Aruna tak menyangka kematiannya justru membawanya bertransmigrasi ke dalam novel kerajaan Eropa sebagai Lady Evelyne Ashcroft, villain yang ditakdirkan berakhir tragis.
Berbekal ingatan akan alur cerita, ia bertekad mengubah nasibnya dan menghindari semua bendera kematian. Namun, rencananya langsung berantakan ketika seluruh keluarganya dan sang tunangan tiba-tiba dapat mendengar isi pikirannya.
Rahasia masa depan yang terus terungkap membuat jalan cerita berubah. Keluarga yang semula membencinya mulai melindunginya, sementara tunangan yang seharusnya meninggalkannya justru semakin tergila-gila padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Malam itu, ketiganya menyusup menuju lokasi gudang tua. Hutan di sekitarnya begitu sunyi, hanya suara angin yang berdesir di sela-sela dahan pohon yang terdengar menyeramkan. Cedric berjalan paling depan memimpin jalan, sementara Adrian berjalan di belakang Aruna menjaganya dari arah belakang.
"Kita hampir tiba," bisik Cedric pelan.
Aruna mengangguk, namun tiba-tiba ia menghentikan langkahnya seketika. "Tunggu! Jangan melangkah maju lagi!"
Cedric segera berhenti dan berbalik. "Ada apa?"
Aruna menunjuk seutas benang tipis yang nyaris tak terlihat melintang di atas tanah. "Itu jebakan."
Cedric segera berjongkok dan memeriksa benang itu dengan saksama. Benar sekali ,jika benang itu terinjak dan terputus, ratusan anak panah akan melesat keluar dari balik semak-semak dan menghujam siapa pun yang melintas di bawahnya.
Adrian menatap adiknya takjub. "Bagaimana kau bisa mengetahui hal itu?"
Aruna tersenyum canggung. "Hanya... insting wanita."
Cedric menahan senyum melihatnya. "Insting yang sangat tajam sekali."
Mereka pun berhasil melewati jebakan itu dengan hati-hati. Namun begitu tiba di depan pintu gudang, ketiganya seketika terdiam. Pintu kayu tua itu ternyata sudah terbuka lebar seolah-olah seseorang telah menunggunya sejak lama.
"Ini tak tertulis dalam kisah yang kuketahui..." batin Aruna mulai gelisah.
Cedric segera menghunus pedangnya dan memberi isyarat agar tetap waspada. "Ikut di belakangku dan jangan berpisah."
Mereka melangkah masuk ke dalam gudang yang remang dan berdebu. Peti-peti kayu tersusun rapi di setiap sudut ruangan. Namun saat Adrian membukanya satu per satu, wajah mereka seketika berubah pucat. Semua peti itu kosong. Tak ada dokumen, tak ada harta, tak ada apa pun yang dicari.
"Itu tak mungkin..." Aruna mulai merasa panik. "Benda-benda itu seharusnya masih tersimpan di sini!"
Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan pelan yang bergema di seluruh ruangan.
Ketiganya seketika berbalik dan menatap sumber suara. Dari balik bayangan tiang kayu, sesosok pria melangkah keluar dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya. Aruna mengenal wajah itu dengan sangat baik.
Lord Sebastian Vale. Penasihat terdekat Raja.
Pria itu menatap Aruna dengan senyum yang semakin melebar. "Selamat malam, Nona Evelyne." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada yang begitu tenang namun mengerikan. "Atau... haruskah aku memanggilmu dengan nama aslimu, Aruna?"
Darah seketika membeku di pembuluh darah gadis itu. Cedric langsung melangkah dan berdiri di depan Aruna melindunginya, sementara Adrian pun segera menghunus pedang dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Namun Sebastian sama sekali tak tampak takut maupun khawatir. Ia justru mengangkat sebilah buku bersampul hitam yang tergenggam di tangannya.
"Tenanglah. Aku tak datang untuk mencabut nyawa kalian malam ini." Tatapan tajamnya kembali tertuju kepada Aruna. "Aku hanya ingin memperlihatkan sesuatu kepadamu."
Aruna menatap buku tua itu dengan napas tertahan. Di bagian sampul tengah terukir sebuah simbol yang begitu dikenalnya, sebilah bulan sabit yang bersinar pucat.
Sebastian tersenyum semakin lebar seakan puas melihat ekspresi takut yang mulai terlukis di wajah gadis itu.
"Karena jika kau bermaksud mengubah akhir dari sebuah cerita..." ucapnya perlahan sambil membelai sampul buku itu dengan jari telunjuknya. "...maka kau harus mengetahui lebih dulu siapa yang sesungguhnya telah menuliskannya sejak awal kisah ini dimulai."
Aruna menatap Lord Sebastian dengan wajah pucat pasi. Pria itu berdiri tenang di tengah gudang tua yang remang-remang, seakan kata-kata yang baru saja meluncur dari bibirnya bukanlah rahasia terbesar yang selama ini ia jaga sekuat tenaga.
Nama yang seharusnya tak diketahui siapa pun di dunia ini.
Cedric melangkah berdiri di hadapannya, tangan mencengkeram gagang pedang yang terhunus sebagian. "Jangan mendekat."
Sebastian hanya tersenyum tenang. "Tenanglah. Aku tak berniat menyentuhnya sedikit pun."
Adrian menyipitkan matanya tajam. "Lantas apa tujuanmu sebenarnya?"
Sebastian tak menjawabnya. Tatapannya justru kembali tertuju kepada Aruna, seakan menelusuri setiap goyah yang tampak di wajah gadis itu.
"Aku hanya ingin melihatnya seberapa jauh seorang wanita yang datang dari dunia lain mampu mengubah jalannya sebuah kisah yang telah tertulis."
Jantung Aruna berdegup kencang seakan hendak melompat keluar dari dadanya.
[Dia tahu... Dia tahu aku bukan Evelyne. Dia tahu aku datang dari dunia yang berbeda.]