Follow IG-Airlangit9
Nekat pergi ke kota, bermodalkan Ijazah SMA untuk mengadu nasib. Siapa sangka, sebuah insiden membuatku terperangkap dalam hubungan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Airlangit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Guardian
"Daniel, persiapkan dirimu untuk menyambut keluarga besar Falisa di hari pertunangan resmi. Jangan sekali-kali kamu berpikir untuk kabur atau cari masalah." Dilbara berbicara tegas pada putranya. Ibu dan anak itu duduk saling berhadapan terhalang oleh meja.
Daniel tak menyahut, ekspresi wajahnya datar.
"Kamu sudah cukup tua untuk bermain-main. Umurmu 28 tahun, seharusnya kamu sudah beristri dan memiliki anak."
"Jika karena ingin memiliki menantu dan cucu Mama menikahkan saya, saya akan mencari istri yang lebih baik dari perempuan murahan seperti Falisa."
Dilbara langsung memukul meja. "Daniel, jaga ucapanmu!"
"Apakah Mama tak papa punya menantu yang sudah tak perawan, yang biasa berzina bebas diluaran sana. Falisa adalah jenis perempuan seperti itu. Saya tak ingin keturunanku menanggung dosa zina ibunya. Zina itu hutang."
"Kata siapa?" Dilbara mendelik.
"Saya pernah baca di artikel Islam."
Diam-diam Dilbara merasa kagum pada putranya tersebut. "Tapi tetap saja, bagaimana kamu bisa menyimpulkan Falisa itu pezina, ha?"
"Saya melihat dengan mata kepala sendiri, dia berzina dengan Joshua ketika saya berkunjung ke apartemennya, Ma."
Dilbara terdiam. Raut wajah putranya tampak serius.
"Bagaimana Mama bisa memercayaimu?"
"Mama tahu sendiri, ayah Falisa itu punya dua istri. Watak anak dan ayah tak akan jauh beda, Ma. Belum simpanan ayah Falisa itu banyak. Tentu saja sipat haus akan punya orang lain turun ke darah dagingnya. Falisa itu seperti itu, hanya karena melihat Joshua tampan meskipun telah beristri, dia penasaran pada lelaki itu dan diam-diam menjalin hubungan perzinahan di belakang saya."
Dilbara memegang keningnya. "Kamu tahu, Nak. Ayah Falisa memegang separuh saham di perusahaan ayahmu. Jika sampai pernikahan ini tak jadi, Mama khawatir akan nasib perusahaan ayahmu."
"Jika ayah Falisa itu orang yang bijaksana, dia tidak akan menyangkut pautkan urusan bisnis dan pribadi, Ma."
"Faktanya begitu, Daniel. Tak ada pilihan bagi Mama selain membujukmu supaya setuju untuk menikahi Falisa. Kamu ini laki-laki, setelah menikah dengan Falisa pun kamu bisa mencari istri lagi yang kamu cintai."
"Astaga, Mama." Daniel terkejut dengan penuturan ibunya tersebut.
Dilbara menghela napas panjang. Situasi tampak begitu serius kini. Bahkan puteranya yang selalu terlihat bercanda setiap diajak berbicara, saat ini tampak dingin menanggapi ucapannya.
"Apa yang harus Mama lakukan? Mama ini sudah tua. Jika kamu menolak, Mama khawatir ayahmu marah sama Mama dan diceraikan lalu terlantar. Kamu tahu, ayahmu itu jika kesal pada anak-anaknya selalu Mama yang disalahkan."
Daniel geleng-geleng kepala. "Makanya jangan bergantung pada ayah, Ma. Daniel bikin usaha sendiri bersama teman-teman itu sebab tak ingin bergantung pada perusahaan ayah."
"Kamu mau membiarkan warisan seluruhnya jatuh ke tangan kakak tirimu, ha?" Dilbara langsung emosi lantas membuang muka.
"Saya tak peduli, Ma. Saya sudah cukup bersabar dengan kehidupan di keluarga ini."
"Apa yang membuatmu harus bersabar?!" Dilara mengangkat nada bicaranya. "Mama yang selalu bersabar menghadapi tingkah kalian. Kalian itu keras kepala persis seperti ayah kalian."
"Ya sudah, kalau Mama menyangka hanya Mama yang paling menderita, Daniel pamit." Tanpa persetujuan, pria itu bangkit dari kursinya meninggalkan ruangan ibunya.
"Daniel Mama akan bunuh diri kalau kamu pergi!" Dilara menyusul puteranya itu.
Daniel berhenti melangkah dan melirik pada bingkai pernikahan besar ayahnya dengan perempuan yang bukan ibunya terpajang di ruang utama.
"Urus saja diri, Mama. Bahkan sampai saat ini, Mama belum bisa memenangkan hati ayah, kan?" Daniel tersenyum miring.
