Demi membatalkan perjodohan yang dilakukan oleh papanya, Alea terpaksa harus meminjam uang kepada sang Bos, demi melunasi hutang-hutang keluarganya kepada kakek Will.
Bahkan, Alea juga sampai rela memotong urat malunya, demi meminta sang bos, untuk menjadi kekasih bohongannya.
Akan tetapi, takdir berkata lain, apa yang Alea rencanakan semuanya gagal. Dan malah berujung pada pernikahan serius dengan sang bos-nya.
Padahal, bos-nya adalah orang yang paling dihindari Alea sejak SMA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putus Saja!
"Papa!" pekik Alea, terkejut.
"Pagi Om," sapa Rey sambil tersenyum lebar dan sedikit membungkukkan badannya.
"Kamu ... bukannya pacarnya anak saya ya?" tanya Papa menatap sinis. Rey pun mengiyakan.
"Kamu tahu, semalam anak saya hampir dilecehkan penjahat cabul?" ujar Deri, seolah tak suka. Rey yang mendengarnya pun langsung membelalakkan kedua matanya.
Ia juga benar-benar terkejut. "Lea kau ...?" tatap Rey ke arah Alea.
"Papa... sudah jangan dibahas!" keluh Alea.
"Kamu ini bagaimana sih! ... Sebagai kekasih anak saya, seharusnya kamu bisa menjaganya. Sudahlah kalian putus saja!" seru Deri.
"Papa!"
"Maafkan saya Om, kemarin sore saya keluar kota, jadi tidak tahu kalau Alea pulang malam," ucap Rey, seolah-olah bersalah, padahal yang Alea tahu, ini hanyalah sandiwara saja.
"Pak Rey, maafkan Papa saya ya," bisik Alea, merasa tidak enak.
"Sudah! Kalian putus saja! Lagi pula saya sudah menjodohkan anak saya dengan lelaki lain," ujar Deri, yang masih berdiri menatap tajam ke arah Rey.
"Alea, apa benar kau akan menerima perjodohan itu?" tanya Rey begitu pelan, namun masih mampu terdengar oleh Alea. Alea hanya terdiam. Sambil menatap bingung ke arah Deri dan Rey secara bergantian.
"Alea, mari berakting lebih bagus lagi," bisik Rey, penuh maksud sambil menatap Alea.
Alea pun mengerti. "Pa! Aku tidak mau putus! Aku ingin menikah dengan pacarku!" ujar Alea begitu saja tanpa berpikir panjang. Menurutnya, jika ia bersikukuh berpura-pura mencintai Rey, pasti papanya tidak akan jadi menjodohkannya.
"Aih... kau ini!" Deri membuang wajahnya ke sembarang arah begitu kesal.
"Aku hanya ingin menikah dengan pacarku! Aku tidak ingin menikah dengan orang lain. Titik!" Alea semakin menegaskan ucapannya.
"Hey Lea, apa tidak berlebihan berkata seperti itu? Kalau sampai orang tua mu mengabulkan permintaanmu untuk menikah denganku bagaimana?" bisik Rey, yang entah kenapa di dalam hatinya ia seolah senang mendengar Alea ingin menikah dengannya.
"Eh iya ya, bisa repot juga urusannya," gumam Alea pelan.
"Ya ampun Alea! ... Kau ini, masih pagi begini sudah membuat keributan." Jeni yang baru saja keluar, ia langsung ikut memarahi Alea.
Akhirnya adu argumen di antara mereka berempat pun terjadi. Rey dan Alea, Deri dan Jeni.
"Ma, Pa! Sudah aku bilang berapa kali, aku tidak mau di jodohkan. Aku hanya akan mencintai pacarku ini." Alea menatap ke arah Rey sambil mengedipkan sebelah matanya.
Rey yang mendapat kode dari Alea, ia pun ikut mengeluarkan suaranya. "Benar Om, Tante, saya juga sangat mencintai Alea. Dan saya berjanji akan membantu Alea untuk terbebas dari perjodohan itu. Saya bersungguh-sungguh dan saya tidak akan membiarkan Alea menikah dengan lelaki lain, selain saya." Rey mengucapkannya dengan begitu tegas.
