Nathan Hayes adalah bintang di dunia kuliner, seorang chef jenius, tampan, kaya, dan penuh pesona. Restorannya di New York selalu penuh, setiap hidangan yang ia ciptakan menjadi mahakarya, dan setiap wanita ingin berada di sisinya. Namun, hidupnya bukan hanya tentang dapur. Ia hidup untuk adrenalin, mengendarai motor di tepi bahaya, menantang batas yang tak berani disentuh orang lain.
Sampai suatu malam, satu lompatan berani mengubah segalanya.
Sebuah kecelakaan brutal menghancurkan dunianya dalam sekejap. Nathan terbangun di rumah sakit, tak lagi bisa berdiri, apalagi berlari mengejar mimpi-mimpinya. Amarah, kepahitan, dan keputusasaan menguasainya. Ia menolak dunia termasuk semua orang yang mencoba membantunya. Lalu datanglah Olivia Carter.
Seorang perawat yang jauh dari bayangan Nathan tentang "malaikat penyelamat." Olivia bukan wanita cantik yang akan jatuh cinta dengan mudah. Mampukah Olivia bertahan menghadapi perlakuan Nathan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Adra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MELEWATI BATAS KEPERCAYAAN
Charlotte membuka pintu kamar Nathan dengan hati-hati. Cahaya pagi yang lembut menyusup melalui celah tirai, menerangi ruangan yang masih dipenuhi ketenangan setelah malam yang berat. Di atas tempat tidurnya, Nathan masih terbaring, terlihat lebih tenang meski wajahnya masih sedikit pucat.
Charlotte melangkah mendekat, menatap putranya dengan penuh kasih sayang. “Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanyanya lembut.
Nathan menghela napas pelan. “Lebih baik.”
Charlotte duduk di sisi tempat tidur, merapikan selimutnya. “Aku senang mendengarnya.” Ia diam sejenak sebelum melanjutkan, “Nathan... bagaimana pendapatmu tentang Olivia?”
Nathan tidak langsung menjawab. Matanya menatap langit-langit, seolah mempertimbangkan jawabannya. Lalu, dengan suara rendah, ia berkata, “Dia aneh.”
Charlotte mengangkat alis. “Aneh?”
Nathan menoleh sedikit, menatap ibunya. “Dia tidak takut. Tidak menyerah. Seharusnya dia sudah pergi sejak kemarin.”
Charlotte tersenyum tipis. “Mungkin karena dia benar-benar peduli.”
Nathan mendengus pelan, tapi tidak ada sinisme seperti biasanya. “Atau dia hanya keras kepala.”
Charlotte menghela napas lega. Setidaknya, kali ini Nathan tidak menolaknya mentah-mentah. Mungkin, perlahan, tembok yang ia bangun selama ini mulai retak.
Nathan diam cukup lama setelah mengatakan Olivia keras kepala. Tatapannya kembali ke langit-langit, namun pikirannya berputar pada gadis itu.
Tangan yang melepuh karena air panas. Tubuhnya yang terhantam keras ke lantai. Lehernya yang sempat dicekik olehnya sendiri. Tapi Olivia tetap ada di sini. Tetap bertahan. Tetap menatapnya dengan mata yang tidak dipenuhi ketakutan, melainkan penuh tekad dan entah bagaimana rasa peduli yang tulus.
Ada perasaan aneh menyelusup ke dalam hatinya. Ia sudah terlalu sering melihat orang menyerah padanya. Tapi tidak dengan Olivia.
Charlotte menepuk tangannya, menyadarkan Nathan dari lamunannya. “Kalau begitu, kau tidak keberatan jika dia tetap menjadi perawatmu?” tanyanya hati-hati.
Nathan pura-pura mendesah panjang, berusaha tetap terlihat cuek. “Terserah,” katanya dengan nada datar. “Selama dia tahu batasannya.”
Charlotte tersenyum kecil, sudah sangat mengenal sikap putranya yang pura-pura acuh. “Baiklah. Aku akan memberitahunya.”
