Tatapannya hangat dan lembut, ku fikir dia mencintaiku, nyatanya tidak, ada wanita lain dihati suamiku, wanita yang merupakan cinta pertamanya, wanita yang dia kagumi sejak remaja yang tidak bisa dia miliki.
Entahlah aku ini dianggap apa, mungkin dijadikan sebagai pelampiasan rasa sakit hatinya, atau untuk memberitahu wanita itu kalau dia juga bisa menikah dan melanjutkan hidup meskipun bukan dengan wanita itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aenyn unyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAMU HAMIL
Tari bangkit dari posisi duduknya saat Budi keluar dari kamar, laki-laki itu sudah berganti pakaian.
"Mas." panggil Tari pelan, Tari mengelap sisa air matanya yang belum mengering sepenuhnya.
Budi menatap Tari datar tanpa peduli Tari menangis karna tuduhannya, dia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar tanpa mengatakan apa-apa.
Tari reflek mengikuti Budi, dia tampak panik, "Mas, mas mau kemana." tanya Tari.
"Bukan urusanmu."
Meskipun nada suara Budi tidak bersahabat, Tari kembali berusaha menjelaskan, "Mas, aku mohon, jangan salah paham, Tari tidak pernah mengatakan hal yang macam-macam sama mbak Biah dan umi, kami bertemu tidak sengaja di supermarket saat Tari belanja."
Budi berhenti dan berbalik menghadap Tari, Tari otomatis menghentikan langkahnya juga, kini pasangan pasutri itu saling berhadapan satu sama lain, Tari menunduk, tidak sanggup rasanya dia menatap sorot tajam dari mata suaminya itu, sorot yang penuh akan tuduhan terhadap dirinya.
"Aku tidak pernah menyangka, ternyata aku menikahi seorang wanita bermulut besar sepertimu Tari, abi benar-benar salah memilih kamu sebagai istriku."
Mendengar ucapan menyakitkan itu, Tari reflek mendongak, dimatanya membentuk bendungan, "Mas, apa yang kamu katakan, aku benar-benar..." Tari sampai tidak bisa melanjutkan ucapannya, dengan suara pelan kembali berkata, "Kenapa mas tega mengatakan hal itu."
"Sudah cukup dek, jangan gunakan air mata palsumu itu untuk mengelabuiku, aku tidak akan pernah percaya lagi sama kamu." setelah mengatakan hal tersebut, sama seperti sebelum-sebelumnya, laki-laki itu berlalu begitu saja tanpa memikirkan perasaan Tari.
Air mata Tari kembali tumpah ruah, hari ini bisa dikatakan sebagai hari yang benar-benar membuat dadanya sesak, Tari meletakkan telapak tangannya didada, berharap rasa sesak itu sedikit berkurang, sayangnya, hal itu tidak merubah apapun.
"Kenapa kamu tega giniin aku mas, kenapa rasanya bisa sesakit ini."
Tari tidak pernah pacaran sebelumnya karna dia tidak ingin melanggar larangan Tuhan, sehingga tidak heran sebelumnya Tari tidak pernah yang namanya merasakan sakit hati karna ulah laki-laki, dan setelah menikah, rasa sakit itu ternyata datang bertubi-tubi, Tari tidak pernah menyangka kalau cinta selain indah juga harus merasakan yang namanya sakit.
*******
Tari mengurung diri dikamar dan menangis seharian, dia tidak pernah berharap Budi menghubunginya atau pulang untuk meminta maaf, toh sebelumnya laki-laki itu juga tidak pernah melakukannnya.
Saat Tari tengah meresapi rasa sedihnya, dia mendengar suara pintu diketuk, Tari langsung bangkit karna berfikir kalau itu adalah suaminya, walaupun dalam hal ini Tari merasa dia tidak pernah bersalah, tapi dia bertekad untuk memperbaiki kehidupan rumah tangganya dan meminta maaf, dia ingin rumah tangganya harmonis seperti awal-awal pernikahan.
Setelah membersihkan sisa air matanya, Tari berjalan keluar kamar menuju pintu utama untuk membuka pintu.
Saat tangannya sudah berada pada kenop, Tari mencoba meyakinkan dirinya sekali lagi, "Oke Tari, kamu harus meminta maaf dan menjelaskan semuanya sama mas Budi." barulah kemudian Tari menarik gagang pintu, meskipun hatinya saat ini tengah kalut, tapi dia berusaha untuk memaksakan senyum.
Sayangnya, ternyata yang datang bukanlah orang yang dia harapkan, akan tetapi itu adalah sahabatnya Marni, ada sedikit kekecewaan, bukannya dia tidak senang sieh Marni berkunjung, tapikan yang dia harapkan saat ini adalah Budi.
"Mar."
Sahabatnya itu tersenyum lebar, dibelakangnya berdiri Fahri suaminya, tersenyum tipis dan mengangguk pada Tari, Tari membalas dengan anggukan.
"Tariii, aku bawain kue bikinan aku lho." Marni dengan antusiasnya menunjukkan taperware yang ada ditangannya pada Tari.
"Ehh, kok kamu repot-repot segala sieh Mar, padahal udah mau magrib lho ini." rumah mereka tidak terlalu jauh sieh, tapi fikir Tari, gak seharusnya sahabatnya itu datang sesenja ini, kuenyakan bisa dikasih besok.
"Tentu saja gak repot donk buat sahabat aku tercinta."
"Iya, Marni maksa untuk datang membawa kue untuk kamu."
"Ya ampun."
