NovelToon NovelToon
Accidentally Wedding

Accidentally Wedding

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Kunay

Berawal disalahpahami hendak mengakhiri hidup, kehidupan Greenindia Simon berubah layaknya Rollercoaster. Malam harinya ia masih menikmati embusan angin di sebuah tebing, menikmati hamparan bintang, siangnya dia tiba-tiba menjadi istri seorang pria asing yang baru dikenalnya.

"Daripada mengakhiri hidupmu, lebih baik kau menjadi istriku."

"Kau gila? Aku hanya sedang liburan, bukan sedang mencari suami."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kunay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kakak Laki-laki dan Rahasia

Di dalam ruangan VIP, setelah pintu tertutup di belakang Greenindia, keheningan yang tegang menyelimuti ruangan. Chester Anderson, dengan rahang mengeras, menoleh ke arah selebriti pria B-list yang tadi menyentuh Greenindia.

​"Kau," suara Chester rendah dan mematikan, jauh lebih berbahaya daripada teriakannya tadi. "Apa yang barusan kau lakukan?"

​Pria itu, seorang aktor pendukung yang mencoba mencari nama, terlihat pucat. "Chester—senior, aku... aku hanya bercanda. Aku tidak bermaksud apa-apa."

​"Bercanda?" Chester tertawa sinis. "Di pestaku? Di sini, di bawah atap yang kubayar penuh, kau pikir kau bisa berlaku seperti sampah dan mengganggu staf? Dengar baik-baik, Mr. B-list," Chester melangkah mendekat, matanya menusuk. "Aku memberimu waktu dua puluh empat jam. Hilang. Aku tidak mau melihat wajahmu di majalah, di layar, atau di mana pun lagi di industri ini. Jika aku melihatmu, aku bersumpah, kau akan menyesalinya seumur hidup. Sekarang, keluar!"

​Pria itu tergagap dan segera berlari keluar ruangan, tidak berani menoleh ke belakang. Chester menghela napas, kemarahan masih membakar matanya. Setelah semua tamu mencerna ultimatum itu, Chester hanya meminta ruangan dikosongkan.

​Sementara itu, Greenindia sudah berada di ruang staf di lantai dasar. Ia segera membuka lokernya, mencari botol kecil obat penenang yang selalu ia simpan untuk hari-hari terburuk. Ia menelan pil itu tanpa air.

​Ia merosot di lantai yang dingin, memeluk lututnya, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdebar hebat. Adegan di tebing, demamnya, Rex, Ibunya di kafe, dan sekarang Chester. Semuanya terasa seperti serangan. Ia berusaha keras membangun kembali dinding pertahanan yang sudah runtuh. Setelah beberapa menit, Greenindia merasa sedikit tenang. Ia berdiri, bersiap pulang.

​Ia berjalan melewati bar dan berpamitan pada Will.

​“Kau pulang, Green?” tanya Will, menatap mata Greenindia yang tampak merah dan bengkak. Will adalah satu-satunya orang di klub yang tahu identitas Chester, tapi ia tahu diri untuk tidak pernah mengungkitnya.

​Greenindia hanya menggeleng pelan. “Aku tidak enak badan, Will. Sampai besok.”

​“Hati-hati, Green.” Will menatap punggungnya dengan penuh kekhawatiran.

​Greenindia bergegas menuju parkiran bawah tanah. Tempat itu sunyi dan remang-remang. Ia berjalan cepat menuju motor lamanya, berharap bisa sampai di apartemennya secepat mungkin untuk kembali mabuk, tetapi kali ini tanpa Rex Carson.

​"Tunggu, Green!"

​Langkah Greenindia terhenti. Suara itu. Jelas sekali. Chester Anderson.

​Greenindia berbalik perlahan. Chester berdiri beberapa meter darinya, masih mengenakan kemeja formal mahalnya yang kini tampak kusut. Wajahnya menunjukkan campuran kelelahan, kemarahan, dan kesedihan.