Saat Charlotte beranjak pergi, Nathan menutup matanya dan menarik napas dalam. Dalam hati, ia tahu perlahan, ia mulai menerima kehadiran Olivia di hidupnya. Tapi tentu saja, ia tidak akan menunjukkannya begitu mudah. Biar saja gadis itu berpikir ia masih keras kepala. Toh, Olivia juga tidak akan menyerah semudah itu.
Tidak berapa lama, Olivia datang dengan nampan berisi semangkuk bubur hangat dan segelas minuman berwarna keemasan. Aroma rempahnya lembut, tidak menyengat, tapi cukup membuat udara di ruangan itu terasa lebih hangat.
“Apa itu?” Nathan melirik minuman di nampan dengan ekspresi penuh kecurigaan.
“Minuman tradisional. Bagus untuk meningkatkan metabolisme tubuhmu,” jawab Olivia santai, meletakkan nampan di meja samping ranjang.
Nathan mendecak. “Aku tidak minum hal-hal aneh.”
Olivia hanya tersenyum dan duduk di kursi dekat ranjang. “Tidak aneh. Ini campuran jahe, madu, dan lemon. Bagus untuk pemulihanmu.”
Nathan tetap menatapnya dengan pandangan skeptis, tapi akhirnya mengambil gelas itu juga. Ia menghirup aromanya sebelum meneguknya perlahan. Rasanya... tidak buruk. Bahkan cukup enak, sedikit pedas dari jahe tapi seimbang dengan manisnya madu. Tanpa sadar, ia meneguknya sampai habis.
Olivia menyilangkan tangan, menatapnya dengan senyum penuh kemenangan. “Aku pikir kau tidak suka.”
Nathan meletakkan gelas kosongnya di meja dan mengalihkan pandangan, pura-pura tidak peduli. “Bukan berarti aku menyukainya.”
Olivia terkekeh pelan, mengambil mangkuk bubur dan menyodorkannya. “Kalau begitu, habiskan juga ini. Setelah itu, kau bisa kembali bersikap menyebalkan.”
Nathan mendengus, tapi tidak menolak saat Olivia menyodorkan sendok pertama. Untuk pertama kalinya, ia merasa ada seseorang yang benar-benar peduli padanya, bukan karena kewajiban, tetapi karena ketulusan. Tapi, tentu saja, ia tidak akan mengakuinya begitu saja.
Nathan menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur, matanya masih terlihat sedikit sayu. Ia melirik bubur di tangan Olivia dan menghela napas panjang.
"Tanganku masih lemas. Suapi aku," katanya dengan nada datar.
Olivia mengangkat alisnya, sedikit terkejut, tapi ia tidak keberatan. "Baiklah," jawabnya sambil mengambil sendok, lalu meniup bubur hangat itu sebelum menyuapkannya ke mulut Nathan.
Saat bubur itu menyentuh lidahnya, Nathan otomatis mengunyah perlahan, mengernyit sedikit, lalu menelan.
"Bagaimana?" tanya Olivia penasaran. "Kau kan seorang chef, aku ingin tahu pendapatmu tentang bubur ini. Kalau ada yang kurang, aku ingin tahu koreksimu."
Nathan menatapnya dengan ekspresi tidak terbaca. Ia menelan suapan berikutnya sebelum membuka mulut. "Tekstur buburnya lumayan, cukup lembut. Tapi kau terlalu banyak menambahkan air, seharusnya bisa lebih kental agar rasanya lebih kaya. Lalu, ayamnya? Seharusnya tidak hanya direbus, bisa ditumis dulu dengan sedikit bawang putih agar lebih beraroma."
Olivia mendengarkan dengan penuh perhatian, matanya berbinar-binar. Ini pertama kalinya ia melihat Nathan berbicara panjang lebar tentang sesuatu yang benar-benar ia kuasai.
"Baik, aku akan coba memperbaikinya nanti," katanya penuh semangat. "Jadi, meskipun banyak kekurangan, tetap bisa dimakan, kan?"
