Bagaimana jadinya jika perusahaan-perusahaan terbesar dan sukses di negara ini dipimpin oleh tiga wanita yang sangat cantik? pastinya banyak pria yang mendekati mereka, namun sayang ketiga wanita cantik itu terkenal sangat dingin dan juga kejam dalam dunia Bisnis.
Siapakah pria yang bisa menaklukan hati ketiga wanita cantik itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Vincent Volker
Tok..tok..tok..
"Masuk!"
"Permisi Bu."
"Ada apa, Nina?"
"Begini Bu, ada seorang pria yang ingin melamar pekerjaan di sini."
"Apa, seorang pria ingin melamar pekerjaan di sini? memangnya dia tidak lihat ini adalah klinik kecantikan?" seru Vlo.
Vincent yang mendengar suara Vlo langsung masuk saja ke dalam ruangan Vlo tanpa menunggu di suruh.
"Bu, aku mohon terima aku kerja di sini," rengek Vincent.
Vlo bangkit dari duduknya dan dengan kesalnya menghampiri Vincent.
"Gak sopan banget kamu, main masuk ruangan orang sembarangan. Keluar!" bentak Vlo.
Vincent dengan cepat langsung memeluk kedua kaki Vlo, membuat Vlo sangat terkejut.
"Astaga."
"Nona, aku mohon terima aku kerja di sini. Jadi OB kek, sopir pribadi, atau pengawal pribadi pun gak apa-apa," rengek Vincent.
"Apa-apaan sih, lepaskan!" bentak Vlo.
"Tidak, aku tidak akan pergi sebelum Nona mau menerima aku bekerja di sini."
Vlo benar-benar sangat emosi melihat kelakuan pria yang sama sekali tidak dia kenal itu.
"Selama ini belum pernah ada satu pria pun yang berani menyantuhku, aku bilang lepaskan kakiku atau kamu akan menerima akibatnya," ancam Vlo.
Vincent bukanya melepaskan kaki Vlo, dia justru semakin mengeratkan pelukannya membuat Vlo semakin geram.
Wanita cantik yang jago beladiri ini dengan sekali hentakan menendang Vincent, membuat Vincent terjungkal ke belakang. Vlo, menghampiri Vincent dan menatap Vincent dengan tajam.
"Aku tidak butuh karyawan baru, jadi lebih baik sekarang kamu keluar dari ruangan ku!" tegas Vlo.
Seketika Vincent duduk selonjoran dan menangis kejer kaya anak kecil yang tidak diberi mainan membuat Vlo membelalakkan matanya begitu pun dengan Nina, yang masih berada di sana.
"Astaga, kamu itu pria ngapain nangis kejer kaya gitu?" sentak Vlo tidak percaya.
"Pokoknya aku ingin bekerja di sini, aku tidak akan pergi sampai Nona mau menerimaku," rengek Vincent.
Vlo memijat keningnya yang tiba-tiba berdenyut itu, baru pertama kali ini Vlo bertemu dengan pria cengeng seperti Vincent.
"Badan kamu itu bagus, berotot, tapi kok cengeng," ledek Vlo.
"Ayolah Nona, terima aku bekerja di sini. Aku sangat butuh dengan pekerjaan, karena Ibuku saat ini sedang sakit keras dan butuh biaya untuk bayar rumah sakit," dusta Vincent.
"Hah, sakit apa?"
Melihat raut wajah Vlo yang berubah sedih, Vincent mulai punya ide untuk mengelabui Vlo supaya wanita cantik itu mau menerimanya bekerja.
Vlo memang kejam dan kata-katanya pedas, tapi Vlo paling tidak bisa mendengar cerita sedih, dia bisa langsung menangis saking terbawa suasana.
Vincent pun bangkit dan berdiri membelakangi Vlo.
"Ibuku terkena kanker otak Nona, saat ini Ibuku sedang sekarat dan harus segera di operasi tapi aku sama sekali tidak punya uang untuk biayanya. Jadi, aku mohon terima aku bekerja di sini," seru Vincent dengan pura-pura sedih.
"Ya Allah, kasihan sekali."
Vincent tampak menyunggingkan senyumannya. "Ya Allah, maafkan aku yang sudah menjual nama Ibuku padahal Ibuku sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Ma, maafkan Vincent ya, ini demi calon menantumu," batin Vincent.
Vlo tampak berpikir, dia memperhatikan penampilan Vincent dan tampak mengerutkan keningnya.
"Katanya kamu tidak punya uang untuk biaya berobat Ibumu, tapi kok kaos dan celana jeans mu barang branded semua," seru Vlo.
Vincent tampak membelalakkan matanya, dia lupa kalau saat ini dia sedang berhadapan dengan wanita luar biasa.
