NovelToon NovelToon
Istri Kesayangan Tuan Albert

Istri Kesayangan Tuan Albert

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Reinkarnasi / Nikah Kontrak / Mengubah Takdir
Popularitas:598
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Emily tak menyangka bahwa dia masuk ke sebuah novel yang alurnya membuatnya harus menikah dengan seorang miliarder kaya.
Pernikahan absurd itu malah sangat menguntungkannya karna dia hanya perlu berdiam diri dan menerima gelar nyonya serta banyak harta lainnya.
Namun sayangnya, dalam cerita tersebut dia akan mati muda!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

《Chapter 12》

"Aku akan pergi ke ruang kerja, jangan tidur terlalu larut malam," Albert meninggalkannya di sana.

Emily tak menyangka pria itu begitu mudah memberikan apa yang ia inginkan.

Ia menaiki tangga dan sampai di kamarnya lalu mengambil botol obat dan meminumnya, semenjak keluar dari rumah sakit, ia selalu mengikuti arahan dokter Grisel untuk meminum obat, dan memang ia menjadi jarang kambuh.

"Hmm, sekarang aku bisa minum obat yang mahal seperti ini, padahal dulu.."

Tak berhenti Emily membandingkan nasibnya dulu dengan yang sekarang, semua begitu cepat terjadi, bahkan ketika ia menutup mata malam itu, ia tidak menyangka akan menjadi Emily di tempat ini.

Mungkin ada dimensi waktu dan ruang yang membawanya kemari.

***

Setelah mentari bersinar, Emily mendapati Kai yang sudah berada di meja makan.

"Hei, mengapa kau datang sangat pagi?," tanya Emily sambil menyapa Bibi Vei yang sedang memasak hidangan untuk sarapan.

"Bukankah pagi hari adalah waktu yang tepat untuk merawat tanaman?, aku tidak ingin Kak Albert memarahiku karna tidak menjalankan hukuman"

Emily tertawa, ternyata memiliki adik sangat menarik, ia bisa melihat ekspresi ketakutan di wajah Kai.

"Kalau begitu dimana Albert?," tanya Emily karna tak melihat Albert di sana.

"Seperti biasanya Nona.. Tuan sudah pergi bekerja," jawab Bibi Vei yang datang sambil membawa semangkuk hangat bubur ayam padanya.

"Bibi, mengapa aku tidak dapat nasi goreng?," tanya Emily, ia melihat Kai yang sedang melahap nasi goreng sebelum buburnya jadi.

"Oh, Tuan Albert berpesan agar Nona makan bubur dulu, katanya kemarin Nona sakit"

Emily tidak bisa menolak jika itu permintaan Albert, ia mengambil sendok dan menyantap bubur itu.

Setelah selesai sarapan, mereka berdua berjalan keluar, di halaman belakang mansion.

Bibit kecil yang di tanam belum tumbuh terlalu besar namun sudah memiliki badan tanaman walau hanya kecil.

"Kakak, mengapa kakak ingin menanam sayur dan buah di sini?," tanya Kai sambil memberi pupuk pada tanaman.

Emily yang sedang mengambil air segera menghampiri Kai dan berkata, "Bukankah ini terlihat indah?, mansion ini begitu besar namun tidak terlihat ada kehidupan, aku hanya ingin melihat pemandangan itu ketika tanamannya sudah besar nanti"

Kai terkagum dengan perkataan Emily, memang benar bahwa selama ini mansion kakaknya itu seperti gelap dan suram, mungkin karna pemiliknya juga begitu.

Namun ketika Emily masuk kesana, ada suasana berbeda yang datang, seperti angin yang bertiup ringan di musim semi, Kai menyukainya.

"Kak, terimakasih sudah menikah dengan kakak ku yang dingin itu," ucap Kai sambil tersenyum, kali ini senyumnya begitu tulus.

Mereka tertawa bersama, lalu merawat kebun kurang lebih dua jam.

Banyak yang mereka perbincangkan sampai merasa lelah dan memilih masuk kembali ke mansion, juga karna cuaca di luar sudah semakin dingin.

"Terimakasih sudah membantu ku," ucap Emily, ia pergi menuju dapur dan mengambilkan minuman bagi Kai.

Kai menyeka keringat lalu mengambil air mineral yang Emily bawakan.

"Kakak ipar, aku ingin bertanya kapan bibit sayurnya tumbuh besar?, bolehkah nanti aku datang untuk memanen bersama kakak?," tanya Kai, ia berharap bisa merayakan panen pertama di mansion ini.

"Tentu saja boleh, nanti aku akan menghubungi kalau sudah besar, tapi sepertinya musim dingin tidak terlalu banyak yang bisa kita tanam, jadi nanti saat panen di musim semi, kau harus membantu aku menanam bibit yang banyak, seperti semangka, melon, strawberi,..."

Kai hanya diam mendengar ocehan Emily yang menurutnya lucu.

"Hei, apa kau dengar?," tanya Emily membuyarkan lamunan Kai.

"Tentu saja kak, hehe"

Emily senang, membayangkan kebunnya yang akan makin meriah, namun sayang sekali karna ia hanya akan tinggal di sana sampai musim dingin tahun depan begitu masa kontrak mereka berakhir.

