NovelToon NovelToon
SANDIWARA BERUJUNG CINTA

SANDIWARA BERUJUNG CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Keluarga / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: marwa18

Demi uang, Keysa setuju berpura-pura menjadi kekasih pria kaya raya. Namun, jebakan ini seharusnya untuk sahabatnya. Kini, ia terperangkap di bawah kendali pria itu. Keysa harus memainkan peran yang bukan miliknya, sebelum rahasia pertukaran identitas ini menghancurkan mereka semua..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marwa18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 MISI MENJADI NINJA KANTOR

Operasi Ninja Kantor berjalan sukses selama seminggu penuh. Kesya bergerak kaya bayangan. di datang di kantor saat penjaga keamanan masih menguap, menikmati kedamaian lantai 25 yang sepi, dan baru meninggalkan kantor saat lampu-lampu jalan mulai menutupi pemandangan kota.

kesya makan bekal, menolak semua ajakan makan siang rekan kerjanya, dan komunikasi dengan lantai manajemen dilakukan cuma melalui surat elektronik atau telepon. Tubuhnya memang lelah, tapi pikirannya lega. dia berhasil menghindari orang yang bernama Aksa Perwira.

Pada penghujung minggu kedua, tepat hari Selasa yang seharusnya tenang, keheningan strategis itu pecah. Sebuah email dengan subjek tebal, huruf kapital, dan tanda seru ganda, mendarat di pesan Kesya:

"URGENT MEETING: AUDIT SARANA DAN PRASARANA: RUANG EXECUTIVE LANTAI 30, PUKUL 14.00!"

Kesya kaya membeku di kursinya. Lantai 30. dia melihat layar komputernya seolah itu adalah seekor ular berbisa. Audit Sarana prasarana ini adalah masalah besar karena menyangkut seluruh aset kantor, dari server hingga persediaan toilet. Kesya adalah koordinator yang paling tahu detail aset di semua lantai.

"Kesya, kamu udah lihat emailnya?"tanya rendra (sekretaris)

Kesya menelan ludah. "udah, Pak. Tapi.."

"gak ada tapi-tapi. Ada masalah besar pada laporan inventaris bulan lalu. Ada selisih stok printer mahal. Kamu yang pegang data auditnya. Kamu harus presentasi langsung sama CEO" potong Rendra tegas.

"Dan kamu tahu siapa yang akan memimpin rapatnya."

Kesya mengangguk pasrah. "Aksa"

Kesya juga gak bisa lari ,kalau Melawan karir profesionalnya tamat di tempat.

"Baik, Pak. aku akan bersiap" jawab Kesya, meskipun dadanya terasa ditonjok.

Misi Dandanan Maksimum

Sisa waktu sebelum pukul 14.00 digunakan Kesya bukan untuk memeriksa dokumen, tapi untuk mempersiapkan rencana perangnya sama penampilan.

"kalau aku gak bisa jadi ninja, aku akan menjadi Kesya yang paling gak terduga"

kesya mengambil tas kecil yang berisi alat-alat darurat yang selalu dia bawa. dia merapikan rambutnya dari ikat rendah menjadi ikatan ekor kuda yang tinggi dan ketat, memberikan kesan wajah yang terangkat dan tajam.

kesya memakai foundation sempurna, membuat wajahnya tampak halus dan flawless, sangat jauh dari kesan 'kumuh' Dila. dia memilih lipstik merah tua, warna yang memancarkan keberanian dan otoritas, bukan warna yang dia gunakan saat menyamar.

Tujuannya: "Aksa harus melihatnya sebagai Kesya, pegawai Staf Administrasi yang sangat kompeten, bukan 'Dila', wanita yang sangat dia benci. Kesya harus memastikan gak ada satu pun jejak 'Dila' yang tersisa!.

Adu Tatapan di Ruang Rapat

Pukul 13.58, Kesya berjalan memasuki ruang rapat eksekutif di lantai 30. Aksa Perwira udah duduk di ujung meja, memegang berkas, wajahnya fokus dan serius.

Aksa mendongak saat Kesya duduk di kursinya, di antara tim hukum. Matanya yang tajam sempat lihat pada Kesya, tapi dia cuma mengangguk kecil, menganggap Kesya cuma salah satu staf yang hadir.

Rapat dimulai.

Kesya mempresentasikan argumen dengan percaya diri, suaranya jelas dan lugas.

Selama presentasi Kesya, Aksa mendengarkan, tapi dia terus-menerus menggerak-gerakkan tangannya ke dasi, seolah kaya gerah. Pandangannya beberapa kali tanpa sengaja menangkap sosok Kesya.

