ayah Rara mengambilnya, menyunggingkan senyum balasan.
"Terimakasih, udah merepotkan kamu." ucap lelaki paruh baya itu ramah.
Rara mengintip dari lobang kecil di kamar. Wanita paruh baya yang mengenakan baju tidur itu, membawa secangkir kopi.
Ia coba mengingat, wajah itu sudah tidak asing.
"Wanita malam itu," ucapnya lirih.
"Siapa kak?" Alisya mengucek matanya, ia baru saja terbangun.
"Sssttt," Rara memberi kode adiknya.
"Wanita asing di malam itu, yang ke rumah kita? " bisik Rara pelan-pelan. Mata Alisya membulat, ia ikutan mengintip dari lobang itu. Lalu saling berpandangan.
Setahu mereka ayah tidak pernah bertemu dengannya, tapi kenapa tiba-tiba dia mengantarkan ayah kopi?
Rara membeku sejenak, ia merenung.
Dari teras terdengar ayahnya sedang berbincang hangat. Lelaki yang biasanya dingin, tiba-tiba menjadi begitu hangat.
Lebih kurang lima belas menit mereka ngobrol, entah membahas apa karena terdengar samar. Rara dan Alisya membisu, pikiran mereka saling berperang.
Hangatnya suara ayah justru mengingatkan Rara pada dinginnya malam itu
Kenangan itu kembali membayang di ingatan Rara. Ayah memukul Alisya untuk pertama kalinya. Rara hanya diam tanpa bisa melakukan apapun. Dan yang menyebabkan semua itu, wanita yang sekarang bersama ayahnya.
Tak lama sosok itu berpamitan dengan Ayah Rara. Setelah perempuan itu menjauh, ayah membawa masuk secangkir kopi, yang dibawakannya tadi. Ia menaruh kopi begitu saja di atas kunsen jendela dekat pintu keluar.
Rara dan Alisya saling menatap, mau bertanya tapi takut. Sebenarnya ayah ada hubungan apa? bukankah malam itu ayah sangat marah sebab wanita itu, dan meminta maaf kepada Alisya?
Di kepalanya masih banyak pertanyaan yang masih belum di jawab. Selain ibu yang tak pernah ada kabar hingga sekarang, wanita itu juga jadi peer besarnya.
Rara mengintip dari bilah dapur, ayahnya menyulut rokok, menghisapnya perlahan. Lalu menghirup kopi yang dibawakan wanita tadi.
"Kak wanita tadi, bukannya ibu dari anak jahat itu?" Alisya bertanya dengan suara sangat pelan.
Rara mengangguk.
"Dia kan sekelas sama aku kak, di sekolah dia jahat kak."
"Ssssttt, nanti kita bicarakan kalau Ayah sudah berangkat ke kebun." ucapnya dengan suara hampir berbisik.
Rara sibuk memotong-motong sayuran untuk di masak, ketika ayahnya datang mengambil pisau potong karet.
"Ayah mau ke kebun, jangan main jauh-jauh, Ra."
"Iya Yah," sahut Rara.
" Kalau mandi juga, nggak usah berenang-renang banyak lintah di embung." ucapnya lagi sebelum meninggalkan rumah.
"Iya Yah," jawab Alisya sambil berdiri melihat ayahnya pergi.
"Kalau mau jajan, ada uang di kantong baju Ayah," teriaknya dari kejauhan. Alisya melonjak kegirangan. Katanya berbinar kesenangan, lalu kembali ke dapur, ke tempat Rara memasak.
"Kak, kata Ayah kita boleh jajan," Alisya mendekati kakaknya. Alisya menoleh sejenak.
"Nanti habis kakak masak kita beli es yuk?" Alisya mulai merengek.
"Sekalian ajak kak Arini main ya, Kak?" Rara mengangguk. Mengaduk cabe yang sedang ia goreng. Tangannya mulai kepanasan sehabis menggiling cabe tadi.
"Kak, kenapa ya wanita itu antar kopi ke Ayah?" Alisya tak hentinya bertanya.
Rara menggeleng.
"Kakak juga nggak tahu Dek."
"Apa dia suka Ayah, ya kak?"
"Ush.. kamu sembarangan. Nggak mungkin, Ayah aja nggak pernah ketemu dia." Alisya menarik nafas berat.
"Wajahnya seram ya kak, sepertinya dia pemarah." lanjut Alisya lagi, tapi Rara tenggelam dalam pekerjaannya.
Matahari perlahan naik, hangatnya mulai membakar kulit. Ibuk-ibuk hilir mudik lewat di samping rumah Rara. Ada yang ke sawah dan ada yang Menderes getah. Mereka ramah-ramah.
Suara monyet-monyet liar di seberang embun terdengar ramai. Mereka bersahutan, bergelantungan di pohon-pohon karet.
"Kak!! lihat!!" teriak Alisya memanggil Rara. Tangannya menunjuk-nunjuk monyet liar.
"Cuma monyet aja, kamu histeris," ejek Rara pada adiknya.
"Kakak mau kemana?" Alisya melihat kakanya membawa ember kecil berisi pakaian.
"Cuci baju, Dek. setelah itu baru kita jajan,"
Alisya tidak melanjutkan pertanyaannya, ia. mengikuti Rara ke dam embung.
Matahari semakin terik, panasnya mulai membakar kulit. Rara masih membilas kain yang tadi di kuceknya, sementara Alisya sibuk menyiramkan air ke tubuhnya, sesekali ia masuk ke air berenang.
"Udah dek, nanti di gigit lintah," Rara menegur, Alisya tidak mengindahkan, ia tetap berenang.
Rara selesai membilas baju, ia berniat mandi karena bajunya sudah basah kuyup.
"Aaaaaaa," jerit Alisya, wajahnya pucat. Seekor lintah menempel di betisnya. Rara terkejut, ia mendekati Alisya yang meronta-ronta ketakutan. Rara mencoba menyodok menggunakan kayu, lengketnya cukup kuat. Alisya terus menjerit. Rara kebingungan, ia ingat cara ayahnya waktu itu. Ia mengambil sedikit air liur, meneteskan ke kaki Alisya, kemudian menyodok lagi pakai ranting. Lintah akhirnya terlepas, meninggalkan bekas merah di kulit Alisya.
"Makanya nggak usah bandel!" ucapnya setengah marah.
"Sudah di bilang Jangan berenang!" sambungnya lagi dengan emosi.
Alisya masih menangis pelan, ia menggigil kedinginan.
"Udah nangisnya, kita balik. Nanti kalau Ayah tahu pasti dimarahi," Rara berjalan menenteng ember, mengajak adiknya pulang ke rumah.