“Hey Pak Rey, hati-hati dengan ucapanmu itu,” bisik Alea yang tak bergeming dari tempatnya.
"Aih... kalian ini. Drama macam apa ini. Sudahlah kalian cepatlah pergi!" usir Deri, yang seakan kesal dengan keadaan pagi ini. Akhirnya Alea dan Rey pun segera pergi ke kantor menggunakan mobil Rey.
Sesapainya di kantor semua karyawan termasuk Nando menatap heran ke arah Alea yang baru saja turun dari mobilnya Rey.
"Ah... ya ampun kenapa aku bisa melupakan semua ini. Seharusnya tadi di tengah jalan aku naik taksi saja, kenapa malah ikut sampai kantor." Alea berjalan menunduk karena mendapat tatapan penuh heran dari semua orang yang melihatnya.
Sementara Rey ia memarkirkan terlebih dahulu mobilnya di tempat parkir yang jaraknya ada di samping gedung.
"Alea," sapa Nando mendekati Alea.
Alea masih menunduk menahan malu. Namun akhirnya memberanikan diri untuk melihat Nando.
"Oh hai Kak Nando," ucapnya sambil melebarkan senyumannya, hingga menampakkan barisan giginya yang rapi dan putih.
"Kenapa kau bisa datang dengan Pak Rey?" tanya Nando heran.
"Oh... i-itu tadi ...."
"Tadi apa?"
"Tadi hanya kebetulan saja. Kak Nando jangan salah paham dulu, sebenarnya a-aku dan Pak Rey tidak ada hubungan apa-apa kok," ucap Alea begitu gugup, bahkan ia baru tersadar atas apa yang ia ucapkan barusan, tidaklah nyambung.
"Salah paham?" Nando mengernyit, kemudian terkekeh, mendengar ucapan Alea. "Memangnya kalau kau punya hubungan apa-apa, kenapa?"
"Ya ampun Alea, kenapa kamu berbicara hal bodoh seperti itu kepada Kak Nando. Bisa-bisa dia Ilifil lagi."
"Ah iya benar juga, seharusnya tidak apa-apa, lagi pula itu bukan hal penting. Kenapa aku berbicara seperti itu padamu ya?” Alea tersenyum kikuk, sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Dan ia pun bergegas pergi menuju lift.
"Gadis ini dari dulu tak pernah berubah," gumam Nando menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
***
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 15.00 p.m. Itu artinya satu jam lagi, jam pulang kantor akan tiba. Rey tengah duduk sambil memutar-mutar pelan kursi kerjanya ke kanan dan ke kiri. Sambil memikirkan sesuatu.
Ia kembali mengingat-ingat perkataan adiknya semalam. Saat memberikan info mengenai gadis yang akan dijodohkan dengannya.
"Dia bekerja di sekitar sini?" gumam Rey, sambil menatap kosong ke arah dinding ruangannya.
"Semalam Tio hanya memberitahuku kalau gadis itu lumayan cantik tapi bertubuh mungil."
Rey berdecak. "Ah iya kenapa aku lupa menanyakan nama gadis itu kepada Tio ya. Anak itu pula kenapa dia tak memberikanku info lainnya." Ia pun segera meraih ponselnya hendak menelepon Tio. Namun ternyata nomor telepon Tio sedang sibuk. Akhirnya ia pun mengurungkan niatnya untuk menelepon adiknya itu.
Rey pun merapikan kembali meja kerjanya, sambil melamunkan perihal Alea yang semalam hampir dilecehkan oleh orang tak bertanggung jawab.
"Apa aku harus mengantarkan dan menjemputnya juga?" gumam Rey berpikir keras. "Hm... sebaiknya hari ini aku mengantarkannya pulang."
^
Alea yang sedang asyik mengobrol dengan Yaya, karena pekerjaannya memang sudah selesai. Yaya yang sedang asyik bercerita ia langsung terdiam, ketika mendapati seseorang berdiri tepat di belakang Alea.
