Pernikahan selama sepuluh tahun tidak bisa membuat dirinya mengandung walaupun dengan melakukan inseminasi buatan.
Karena keluarga suami yang menginginkan ahli waris akhirnya menyingkirkan dirinya dengan memberikannya sebuah perusahaan sebagai kompensasi perceraiannya dengan sang suami.
Bagaimana kelanjutan hidupnya setelah diceraikan oleh suaminya?
Apakah Nikita menemukan kembali cinta dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Chapter 12
"Kenzo...akkkhh!" Sayang." Lenguh Nikita ketika dua gundukan ranumnya di hisap bergantian oleh Kenzo.
"Nikita!" Nikita!"
Meilan menepuk pipi Nikita yang sedang menyebut nama pria asing yang tidak dikenalinya
"Kenzo!" Ayo terus sayang! jangan pergi!" Pekik Nikita memanggil nama Kenzo. Nikita membuka matanya dan melihat Meilan sedang menatap wajahnya dengan ekspresi heran.
"Ya Tuhan, aku hanya sedang bermimpi." Ucap Nikita dengan wajah bersemu merah.
Hati Nikita kembali merasa gundah karena ia hanya merasakan itu hanya bagian dari mimpi.
"Kenapa hanya mimpi?" Mengapa ini bukan nyata. Tapi kenapa aku jadi murahan seperti ini?" Mengapa aku tidak bisa mengendalikan perasaanku dan mengusir lelaki itu dari hidupku.
Makin aku ingin menjauhinya dan berusaha melupakannya, justru aku dihadapkan dengan hal yang bertolak belakang dengan logika ku. Tuan Lorenzo, aku mencintaimu...aku mencintaimu sayang. Aku mohon datanglah padaku, jemput aku di sini." Gumam Nikita dalam lamunannya.
Ternyata Nikita hanya mengalami mimpi bersama lelaki yang telah mencuri hatinya bahkan jiwanya.
"Siapa Kenzo Nikita?" Tanya Meilan dengan mengernyitkan dahinya.
"Bukan siapa-siapa!" Apa yang kamu bawa?" Sini aku mau makan." Nikita mengambil kotak makanan dari tangan Meilan.
"Apakah dia ayah dari bayimu Nikita?" Tanya Meilan hati-hati.
"Ini urusan hidupku Meilan. Tolong jangan terlalu banyak bertanya kepadaku, karena aku tidak ingin menjelaskan apapun padamu. Kamu cukup menolongku saja, selebihnya jangan terlalu kepo, kau mengerti!" Nikita jadi lebih sensitif jika bicara soal hubungannya dengan seorang pria.
"Nikita, jika kamu mengenalnya dan tahu keberadaannya, mengapa kamu tidak ingin meminta pertanggungjawabannya?" Dan anehnya lagi, sekali kamu berhubungan dengan orang itu ko langsung tokcer ya?" Canda Meilan untuk menghilangkan ketegangan diantara mereka.
"Entahlah Mei, dulu aku selalu ingin cepat hamil, hingga mengikuti program bayi tabung dan itupun tidak berhasil. Dengan satu orang laki-laki, hubungan yang terjalin dalam semalam, bisa menghasilkan calon janin.
Dan anehnya aku bercinta dengannya tanpa mengenal siapa dia karena saat itu aku dalam keadaan mabuk dan kami melakukannya hanya sekali, benihnya langsung tumbuh subur di rahimku yang aku anggap sudah gersang tanpa bisa disemai oleh benih lelaki manapun.
Kenapa hubungan yang halal tidak dianugerahi seorang bayi malah hubungan kemaksiatan lebih cepat diberikan sesuatu yang tidak aku harapkan. Rasanya aku ingin membuang bayi ini. Aku tidak mendambakan kehadirannya disaat posisi ku sudah terbuang....hiks.... hiks!" Nikita menutup wajahnya sambil terisak sedih.
"Nikita, ini ujian untukmu sayang." Mungkin jodohmu sebenarnya adalah pria asing itu, bukan tuan Aryo. Mengapa kamu tidak berbesar hati menerima lelaki itu jika kamu tahu dia adalah ayah bayimu. Apakah dia sudah tahu kamu hamil anaknya?"
Meilan membelai rambut Nikita lembut.
"Dia sudah tahu, bahkan aku mengalami mual dan muntah tepat di hadapannya. Dia yang memanggil dokter dan mengurusku dan dia orang pertama yang mendengar kabar aku hamil. Dia tahu itu anaknya tapi berusaha menutupi jati dirinya. Aku seperti sedang dikerjainnya. Andai saja, dia memberitahu aku lebih awal bahwa aku dan dia bukan orang asing, mungkin aku bisa menerima kehadiran anak ini dalam rahimku Mei." Ucap Nikita lirih.
