Karena kesepakatannya dengan Eleanor Iva Alexander membuat Mada Jeffrey yang hanya anak pemilik restoran ayam cepat saji menjadi semakin sulit menghapus perasaan tidak tahu dirinya terhadap putri kesayangan keluarga Alexander itu sekaligus atasan di tempatnya bekerja.
Sepertinya Mada harus segera mencari pendamping hidupnya, dan Regita, gadis pemilik restoran di seberang tempat usaha milik keluarga Mada adalah pilihan yang ia rasa tepat. Melihat dari respon gadis itu, Mada menyimpulkan bahwa Regita juga mempunyai perasaan padanya.
Tapi apa semudah itu kisah cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dehan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
terlalu mendadak
Elea menatap mata Mada dalam, "bagaimana kalau kita.." Mada semakin penasaran dan kesal juga sebenarnya Elea selalu saja menjahilinya dengan seperti ini.
"..pacaran.." Elea menatap penuh harap. Mada terkejut tentu saja dengan ajakan atau lebih tepatnya pengakuan Eleanor Iva Alexander. Ini serius, Elea tidak sedang menjahilinya kan? Sayangnya Mada tidak percaya sama sekali, Elea pasti sedang menggodanya.
Mada tertawa sumbang, "ini tidak lucu Elea, sama sekali tidak lucu." Membuat Elea yang tadinya menatap penuh binar kini mendengus.
"Aku serius." Kesalnya.
"Aku juga serius kau tidak pandai melucu."
"Bukan itu, Mada Jeffrey. Aku mengajakmu pacaran saat ini." Elea kesal dengan Mada. Berbicara dengan lelaki itu memang harus memakai nada perintah, baru ia benar-benar paham mana candaan, mana sungguhan.
Mada diam dan bingung. Ini serius?
"Yak! Kenapa kau suka sekali melamun." Elea dibuat kesal lagi oleh diamnya Mada.
"Aku serius, ayo pacaran." Elea tersenyum menyimpan lengannya diatas lengan Mada. Lelaki itu melirik lengannya yang sudah digenggam oleh Elea. "Aku hanya membuat perkataan yang tadi kau ucapkan pada temanmu itu menjadi kenyataan. Aku adalah pacarmu sekarang."
Mada tak bisa berkata apa-apa. Kenapa gadis dihadapannya ini suka sekali bicara seenaknya. Meskipun Mada memang mengagumi gadis itu, tapi haruskah perasaan terbalasnya dengan cara seperti ini. Atau mungkin saja gadis hanya main-main?
"Mana bisa begitu. Kau kan bosku, kau itu putri dari keluarga Alexander, El."
"Terus kenapa?"
"Kau bisa saja hanya mempermainkanku, mentang-mentang kau anak konglomerat bisa saja kan?" Tuduh lelaki itu.
"Tidak sama sekali, Mada. Aku memang menyukaimu sejak.." gadis itu berpikir sebentar, "..awal kita bertemu di Paris itu, aku mulai penasaran padamu." Mada berusaha mencari kebohongan di mata Elea. Tidak ada kebohongan sama sekali, Elea tulus mengatakannya.
"Bagaimana?" Gadis itu bertanya lagi.
Mada mengalihkan pandangannya ke arah lain. Mada mencintai Elea. Iya dirinya mengakui itu cinta. Rasa yang dulunya hanya sebuah rasa kagum saja berubah menjadi rasa suka dan karena lama-lama keduanya sering bertemu dan berinteraksi semakin berubah pula menjadi rasa cinta.
"Aku tidak tahu. Kau gila ya?" Hanya kalimat itu yang Mada keluarkan, sebenarnya lelaki itu hanya mengalihkan saja.
"Kau ini kenapa mengatakan aku gila sih, aku benar-benar serius dengan ucapanku tadi." Elea kesal, Mada tidak mau menjawab pernyataan cintanya. "Ya sudah lain kali saja kau jawab pertanyaanku yang ini. Kau perlu berpikir ya, atau kau masih menginginkan dia? Aku tidak tahu siapa nama teman kencanmu waktu itu." Elea membiarkan Mada berpikir dengan jawabannya nanti. Elea pikir yang membuat Mada tidak bisa mengiyakannya secara gamblang adalah Regita. Padahal kenyataannya adalah kasta mereka. Mada hanya lelaki kelas menengah sedangkan Elea adalah putri dari Januar Alexander, atasannya di kantor sekaligus pemilik perusahaan dimana dirinya bekerja. Mada sadar diri, itu saja. Meskipun dirinya memang mencintai Elea. Rasanya tidak mungkin ayah dari gadis itu merestui hubungan mereka, kalau seandainya ia nekat mengencani putri Alexander itu.
...****************...
Setelah pertemuannya dengan Elea terakhir kali di kafe itu. Elea belum menghubunginya lagi untuk urusan pribadi, ini sudah seminggu omong-omong. Gadis itu sedang sibuk dengan pekerjaan atau memang sengaja menghindarinya? Pikir Mada.