"Ya udah yuk masuk dulu deh." sebisa mungkin Tari seceria mungkin supaya Marni yang terlihat happy dengan membawa kue buatannya tidak ikut ambil bagian dengan kesedihannya.
"Gak usah Tari, aku dan mas Fahri hanya datang untuk bawain kue untuk kamu saja."
"Ihh kamu itu ya, kan bisa dikasih besok gitu kuenya, ngerepotin mas Fahri saja."
Fahri menjawab, "Saya seneng kok direpotin dek Marni."
Wajah Marni jadi blushing mendengar ucapan suaminya.
"Beruntung Marni mendapatkan suami yang begitu menyayanginya." jujur, sebagai seorang wanita biasa, tentu saja ada sedikit iri dengan keberuntungan sang sahabat yang begitu diratukan oleh suaminya sendiri, sedangkan dirinya, hanya kesalahpahaman doank suaminya pergi begitu saja tanpa mau mendengarkan penjelasannya.
"Mas Fahri nieh bisa aja, membuat aku jadi malu saja."
Disisi lain, tentu saja Tari juga ikut bahagia karna Marni mendapatkan pasangan yang tepat, "Semoga Marni dan mas Fahri bisa bahagia selamanya." doanya dalam hati dengan begitu tulus.
"Oh ya Tari, ini kuenya." Marni menyerahkan taperware berisi kue coklat itu kepada Tari, "Jangan lupa kasih reviewnya."
"Siap boss."
"Ohh ya, salamin buat suami kamu ya."
"Iya." jawab Tari pelan, entahlah, mungkin suaminya itu pulang atau enggak malam ini.
Kemudian Marni dan suaminya memutuskan untuk pulang, dan sekali lagi sebelum benar-benar pergi Marni mengingatkan supaya Tari tidak lupa untuk memberikan review untuk kue buatannya, Tari hanya mengacungkan jempol yang mengartikan kalau sahabatnya itu tidak perlu khawatir.
******
Tari : Mas, kamu dimana
Tari : Mas, udah jam 10.00, kenapa belum pulang,
Tari : Mas, khawatir
Tari : Mas, balas pliss
Entah berapa banyak chat yang dikirim oleh Tari kepada Budi, belum lagi panggilan, sayangnya, semua hal tersebut sama sekali tidak digubris oleh Budi, itu semakin membuat Tari semakin sedih.
Tari ingin menghubungi kedua orang tua Budi untuk menanyakan keberadaan laki-laki itu, tapi Tari mengurungkan niatnya mengingat Budi salah paham gara-gara dia bertemu dengan umi Warsih dan mbak Biah, Tari tidak ingin Budi akan bertambah salah paham lagi kalau dia menghubungi keluarganya.
"Mas Budi itu laki-laki dewasa, dia pasti bisa menjaga dirinya, dia pasti akan baik-baik saja." Tari mencoba meyakinkan dirinya, dia mencoba untuk memejamkan matanya, sayangnya matanya tidak bisa diajak untuk bekerjasama, namun pada akhirnya, saat jarum menunjukkan angka 02.34 barulah Tari terlelap.
*********
Hari ini Tari benar-benar tidak bersemangat, wajahnya terlihat kuyu, sahabatnya berulangkali bertanya tentang keadaan Tari, dan kalau Tari sakit biar dia mengantarkan Tari pulang saja dan beristirahat dirumah.
"Beneran Tari kamu baik-baik saja, kamu nampak tidak sehat lho, ayok aku anterin balik saja ya." ini sudah entah keberapakalinya Marni menanyakan hal yang sama, dan sekarang dia kembali menanyakan hal tersebut saat memasuki jam kuliah berikutnya, dan kebetulan dosen mereka belum masuk.
Tari menggeleng dan berkata, "Aku gak apa-apa Marni, sungguh aku baik-baik saja kok."
"Hmmm." gumam Marni, "Oh iya astaga, kenapa aku tidak kefikiran sieh dari tadi." Marni tiba-tiba saja heboh.
Tari menoleh ke arah sahabatnya, agak heran melihat kehebohan Marni.
"Kamu pasti hamilkan Tari." tebak Marni, wajah wanita itu terlihat antusias dan sangat yakin saat mengatakan hal tersebut.
Tari hanya bisa melongo, fikirnya, bisa-bisanya sahabatnya itu menyangka kalau dirinya saat ini tengah hamil.
"Hahhhh." hanya itu reaksi yang keluar dari bibirnya.
"Iya kamu pasti hamil Tari, ciri-ciri orang hamil tuh kayak kamu, kelihatan lemah, pucet gitu lho, pokoknya nanti balik kuliah aku temenin beli tespeck deh, atau bila perlu kita langsung check up ke dokter supaya lebih pasti." Marni antusias banget.
"Astaga, hamil darimananya coba, aku saja belum pernah di unboxing sama mas Budi." batin Tari sesak.
"Duhh gak perlu Marni, aku yakin aku gak hamil kok, aku baik-baik saja kok, memang agak sedikit lemes donk."
"Kamu pasti hamillah itu Tari." Marni ngotot, "Mbak aku aja yang hamil ciri-cirinya itu persis kayak kamu, intinya ntar seenggaknya cobain cek pakai tes peck ya."
"Hmmm, baiklah." jawab Tari pada akhirnya supaya cepat saja, pasalnya Marni pasti akan terus-terusan ngotot mengatakan kalau dia lagi hamil.
********
hati& pikiran mu ke orang Lain...
giliran sudah menikah dengan Fitri
hati mu ke Tari...
penyesalan selalu datang belakangan an
lanjut Thor ceritanya di tunggu updatenya