Dilbara tersentak, ia sangat tahu maksud putranya. Bukan dirinya tak sakit hati melihat bingkai poto pernikahan suaminya dengan perempuan lain itu. Seharusnya poto pernikahannya yang dipajang bukan perempuan yang sudah mati itu.
Dilbara menghela napas dan lagi-lagi mengabaikan perasaannya. Dengan mata erkaca-kaca ia berujar, "Daniel, seharusnya kamu berterimakasih, Mama dan ayah mencarikanmu jodoh dari keluarga terhormat. Yang berpotensi memajukan perusahaan keluarga, Daniel. Bahkan kakak tirimu saja kita tak carikan jodoh terbaik."
Daniel meneruskan langkah, merasa kepalanya akan meledak jika mendengar lagi beberapa patah kata dari sang ibu.
Setibanya di halaman rumah, pria itu langsung memacu motornya berusaha mengabaikan omelan ibunya di belakang.
"Kamu mau ke mana, Daniel?! Dasar anak nakal! Kembali kamu!" Dilbara tak hentinya berkata-kata dengan nada tinggi.
Berjalan cukup jauh membawa motor, Daniel berhenti di tepi jalan, merasakan hatinya sesak.
"Bawa perempuan yang berdiri di halte itu, ini uang untukmu."
Terdengar suara laki-laki tak jauh dari tempatnya. Daniel menoleh dan melihat seorang anak kecil menerima beberapa lembar rupiah orange dari pria bertubuh kekar dan berwajah sangar.
Dengan wajah ceria, anak itu pun pergi.
***
Hujan turun gerimis, Dilara melihat jam yang melingkar di tangan kirinya untuk memastikan waktu belum terlalu larut untuk pulang. Seniornya selalu saja membebaninya dengan berbagai tugas kendati itu bukan tugasnya. Andai saja ia bisa menolak permintaan mereka, ia akan melakukannya.
"Kok bisnya belum datang?" Hatinya semakin gusar.
"Kak," panggil anak kecil dari arah samping kiri.
"Ya?" Dilara langsung menoleh dan tersenyum tipis.
"Kakak bisa bantu, saya? Kakak saya diganggu preman di sana." Wajah anak itu sendu.
"Di mana, Dek?" Dilara langsung terkejut dan mengikuti langkah cepat anak itu.
Anak kecil itu berlari ke sebuah gang, semakin lama berlari, gang itu semakin gelap.
"Di mana, Dek?" Dilara mulai khawatir.
Anak itu berhenti melangkah dan menunjuk ke arah pria berbadan besar di ujung sana. Sontak saja Dilara terkejut.
"Di mana kakakmu, Dek?" tanya Dilara.
Anak kecil itu malah berlari ke arah samping meninggalkan Dilara. Saat Dilara hendak melarikan diri, dua para pria yang berbeda menghalangi langkahnya.
"Hay, kau, perempuan sok jagoan yang menolong perempuan kaya, kamu masih ingat wajah saya?" Si lelaki berwajah sangar bertanya.
Bayangan perempuan dijambret muncul di benak Dilara. "Apa yang kamu inginkan?"
"Haha! Kamu masih ingat saat kamu menendang punggung saya seperti ini?"
Saat pria itu hendak menendang, Dilara malah merunduk saking takutnya.
Pria itu tak jadi menendang, mereka tertawa seolah bahagia melihat penderitaan Dilara.
"Sayang sekali jika hanya disiksa saja , sebelum disiksa bagaimana kalau kita pakai dulu, bunuh, lalu buang."
Ucapan salah satu pria itu membuat sendi-sendi tulang Dilara bergetar. Air matanya berguguran.
"Bawa dia!"
Saat tubuh Dilara diseret ke gang yang lebih sempit, sebuah helm menghantam kepala salah satu preman itu.
Para lelaki itu langsung waspada dan melihat sekeliling. Melihat peluang, Dilara beringsut ke belakang tong sampah, bersembunyi.
"Siapa kau? Tunjukkan dirimu!" teriak para preman itu bergantian.
"Gue di atas kalian!"
Mendengar sebuah suara, sontak saja para lelaki itu menengadah dan melihat seorang pria jongkok di atas tembok tersenyum lebar. Tak menyiakan kesempatan, pria yang duduk di atas tembok itu melompat sambil mengarahkan besi besar ke kepala pria yang terdekat dan pria itu langsung tumbang. Ia memukul perut pria selanjutnya dan menendang ******** pria yang terakhir.
Sebelum para preman itu terbangun, pria itu menarik lengan Dilara dan membawanya lari meninggalkan tempat tersebut.
Sepanjang perjalanan menuju jalan keluar, Dilara memerhatikan tangannya yang digenggam erat oleh jemari kekar dan sosok pria berpunggung lebar si pemilik tangan kekar tersebut.
Tiba di tepi jalan, pria berpostur tinggi itu langsung naik motor dan menyuruh Dilara ikut naik. Gadis itu langsung duduk di belakang pria itu.
Motor pun melaju kencang meninggalkan jalanan yang lumayan sepi itu.