Sebuah cerita cinta di kota Paris, antara dua orang yang berbeda latar belakang. Lucy yang seorang wanita yang di jual oleh ayahnya ke bos sebuah bar untuk melunasi hutang judinya dan di selamatkan oleh Andre, seorang laki-laki kaya yang sedang patah hati karena di tolak oleh cinta pertamanya. Dan pada akhirnya mereka memutuskan untuk menjalin suatu hubungan dan janji di bawah menara Eiffel. Walaupun Lucy tau bahwa Andre masih belum bisa keluar dari bayang-bayang masa lalunya. Dapatkah Lucy membuat Andre benar-benar jatuh hati kepadanya dan melupakan cinta pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azalea El Kyra Riiyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#12
Andre mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas meja, ia membuka laptop dan membuka beberapa file pekerjaan yang sudah di kirim oleh anak buahnya dari perusahaan yang lain. Demi mengejar Tiara yang cinta pertamanya, ia rela meninggalkan perusahaannya yang sudah besar di Indonesia dan membuat perusahaan baru di Paris. Namun dengan bantuan temannya Richard, ia tidak terlalu mengalami kesusahan untuk membuka perusahaan yang baru ini. Belum lagi Andre memang sudah mempunyai pengalaman di bidangnya.
Andre sangat berusaha untuk mencapai posisi sekarang, bukan hal mudah baginya yang orang biasa mampu menduduki posisi CEO dan memiliki beberapa cabang perusahaan. Semua ia lakukan agar ia layak bersanding di posisi Tiara dan ingin membahagiakan wanita yang terus memenuhi pikirannya itu.
Namun jodoh berkata lain, sekuat apapun dia berjuang untuk mengejar Tiara hasilnya selalu nihil dan di akhiri dengan sebuah hubungan persahabatan. Dan Andre harus menelan pil pahit akan itu semua, dan mencoba meyakinkan diri akan mendapatkan yang lebih baik lagi nantinya.
Sudah hampir pukul 3.00, matanya mulai merasa berat dan ia pun menutup laptopnya. Ia berjalan ke kamar dan mengganti pakaiannya dengan mengenakan piyama. Setelah itu ia naik ke kasur dan tertidur lelap.
________________
Hari sudah menunjukan pukul 9.00 pagi, cuaca sedikit cerah walau pun salju masih menumpuk di pinggir-pinggir jalan. Lucy membuka matanya dan melihat jam di ponsel barunya. Setelah itu, ia bangkit dan segera membersihkan diri.
"Ahh, aku akan menanyakan lelaki itu apa dia mau sarapan di sini? Aku akan membuatkannya sarapan." gumam Lucy bersemangat.
Ia menekan nomor Andre dan mencoba menghubunginya. Namun sudah hampir empat panggilan tidak ada jawaban sama sekali dari Andre.
"Apa dia masih tidur? Aku sudah mengatakan kalau dia tidak boleh bergadang. Aku akan membuatkannya terlebih dahulu." ucap Lucy bingung.
Di sisi lain ponsel Andre yang terletak di meja kerjanya dalam keadaan silent. Itu membuat Andre tidak mendengar kalau Lucy menghubunginya beberapa kali.
Hari pun sudah menunjukan pukul 11.30, Andre baru terbangun dari tidurnya dan mencari-cari ponselnya. Ia mendapatkan ponselnya yang tergeletak di atas meja dan menghidupkannya. Seketika matanya membelalak melihat layar ponselnya.
"15 panggilan tidak terjawab? Apa ada sesuatu terjadi padanya?" gumam Andre tak menyangka ternyata panggilan itu datang dari Lucy.
Andre menghubungi nomor Lucy dan langsung di angkat oleh Lucy secepat mungkin.
"Ada masalah apa?" tanya Andre cepat.
"Tidak ada, aku hanya berniat membuatkan mu sarapan. Tapi sepertinya aku juga harus membuatkan mu sekalian makan siang." gumam Lucy kesal.
"Maaf, aku bekerja sampai larut semalam. Jadi tidak mendengar kau menelepon, aku akan kesana setelah mandi." ucap Andre tersenyum lembut.
"Baiklah, apa ada sesuatu yang ingin kamu makan? Aku akan memasaknya." ucap Lucy mengalah.
"Aku akan memakan apapun yang kamu buat." ucap Andre serius.
Lucy tersenyum mendengar ucapan lembut dari Andre, ia mematikan ponselnya dan bersiap-siap untuk memasakkan pacarnya itu. Dengan keterampilannya ia memasak beberapa olahan daging dan sayuran. Tidak butuh waktu lama bagi Lucy menyiapkan itu semua, karena dari dulu dia sudah di bekali keterampilan memasak dari neneknya.
