NovelToon NovelToon
Akhir Cinta Dari Formosa

Akhir Cinta Dari Formosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / Pembantu
Popularitas:755
Nilai: 5
Nama Author: IbuAnna30

" Hidup memang harus berani, berani pergi dari sesuatu yang tak pantas untuk di tinggali.
kisah Ana wanita paruh baya yang terpaksa menjadi tenaga kerja wanita(TKW) demi masa depan Anak-anaknya dan juga perjuangannya terlepas dari suami patriaki.
Ana yang selalu gagal dalam rumah tangga merasa dirinya tak layak di cintai sampai dia bertemu dengan laki-laki bernama Huang Lhi yang juga majikan tempatnya bekerja. Namun kisah cinta Ana dan Lhi tak semulus drama perbedaan kasta menjadi penghalang utama. bagaimana kisah mereka? Bisakah Ana mendapatkan cinta sejati? Kemana Akhir akan membawa kisah mereka?

Malam berakhir dengan gemerlap bintang-bintang dan bunga-bunga yang bermekaran mengantarkan pada mimpi yang menjanjikan sebuah harapan. Malam ini Ana lupa akan traumanya bunga di hatinya memaksa bersemi mesti tak pasti akankah tumbuh atau kembali layu dan mati.

ikuti terus kisah Ana dan jangan lupa dukungannya ....
terimakasih .. Update setiap hari, No libur kecuali mati lampu!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IbuAnna30, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Obrolan Penentu

"Nduk, apa kamu habis ribut sama Roy ?''

Ana membaca pesan dari mbak Asih dengan nafas berat, membayang kan apa lagi masalah yang di perbuat suami nya. Ana mengetik balasan dengan sedikit ragu

''Iya, mbk. seminggu yang lalu.'' ucap balasan Ana.

Hampir 10 menit Ana menunggu balasan dari mbak Asih namun layar ponsel nya tak jua menunjukkan balasan pesan baru. Hanya pesan-pesan dari Roy yang dia biarkan menumpuk di notifikasinya.

Ana pun beranjak untuk membersihkan diri karena di rasa badan nya sedikit lengket, setelah jalan-jalan tadi. cepat Ana menyelesaikan mandinya, karena niatnya bukan mandi hanya menyiram badan saja lalu berganti pakaian .

Ana kembali memeriksa ponsel nya mana tahu ada balasan dari mbak Asih, dan benar saja, layar ponsel nya menunjukkan notifikasi 2 panggilan tak terjawab, dari mbak Asih.

ia pun segera keluar dari kamar dan menelfon ulang. Lama panggilan itu tak terhubung, sampai ia mengulangi untuk ke dua kali nya barulah suara Mbak Asih terdengar di sebrang sana.

''Hallo, Nduk lagi sibuk nggak ?'' tanya mbak Asih, begitu sambungan telfon terhubung.

''Nggak, mbak aku baru selesai mandi.' jawab Ana.

"Mbak Asih mau ngajak ngobrol bisa?'' Tanya mbak Asih kembali, Ana mengangguk yang jelas Tidak dapat terlihat oleh mbak Asih, sebelum kemudian berdeham pelan.

"Ehm."

"Kemarin Roy dateng ke rumah mau bawa Aidar pergi,"suara mbak Asih terdengar

Bergetar di sekitar sana .

''Deg.

Jantung Ana berhenti berdetak sebelum mbak Asih kembali melanjutkan ucapan nya.

"Untung nya mas mu bisa ngajak ngomong baik-baik si Roy, jadi Aidar nggak jadi di bawa pergi,'' Lanjut mbak Asih.

''Serrr. Jantung Ana dialiri kelegaan seketika.

"Memang kamu ribut kenapa to nduk, kata Roy kamu diam kan dia?, Tanya mbak Asih .

Ana menghela nafas berat sebelum menjawab pertanyaan sang kakak, "aku nggak mendiamkan mbak, cuma ngasih pelajaran aja biar dia sedikit berfikir, nggak seenak- nya terus kalau bicara." jelas Ana sembari beranjak berniat mengambil headsetnya.

Karena kalo sudah mengobrol dengan mbak Asih bisa memakan waktu hampir 2 jam bahkan lebih, kalau tidak pakai headset bisa pegal tangan, telinga pun panas lama- kelamaan .

