Brisa tiba-tiba terbangun di tempat asing, ia di culik dan kini sudah mengenakan pakaian pengantin. ia tak tau kenapa dan siapa yang sudah melakukan semua ini. Sampai ia tau jika ia sudah menjadi seorang istri dari pria misterius yang tak pernah ia temui bernama Tuan Adam.
Hidup Brisa berubah, menjadi istri seorang tuan Adam menjadikan seorang Cinderella. Ia membalas semua perbuatan keluarga yang pernah menyia-nyiakan dirinya. Sampai suatu ketika, pria bernama Tuan Adam berdiri didepan mansion tempat tinggal Brisa.
"siapa wanita ini?" tuan Adam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
Bab 12
Brisa duduk termenung di kolam renang sendirian sembari menutupi tubuhnya dengan pakaiannya yang sudah sobek. Gadis itu pasrah dan menerima apa yang terjadi padanya saat ini.
Brisa hanya bisa menangis untuk membuat perasaan yang lega. Namun, sekeras apa pun ia menangis, selama apa pun ia menangis, Brisa tidak merutuki nasib buruk yang ia alami saat ini.
"Tidak apa-apa, Brisa! Kamu hanya disentuh oleh suamimu sendiri! Orang yang sudah menyentuhmu adalah pria yang memang memiliki hak atas itu!" gumam Brisa.
"Ini semua juga salahmu! Kalau saja kamu tidak menggunakan uang Tuan Adam seenaknya, mungkin dia tidak akan semarah ini padamu. Kamu sendiri yang membuat Tuan Adam marah. Anggap saja ini sebagai ganti rugi setelah aku menghabiskan uang dan kemewahan milik Tuan Adam," ujar Brisa.
Brisa tidak dapat memungkiri kalau dirinya memang sudah seenaknya menggunakan uang Tuan Adam dan menghabiskan harta milik pria itu dengan jumlah yang cukup banyak. Brisa pikir ia akan selamat dari teguran dan hukuman. Tapi justru gadis itu harus menerima balasan pahit dari Tuan Adam.
Gadis itu sibuk mengoceh sendiri dan mencoba menguatkan dirinya untuk tidak rapuh dan hancur karena perbuatan Tuan Adam. Tapi tetap saja Brisa tidak mau tunduk pada tekanan yang diberikan oleh Tuan Adam.
Untuk kali ini, Brisa mungkin bisa terima. Tapi untuk kedepannya, gadis itu tidak mau terus-terusan didominasi oleh Tuan Adam, apalagi pria itu bertingkah semena-mena pada Brisa dan memperlakukan Brisa seperti budak yang harus patuh.
"Hari ini mungkin aku akan diam saja. Hari ini mungkin aku akan menangis sepuasnya. Tapi hal ini tidak akan terjadi lagi besok atau kapan pun!" tegas Brisa pada dirinya sendiri.
Cukup kali ini saja Brisa menangis karena Tuan Adam. Brisa tidak akan lagi menangis hanya karena pria jahat itu.
****
Tok, tok! Suara ketukan pintu menggema di dalam kamar yang ditempati oleh berisa. Brisa segera membuka mata dan melihat Lusi yang sudah berdiri di dalam kamarnya.
"Nona, tolong segera membersihkan diri. Sarapan sudah siap. Tuan sudah menunggu Nona."
Mendengar perkataan Lusi, Brisa mulai panik. Mendengar nama tuan saja sudah membuat gadis itu merinding. Tapi selama masih tinggal di mansion tersebut, tentu saja bisa tidak Brisa menghindar dari Tuan Adam dengan mudah.
"Saya akan membantu Nona untuk bersiap!" ucap Lusi lagi.
Raut wajah kepala pelayan itu terlihat muram. Wajah Lusi tidak secerah biasanya.
"Kenapa wajah kepala pelayan terlihat murung sekali?" batin Brisa.
Namun, Brisa tidak berani menanyakan apa pun pada Lusi. Gadis itu juga bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain.
"Aku harus memakan sarapan bersama dengan Tuan?" tanya Brisa dengan suara lemas.
"Tuan Adam sudah menunggu. Sebaiknya Nona segera bergegas!" pinta Lusi.
Jika bisa memilih, tentu saja Brisa tak mau melihat wajah Tuan Adam lagi. Apalagi sampai menyantap makanan bersama dengan pria jahat itu. Mana bisa bisa mencerna makanan dengan baik? Brisa hanya akan kehilangan selera makan.
Brisa menurut pada Lusi dan segera membersihkan diri sebelum ia turun menuju ke ruang makan. Dengan langkah berat, Brisa pun keluar dari kamarnya dan menuju ke meja makan, di mana Tuan Adam sudah menunggu dirinya untuk menikmati sarapan bersama.
Brisa bergidik ngeri begitu ia melihat Tuan Adam yang menatapnya dengan tatapan tidak ramah. "Bagaimana aku bisa menelan makanan kalau dia memperlihatkan wajah sedingin itu?" batin Brisa.
Sepertinya Brisa juga tidak akan bisa menikmati makanan dengan tenang, jika ia harus duduk berhadapan dengan Tuan Adam. Tidak hanya melempar tatapan sinis, Tuan Adam juga menyindir Brisa yang baru saja muncul di meja makan setelah pria itu menunggu cukup lama.
