Siapa sangka, menabrak mobil mewah bisa berujung pada pernikahan?
Zuzu, gadis lugu dengan serangkaian kartu identitas lengkap, terpaksa masuk ke dalam sandiwara gila Sean, cassanova yang ingin lolos dari desakan orangtuanya. Awalnya, itu hanya drama. Tapi dengan tingkah lucu Zuzu yang polos dan penuh semangat, orangtua Sean justru jatuh hati dan memutuskan untuk menikahkan mereka malam itu juga.
Apakah pernikahan itu hanya permainan? Atau, sebuah takdir yang telah ditulis untuk mereka?
Mampukan Zuzu beradaptasi dengan kehidupan Sean yang dikelilingi banyak wanita?
Yuk, ikuti kisah mereka dengan hal-hal random yang dilakukan Zuzu!
Happy Reading ☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keributan
Sean berdiri tegak dan berjalan dengan gagah menghampiri ketiga orang dewasa yang tengah berbincang ringan. Ekspresi pria itu datar, namun rahangnya terlihat mengeras.
"Zu, kamu kenal pria tampan itu?" bisik Indah sambil menyenggol lengan Zuzu.
Zuzu tak menjawab, netra terkunci pada wajah tampan namun mengerikan suaminya. Tubuh sedikit terdorong saat Sean berdiri di hadapannya.
Kedua pria kini saling berhadapan. Sean dengan ekspresinya yang datar, sementara Aiden, tatapan pria itu tajam, menusuk.
"Zuzu sudah memiliki suami, Tuan Aiden. Untuk seorang pria terhormat, tidak pantas Anda mendekati istri orang lain," tutur Sean, dingin, mengandung ejekan. Dia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Pandangan pria itu lurus tanpa melihat langsung wajah lawannya.
Aiden memiringkan kepala sambil tersenyum sinis, raut wajahnya perlahan tenang. "Kamu hanya menjadikan Zuzu alat untuk menutupi kelakuan bejad mu, 'kan?" balas Aiden, pertanyaannya mengandung sebuah cibiran.
Mendapatkan tuduhan telak itu, Sean spontan terpancing emosi. Tanpa banyak bicara ia mencengkram kerah baju Aiden. Buku-buku jarinya memutih, menahan emosi.
"Jangan asal bicara Anda! Anda tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa!" ucap Sean, geram.
Zuzu dan Indah saling berpelukan, kedua pasang mata membelalak lebar melihat pertikaian yang kian memanas itu. Namun, mereka memutuskan untuk tidak ikut campur, dan hanya diam menjadi penonton dengan perasaan gelisah.
Aiden menepis tangan Sean dengan gerakan cepat, lalu berucap, nada suaranya dingin, "Saya cukup tahu pria seperti apa Anda..." Ia menunjuk-nunjuk dada Sean sambil tersenyum sinis.
Ia kemudian melanjutkan dengan suara yang tegas, sambil menunjuk ke arah Zuzu yang terkejut, "Zuzu, dia wanita baik-baik. Dia tidak pantas menjadi istri Anda! Dia tidak pantas dipermainkan!”
Kepalan tangan Sean melesat cepat dan mendarat di rahang Aiden. Indah menjerit panik, sementara Zuzu merasakan seluruh tubuhnya menegang.
"Sean, cukup. Jangan pukul lagi. Dia bosku." Zuzu segera mendekat, dan menyentuh tangan suaminya, berusaha menenangkan.
"Dia bukan bosmu lagi, karena mulai hari ini, kamu gak boleh kerja di sini lagi. Ayo, pulang!" Sean menarik tangan istrinya, diseret keluar dari kafe tersebut.
"Tuan tidak papa?" tanya Indah pada Aiden.
Aiden menggeleng sambil menyentuh pipi yang terasa panas. Dia memperhatikan kepergian wanita yang dia kagumi hingga benar-benar hilang dari pandangan.
'Aku harus cari tahu dengan siapa Zuzu menikah. Pria itu sepertinya bukan pria yang baik,' batin Aiden, dia mengepalkan tangan, merasa tak berdaya untuk membantu Zuzu.
Dia dan Zuzu bukan sekedar bos dan bawahan. Sebelum wanita itu kerja di kafe miliknya, mereka sudah berteman baik.
Sikap dan perilaku Zuzu yang polos membuat Aiden tertarik, namun tak berani mengungkapkan ketertarikannya. Sehingga dia membuat sebuah rencana supaya bisa lebih dekat dengan wanita itu, yaitu dengan mempekerjakan Zuzu di kafe miliknya.
Di dalam mobil, Sean menyetir dengan ekspresi yang tegang dan terlihat marah. Sesekali pria org memukul kemudi, melampiaskan amarahnya.
Sementara Zuzu, di sampingnya nampak sedikit ketakutan, meskipun dia berusaha menyembunyikannya. Ia menunduk dan menahan napas, saat merasakan suasana di dalam kabin mobil itu terasa mencekam.
'Kenapa dia harus semarah itu? Apa dia cemburu? Tapi, kenapa? Kita menikah bukan karena saling cinta, tapi terpaksa,' gumam Zuzu dalam hati. Sesekali dia melirik ke arah suaminya dengan ekspresi gugup.