Kesya, dengan setelan profesional dan lipstik merahnya, tampak mempesona. Dia sangat berwibawa.

Saat Kesya menjelaskan tentang selisih inventory alat elektronik, Aksa tiba-tiba menyela.

"Tunggu sebentar" sela Aksa, suaranya terdengar sedikit serak. dia gak melihat Kesya, tapi menatap dinding kaca di belakang Kesya, seolah ada yang salah di sana.

"iya, Pak?" tanya Kesya, jantungnya berdebar kencang, takut Aksa akhirnya mengenali mata atau bentuk hidungnya.

"Tolong, bisakah kamu mundur sedikit dari projector? Cahayanya terlalu terang" pinta Aksa, menggosok matanya.

Kesya menurut. dia tahu lampu projector itu gak terlalu terang, tapi dia mundur dua langkah ke samping.

Aksa kembali melihat ke dinding kaca di belakang Kesya, seolah dia lagi mengukur pantulan Kesya di sana. dia mengerutkan dahi.

~Aneh, batin Aksa : Wanita ini sangat familiar. Sikapnya yang tenang dan matanya yang tajam,Tapi gak mungkin. Dia adalah Kesya. Profesional. Rapi. Sedangkan yang 'Dila' itu,dia adalah bencana~

Aksa menggelengkan kepala kecil, mengusir pikiran itu. Itu pasti cuma halusinasinya karena kurang tidur.

Kesya melanjutkan presentasinya. Saat menjelaskan salah satu poin, Kesya harus berjalan ke samping Aksa untuk menunjuk sebuah spreadsheet di layar.

Saat Kesya berada di dekatnya, Aksa tiba-tiba menggeser kursinya dengan keras, seolah Kesya membawa listrik statis.

"Pak Aksa?" tanya Rendra bingung.

"Ah, enggak. Kursiku agak macet" kilah Aksa cepat, padahal kursi yang di dudukinya adalah yang termewah dan terhalus di kantor. Aksa kembali melihat Kesya. Aroma parfum Kesya, aroma parfum yang mahal, tercium masuk ke indra penciumannya.

batin aksa: "Parfumnya bagus. Bukan parfum murahan berbau bedak yang dipakai 'Dila' waktu itu. Pasti bukan dia.

Kesya, yang sadar tatapan dan kegelisahan Aksa, justru mengambil kesempatan untuk menunjukkan kompetensinya. dia bicara dengan lebih detail, lebih bersemangat, mengabaikan Aksa dan fokus pada masalah inventaris.

Selisih ini terjadi karena penempatan printer laser di lantai 22 gak tercatat ganda pada saat migrasi. Kita bisa melacak serial number unit tersebut di log pengiriman"

Aksa kembali menyela. Kali ini, dia menyela Kesya dengan pertanyaan yang gak ada hubungannya dengan Administrasi.

"Nona Kesya" Aksa bersandar ke belakang, mencoba terlihat santai.

"Mengapa kamu memilih lipstik merah hari ini?"

Seluruh peserta rapat terdiam. Pertanyaan itu sangat gak profesional.Rendra hampir tersedak air mineralnya.

Kesya menatap Aksa, gak ada rasa takut di matanya. dia tersenyum tipis, senyum yang memamerkan lipstik merahnya.

"Dengan hormat, Pak Aksa" jawab Kesya tenang.

"aku memilih lipstik merah karena ini adalah presentasi yang penting. Penelitian menunjukkan bahwa warna merah meningkatkan kepercayaan diri dan persepsi dominasi di lingkungan profesional, yang aku perlukan untuk kasus audit aset ini. Apakah pak aksa keberatan dengan warna pilihan aku ini?"

Aksa terdiam. Jawaban itu cerdas, profesional, dan sedikit menyentil. Aksa merasa kaya baru aja dipukul mundur.

"enggak" Aksa berdeham.

"cuma, itu warna yang mencolok. Biasanya staf Administrasi lebih netral"

"aku rasa, dalam situasi kritis kaya ini, netral bukanlah pilihan yang baik, Pak" balas Kesya cepat.

Kekalahan Aksa. Wajah Aksa memerah sedikit. dia mengambil pulpen emasnya, pura-pura mencatat sesuatu dengan serius, padahal dia cuma mencoret-coret bukunya sendiri.

Kesya menang poin 1.

Setelah Kesya selesai presentasi, Aksa memulai sesi tanya jawab yang panjang, sengaja ditujukan cuma pada Kesya. Tujuannya adalah mencari kelemahan, mencari celah agar Kesya terlihat bodoh atau gak siap.

