NovelToon NovelToon
Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Horor / Tamat
Popularitas:3.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: bung Kus

Selama 19 tahun, aku dan keluargaku mendiami rumah ini. Rumah di tengah sawah. Rumah nyaman khas pedesaan, jauh dari hingar bingar kota. Udara sejuk, malam yang tenang membuat aku betah berlama-lama di rumah.
Hingga akhirnya, kejadian-kejadian aneh menimpaku. Semakin lama kehidupanku semakin terusik. Ditambah lagi kisah asmaraku yang tidak semulus pipi Erni, gadis pujaanku. Ah, apa yang sebenarnya terjadi? Semua masih misteri.
Semua akan terbuka dan kalian akan menemukan satu persatu jawaban dari misteri yang ada, jika kalian mengikuti kisahku dari awal sampai akhir . . .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bapak Pulang

Tanpa terasa bulan februari sudah terlewati. Mengawali bulan maret dengan menguap lebar lebar. Jam enam pagi terasa dingin dan kantuk yang masih teramat sangat. Kabut tipis menutupi halaman rumahku. Suara ayam berkokok pun terasa tidak se semangat biasanya, mungkin ayam pun seperti aku, males kena hawa adem.

Dari kejauhan terdengar suara motor mendekat, disusul sekelebat sorot lampu menyibak kabut. Bapak pulang. Bapak adalah seorang pedagang kain di kota sebelah. Karena toko nya berada kurang lebih dua ratus kilometer dari rumah, Bapak lebih sering menginap di toko. Bapak pulang kadang satu bulan sekali terkadang juga satu minggu sekali.

Adikku yang baru bangun tidur langsung menyambut bapak dengan lari lari kecilnya, yang seakan siap tersandung sewaktu waktu. Bapak langsung mendekapnya erat dan beberapa kali mendaratkan kecupan di kening adikku. Aku tersenyum geli melihatnya, karena sempat terbayang seandainya saat ini aku yang lari lari seperti itu menyambut bapak, pasti terlihat aneh. Mungkin memang semakin bertambah usia seseorang, maka akan semakin canggung untuk mengungkapkan rasa kasih sayang kepada orangtua.

"Assalamualaikum. . .", Bapak mengucap salam sambil menggendong adik.

"Waalaikumsalam", jawab aku dan ibuk kompak.

Bapak, Ibuk dan Adik masuk ke dalam sementara aku masih tetap duduk duduk di emperan rumah. Kabut yang semula terlihat tipis kini nampak semakin tebal. Padahal sudah hampir setengah tujuh pagi. Jam 10 nanti aku ada jam kuliah, sehabis maghrib ada jam siar juga. Ah, males nyaa hari ini, pikirku.

"Dan, sini sebentar lee. . .", Ibuk memanggilku. Aku bergegas masuk ke dalam rumah.

"Dalem buk, ada apa?", aku bertanya penasaran.

"Bapakmu badannya berasa capek, pegel pegel, nanti berangkat kuliah mampir tempat e Lek Jo ya, suruh ke sini", Ibuk menjelaskan.

"Owalah, iya buk, nanti tak mampir ke lek Jo".

Lek Jo adalah tukang pijit langganan keluargaku. Rumahnya tidak terlalu jauh, namun untuk mencapai rumah Lek Jo harus berjalan kaki. Hal itu dikarenakan rumah Lek Jo merupakan jalan setapak menanjak, kurang lebih 200 meter dari jalan desa. Orangnya ramah dengan perawakan tinggi jangkung. Lek Jo tidak pernah mematok harga untuk jasa memijitnya.

Jam sembilan tepat aku sudah siap dengan motor Supra ku. Dandanan necis, siap berangkat kuliah dan ketemu Erni. Teringat Erni rasanya semangatku bertambah berkali lipat. Aku berpamitan ke Ibuk dan Bapak, sambil mringas mringis minta tambahan uang saku.

"Mampir Lek Jo dulu lho Dan, jangan lupa", kata Ibuk sambil memasukkan selembar uang dua puluh ribu ke saku jaketku.

"Inggih buk siap! Ini uangnya upah manggilin Lek Jo gitu to maksud e?", tanyaku cengengas cengenges.

"Wes cepet budhal Le, nanti telat lho", Bapak menimpali, menganjurkan agar aku segera berangkat.

Aku tersenyum, mengangguk setuju. Kuhidupkan motor Supra ku, langsung tancap gas berangkat menemui Erni, eh, ketemu Lek Jo dulu. Jam sembilan pagi kabut tipis masih menyelimuti daerah sini. Menembus kabut, jaketku terlihat sedikit basah. Melewati persawahan yang menghijau, terdengar pula gemericik air sungai. Sesekali aku sempatkan melirik batu besar di tengah sungai dimana aku, Hasan dan Irul lari tunggang langgang karena melihat makhluk hitam berbulu. Aku bergidik. Setelah kejadian malam itu, aku selalu menghindari buang air besar dimalam hari.

Sampailah aku di jalan setapak ke rumah Lek Jo. Kuparkir Supra ku di pinggur jalan. Segera kutapaki jalan menuju ke rumah Lek Jo. Sedikit licin karena terdapat beberapa genangan air. Sesampai di rumah Lek Jo, terasa lengang. Kabut juga masih mengikutiku. Beberapa kali kuketuk pintu dan mengucap salam tidak ada jawaban dari Lek Jo. Kutunggu sekitar lima menit, tetap tidak ada tanda tanda ada orang di rumah. Kuputuskan untuk lanjut perjalanan menuju kampus. Owalah Lek Jo kamu dimana sih??

1
Alwa fikriah
ceritannya sangat bagus sekali,
Alexander
good job author.
Alexander
lalu bagaimana dengan nasib anak kembar wira yang perempuan ?
Alexander
ngasih sesajen itu juga wujud ketundukan kita pada kaum lelembut itu.
Alexander
kenapa malah jadi lagunya judika ??
Alexander
kalau mbah kadir adalah anak dari wira, bukankah seharusnya usianya masih di kisaran 58 tahun ?
Alexander
ternyata rumah tembok. dalam banyanganku rumah lek diran adalah rumah kayu.
Alexander
menuntut orang lain bersikap terbuka, dianya sendiri suka main kucing2an.
Alexander
tapi perjanjian seperti itu tidak bisa putus begitu saja. anak keturunannya punya dua pilihan. meneruskan persekutuannya dengan bangsa jin atau memutus mata rantai dengan rukyah dan taubat sungguh2.
Alexander
seperti perempuan saja, merajuk tanpa kejelasan alasan 😅
Alexander
perhatian seorang ayah itu dititipkan melalui istrinya. ibu dari anak2 nya.
Alexander
dan dani sempat melihat pak ndori melayani pelanggan dengan mobil merah kan ?
Alexander
titik terendah itu ada karena kamu sendiri yang menciptakannya. kok menyalahkan roda takdir.
Alexander
kaburnya pakai motor yang dibeli dengan uang bapaknya. hadeehh 😅
Alexander
pemeran utamanya berpikiran sempit. menyimpulkan segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri.
Alexander
tapi bukan dengan cara seperti itu kamu meminta penjelasannya. tidak punya tata krama.
Alexander
kalau yang sakit bukan erni, apakah dani tetap berpikir demikian ?
Alexander
paracetamol sirup ?
Alexander
kalau di sini hari keramatnya hari kamis wage malam jumat kliwon tolu. di novel sebelah hari rabu wage manahil seingatku.
Alexander
seharusnya masjid bisa jadi pilihan untuk beristirahat atau tidur, tapi banyak masjid yang sudah digembok selepas sholat Isya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!