"Hey Yaya, kenapa diam? Ayo lanjutkan ceritanya." Yaya hanya tersenyum sambil memberi kode kepada Alea, namun Alea masih tak menyadarinya;.
"Sore Pak Rey," ujar Yaya berdiri, seketika Alea menoleh ke belakang dan benar saja ia mendapati Rey yang sudah berdiri menatap ke arahnya.
"Pagi Pak Rey, eh maksudnya selamat sore Pak Rey," ucap Alea gugup sambil bediri dan membungkukkan sedikit badannya.
Rey hendak tersenyum ketika mendengar sapaan dari Alea yang salah itu, namun sebisa mungkin ia menahannya.
"Rapikan barangmu, dan ikut saya. Saya ada keperluan denganmu," ujar Rey seketika langsung berbalik dan keluar dari ruang kerja Alea.
Yaya menatap heran kepada Alea. "Kenapa?" tanya Yaya. Alea hanya menggelengkan kepalanya. Dan segera bersiap untuk pulang, ia merapikan meja kerja serta barang-barangnya.
Sementara itu dari meja yang tak jauh dari Alea, terlihat Miley yang semakin menatap Alea seakan tak suka. Sudah ke sekian kalinya ia melihat kedekatan Alea dan Rey, yang semakin hari mereka terlihat lebih intens bertemu dan kadang di dapati berduaan.
"Ada urusan apa kamu sama Pak Rey," tanya Miley saat Alea melewati meja kerjanya.
"Yang pasti tidak ada urusannya denganmu," jawab Alea acuh dan langsung keluar meninggalkan ruang kerjanya itu.
"Mereka ini! Aku harus mencari tahu yang sebenarnya." Miley mengeratkan kepalan tangannya merasa kesal.
^
"Pak Rey," teriak Alea, saat mendapati Rey yang tengah berjalan di lobby menuju keluar.
"Pak Rey, apa ada urusan yang bisa saya bantu?" tanya Alea sambil membenarkan rambut yang menutupi wajahnya karena tertiup angin dari luar.
Sambil terus berjalan menuju parkiran, Alea masih setia membuntuti Rey yang sedari tadi ditanya tapi tak menjawab.
"Masuk!" ucap Rey membukakan pintu mobilnya untuk Alea.
"Tapi Pak Rey saya mau pulang. Sebenarnya ada urusan apa Anda memanggil saya?" tanya Alea bingung.
"Cepat masuk!"
"Saya tidak mau!"
"Masuk!" tegas Rey sekali lagi. Alea hanya merengut.
"Tidak!"
Rey pun mendengus kesal, sambil menatap tajam kedua bola mata Alea.
"Saya bilang masuk, ya masuk!" seru Rey.
"Saya bilang tidak, ya tidak!" seru Alea membalas.
Rey pun membuang wajahnya kesal. Sementara Alea ia merengut kesal sambil melipat kedua tangannya di atas perut.
"Kalau tidak ada keperluan lain saya pamit." Alea hendak berbalik melangkahkan kakinya. Namun tangan Rey terlebih dahulu menarik lengan Alea.
"Lea, ada yang perlu saya bicarakan denganmu."
Alea pun menoleh ke arah Rey. "Ya sudah bicaralah."
"Tidak disini, ikutlah denganku. Tenang saja aku tidak akan berbuat jahat padamu," tutur Rey.
Alea hanya berdecak pelan. "Lagi pula kalau Anda menjahati saya, sudah dipastikan besok pagi semua media akan penuh dengan nama dan wajah Anda."
"Kalau begitu masuklah," perintah Rey, akhirnya mau tak mau Alea pun masuk ke dalam mobil.
.
.
.
Bersambung...
Wah kira-kira apa ya yang mau dibicarakan Rey?
Jangan lupa bantu like, komen dan vote yang banyak ya biar author semakin semangat up ceritanya.
ha ha ha
ha ha ha