"Kenapa tidak sekalian saja kamu datang setelah aku mengamuk?" sindir Tuan Adam. "Apa kakimu kamu patah? Atau kamu tidak sanggup berjalan ke meja makan lebih cepat? Berani sekali kamu membuatku menunggu!"
Baru saja datang, tapi Brisa sudah disuguhi omelan. Tapi Brisa tidak akan mengambil pusing perkataan dari Tuan Adam. Tidak seperti sebelumnya, Brisa tak lagi terkejut melihat sikap Tuan Adam dan tidak terpengaruh sedikitpun.
Gadis itu pun berusaha menanggapinya dengan santai, dan tetap menunjukkan rasa hormatnya pada Tuan Adam sebagai pemilik mansion. "Saya minta maaf, Tuan. Saya akan lebih bijak lagi dalam bertindak untuk ke depannya. Mohon bimbingan Tuan untuk mendisiplinkan saya."
Sepertinya jawaban dari Brisa tidak membuat Tuan Adam senang. Pria itu justru dibuat kesal karena Brisa berani membalas perkataannya.
"Kamu mulai besar kepala lagi sekarang?" sentak Tuan Adam. "Kamu seharusnya sadar posisi kamu di rumah ini! Mansion ini adalah milikku dan semua orang yang ada di mansion ini harus patuh pada peraturanku!" tegas Tuan Adam.
Pria itu ingin kembali membuat dominasi di hadapan Brisa. Karena Brisa sudah masuk ke dalam mansion-nya dan tinggal bersama dengan dirinya, Tuan Adam ingin gadis itu menurut padanya dan patuh pada semua perkataannya.
"Kamu harus patuh padahal apa pun yang aku katakan dan lakukan padamu!" ucap Tuan Adam lagi seolah tidak ingin Brisa lupa sedikit pun kalau gadis itu sudah menjadi milik Tuan Adam.
"Kamu dan hidupmu sudah menjadi milikku! Sebaiknya kamu tidak membantah dan lakukan saja semua yang aku mau!" sambung Tuan Adam.
Kalau hanya sekedar menuruti aturan Tuan Adam sebagai pemilik mansion, tentu Brisa masih dapat menerima. Tapi jika Tuan Adam berusaha untuk mengendalikan hidupnya, tentu saja Brisa tidak akan tinggal diam.
Sepertinya Adam ingin mengatakan kalau dirinya berhak mengatur seluruh hidup Brisa sesuka hati. Apalagi dengan sifat diktator Tuan Adam yang bertingkah seperti majikan, sudah jelas jika hidup Brisa tidak akan menjadi miliknya lagi dan bisa-bisa gadis itu akan disetir oleh Tuan Adam dalam hal apa pun.
"Tentu sebagai orang yang tinggal di mansion ini, saya akan mematuhi semua peraturan yang dibuat oleh Tuan. Tapi saya juga punya kehidupan saya sendiri! Saya akan mematuhi peraturan Tuan di mansion, tapi saya tidak akan membiarkan Tuan untuk mengatur hidup saya!" Dengan berani, Brisa mengutarakan pendapatnya pada Tuan Adam.
Gadis itu sepertinya tidak kapok setelah menerima perlakuan buruk dari pria kejam itu. Tapi memang beginilah sifat Brisa. Sejak dulu, gadis itu memang memiliki jiwa pemberontak. Brisa tidak akan diam saja melihat dirinya menerima ketidakadilan.
Brisa ingin mengatur hidupnya sendiri dengan bebas. Brisa tidak ingin terkekang oleh siapa pun. Brisa ingin bertanggung jawab pada hidupnya sendiri dan memiliki hidupnya sendiri. Brisa tidak akan menyerahkan hidupnya pada siapa pun.
"Apa maksud kamu? Kamu masih berani bersikap congkak di sini?" sungut Tuan Adam.
"Saya hanya ingin mempertahankan apa yang saya punya. Saat ini saya tidak lagi memiliki apa pun selain kehidupan saya dan diri saya sendiri. Saya tidak akan menyerahkan diri saya untuk dimiliki oleh siapa pun. Hidup saya adalah milik saya sendiri. Saya adalah milik diri saya sendiri. Saya bukan milik siapa pun!" tegas Brisa. "Saya akan bertanggung jawab pada hidup saya sendiri. Dan saya juga akan bertanggung jawab atas uang yang sudah saya gunakan. Saya akan berusaha mengembalikan utang satu miliar dari uang Tuan yang sudah saya gunakan sebelumnya."
Meskipun tak tahu bagaimana nantinya ia bisa membayarkan kembali uang tersebut, tapi setidaknya Brisa sudah menyampaikan pemikirannya pada Tuan Adam. Brisa Blbukan gadis yang tidak bertanggung jawab. Brisa akan memperbaiki kesalahannya dan mengembalikan uang yang sudah ia gunakan sebelumnya.
Tuan Adam nampak tercengang mendengar kata-kata Brisa yang cukup berani. Tuan Adam cukup yakin ia sudah menyiksa Brisa dengan kenangan pahit. Tapi sepertinya hal itu tidak membuat Brisa tunduk padanya dengan mudah.
Kira-kira bagaimana reaksi Tuan Adam menanggapi perkataan Brisa itu?
******
kk ku nantikan karya2 mu lagi yaa 😘😘😘
setlah drama sekian lama akhirnya adam memilih brisa yg gila
apa kabr smoyn
jangan sampai dipikirnya ia menikahi kekasihnya