Seseorang mengetuk pintu, yang ternyata itu adalah Andre. Dengan cepat Lucy membukakan pintu dan tersenyum manis seolah-olah menyambut suami pulang bekerja.
"Aku sudah menyiapkan makan siang untuk mu, masuklah." ucap Lucy bersemangat.
Andre mengikuti perintah Lucy dan masuk kedalam apartemennya. Benar saja, terdapat beberapa olahan makanan yang di buat oleh Lucy. Andre duduk di kursi dan menatap takjub dengan masakan yang berada di atas meja.
"Kau memasak ini semua?" tanya Andre tak percaya.
"Ya, kalau bukan aku siapa lagi yang akan memasak ini semua?" tanya Lucy berbalik.
"Baiklah, mati kita coba masakan gadis kecil ini. Kebetulan aku juga sudah sangat lapar." ucap Andre.
Lucy mengangguk dan berjalan ke arah dapur mininya untuk mengambil beberapa piring dan sendok. Karena letak piring yang berada di atas lemari membuat Lucy sedikit kesusahan menjangkaunya. Melihat itu Andre menghampirinya dan mengambilkannya untuk Lucy dari belakang tubuh Lucy yang mungil.
Seketika Lucy terperangah dan berbalik untuk menjauh, namun ternyata tubuh Andre sangat dekat sampai-sampai harum tubuh Andre tercium di hidung Lucy. Jantung Lucy bergetar kuat, ia bahkan menelan ludah saat melihat tubuh atletis Andre yang berada tepat di depan matanya saat ini.
"Apa kau sengaja meletakan piring ini di atas? Kau benar-benar nakal." ucap Andre merayunya.
Seketika lamunan Lucy buyar berantakan dan kembali ke alam sadar saat mendengar ucapan Andre.
"Ahh, itu memang sudah ada di sana waktu aku masuk ke rumah ini. Dan juga tidak pernah aku gunakan." ucap Lucy mengalihkan pandangannya.
"Terus yang itu...?" tunjuk Andre ke sebuah rak yang juga berisikan piring.
Lucy benar-benar lupa kalau dia sudah memindahkan sebagian piring yang ada di atas lemari ke rak piring di bawah. Ia benar-benar kelihatan bodoh dan seolah-olah mengambil kesempatan dari Andre.
"Aku... Aku lupa kalau itu sudah aku pindahkan sebagian kesana. Aku akan mengambil yang itu." ucap Lucy menyingkir dari hadapan Andre.
"Apa kau tidak ingin melanjutkan ketahap yang lebih setelah melihat ini semua?" rayu Andre.
Seketika muka Lucy memerah dan merasa sangat malu. Ia tak menyangka jika Andre mengamatinya dari tadi dan benar-benar merayunya habis-habisan. Lucy mendorong tubuh Andre untuk menjauh dan mengambil piring yang ada di rak bawah. Tanpa memperdulikan Andre yang tertawa melihat tingkah laku Lucy yang lucu.
"Jika kamu tidak mau makan, aku akan membersihkan meja ini dan membuang semuanya." ancam Lucy dengan wajah yang masih memerah.
"Baiklah, mari kita makan dan menikmati ini semua." ucap Andre yang masih tertawa geli.
Lucy sangat kesal dengan rayuan Andre barusan. Ia benar-benar merasa sangat di permainkan dengan lelaki yang tujuh tahun lebih tua dari dirinya itu.
"Kau benar-benar sudah membuat ku malu, aku akan membalas ini semua." batin Lucy.
Andre mengambil beberapa makanan yang sudah di masak oleh Lucy dan meletakkannya ke dalam piringnya. Mereka menikmati makan siang bersama walau pun Lucy masih menahan rasa debar di dada dan malunya akibat rayuan Andre.
"Dia benar-benar gadis yang polos, sangat senang untuk merayunya dan membuatnya tersipu. Aku benar-benar sudah menjadi seorang lelaki tua yang kejam." batin Andre sambil memandang Lucy yang fokus dengan makanannya.
Walaupun begitu, Lucy merasa senang karena Andre bersikap lembut terhadapnya. Dan mencoba memulai membuka hati untuknya.
Tolong tetap lanjutkan ya sisi
sekali kali cowok kek yg berkorban agama, perasaan Andre ga pernah berjuang apa apa deh untuk lucy, cuma karena andre kaya Trus bisa kasi lucy pekerjaan dan uang, selebihnyaa yg berkorban Lucy terus
Sehingga pembaca storymu tetap stay menanti