"Kalau begitu aku akan pergi dulu kak, jangan lupa menghubungi lagi jika kakak ingin bantuan merawat kebun, aku akan datang lagi!," Emily melambaikan tangan padanya.

Kini Emily duduk sendiri, melihat mansion kosong, para pelayan sudah sibuk mengerjakan tugas mereka, sedangkan Emily harus mencari kesibukkan lagi agar bisa membunuh waktu selama berada di sana.

"Sekarang aku harus ngapain yah?," Emily berdiri, mengelilingi mansion mencari apa yang bisa ia buat, karna ia bosan melakukan hal yang sama seperti menonton tv, bermain game, tidur..

Itu semua sudah membosankan..

Ia kemudian melangkah ke arah dapur, membuka kulkas dan lemari penyimpanan bahan makanan, ia menemukan tepung beras dan berfikir untuk membuat kue beras saja.

Semua peralatan dan bahan sudah ia taruh di atas meja, dengan telaten tangannya mulai membuat pekerjaannya.

Ia tak menyadari kedatangan Bibi Vei yang baru sampai dari pasar, setiap pagi Bibi Vei memang pergi ke pasar untuk membeli bahan yang kurang atau habis, ia terkejut mendapati Emily yang berada di dapur untuk memasak.

"Ya ampun Nona, bagaimana anda bisa masak sendirian di dapur, jika saya tidak ada, Nona bisa memanggil pelayan lain untuk memasak bagi Nona," ucap Bibi Vei sambil menaruh barang belanjaannya di atas meja.

Ia mendekati Emily untuk menghentikannya bekerja dan berkata, "Apa yang ingin Nona buat? Biar saya saja,"

"Tidak papa bi, aku ingin membuat kue beras" jawab Emily, sudah lama ia tidak membuat kue beras, seingatnya terakhir kali yaitu saat praktek memasak di SMA.

"Baiklah," Bibi Vei mengatur dan menyimpan dahulu bahan yang sudah ia beli tadi dan mulai membantu Emily membuat kue beras.

"Oh ya, kapan Bibi pulang ke kampung? Aku dengar Lea akan segera lulus SD"

Lea adalah satu-satunya anak yang Bibi Vei miliki, ia tinggal bersama neneknya di kampung karna ayahnya meninggalkan mereka dengan wanita lain.

Namun, Bibi Vei tidak mempermasalahkannya, ia senang memiliki Lea di sampingnya.

"Mungkin dua minggu lagi Nona"

Emily memikirkan sesuatu kemudian berkata, "Bagaimana kalau Lea tinggal disini saja?, masukkan dia di SMP dekat sini, sangat asyik jika aku punya teman bermain di rumah"

Bibi Vei melihat wajah Emily dan mendapati bahwa gadis itu serius mengatakannya.

"Saya akan tanyakan pada Tuan Albert dulu Nona.."

Emily setuju dengannya, bagaimanapun juga mansion dan para pelayan adalah milik Albert.

Ia hanya memberikan saran saja, karna ia jika ada teman yang usianya masih muda, pasti akan banyak ide untuk bermain, sedangkan para pelayan di sini sudah tua dan tidak begitu tau dengan teknologi.

Tok tok tok..

Ketukan pintu terdengar saat mereka masih sibuk memasak, Bibi Vei segera pergi membuka dan mendapati staff perusahaan.

"Maaf, kami di perintahkan Tuan untuk memberikan ini pada Nona"

Itu adalah sebuah kotak besar, Bibi Vei menerimanya lalu membawa ke hadapan Emily.

"Apa itu?," tanya gadis itu, Bibi Vei juga tidak tau apa isinya, jadi mereka memutuskan membukanya bersama.

Saat membuka kotak, mereka bisa melihat sebuah robot seukuran anak remaja.

"Oh, ini robot pintar yang waktu itu aku minta," ia tidak menyangka akan datang secepat ini, tangannya mengambil buku petunjuk lalu mencoba menyalakannya.

Menurut arahan, ia harus memberi nama pada robot itu agar ketika di gunakan akan menjadi akses bagi robot untuk melakukan perintah.

"Bibi, nama apa yang cocok ya?," tanya Emily sambil tetap memikirkan nama yang bagus.

"Sudahlah, aku beri nama Meimei saja biar gampang di panggil"

Ia segera menyalakan robot dan menekan pengaturan lalu memasukkan input kata Meimei sebagai nama robot.

"Meimei, nyalakan tv!" Ia langsung mencoba memberi perintah, dengan cepat robot itu pergi ke ruang tamu dan menyalakan tv.

Kedua orang itu terkejut melihat itu.

"Bibi, aku akan bersantai, boleh Bibi lanjutkan kue beras ku ya..," pinta Emily lalu pergi ke ruang tamu dan memberi perintah pada robot itu untuk memijat bahunya.

Dengan tak terduga, robot menjadi pembantu rumah tangga yang melakukan segala perintah Emily, bahkan robot itu bisa bermain kartu remi dan ia kalah..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!