Lusiana mengakhiri hidupnya karena sangat kecewa dengan Sang Mama yang tidak pernah mengerti akan perasaannya.
Lusiana mengira setelah kematiannya adalah akhir dari rasa sakitnya, tetapi, justru arwah yang penuh luka dalam dendam itu membawanya harus terjebak di dalam boneka.
Lusiana yang berada di dalam boneka memuaskan dendam dan mencari siapapun yang pantas mendapatkan hukumannya.
Lusiana, dialah boneka yang akan menghasut siapa pemiliknya untuk melakukan kejahatan.
Cerita ini hanya fiktif, bagi yang menyukainya, jangan lupa untuk like dan komen setelah membacanya, ya.
Dukung karya author, ya. 💙
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Meneror
Plak! Alea di tampar begitu kerasnya oleh temannya yang sok berkuasa, Alea dengan sengaja mencarinya ke tempat biasa temannya yang sebagai perundung itu bersenang-senang yaitu sebuah kelab malam.
"Punya muka kamu datang kemari?" tanya teman Alea yang berpakaian serba hitam dan sangat seksi seraya mengusap pipi Alea yang baru saja ditamparnya.
"Kalau berani satu lawan satu dan tidak di sini," jawab Alea seraya menepiskan tangan temannya itu.
Merasa tertantang, teman Alea itu memberitahu gengnya yang terdiri dari empat orang.
Setelah tahu maksud kedatangan Alea adalah menantang, mereka pun tertawa terbahak-bahak.
Lalu, dengan sengaja Alea menjambak salah satu dari mereka bermaksud untuk mengambil rambutnya.
Dan temannya si perundung itu mengaduh seraya melepaskan tangan Alea yang telah berani menyentuhnya.
Apa yang akan Alea lakukan?
Setelah keluar dari kelab, Alea membawa ketua geng itu ke tempat sepi.
Ketua geng itu mendorong punggung Alea sehingga Alea terjatuh, dan Alea yang jatuh itu berbalik badan, ia menatapnya seraya tersenyum smirk.
Lalu, Lusiana yang sudah menunggu di tempat itu pun keluar. "Apakah dia sampah itu?" tanya Lusiana yang ada di bawah kaki si Ketua geng.
Mendengar suara itu, Ketua geng mencari keberadaannya yang kemudian ketua geng itu terkejut saat sesuatu telah naik ke kakinya.
"Aaaaa!" ketua geng berusaha melepaskan Lusiana yang menempel di tubuhnya.
Kali ini, Lusiana menggunakan serpihan beling botol bekas untuk mengeksekusi korbannya.
Alea menatap temannya yang sudah terkapar di depan matanya dengan luka di leher.
Ketua geng itu menatap Alea, mengulurkan tangannya meminta pertolongan, tetapi, Alea yang teringat dengan jelas atas perbuatannya itu tak menghiraukannya.
"Kamu pantas mendapatkan ini setelah melakukan itu padaku!" kata Alea seraya menitikkan air mata.
"Setelah ini siapa, Alea?" tanya Lusiana.
"Semua temannya tidak ada yang boleh selamat dan ada dua orang pria yang sudah memperkosaku, mereka juga harus selesai bernafas!"
Setelahnya, Alea yang masih duduk di depan mata Ketua geng itu memberikan foto-foto orang yang telah menyiksanya.
Setelah itu, Alea bangun dan meninggalkan tkp.
Alea yang kembali masuk ke kelab itu tak melihat rombongan perundung itu, tetapi, Alea melihat ada keramaian di lantai atas yang merupakan kamar untuk orang-orang yang berbuat mesum.
Alea sudah tau, itu pasti ulah Lusiana dan Alea hanya perlu menunggu kabar esok hari.
Sekarang, Alea merasa harus pulang dan Alea yang pergi diam-diam itu masuk melalui jendela kamarnya.
****
"Ada apa, sih? Kamu... seperti habis lihat hantu saja!" kata teman si Ketua geng yang tangan di seret oleh Cla.
"Ya, aku memang melihat hantu, tapi, aku tidak yakin kalau itu adalah hantu!" jawab Cla yang masih gemetaran.
"Abel, dia sudah tewas, aku melihat sendiri!" kata Cla berusaha meyakinkan dua temannya.
Sekarang, mereka sudah ada di dalam mobil dan bersiap untuk pergi.
Lalu, Cla menunjukkan apa yang baru saja ia rekam melalui ponsel.
Dua temannya itu menutup mulut saat melihat Abel yang ketakutan karena ulah Lusiana.
"Benda apa itu?" tanya dua teman Cla.
"Dia boneka dan itu bersama Alea, aku takut setelah Abel dia akan mencari kita," kata Cla seraya menatap Rasti yang duduk di bangku kemudinya.
"Ayo, Ti. Kita harus pergi!" kata Cla dan temannya itu mengiyakan. Tanpa mereka sadari, kalau Lusiana sudah melompat dari lantai dua dan sekarang sudah ada di atas mobilnya.