​"Chester," panggil Greenindia, suaranya terdengar datar.

​"Kenapa kau lari? Kenapa kau harus bekerja di tempat seperti ini, Green? Kita sudah bicara tentang ini." Chester melangkah mendekat.

​"Tidak ada yang perlu dibicarakan," balas Greenindia, memasang jarak. "Aku bukan bagian dari 'kita' lagi. Kau hanya pelanggan yang baru saja melindungiku dari pelecehan. Terima kasih, Tuan Anderson. Sekarang, aku harus pergi."

​"Greenindia,” geram Chester. “dengarkan aku. Aku datang menemuimu di sini karena aku ingin meminta maaf soal pesan itu. Itu salahku. Aku yang mengirimnya," akunya, suaranya melembut.

​Greenindia tertawa sinis. "Permintaan maaf? Setelah mengirimiku pesan yang mengatakan aku seharusnya datang ke peringatan tiga tahun kematian Ayah? Pesan yang menuduh, marah, dan egois? Kau ingin aku datang ke sana, hanya untuk mendengar Ibumu lagi-lagi menuduhku sebagai pembunuh?"

Kalimat terakhirnya bagai palu godam menghantam dada, menyakitkan.

​"Jangan bicara begitu, Green! Ibu tidak menuduhmu!" sergah Chester, suaranya naik.

​"Dia memang menuduhku! Tiga tahun lalu, tepat setelah kecelakaan itu, apa yang dia katakan? Dia bilang akulah penyebab Ayah meninggal! Dia bilang akulah pembunuh suaminya! Dia menyuruhku pergi!" Greenindia berteriak histeris, air mata yang ia tahan sejak di kafe akhirnya tumpah.

​"Ibu sedang berduka! Dia tidak bermaksud begitu!" Chester mencoba mendekat dan meraih tangan adiknya, tetapi Greenindia mundur.

​"Kau membela dia?! Kau yang selalu dekat dengannya! Kau tahu apa yang kurasakan! Kenapa kau tidak pernah membantah dia?! Kenapa kau membiarkan dia menuduhku, dan kau hanya berdiri diam seperti di kafe tadi?! Kau tahu betapa sakitnya aku melihatmu berpura-pura tidak mengenalku di depan teman-teman Ibumu?!"

Green tak kuasa menahan air mata. Dia mencengkeram tas selempang yang dikenakan, sekuat tenaga, mempertahankan keseimbangannya.

​"Aku tidak pernah menuduhmu, Green! Aku tahu itu bukan salahmu! Aku tahu kau tidak membunuh Ayah! Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku mencintai Ibu, dan aku mencintaimu! Aku terjebak di antara kalian berdua!" teriak Chester frustrasi. "Aku mencoba menyeimbangkan semuanya, untuk menjaga semua orang!"

Green tertawa sinis.

​"Menjaga semua orang?" Greenindia menggeleng, air mata membasahi pipinya. "Kau hanya menjaga dirimu sendiri! Kau memilih tinggal di kastil kemewahan itu, menikmati warisan, sementara aku hidup seperti ini di antara bayangan dan rasa bersalah yang tidak seharusnya kurasakan!"

​"Aku ingin kau pulang! Aku tidak peduli dengan Ibu, pulanglah ke rumah, kita bisa hidup bersama!" Chester memohon, wajahnya tampak menyedihkan.

Chester memiliki segalanya. Sebagai artis papan atas dan juga pemilik sebuah agensi besar. Tentu dia bisa memberikan apa saja untuk adiknya tapi Green selalu menolak.

​"Aku tidak akan pulang," ujar Greenindia tegas. "Aku tidak akan kembali selama Ibumu masih berpikir aku adalah pembunuh Ayah. Kau tidak mengerti, Chester. Aku hanya ingin hidup tanpanya. Itu saja."

