Renatta Putri Setiawan, seorang gadis berusia 22 tahun. Hidup dalam kemewahan dan kemanjaan dari keluarganya. Apapun yang menjadi keinginannya, selalu ia di penuhi oleh orang tua dan saudaranya.
Namun, suatu hari gadis manja itu harus menuruti keinginan orang tuanya. Ia harus mau dijodohkan dengan seorang pria berusia 40 tahun, agar keluarga Setiawan tidak mengalami kebangkrutan.
Renatta yang membayangkan dirinya akan hidup susah jika keluarganya bangkrut, terpaksa menerima perjodohan itu. Asalkan ia tetap hidup mewah dan berkecukupan.
Gadis itu sudah membayangkan, pria 40 tahun itu pasti berperut buncit dan berkepala plontos. Namun, siapa sangka jika pria yang akan dijodohkan dengan dirinya ternyata adalah Johanes Richard Wijaya. Tetangga depan rumahnya, dosen di kampusnya, serta cinta pertama yang membuatnya patah hati.
Apa yang akan Renatta lakukan untuk membalas sakit hatinya pada pria yang pernah menolaknya itu?
****
Hai-hai teman Readers. Kembali lagi bersama Author Amatir disini.
Semoga cerita kali ini berkenan, ya.
Ingat, novel ini hanya fiksi belaka. Tidak ada ikmah yang dapat di ambil setelah membacanya.
Terima Gaji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Kedatangan Keluarga Wijaya.
“Pulanglah.” Ucap Richard kemudian.
Renatta terperangah. Apa Richard mengusirnya?
“P-pulang?” Ulang gadis itu terbata.
“Ya. Aku harus memeriksa tugas kalian. Jadi, sekarang lebih baik kamu pulang.” Ucap pria itu, ia kemudian menjatuhkan bokongnya di atas kursi.
Richard berusaha bersikap santai, meski jantungnya berdetak kencang, karena terkejut Renatta melihat layar ponselnya.
“Kamu tidak mau pulang? Atau mau melanjutkan apa yang kita lakukan di villa waktu itu?” Pria itu kembali bersuara.
Renatta menggelengkan kepalanya. Gadis itu pun menurut. Meski dalam hatinya ingin bertanya, foto siapa dalam ponsel Richard itu.
“Baiklah, om. Aku pulang.” Tanya banyak bicara gadis itu keluar dari ruang kerja Richard.
“Huh.”
Richard dapat menghela nafas lega, ketika pintu ruang kerjanya telah tertutup.
Ia kemudian merogoh saku, mengeluarkan kembali ponselnya.
“Untung saja Renatta tak sempat melihatnya. Aku tidak punya jawaban jika dia bertanya sesuatu. Apalagi menuntut banyak hal.”
Pria itu menyalakan layar ponselnya. Foto seorang gadis dengan wajah tanpa senyum, namun masih terlihat cantik.
“Dimana senyummu hari ini? Padahal aku ingin melihat senyum cantik itu. Kenapa hari ini kamu menyembunyikannya?”
Richard berbicara sendiri dengan layar ponselnya.
“Beberapa hari ini, aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Sehingga aku melewatkan banyak senyuman mu.”
Pria itu menggeser layar ponsel. Sehingga menampilkan beberapa foto kiriman dari orang suruhannya.
Sesaat kemudian, senyum tersungging pada wajah tampan pria berusia empat puluh tahun itu.
“Aku akan mencetaknya. Tugas para mahasiswa itu, biar aku periksa nanti.” Ia bergegas keluar dari ruang kerjanya. Kemudian menuju kamar di lantai tiga rumah mewah itu.
Sementara itu, Renatta pulang dengan perasaan yang kurang menentu. Ia merasa ada sesuatu yang Richard sembunyikan darinya.
Entah siapa wanita dalam foto itu? Renatta tak dapat melihatnya dengan jelas. Namun, ia merasa tak asing dengan gambar itu.
“Apa jangan-jangan, itu foto pengantin wanita kemarin? Jika itu foto kak Anna, om Rich tidak akan menyembunyikan ponselnya dari aku ‘kan?”
“Ah.”
Gadis itu membenturkan kepalanya di atas setir mobil. Ia bahkan malas untuk masuk ke dalam rumahnya sendiri.
Malam harinya.
Renatta berpikir untuk membatalkan pernikahannya dengan Richard. Ia akan mencari jalan lain untuk membantu keluarganya.
Gadis itu tidak mau menjalin hubungan dengan pria yang memiliki wanita lain dalam hidupnya.
Ia teringat Richard begitu cepat menyembunyikan ponselnya. Kemudian langsung meminta Renatta untuk pulang.
Hal itu membuat gadis itu semakin yakin jika ada hal yang pria itu sembunyikan.
“Aku harus bicara dengan kakak terlebih dulu. Dia pasti mau mendukungku.”
Gadis itu kemudian keluar dari dalam kamarnya, menuju kamar sang kakak.
Hendak mengetuk pintu, namun benda persegi panjang itu tidak tertutup. Sehingga gadis itu masuk begitu saja.
“Maafkan aku, Son. Aku tidak bermaksud membatalkan transaksi kita. Hanya menunda saja. Untuk saat ini, ada pengeluaran yang lebih penting dari membeli mobil itu, Son.”