Mada tampak gusar haruskah ia mengatakan yang sejujurnya juga, bahwa ia juga menyukai Elea bahkan sudah sangat lama sebelum pertemuan mereka di perusahaan keluarga Elea. Sekarang tanggal merah, tentu perusahaan juga libur. Mada sedang menikmati acaranya sendiri, ia pamit pada ibunya untuk menyegarkan pikiran katanya. Namun bukannya pikiran menjadi segar yang ada malah bertambah gusar saat melihat seseorang yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya. Disana Elea sedang bersama seorang lelaki lain duduk berseberangan. Elea sedang berkencan? Sudah Mada duga gadis itu hanya mempermainkan perasaannya. Lagi. Mada memutuskan pergi tanpa mau repot-repot menghampiri gadis itu, memangnya mau apa? Melabrak mereka? Mada dan Elea kan belum resmi berhubungan kemarin itu.
Sementara itu, Jane harus berlari kecil tidak tega meninggalkan Elea terlalu lama berdua saja pasti canggung sekali dengan Harry, calon pacarnya Jane. Begitu pikir Jane.
"El, Har. Maaf lama." Jane kembali duduk di sebelah Elea berseberangan dengan Harry. Kenapa tidak disebelah Harry saja? Mereka belum resmi berpacaran pasti akan canggung. Jane memang sengaja meminta Elea untuk menemaninya bertemu dengan Harry lagi. Juga ingin meminta maaf sebelumnya telah menipu Harry dengan mengaku bahwa dirinya adalah Elea. Meskipun Harry sudah tahu sejak awal sih, tapi Jane tetap saja ingin membawa Elea langsung ke hadapan Harry mungkin saja lelaki akan berubah pikiran tentang pernyataan suka padanya. Namun rupanya lagi Harry tetap menyukai Jane, meskipun sudah bertemu dengan Elea asli.
...****************...
Eleanor Iva sedang memperhatikan foto-foto dirinya hasil jepretan sang fotografer pribadinya, Mada. Ia tersenyum kecil mengingat kembali bagaimana dirinya berpose dihadapan Mada. Akhir-akhir ini, entahlah moodnya kurang baik, mungkin karena Mada? Lelaki itu benar-benar tidak menyukainya ya? Pikiran Elea menerawang. Elea sengaja memberi Mada waktu untuk berpikir tentang bagaimana perasaan lelaki itu padanya. Apa waktu seminggu cukup ya? Apa ini waktu yang tepat untuk menghubunginya?
Elea menimang memutuskan untuk menghubungi Mada sekarang atau tidak?
Elea akhirnya memutuskan menghubungi lelaki itu setelah cukup lama berpikir. Dirinya memberi pesan singkat pada Mada, namun tidak ada respon sama sekali padahal lelaki itu sedang aktif. Elea akhirnya memutuskan untuk menelponnya, namun hanya suara operator wanita yang didengarnya, panggilannya ditolak Mada. Elea mencebik, mungkin Mada sedang sibuk. Pikirnya.
Di satu sisi Mada mengerang kesal tapi tertahan karena kamar miliknya tidak kedap suara. Bisa-bisa ibu, ayah dan adiknya langsung mendobrak kamarnya berpikir bahwa Mada sudah tidak waras. Mada kesal dengan apa yang dilihatnya tadi siang saat tidak sengaja memergoki Elea bersama lelaki lain diluar. Elea benar-benar mempermainkan perasaannya. Dengan tidak tahu malunya lagi gadis itu menyuruh untuk menemuinya malam ini. Mada bahkan dengan sengaja menolak panggilan gadis itu.
Ponsel Mada berdering kembali, panggilan yang sama sejak beberapa menit lalu yaitu Elea menghubunginya kembali. Kali ini ia memutuskan untuk mengangkatnya.
"Ada apa?" tanyanya tertahan untuk tidak menggeram karena berusaha menahan rasa kesalnya pada Elea.
"Aku di restoranmu, turunlah!" jawab Elea yang membuat Mada melotot. Gadis itu seriuskah dengan ucapannya?
"Apa? Untuk apa kau kemari?" tanyanya masih tak percaya, siapa tahu gadis itu membual.
"Meminta jawabanmu, babe." Ucapnya diakhiri kekehan. Jadi Elea seriusan berada di bawah sekarang. Ditempat tinggalnya? Batin Mada bertanya.
Mada berdeham pelan, "..tunggu sebentar aku akan turun."
"Baiklah. Aku selalu menunggumu muah." Buru-buru Elea mematikan panggilannya. Ia sendiri juga merasa sedikit geli dengan yang baru saja ia katakan.
Setelah beberapa menit Mada akhirnya turun membuat Elea mengembangkan senyum di bibirnya.
"Jadi ada apa?" tanya Mada datar setelah duduk dihadapan Elea.
"Aku kan sudah bilang, meminta jawabanmu itu iya atau iya?"
Mada menaikan sebelah alisnya. Lalu menjawab "atau" yang membuat Elea mendengus.
"Aku serius." Elea tiba-tiba saja berdiri, berjalan sedikit kearah Mada. Gadis itu menarik lengan Mada agar mau mengikutinya.
"Yak! Kau mau membawaku kemana?" protes Mada setelah mereka berada diluar restoran.