Mbak Asih mengerti maksut Ana, karena memang Roy tidak pernah di pikir kalo bicara, dia sendiri Saja pernah sakit hati karena ucapan Roy. "Memang dia ngomong apa nduk?" Tanya mbak Asih kemudian .

"Sebentar mbak aku pasang headset dulu.'' Jawab Ana samar , karena di tinggalkan nya ponsel miliknya dimeja depan, sedang dia mencari headset yang lupa ia letak kan di mana. Untungnya dia cepat menemukan headset yang bersembunyi di bawah bantal, dengan cepat dia menyambungkan kabelnya kemudian melanjutkan obrolan ny dengan mbak Asih. "Hallo mbak,'' ulangnya karena terdengar sunyi disebrang sana.

Layar ponsel masih menunjukan telefon yang tersambung, Ana pun kembali mengulangi sapaan nya "Hallo mbak?"

Terdengar langkah yang tergopoh di sebrang, sebelum suara mbak Asih kembali dominan. "Iya An, mbak habis pipis tadi, gimana ?" Sahut mbak Asih. Kembali melanjutkan obrolan yang sempat tertunda.

"Yang masalah sama mas Roy mbak?, ucap Ana yang di respon deheman mbak Asih dari sebrang. "Aku capek, mbak. Mas Roy tiap telepon yang di bahas selalu uang dan uang, sedang aku di sini aja masih potongan belum lagi tuduhan-tuduhan dia di sangka aku neko-neko di sini padahal keluar rumah aja aku nggak pernah." Jelas Ana.

Mbak asih menghela nafas berat, dia bisa merasakan betapa beratnya posisi Ana.

"Memang Mas Roy ngomong apa mbak kok sampai mau bawa Aidar pergi?" Tanya Ana kemudian.

"Dia bilang kamu mendiamkan dia cuma gara-gara dia minta bantuan ongkos buat kerja ke Jakarta, kata nya kamu malah marah-marah." Jelas mbak Asih.

Ana tersenyum masam, suami nya masih saja pintar membolak- balikkan fakta.

''Terus mbak!" Sela Ana .

"Yaa sama mas mu di nasehatin panjang lebar, habis itu dijanjikan mau di bantu ngomong ke kamu, biar mau bantu dia," lanjut mbak Asih.

Ana menghela nafas malas, ''terus mbak Asih percaya sama omongan dia?" Tanya Ana .

"Ya nggak nduk, mbak juga tau seperti apa suami mu itu. Tapi Mas mu maksa mbak buat ngomong ke kamu, nih kamu ngomong, tanya sendiri sama mas Dwi apa maksut nya." Lanjut mbak Asih, seteleh nya terdengar suara sang kakak ipar di balik sambungan.

"Hallo An." Suara mas Dwi yang penuh wibawa menyapa telingan Ana. "Ini An Roy kemarin .....' Mas Dwi pun menceritakan obrolan nya kemarin dengan Roy tanpa ada yang di tutupi sedikit pun. Berakhir dengan nasehat untuk Ana dan kembali dalih keselamatan Aidar yang jadi senjata nya.

"Jadi An, kalo menurut ku kasih kesempatan sekali lagi. Namanya orang kita nggak tau kapan khilafnya kapan berubahnya," jelas Mas Dwi. "Dan lagi An, aku nggak sanggup kalau Aidar harus jadi rebutan. Apalagi kalau sampai Aidar di bawa dia, Demi Allah An, mas Dwi nggak bisa. Jadi tolong kamu ngalah, kasih kesempatan satu kali lagi kalau memang Roy masih nggak berubah terserah kamu keputusan ada di kamu." Pungkas mas Dwi.

Ana menghela nafas berat, fokus nya terbagi 2 antara mendengarkan mas Dwi berbicara dan membaca tumpukan pesan dari Roy. "Dia minta 10juta." Celetuk Ana kemudian.

"Siapa ?" Sahut mas Dwi dan mbak Asih hampir bersamaan .

" Mas Roy, ini aku baru buka pesan dari dia. Kata nya minta bantuan 10 juta buat cari

Kontrakan, sama uang pegangan dia selama nyari kerjaan di Jakarta.'' Jelas Ana lemas.