"Lalu, gimana kamu bisa memastikan kalau vendor cleaning service gak memanipulasi log kehadiran harian, Nona Kesya? Itu juga bagian dari administrasi umum, kan?" tanya Aksa dengan nada meremehkan.

Kesya menjawab tanpa berpikir, membalas dengan prosedur yang ketat.

"Kami menggunakan sistem $QR$ code yang terintegrasi langsung dengan server GA, Pak. Setiap scan tercatat timestamp dan lokasi. Kecurangan harus melalui tiga lapis verifikasi, yang aku jamin gak akan mungkin" jawab Kesya, sangat detail.

Saat Kesya bicara, Aksa mengambil gelas air di depannya. Karena terlalu fokus lihat Kesya terlalu fokus mencari kesamaan antara wanita yang cerdas ini dengan 'Dila' yang canggung Aksa tanpa sengaja menyenggol gelasnya sendiri.

CLANG!

Air tumpah, membasahi sebagian kecil meja dan mendinginkan suasana panas di ruang rapat.

Kecanggungan Aksa. CEO arogan yang selalu sempurna, baru aja menumpahkan air kaya anak kecil. dia dengan cepat mengambil serbet dan berusaha membersihkannya, wajahnya kaku dan malu.

Rendra cepat-cepat berinisiatif mengambil tissue box. "Biar saya aja, Pak Aksa!"

"gak usah, aku bisa sendiri!" kata Aksa,tapi tangannya gemetar karena malu.

Kesya, tanpa berkomentar sedikit pun, cuma nunggu dengan sabar sampai kekacauan itu selesai.

Dia bahkan gak tersenyum. Dia benar-benar terlihat seperti batu es yang sangat kompeten, pikir Aksa.

Rapat akhirnya ditutup.

Aksa, yang biasanya mengucapkan kalimat penutup yang tegas, cuma berkata singkat: "Laporannya akurat. Terima kasih, Kesya"

Saat Kesya dan tim beranjak keluar, Aksa memanggilnya lagi.

"Kesya. Tinggal sebentar"

Kesya menghela napas. Inilah saatnya. dia berbalik dan melihat Rendra dan timnya beranjak cepat, gak mau ikut campur.

Aksa berjalan mendekat,sekarang menatap Kesya dari jarak yang sangat dekat.

"Kamu sangat kompeten, Kesya. aku akui itu" kata Aksa, nadanya lebih rendah.

"Tapi ada sesuatu tentang diri kamu"

Kesya menahan napas. Dia hampir tahu.

"aku rasa, aku pernah melihat kamu di suatu tempat" sambung Aksa, matanya menyipit.

"Tepatnya, di mana?"

Kesya tersenyum, senyum profesional yang dingin.

"Dengan hormat, Pak Aksa, perusahaan ini mempekerjakan ratusan orang. Mungkin pak aksa pernah melihat aku di sesi acara tahun lalu. Saya Staf administrasi di lantai 25"

Aksa menggeleng

"enggak. Bukan. Lebih personal dari itu"

Kesya gak gentar. dia bahkan mengangkat

alisnya, menantang.

"kalau aku pernah bertemu Anda secara personal, Pak Aksa," kata Kesya, menekankan kata personal

"maka aku pasti akan ingat. aku gak mudah melupakan wajah orang penting seperti pak aksa. Mungkin pak aksa salah orang? Karena aku gak pernah bertemu dengan pak aksa di luar jam kantor"

Aksa menatap mata Kesya, mencoba mencari kebohongan, mencoba mencari 'Dila' yang canggung di balik penampilan Kesya yang memikat ini.

Dia gak menemukannya. Yang dia lihat hanyalah Kesya yang profesional, dingin, dan benar-benar asing.

"Mungkin aku memang salah orang"

Aksa akhirnya bergumam, merasa bodoh karena menanyai staf nya sendiri tentang pertemuan pribadi. dia menggaruk belakang kepalanya, terlihat bingung.

"Baiklah. Kamu boleh kembali ke lantai 25"

Kesya mengangguk, berbalik, dan berjalan keluar dari lantai 30 dengan kemenangan tersembunyi. Aksa Perwira gagal total dalam menyingkap identitasnya. dia bukan cuma selamat, dia juga membuktikan bahwa 'Kesya' jauh lebih mengintimidasi daripada yang Aksa bayangkan.

batin aksa: Gadis itu membuatku menumpahkan air dan mempertanyakan ingatanku sendiri. Aku harus lebih sering menguji kompetensinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!