"Ke hotel." Jawab gadis tersenyum yang membuat Mada berpikir tidak jernih.
"Yak, kau mabuk yah?"
"Tidak sama sekali. Aku ingin ke hotel sekarang. Ayo!" Gadis itu semakin menarik lengan Mada agar mau masuk kedalam mobil miliknya.
"Apa tujuanmu kesana?"
Gadis itu tampak seperti berpikir, "..menginap?"
"Kau pergi saja sendiri kenapa harus mengajakku."
"Mada, aku ingin ke hotel itu yang ada taman buatannya. Hotel yang pernah kau kunjungi dengan mantan calon pacarmu itu." Elea sengaja memakai kata mantan calon pacar sebagai sindiran untuk lelaki itu.
"Ah.." Akhirnya Mada paham, rupanya Elea penasaran dengan taman yang berada di rooftop hotel itu.
"Ayo!" Elea kembali menarik lengan Mada.
"Tapi ini sudah malam, Elea."
"Memang kenapa, kau bukan seorang gadis remaja."
"Bukan itu maksudku. Aku belum pamit pada keluargaku." Protes lelaki itu.
"Nanti saja setelah aku mengantarmu kembali kesini." Lihat saja Elea bahkan mengabaikan protes Mada.
"Cepatlah Mada, mumpung masih belum terlalu malam." Elea kali ini mengerahkan seluruh tenaganya agar Mada mau masuk ke dalam mobilnya.
"Dasar pemaksa." Setelah lelaki itu duduk di kursi penumpang.
"Memang. Tapi kau menyukaiku kan?" Gadis itu tersenyum jahil.
Mada hanya diam, tidak menanggapi ucapan gadis itu. Mada memilih melihat kearah luar jendela.
Mereka akhirnya sampai di hotel itu. Elea bahkan membawa perlengkapan yang biasa Mada gunakan untuk memotret di mobilnya. Jadi tujuan sebenarnya gadis itu adalah ingin mengabadikan momennya saat berada di taman rooftop hotel itu.
"Kuharap kau tidak akan menggunakan pakaian kurang bahanmu di luar sana." ucap Mada berharap. Selama ini ketika dirinya di foto selalu saja menggunakan dress seksi yang memamerkan kaki jenjangnya dan juga bahu mulusnya.
"Memang kenapa kalau aku menggunakan pakaian seperti itu?"
"Tidak ada."
Elea berdecak kecil. "Ck. Tidak bisakah kau katakan kalau kau tidak suka berbagi?" Keinginan Elea itu hanya angan saja. Lelaki itu enggan mengucapkan pernyataan yang seolah cemburu saja susah sekali.
"Dengan senang hati maka aku akan mengabulkannya."
"Kau tidak akan melakukannya. Aku tahu itu." Mada menarik sudut bibirnya tersenyum miring seolah paham yang selalu gadis itu lakukan.
"Bagaimana kalau aku nekat malam ini?" tantangnya.
"Kau bahkan tidak membawa pakaian ganti apapun."
Elea mencebik kesal, kenapa harus kalah berdebat dengan Mada.
"Kau benar. Tapi.." gadis itu menggantungkan ucapannya. "Tapi.. bagaimana kalau aku hanya menggunakan underwear set saja?" ucapnya seperti menantang Mada.
"Don't you dare. Ini hotel bukan pantai, Elea. Kau akan malu sendiri nantinya." Peringat Mada pada gadis dua puluh empat tahun itu.
"Aku bercanda." Kekeh gadis itu.
Elea mendekati Mada yang berjarak dua meter darinya. Gadis itu berjalan sampai tidak ada lagi jarak antara keduanya. Elea tersenyum menatap Mada. Mada hanya diam tak bereaksi apapun atau lelaki itu sedang menahan sesuatu?
"Aku menagih jawabanmu sekarang, Mada."
"Bukankah tadi aku sudah menjawabnya ya, dan jawabanku itu adalah atau."
"Aku serius."
"Elea. Aku harus jujur padamu. Meskipun jawabanku iya aku memang mencintaimu semuanya tidak akan berjalan mulus. Ayahmu pasti akan menentang hubungan kita."
"Jadi itu yang kau khawatirkan?" Tanya gadis itu akhirnya menemukan masalahnya dimana Mada selalu saja mengalihkan pembicaraan.
"Daddyku tidak akan masalah dengan hubungan kita." Bujuk Elea.
"Itu menurutmu, Elea."
"Lalu apa maumu?"
"Aku tidak bisa kita ada hubungan yang lebih dari ini." tolak Mada lagi.
"Kau bercanda. Kau juga mencintaiku apa salahnya sih?"
"Restu Ayahmu. Itu masalahnya." Jelasnya tepat didepan wajah Elea.
"Kita backstreet saja dulu. Akan kupikirkan caranya nanti supaya daddy mau merestui hubungan kita." Sahut gadis itu bersikukuh haruskah Mada menerima hubungan diam-diam ini? Lelaki itu tersenyum tipis lalu mengangguk pelan sekali. Setelahnya Mada memejamkan mata menikmati kecupan bibir dari putri bungsu Alexander itu.