Suara mbak Asih yang penuh emosi seketika mendominasi, entah di tujukan untuk Ana atau suaminya. "Itu kan. Anak itu nggak bisa di kasih jantung, pasti ngrogoh yang lain-lain nya. Udah lah nggak usah di kasih-kasih kesempatan. Biar aja mau hidup mau nggak, kalau mau ambil Aidar ya biar di ambil kalau dia sanggup mencukupi kebutuhan nya.'' Ucap mbak Asih sedikit gemetar saat menyebut nama Aidar.

Terang saja mbak Asih berat jika menyangkut Aidar. Sedari baru lahir Aidar memang sering bersama mbak Asih. Mbak Asih sendiri hanya punya 1 orang anak perempuan, Amabel yang usia nya lebih tua 3 tahun dari Danu. Jadi wajar saja dia selalu menganggap anak-anak Ana seperti anaknya sendiri, terlebih Aidar.

Mbak Asih juga yang paling semangat ingin mengurus Aidar saat Ana pertama kali menyampaikan niatnya untuk pergi bekerja ke luar negeri.

Terdengar suara taringan nafas dari mas Dwi, entah karena kabar yang di bawa Ana, atau tentang nominal yang diminta Roy, atau karena mbak Asih yang masih belum selesai mengomel.

Sedang Ana masih shok dengan pesan dari Roy itu, termasuk beberapa pesan ancaman akan Membawa pergi Aidar seperti yang Roy coba lakukan pagi tadi.

''Ya sudah lah mbak, besok kita ngobrol lagi, aku pikirkan dulu masalah ini. tapi kalau dia minta 10 juta ya aku jelas keberatan.'' ucap Ana.

''Mbak Asih juga nggak setuju nduk kalau kamu kasih dia duit segitu, di pikir duit 10 juta itu sedikit tapi kalau mas mu itu mau kasih yaa biarin, kan dia yang ngasih ide.'' sindir mbak Asih pada suaminya yang terdengar beberapa kali menghela nafas

''Aku itu nggak ngasih ide dik, cuma kan namanya orang apa salahnya kita kasih kesempatan ...."

''Liat-liat orangnya mas!' Kalau modelan kaya Roy itu mau di kasih kesempatan 1000x juga nggak akan ada berubahnya.'' sinis mbak Asih.

Ana tersenyum masam, mbak Asih ada benar nya tapi mas Dwi juga tidak salah.

''Sudah-sudah, kok malah jadi mbak Asih sama mas Dwi yang berantem.'' sergah Ana saat didengar nya dua kakaknya itu berdebat.

''Yaa mas mu itu lo nduk ....'

''Sudah mbak biar aku pikirin dulu gimana baik nya, nanti kalau aku sudah mantep sama keputusan ku, aku kabarin mbak .'' tandas Ana memutus perdebatan kedua kakak nya.

Mas dwi kembali mengambil alih pembicaraan, '' ya udah An, kamu pikirin aja dulu, semua keputusan ada di kamu.''

''Iya mas.'' jawab Ana. ''Ya sudah sekarang aku mau istirahat dulu.''

''Di pikirin bener-bener nduk, jangan sampe rugi lagi. inget kamu udah rugi motor 1 jangan sampe rugi lebih banyak .'' celetuk mbak Asih.

''iya mbak, ya sudah Ana tutup yaa telfon nya." pungkas Ana.

panggilan pun berakhir.

Ana menghela nafas berat saat kembali membaca tumpukan pesan dari Roy, sama sekali tidak ada pesan berisi suport atau kata manis, semua berisi permohonan yang tak lebih seperti tuntutan. Ana enggan membalas 1 pesan pun, sebelum satu pesan kembali masuk .

"Mau sampai kamu mendiamkan aku, apa perlu aku bawa pergi Aidar benar biar kamu mau bicara sama aku!" Roy.

_____Bersambung.

Kira-kira ibu Ana akan goyah atau tetap pada pendirian nya pemirsa ......

tunggu episode berikut nyaa yaa......

see you,

_IbuAnna.

1
Kim shin
gemesh
Kim shin
apakah bab ini di beri bawang 10 kilo 😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!