Meilan tambah dibuat bingung oleh Nikita. Dalam pikiran Meilan, Nikita berangkat ke Perancis akan bertemu dengan tuan Lorenzo, kenapa sekarang bercerita tentang lelaki yang terlibat cinta satu malam dengan Nikita hingga membuat gadis ini hamil?
"Nikita, bukankah kamu harusnya bertemu dengan tuan Lorenzo?"
"Tuan Lorenzo adalah Kenzo, lelaki yang sama yang telah menghamili aku, apakah sekarang kamu puas melihat aku menderita seperti ini?" Dan sialnya lagi, dia sudah mengamati aku dan mencintai aku selama sepuluh tahun terakhir walaupun ia tahu saat itu, aku sudah menikah dengan mas Aryo. Rupanya hidupku dikuntit oleh bajingan pengecut itu." Ucapnya serak dengan air mata terus berderai.
"Wah, kamu hebat Nikita, dikagumi sosok seorang Lorenzo yang menjadi lelaki pujaan sejuta umat. Wajah tampan, tubuh atletis, kekayaannya hampir mengusai wilayah Asia dan Eropa dengan sejuta bisnis. Lelaki cerdas itu, bahkan dingin dengan setiap wanita yang ingin mendekatinya, ternyata cintanya hanya berkiblat untuk satu wanita yaitu kamu yang jadi pilihannya.
Bahkan tuan Aryo tidak ada bandingannya dengan seorang Tuan Lorenzo, mengapa malah kamu merutuki dirinya hanya karena dia mencintaimu, oh tidak...dia sangat mencintaimu dan itu berlangsung selama sepuluh tahun walaupun posisimu saat itu adalah nyonya Aryo Dwisasono.
Ahhh.. romantis banget Nikita, jika aku menjadi dirimu, aku tidak akan melepaskan kesempatan ini sayang. Tolong pikirkan lagi sayang, kamu akan terlihat bodoh jika menolaknya." Ucap Meilan.
"Apakah semua yang terbaik yang ia miliki menjadi jaminan cinta untukku?" Tanya Nikita sinis.
"Lantas, apa lagi yang kamu harapkan dalam hidupmu, jika kamu sudah mendapatkan kembali hidupmu yang telah dihancurkan oleh nyonya Ruby karena ambisinya yang ingin memiliki cucu untuk menjadi pewaris kerajaan bisnisnya yang tidak seberapa itu.
Dengan tuan Kenzo, Tuhan mentakdirkan kalian untuk bisa bersama dengan kekayaan yang ia miliki, lagian dia bukan seorang bandot tua Nikita, apa lagi yang menjadi pertimbangan kamu? sekarang terlebih lagi dia tahu kamu mengandung anaknya, anak dari wanita yang sangat ia cintai selama sepuluh tahun ini.
Dia rela menunggumu selama itu Nikita. Tolong jangan terlalu jual mahal karena hanya ingin mempertahankan harga dirimu sayang! tidak semua pria tampan dan kaya bisa menjaga hatinya untuk satu wanita." Sindir Meilan membuat Nikita sedikit berpikir keras atas ucapan asistennya ini.
Jauh dalam relung hatinya, Nikita menyadari bahwa ia sudah jatuh cinta pada Kenzo, hanya saja ia masih bingung untuk menetapkan hatinya pada pria bule itu.
Jika segala yang dimiliki oleh Kenzo sebagai barometer untuk mencintai lelaki tampan itu, jelas Nikita tidak menginginkannya. Janda dari tuan Aryo ini, menginginkan cinta yang mengalir apa adanya.
Cinta yang mampu menggetarkan seluruh jiwanya bukan karena naf*su semata. Cinta yang bisa melahirkan rasa rindu yang mendalam bukan karena kenangan percintaan panas mereka.
Ia ingin mencintai Kenzo, semurni cinta lelaki itu padanya tanpa syarat.
"Selamat pagi!"
Sapa dokter Fenita yang merupakan dokter spesialis kandungan yang akan memeriksa keadaan kandungan Nikita.
"Permisi, aku ingin memeriksa kandungan anda nona Nikita." Ucap dokter Fenita lembut.
"Silahkan dokter!"
Nikita mengangkat bajunya agar perutnya bisa di USG untuk melihat perkembangan bayinya.
"Janin anda ternyata sangat kuat nona, awalnya ia hampir lemah tapi ia tidak ingin pergi dari rahimmu walaupun perjalanan jauh yang dilakukan anda hampir membunuhnya, dia masih kuat bertahan." Ucap dokter Fenita.