"Mampus aku," batin Vincent.
Vincent memutar otaknya, dia harus bisa menjawab pertanyaan Vlo tanpa dia merasa curiga. Hingga beberapa saat kemudian, Vincent mempunyai ide. Vincent membalikan tubuhnya menghadap Vlo, dan menyunggingkan senyumannya.
"Begini Nona, sebelumnya aku pernah bekerja menjadi sopir pribadi seorang pengusaha dan pengusaha itu baik banget selalu memberiku pakaian-pakaian mahal," sahut Vincent.
"Terus, kalau pengusaha itu baik ngapain kamu mencari pekerjaan ke sini? sudah saja jadi sopir dia?"
Vincent kembali tercengang. "Aduh, kenapa wanita ini pintar sekali? kalau sekarang sudah tanggung, sudahlah aku lanjutkan lagi omong kosongnya," batin Vincent.
"Kenapa kamu diam?" tanya Vlo.
"Bos aku tiba-tiba jatuh miskin, entah kenapa. Jadi aku di pecat deh."
Vincent menundukkan kepalanya, dia pura-pura sedih dan memperlihatkan wajah yang sangat prihatin berharap Vlo akan mengasihaninya dan menerimanya menjadi karyawan Vlo.
"Bagaimana ini, Nina? dia mau kerja apaan?" seru Vlo.
"Saya juga tidak tahu, Bu."
Vlo tampak berpikir, melihat raut wajah Vincent membuat Vlo merasa kasihan.
"Ya sudah, kamu jadi sopir aku aja," seru Vlo.
"Hah, serius Nona? Nona menerima aku bekerja?"
"Iya."
Vincent pun menghampiri Vlo dan menarik tangan Vlo kemudian menciuminya membuat Vlo kaget dan menendang perut Vincent membuat Vincent terjungkal ke belakang sembari memegang perutnya.
"Dengar ya, jangan sentuh aku sembarangan atau kamu akan tahu akibatnya!" sentak Vlo.
"Ah iya, maaf Nona."
Vlo melempar kunci mobilnya dan dengan sigap, Vincent menangkapnya.
"Ayo cepat, antar aku ke suatu tempat," seru Vlo.
Vlo mengambil tasnya dan keluar dari ruangannya, sedangkan Vincent bangkit dengan masih memegang perutnya.
"Astaga, wanita itu ternyata jago beladiri," batin Vincent.
Vincent pun segera keluar menyusul Vlo, dan dengan cepat masuk ke dalam mobil Vlo.
"Kita mau ke mana, Nona?"
"Ke restoran xxx."
Vincent langsung melajukan mobilnya. "Nona, suka datang ke restoran itu juga ya? aku sering ke sana, soalnya makanannya enak-enak," seru Vincent keceplosan.
"Hah..."
Vincent langsung bungkam, dia merutuki dirinya sendiri kenapa lagi-lagi dia bisa sampai keceplosan.
"Mak-sud a-ku, mantan Bos aku sering membawa aku ke sana jadi aku tahu makanannya enak-enak," sahut Vincent gugup.
"Oh, nama kamu siapa?"
"Nama aku Vincent, Nona."
"Oke Vincent, kamu sekarang sudah menjadi sopir pribadiku jadi kamu harus tinggal di rumahku karena aku suka ada acara tiba-tiba, jadi sebagai sopir pribadi kamu harus selalu siap siaga di saat aku membutuhkanmu."
"Baik Nona, dengan senang hati."
Vlo kembali mengotak-ngatik ponselnya dan menyerahkan kepada Vincent.
"Tulis nomor ponselmu."
Vincent pun mengambil ponsel Vlo dan dengan cepat menyimpan nomornya.
"Ini Nona."
"Oke."
Vlo pun duduk manis sembari mengotak-ngatik ponselnya, sedangkan Vincent menyunggingkan senyumannya.
"Akhirnya aku bisa dekat-dekat dengan Vlora, apalagi dia menyuruhku tinggal di rumahnya. Astaga aku bahagia sekali, sebentar lagi Vlo pasti akan jatuh cinta kepadaku," batin Vincent dengan percaya dirinya.
Sejak pertama melihat Vlo, Vincent memang sudah jatuh cinta dan bisa dipastikan kalau Vincent akan menjadi pria yang bucin kepada Vlo.
*
*
*
Yuk yang mau ikutan event votenya, edisi 1-28 Februari...
Juara 1 : 75k
Juara 2 : 50k
Juara 3 : 35k
Kalian juga bisa memberikan komen terbaik kalian karena akan ada pulsa untuk 5 orang komen terbaik dan masing-masing mendapatkan pulsa 20k....
.sehat2 y nek
.hehehe
pasti seru rame2