Tanpa sengaja Renatta mendengar sang kakak berbicara. Dan ternyata pria itu sedang menelpon di balkon kamarnya.
Dari yang ia dengar, sepertinya Randy sedang berbicara dengan Sony. Teman pria itu yang memiliki showroom mobil.
Renatta teringat jika beberapa bulan lalu, Randy ingin membeli mobil baru.
‘Kakak bahkan mengurungkan niatnya untuk membeli mobil impiannya. Apa keuangan kita separah itu? Lalu, bagaimana dengan aku? Jadi, aku tidak bisa membatalkan pernikahan ini?’
“Re.”
Renatta tersentak karena tiba-tiba sang kakak sudah berada di hadapannya.
“Ada apa?” Tanya pria itu.
“Ah, tidak. Aku tiba-tiba ingin makan mie ayam. Apa kakak mau menemaniku?” Gadis itu mengurungkan niatnya untuk berbicara dengan sang kakak. Ia tak tega jika pria itu membatalkan niatnya untuk membeli mobil.
“Tetapi kamu yang bayar, ya.”
“Iya, kak.”
‘Maafkan aku, kak. Aku tidak bisa. Tetapi aku juga tidak tega melihat kakak seperti ini. Kita sudah terbiasa hidup berkecukupan. Aku tidak seharusnya memikirkan diriku sendiri.’
***
Keesokan harinya.
Kesibukan terlihat di rumah keluarga Setiawan. Para asisten rumah sedang menyiapkan acara makan malam untuk para majikannya yang akan kedatangan tamu penting.
Siang tadi, keluarga Wijaya telah sampai di Jakarta. Dan malam ini, mereka akan datang berkunjung secara langsung ke rumah calon besan.
“Semuanya sudah siap?” Tanya mama Dona pada salah satu asisten rumahnya.
“Sudah, nyonya. Tinggal menghidangkan saja.”
Mama Dona mengangguk paham. Wanita paruh baya itu kemudian memanggil satu persatu anggota keluarganya untuk turun.
Sebentar lagi, Richard dan keluarganya akan datang. Rumah mereka hanya berjarak beberapa meter saja. Mama Dona tidak mau jika para tamu yang datang lebih dulu, daripada tuan rumahnya.
“Papa dan Randy tunggu di bawah. Mama akan memanggil Rena.” Mama Dona memberikan interuksi pada suami dan putranya.
Setelah dua orang pria itu turun, mama Dona pergi ke kamar sang putri.
“Loh, sudah siap kenapa belum turun, Re?” Tanyanya saat melihat sang putri duduk termenung di atas tempat tidur.
“Ma, apa aku harus menemui orang tua om Rich?” Tanya Renatta.
“Ya haruslah. Kamu itu ‘kan calon menantu mereka. Lagipula, kamu juga sudah mengenal om dan tante Wijaya dengan baik.”
Renatta menghela nafas pelan.
Ia memang telah mengenal papa Jonathan dan mama Luna dengan baik. Namun kali ini, tujuan pertemuan mereka berbeda. Untuk membicarakan pernikahan.
“Tetapi, ma.”
“Sstt.” Mama Dona menggelengkan kepalanya.
“Ayo kita turun. Mungkin mereka sudah ada di bawah.”
Dengan malas, Renatta mengikuti langkah sang mama. Sungguh, ia rasanya ingin melarikan diri saat ini juga.
Ternyata benar apa yang di katakan oleh sang mama. Richard dan keluarganya sudah menunggu di ruang tamu.
Binar bahagia terlihat jelas di mata mama Luna ketika melihat Renatta datang bersama mama Dona.
Mereka pun saling memeluk karena sudah terlalu lama tidak bertemu.
“Mama sangat senang ketika mendengar kabar Richard akan menikah. Apalagi, gadisnya itu adalah kamu. Mama semakin bahagia.” Ucap mama Luna saat memeluk Renatta.
Orang tua Richard tidak masalah jika putranya menikah dengan siapa saja. Asalkan pria dewasa itu menikah. Mereka justru khawatir jika sang putra tidak ingin berumah tangga.
“Ayo kita duduk dulu, Jeng.” Ucap mama Dona mempersilahkan.
Mama Luna mengangguk. Ia mengajak Renatta duduk bersamanya.
“Mama membawa oleh-oleh untuk kamu. Nanti kita ambil di rumah. Mama belum bongkar koper.” Jelas wanita berusia enam puluhan tahun itu.
“Lihatlah, pa. Mama bersemangat sekali.” Ucap Johanna yang keberadaannya hampir di lupakan.
“Kak Anna apa kabar?” Tanya Renatta kemudian.
“Kakak baik, sayang. Kita harus bicara banyak hal nanti.” Wanita berusia tiga puluh lima tahun itu mengedipkan sebelah matanya.
“Kita lanjutkan mengobrolnya nanti saja. Karena semuanya sudah siap, mari kita makan malam terlebih dulu.” Papa Roy sang kepala keluarga berbicara.
Yang lainnya pun setuju.
“Cantik.” Bisik Richard saat ia melewati Renatta.
Gadis itu tersentak. Namun ia tak mau terlena. Sebab ia yakin, ada wanita lain di hati Richard.
***
Bersambung.
dimana mana bikin gerah 😜🤪
aku baru nemu cerita ini setelah kesel nunggu cerita sisa mantan 😁