Nathan meliriknya sekilas, lalu berdeham pelan. "Yah, lumayan."
Olivia tersenyum, lalu menyendokkan suapan berikutnya. "Kalau begitu, lumayan atau tidak, kau tetap harus menghabiskannya."
Nathan mendengus kecil, tapi kali ini ia tidak membantah. Ada sesuatu dalam interaksi ini yang terasa berbeda sesuatu yang membuatnya, untuk sesaat, melupakan kebenciannya pada dunia.
Olivia memperhatikan wajah Nathan yang tampak sedikit pucat, sementara baju serta tubuhnya basah oleh keringat. Pasti akibat demamnya yang mulai turun.
Ia menghela napas sebelum berkata dengan lembut, "Nathan, bajumu basah. Kau pasti merasa tidak nyaman. Aku perlu menggantinya dan mengelap tubuhmu agar kau merasa lebih baik."
Nathan menegang sejenak. Matanya menatap Olivia dengan ekspresi sulit ditebak, seolah mempertimbangkan sesuatu. Ia bukan tipe pria yang nyaman disentuh atau dirawat dengan cara seperti ini.
Olivia menunggu dengan sabar, tanpa paksaan. "Aku hanya ingin kau lebih nyaman. Jika kau tidak mau, aku tidak akan memaksamu," tambahnya.
Nathan mengalihkan pandangannya. Sejujurnya, ia memang merasa tidak betah dengan kondisi tubuhnya yang lembab dan gerah. Akhirnya, setelah beberapa detik hening, ia mengangguk pelan tanpa berkata apa-apa.
Olivia merendam handuk kecil ke dalam air hangat, lalu dengan gerakan lembut, ia mulai mengelap wajah Nathan. Matanya memperhatikan setiap garis wajah pria itu.
"Wajahnya begitu tampan," gumamnya dalam hati. Hidungnya yang tegap, mata tajam yang kini tampak sedikit lelah, serta rahangnya yang tegas. Ditambah janggut tipis yang mulai tumbuh, memberikan kesan maskulin yang begitu kuat.
Nathan membuka sedikit matanya, menatap Olivia yang tampak serius merawatnya. "Apa kau sedang mengagumiku?" tanyanya dengan suara serak, mencoba menyembunyikan rasa canggungnya.
Olivia tersentak, tapi segera menguasai dirinya. Ia tersenyum tipis dan menjawab santai, "Aku hanya memastikan pasienku bersih dan nyaman."
Nathan menyeringai samar, lalu memejamkan mata lagi, membiarkan Olivia melanjutkan tugasnya.
Olivia menarik napas dalam. Bagian atas sudah selesai, tapi kini tinggal bagian bawah sesuatu yang membuatnya sedikit ragu.
Ia menatap Nathan sekilas. Pria itu masih berbaring dengan mata tertutup, tampak lebih tenang dari sebelumnya. Namun, Olivia tahu betul bahwa Nathan bukan orang yang bisa diperlakukan sembarangan, apalagi dalam hal seperti ini.
Dengan suara pelan, ia berkata, "Nathan, aku perlu membersihkan bagian bawah juga. Kalau kau merasa tidak nyaman, aku bisa membantumu sebisanya atau memanggil seseorang."
Nathan membuka matanya perlahan, menatap Olivia dengan ekspresi sulit ditebak. Ia diam beberapa saat, lalu mendengus kecil. "Aku tidak punya pilihan, kan?" gumamnya, lalu membuang muka ke arah lain.
Olivia menunggu, memberi waktu bagi Nathan untuk benar-benar siap. Setelah beberapa detik hening, Nathan akhirnya berkata dengan nada rendah, "Lakukan saja. Tapi cepat."
Olivia mengangguk pelan, lalu mengambil handuk baru. Dengan tetap menjaga profesionalismenya, ia mulai bekerja sebaik mungkin, memastikan Nathan tetap merasa dihargai meski dalam kondisi rentan seperti ini.
Apakah Nathan akhirnya berani mengungkapkan perasaannya??