Rasti membawa semua temannya ke rumah dan Rasti segera menutup pintu setelah semua temannya masuk.
Mereka segera masuk ke kamar. Cla yang sedang duduk di kursi meja belajar itu menitikkan air mata.
"Abel, kasihan Abel, apa yang harus kita lakukan, apa kita harus melapor polisi?" tanya Cla dan seseorang menjawab.
"Apa kamu punya bukti?"
Mendengar pertanyaan itu, Cla dan dua temannya merinding, pasalnya, suara itu sangat asing dan baru kali ini mereka mendengar suara itu yang begitu dinginnya.
Lalu, Cla yang melihat jendela berteriak saat melihat boneka kecil yang sedang duduk di jendela.
"Aaaaaaa!" Cla segera bangun dari duduk dan lari ke arah pintu.
Pintu itu sudah terkunci oleh Rasti dan Rasti mencari kunci yang ia masukkan ke tas kecilnya.
Cla meminta pada Rasti untuk cepat karena boneka Lusiana sudah mulai mendekat.
"Aku sudah tau, lebih baik kalian lawan dia dan aku membuka pintunya!" teriak Rasti yang sedang gugup.
Rasti yang gemetar itu menjatuhkan kunci dan Dini segera mengambil kunci yang terjatuh, sementara Cla, ia sudah pipis di celana dan Lusiana yang sedang berjalan ke arahnya itu menertawakannya.
Setelah pintu terbuka, Rasti menarik lengan Cla untuk menyadarkannya dan Cla yang lemas itu berlari menggunakan sisa tenaganya.
Cla yang sangat ketakutan terjatuh sementara dua temanya sudah ada di lantai bawah.
Lusiana berjalan di atas tubuh Cla dan melewatinya begitu saja, sedangkan Cla sudah mengira kalau ia akan menjadi yang kedua setelah Abel, tetapi, bagi Lusiana yang terlemah seperti cla akan sangat mudah sementara Lusiana harus mengejar Rasti Dini.
"Rasti, di mana Ibu dan Ayahmu?" tanya Dini yang berdiri di balik pintu dan Rasti yang berdiri di sampingnya itu menjawab, "Mereka sedang keluar kota."
"Lalu, dimana pembantu rumahmu, kenapa sangat sepi, tau sepi seperti ini, kenapa tadi tidak ke rumah saja," protes Dini, ia takut mati dan apalagi yang mengejarnya adalah mahluk mengerikan.
Lalu, Dini mengambil ponselnya, dengan tangan gemetar, Dini mencoba menghubungi Ibunya dan karena Lusiana yang ada di balik pintu membuatnya terkejut, ponsel Dini harus tercebur ke bak kamar mandi, ya, keduanya bersembunyi di kamar mandi.
Lalu, Dini meminta pada Rasti untuk menghubungi seseorang menggunakan ponselnya dan sayang sekali, ponsel Rasti mati kehabisan daya.
"Bagaimana ini, Rasti?" tanya Dini yang panik.
"Kamu pikir aku tidak takut, diamlah, kamu semakin membuatku panik saja!" gerutu Rasti seraya menatap Dini.
"Cla, apa dia selamat?" tanya Rasti seraya menempelkan dau telinganya ke pintu.
Tidak terdengar apapun karena Cla sedang bersembunyi di bawah ranjang Rasti.
Cla berdoa supaya lepas dari makhluk terkutuk itu, tetapi, sepertinya, doa Cla tidak terkabulkan, Cla yang sedang fokus berdoa itu tidak menyadari kalau Lusiana sudah ikut berbaring di sampingnya.
Lalu, Cla tersadar setelah Lusiana bertanya, "Apa yang kamu minta pada Tuhanmu?"
Mendengar suara itu, Cla menjerit dan Lusiana menutup mulut Cla menggunakan tangannya yang sangat kecil.
"Teriakanmu sangat berisik!" kata Lusiana dan Cla segera keluar dari persembunyian, Cla yang terbirit itu harus jatuh dari tangga saat kakinya tersandung oleh kaki sendiri.
Dan teriakan Cla di dengar oleh Rasti dan Dini yang sembunyi. Keduanya saling menatap dengan mata yang membulat.
Apakah akan ada yang selamat diantara ketiganya?
Like dan komen setelah membaca, ya. Jangan lupa untuk vote/giftnya untuk dukung karya Author. 💙
Thanks 🙏
kunti pula,lain perangai kok suka anak manusia...tpi untung bisa di atur juga...menurut orgtua2...kunti klo di paku cantik amat.....gimana klo kunti laki2 pasti ensome ya thor...🤣🤣
gimana menghapus kn lusi itu....gercep amat...brandal loh
jgn kmu coba2 lepas kn kalung cincin itu cilla...klo nggk mau kluarga mu mampus oleh lusi...dgn kau sekali mampus lohhh...
ada aja kelakuan.ny..
buruan cariin..