"Kamu gak mau minta maaf setelah buat suami kamu marah?" tanya Sean terpaksa membuka pembicaraan lebih dulu, dia merasa tak terima diabaikan.
"Salahku di mana?" tanya Zuzu sambil menolehkan wajah. "Kenapa kamu harus datang dan membuat keributan di tempat kerjaku? Aku malu, Sean," balas Zuzu, lalu kembali memalingkan wajah pada jalanan di depan.
Sean menghentikan laju mobilnya secara mendadak, membuat tubuh Zuzu sedikit terhuyung ke depan dan kepalanya membentur dashboard mobil. Ia menatap tajam istrinya sesaat, dan kembali memandang ke jalanan.
Zuzu mengusap kening sambil menegakkan tubuh. "Kenapa berhenti mendadak? Apa kamu menabrak sesuatu?" tanya Zuzu, dia berusaha melihat ke depan dengan ekspresi lugu yang dibalut kesakitan, namun dia tak menemukan apapun.
Sean mencengkram kemudi dengan erat, hingga buku-buku jarinya memutih. Dia kemudian menoleh ke arah istrinya, rahang mengeras.
"Kamu salah, Zu! Kamu yang salah!" kata Sean tegas, sambil mendorong jidat istrinya cukup kuat hingga belakang kepala Zuzu, meninggalkan jejak kemerahan di kening istrinya.
Kepala Zuzu membentur kaca mobil, menimbulkan bunyi yang keras. Wanita itu berteriak kencang, lalu mencubit tangan suaminya sebagai perlawanan. "Itu sakit, Sean!" keluh Zuzu.
"Aku lebih sakit!" bentak Sean, dada kembang kempis, suara nafasnya berat.
Zuzu memposisikan tubuhnya menghadap ke depan, sambil mengusap-usap kening yang terasa nyeri. "Kenapa? Kamu gak terluka, Sean." Ia bertanya dengan datar. Namun, nafasnya tercekat, air mata mulai menggenang di pelupuk mata. Ia tidak benar-benar setenang itu.
"Karena kamu berpenampilan seperti ini untuk menarik perhatian pria lain!" tegas Sean, ada keputusasaan dalam suaranya. Ia marah karena tidak bisa mengendalikan istrinya.
"Aku gak begitu. Aku merubah penampilanku, karena aku ingin membuktikan jika aku bisa cantik. Biar kamu juga gak malu menjadikan aku sekretaris di perusahaan kamu," jawab Zuzu apa adanya.
"Astaga, kamu masih saja membahas hal itu!" ujar Sean, menolehkan wajah sambil menggelengkan kepala tak habis pikir.
Zuzu mengedikkan bahu. "Memang apa salahnya? Mama saja setuju kok aku jadi sekretaris kamu di kantor. Dia bilang, aku bisa mengurus keperluan kamu. Itu bukan hal sulit!"
Sean mengusap wajah kasar. Biasanya dia akan malas berdebat dengan seseorang apalagi perempuan. Namun, Zuzu bukan perempuan asing, wanita itu istrinya. Di belakang dia ada sosok sang ibu yang tidak pernah bisa dia kuasai.
"Mana kacamata kamu?" tanya Sean, kali ini nada suaranya perlahan tenang. Dia mulai melajukan mobilnya lagi.
"Aku gak tau,” jawab Zuzu berusaha bersikap tenang sambil mengusap sudut mata yang berair.
"Mama yang simpan. Mama hanya memintaku untuk menggunakan ini..." Ia kemudian mendekatkan wajah dan menunjuk pada bola mata yang berwarna lebih kecoklatan.
Sean, tanpa menolehkan wajah berdehem pelan, tanda mengerti.
"Baju dan semua yang aku pakai, Mama yang siapkan untukku. Padahal aku sudah menolak, semua ini terlihat berlebihan," lanjut Zuzu kembali duduk bersandar di kursi. Ia lalu mengangkat sedikit dress-nya ke atas.
Kali ini, Sean tidak bisa tidak menoleh. Pria itu mengulurkan tangan untuk menyentuh paha mulus sang istri, namun tangannya ditepis dengan cepat oleh Zuzu.
"Dan dress ini sebenarnya... aku merasa gak nyaman karena terlalu pendek dan ketat. Tapi, karena Mama bilang aku cantik memakainya, jadi aku lebih percaya diri." Zuzu bercerita panjang lebar sambil sesekali tersenyum lebar mengingat perhatian ibu mertuanya.
"Sean, ayo kita ke kantor kamu. Kamu gak izinkan aku kerja lagi di kafe 'kan? Berarti kamu menerima permintaan aku jadi sekretaris kamu di kantor." Zuzu meletakan dagu di bahu suaminya. Matanya mengerjap, penuh harapan.
Sean melirik ekspresi memohon istrinya dengan ekor mata, lalu cepat-cepat melihat ke depan. Ia terdiam sesaat, berpikir keras, dan dengan berat hati akhirnya dia berkata, "Baiklah. Tapi jangan sampai semua orang di kantor tahu kamu istriku."
Bersambung...