Nikita tersenyum dan merasa bersyukur karena ia bisa melindungi bayinya.
"Dokter, kapan aku bisa pulang?" ini sudah hampir seminggu aku berada di rumah sakit." Keluh Nikita.
"Hari ini anda bisa pulang nona, karena kandungan anda sangat baik. Yang harus anda jaga adalah jauhi setress dan konsumsi makan makanan yang bergizi." Ujar dokter Fenita.
"Akhirnya, aku bisa pulang juga." Gumam Nikita membatin.
"Apakah aku boleh langsung beraktifitas dokter?" Tanya Nikita lagi.
"Sebaiknya dua hari ke depan istirahat dulu dan belajar berjalan untuk meregangkan otot yang kaku. Setelah itu anda boleh beraktivitas lagi tapi tidak boleh memikirkan hal yang berat karena akan berdampak pada kandungan anda."
"Terimakasih dokter, aku akan memperhatikan pola hidupku untuk menjaganya hingga ia lahir ke dunia ini." Ujar Nikita dengan wajah sumringah.
Dokter Fenita meninggalkan Nikita dan asistennya setelah melakukan USG pada perutnya untuk melihat calon bayi Nikita.
"Meilan, tolong beresin semuanya, kita langsung pulang ke rumah, aku tidak betah di sini."
"Nikita, apa yang akan kamu jelaskan kepada para pelayan di rumahmu jika kamu hamil tanpa suami?" Tanya Meilan cemas.
"Nanti saja kita pikirkan, lagian perutku belum membesar." Ujar Nikita dengan wajah malas.
"Mengapa tidak sebaiknya kamu menerima tuan Kenzo agar segera menikahimu sebelum perut itu yang akan mengundang banyak tanya dan kamu akan terhina akan keangkuhanmu sendiri Nikita.
Pilih mana?" Mau di hina mantan suami dan mertuamu ataukah menikah secepatnya dengan tuan Kenzo. Jangan terlalu lama untuk berpikir tanpa tindakan lanjutan untuk masa depan kamu dan bayimu." Meilan makin ketus menasehati bosnya yang keras kepala.
"Kamu seperti nenek-nenek yang hobi mengomeli anak gadisnya sepanjang hari karena takut putrinya menjadi perawan tua." Timpal Nikita.
"Itu semua untuk kebaikanmu nona Nikita. Lupakan masalalu dan mulailah membangun cinta yang telah kamu miliki saat ini sebelum semuanya terlambat. Karena bisa jadi, tuan tampan Kenzo mu itu akan meninggalkanmu karena sifatmu yang membangkang." Ujar Meilan.
"Aku akan ke luar kota dan melahirkan bayiku tanpa ada yang tahu kecuali kamu." Ucap Nikita membuat bulu kuduk Meilan bergidik.
"Nikita, apa kamu ingin menghilangkan diri dari semua orang, bagaimana dengan bayi itu nanti?" Tanya Meilan sedih.
"Aku akan menitipkan kepada orang lain dan akan menjenguknya sesekali hingga ia bisa ku bawa pulang dan mengatakan bahwa dia adalah anak angkat ku, dengan begitu orang tidak akan berpikir negatif kepadaku." Ujar Nikita santai tanpa ada beban dalam pikirannya saat ini.
"Dasar gila kamu!" Apa yang sedang kamu pertahankan sampai tega mengingkari anak kandung kamu sendiri." Teriak Meilan melengking membuat Nikita membekap mulut asistennya itu.
"Ssst!" Apakah kamu tidak bisa bicara pelan sedikit?" Ini rumah sakit Meilan bukan pasar." Omel Nikita.
"Makanya, jangan pernah berpikir gila seperti itu." Ucap Meilan dengan suara berbisik.
"Aku hanya belum menunjukkan kemampuanku kepada mantan suamiku untuk bisa membesarkan perusahaan yang mereka berikan kepadaku."
"Hehh!" Tawa hambar terdengar garing dari mulut Meilan.
"Dengar sahabatku sayang! satu hal yang bisa membungkam kebodohan mantan suamimu itu adalah menikahlah dengan tuan Lorenzo dan melahirkan anak kalian dengan bangga. Dengan begitu stigma mereka tentangmu seorang wanita mandul tidak akan terbukti karena kamu melahirkan seorang anak dari lelaki hebat nan tampan seperti tuan Kenzo." Ucap Meilan berapi-api dihadapan gadis angkuh yang ingin memperlihatkan taringnya pada mantan suaminya.
Deggg....