​Greenindia berbalik dan menyalakan motornya dengan kasar. Ia tidak ingin melihat wajah sedih kakaknya yang membuat rasa bersalah baru menghantam dadanya.

​Motornya menderu kencang, meninggalkan Chester yang hanya bisa berdiri membeku di parkiran, menyalahkan dirinya sendiri.

​Di sudut gelap parkiran, sebuah mobil mewah hitam terparkir. Antonio duduk di kursi pengemudi, sementara Rex Carson mengawasinya dari kursi belakang. Rex, yang meminta Antonio membawanya ke suatu tempat untuk 'menghirup udara segar' setelah Antonio kembali dari rumah sakit, tidak sengaja menyaksikan seluruh adegan itu.

​Rex melihat wajah memerah Greenindia, mendengar teriakan histerisnya, dan melihat kerentanan Chester yang seorang aktor terkenal.

​"Menarik," gumam Rex, matanya berkilat penuh makna.

​Antonio menoleh ke belakang, raut wajahnya bingung. "Tuan Carson?"

​"Peringatan kematian ayah, tuduhan pembunuhan, dan kakak beradik yang terasing. Dan Nyonya Anderson… Anderson?" Rex bersandar di kursinya, seringai tipis muncul di wajahnya.

​"Antonio, lupakan tentang mencari tahu siapa Greenindia, kau tidak akan mendapatkan apa-apa. Gali lebih dalam tentang keluarga Anderson. Cari tahu semuanya. Hubungan mereka dengan tebing, kematian itu, dan terutama, siapa Nyonya Anderson itu."

​"A-Anderson?" Antonio tampak terkejut. "Tuan, apakah Anda yakin?"

Antonio tahun siapa yang dimaksud. Nyonya Anderson. Meski Rex bukan pebisnis kecil tapi dia juga bukan orang yang mampu menyinggung keluarga Anderson.

​"Aku tidak pernah membuat keputusan yang setengah-setengah, Antonio," Rex menegaskan. "Cari tahu, segera."

 

1
hasatsk
ada ya, seorang ibu kandung seperti itu kepada anaknya😭
Fera Susanti
othor..up lagi
momski
keren thor....makasih udah crazy up 🙏😍
Fera Susanti
kpn green ketemu ibunya??..
Fera Susanti
iya Thor..crazy up nya d tunggu
momski
crazy up thor jgn digantung pas lg seru 😄
Kunay: siap. ditunggu. direview satu-satu
total 1 replies
Fera Susanti
oke othor aku tunggu mereka saling jatuh cinta 🤭..
semangat up
momski
gpp thor tp syukur2 crazy up 😍
hasatsk
perjalanan Rex untuk mendapatkan greenidia tidak mudah,harus menembus benteng pertahanan Chester....
Fera Susanti
aku juga memantau mu thor🤭😬
hasatsk
tantangan Rex meluluhkan hati Chester untuk bisa menemukan greenidia...
Fera Susanti
makin seru..
Fera Susanti
serruuuu... lanjut
momski
keren.... 👏👏👏👏
Fera Susanti
Aya dong Chester,.cepat ikut mencari green..dia lagi terpuruk..jgn sampe Rex yg menemukan green lebih dulu..mau nya keluarga nya yg lebih dulu menemukan green
Fera Susanti
apa maksud dari mewujudkan permainan dengan tuan Anderson untuk terakhir kali nya??...
Kunay: tipo kk. maksudnya, permintaan. sudah diperbaiki tapi masih review. terima kasih sudah diingatkan🤭😍
total 1 replies
Fera Susanti
dih nenek2 nech cari masalah
momski
go... go.... go..... up thor
hasatsk
Lauren,bisa memanfaatkan neneknya Rex untuk menghancurkan pernikahan Rex dan greenidia..nenek Lauren menginginkan cucunya menikah dengan orang yang statusnya setara 🤣🤣
Fera Susanti
aku mh selalu menantikan up selanjutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!